Statistik

Hit hari ini : 718
Total Hits : 1,274,984
Pengunjung Hari Ini : 223
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 316,270

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 51 Next > Last >>

Hari Ulang Tahun Planetarium Jagad Raya Tenggarong


 Dalam rangka peringatan Hari ulang Tahun Planetarium Jagad Raya Tenggarong, bermacam kegiatan di laksanakan oleh pengelola Planetarium Jagad Raya Tenggarong yang dibawah naungan Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara. Diantaranya berupa pengamatan matahari dan bulan purnama,serta lomba mewarnai tingkat anak TK / Paud. Untuk pelaksanaan Pengamatan matahari (sun spot) sekitar pukul 11. 00 s/d selesai dan pengamatan bulan purnama pada pukul 20.00 s/d selesai di halaman Planetarium Jagad Raya Tenggarong.


 Untuk di ketahui bahwa Pengamatan matahari (sun spot) Sunspot atau bintik matahari adalah daerah di lapisan fotosfer matahari, yang memiliki suhu yang lebih rendah daripada daerah sekelilingnya. Suhu bintik hitam sekitar 4000 sampai 4500K, sedangkan suhu di sekelilingnya 6000 K. Bintik hitam terjadi karena adanya aktivitas magnetik pada matahari.

 Para siswa TK atau Paud yang megikuti lomba mewarnai di Planetarium ini di ajak untuk melihat Taman Tata Surya yang berada di area planetarium, lalu di jelaskan bahwa Planetarium berkapasitas 92 tempat duduk, di gagas oleh Bupati Kutai Kartanegra Bapak H. Saukani HR., planetarium Jagad Raya merupakan Planetarium ke tiga di Indonesia setelah Planetarium jakarta dan Planetarium Surabaya. Di bangun pada tahun 2000 dan di resmikan pada tanggal 16 April 2003, tempat ini merupakan sarana pendidikan untuk menikamti keindahan alam semesta berupa bintang – bintang, planet dan objek planet lainnya, dan pada Planetarium Jagad raya Tenggarong kita dapat menonton tayangan 3D tanpa menggunakan kacamata 3D dan hanya ada pada Planetrium Jagad raya Tenggarong. Dengan harapan setelah mengajak serta memaparkan mengenalkan riwayat Planetarium, adik – adik ini bisa lebih mengenal keragaman seni, budaya dan pariwisata Kalimantan Timur, sehingga nantinya mereka bisa bercerita kepada teman,saudara,dan keluarganya masing – masing tentang Plaetarium Jagad Raya Tenggarong.

 Selamat kepada para pemenang lomba mewarnai, Juara I dari TK Islam Salsabila atas nama Kalila Juara II dari TK Negeri 02 atas nama Peramatya Juara III dari TK Aba 1 atas nama Ratu Julia Daniswara Juara Harapan I dari TK Islam Salsabila atas nama Neysha Juara Harapan II dari TK Kemala Bhayangkari 7 atas nama M. Syarozi Zhafran Al Amin Juara Harapan III dari TK Negeri 02 atas nama Fazila Inastasya.


Festival Nasi Bekepor.


 Dalam Rangka memperingati Hari Budaya yang jatuh pada tanggal 12 April 2019, yang dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Kutai Kartanegara, acara ini digelar dihalaman Universitas Kutai Kartanegara bersama para Mahasiswa beberapa komunitas serta para undangan lainnya untuk mememasak Nasi Bekepor kemudian makan bersama dengan cara Beseprah.



Kegiatan Festival Nasi Bekepor merupakan salah satu upaya untuk melestarikan tradisi budaya kutai, mungkin banyak dari generasi sekarang yang tidak tahu Nasi Bekepor,yang merupakan cara memasak yang biasa dilakukan Masyarakat Kutai dahulu, saat berkumpul keluarga dan membuka ladang, untuk memasak nasi bekepor beras yang telah dibersihkan dimasukkan kedalam Kenceng (Periuk) kemudian dimasak menggunakan kayu bakar, seteleh mendidih dan air mulai kering kenceng diturunkan sejajar dengan kayu bakar lalu setiap 5 menit kenceng ini diputar agar matangnya merata,




 Festival Nasi Bekepor di buka Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP, yang ditandai dengan menyalakan kayu bakar, bersama Rektor Unikarta Erwinsyah, wakil ketua DPRD Rudiansyah, Anggota DPRD Abdul Rasyid.serta para undangan lainnya. Sambil menunggu Nasi Bekepor Matang, para undangan menjajal permainan tradisional begasing sembari dihibur musik Tradisi dari kelompok musik sekenceng.

Bupati Kukar dalam amanat tertulis yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar Sri Wahyuni sangat mengapresiasi inisiatif dari Fisipol Unikarta yang menggelar Festival Nasi Bekepor. “Kita tentunya mengapresiasi ini yang dilaksanakan dalam rangkaian Dies Natalies Unikarta sekaligus perayaan Hari Budaya Kukar yang jatuh pada tanggal 12 April,”

 beliau mengungkapkan proses penetapan Hari Budaya yang jatuh pada hari ini tepatnya pada tahun 2015 lalu adalah sumbangsih pemikiran dari salah satu tenaga pengajar Fisipol Unikarta, bersama dengan Puslit Kemenpar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Dalam Penta Helix pariwisata ada lima unsur yang saling terkait di dalamnya yakni Pemerintah, masyarakat atau komunitas, pihak swasta dunia usaha dan pelaku usaha pariwisata, akademisi dan media. Maka festival ini menjadi sebuah aktualisasi kampus Unikarta untuk pelestarian budaya sekaligus menjadi sebuah atraksi wisata,”. beliau berharap sebagaimana komitmen dari pihak kampus untuk menyelenggarakan Festival Nasi Bekepor setiap tahunnya bisa terus terlaksana dan menjadi bagian dari kalender pariwisata daerah Kukar.

 “Kita harap jangkauan pesertanya akan lebih luas, begitu pula dengan konten kegiatannya. Memasak nasi ala nasi bekepor akan menjadi atraksi wisata yang unik bila dikemas dengan baik, dan dipromosikan jauh-jauh hari agar pengunjung dapat merencanakan waktunya untuk datang menyaksikan dan bisa ikut serta dalam prosesnya,” harapnya.

Kegiatan Festival Nasi Bekepor diakhiri dengan makan bersama sambil duduk beseprah, meskipun menu yang disiapkan sederhana namun menggugah selera. Adapun lauk pendamping Nasi Bekepor diantaranya pirik cabek belimbing tunjuk alias sambel ulek belimbing wuluh ikan bakar, jaong atau Kecombrang, sambel goreng pepik dan lainnya.




Lomba Fashion Casual Ulap Doyo Se-Kaltim


 Selamat kepada para pemenang Lomba Fashion Casual Ulap Doyo se-Kaltim tahun 2019 yang telah berlangsung di Hotel Grand Fatma Tenggarong, masing – masing wilayah kota atau kabupaten di Kaltim ikut mengirimkan perwakilannya dalam Fashion Casual Ulap Doyo se-Kaltim, semua pakaian yang terbuat dari ulap doyo terlihat sangat menarik saat di kenakan oleh para model yang mengikuti Fashion Casual Ulap Doyo, baik untuk para model pria maupun wanitanya. Kegiatan ini di dukung diantaranya oleh Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Kutai Kartanegara, serta para seponsor lainnya.





 Untuk di ketahui Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar. Benang daun doyo kemudian diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna yang umum ditemukan antara lain merah dan cokelat. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Adapun warna cokelat diperoleh dari kayu uwar.

 Proses pembuatan tenun ulap doyo diwariskan secara turun temurun melalui suatu proses yang unik. Kaum wanita Dayak Benuaq mulai menguasai proses pembuatan tenun ini sejak usia belasan tahun secara spontan, tanpa melalui proses latihan. Mereka menguasai tehnik ini hanya dengan melihat proses kerja para wanita yang lebih tua seperti ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang. Karena transfer keterampilan yang berlangsung secara unik ini, hampir dipastikan sulit menemukan orang yang menguasai tehnik tenun ulap doyo di luar Suku Dayak Benuaq.



Festival Budaya Maluhu


 Sesuai yang telah terjadwal pada Calender Event Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, bahwa pada tanggal 30 April sampai 3 Mei 2019, bahwa akan ada even Festival Budaya Maluhu untuk memperingati Hari Ulang Tahun Maluhu yang ke- 49. Pawai Budaya dilaksanakan dengan garis Start pawai di SDN 010 Maluhu dan Finish di Lapangan Sasana Krida Bhakti Kelurahan Maluhu. Acara pawai dibuka oleh Bupati Kutai Kartanegara yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP.

 Dalam sambutan Bupati Kab Kutai Kartanegara, yang di bacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP., disampaikan bahwa Festival Budaya Maluhu ini telah menjadi bagian dari Kalender Event Daerah Kutai Kartanegara. Dan setiap event dalam Kalender Event daerah menjadi representasi dan potret Kutai Kartanegara dengan berbagai keunikan dan keragaman di wilayahnya. Maka kedepan, ragam pengayaan konten festival akan menjadi tantangan tersendiri bagi panitia pelaksana, agar festival ini tetap menjadi atraksi wisata yang menarik dengan harapan agar berbagai atraksi yang ditampilkan dalam festival ini dapat menjadi magnet bagi pengunjung untuk datang, menyaksikan apresiasi seni budaya, dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat melalui pemasaran produk unggulan serta melakukan perjalanan wisata di destinasi wisata di sekitarnya.




 Penyelenggaraan Festival Budaya semacam ini bukanlah sekedar perayaan atau hiburan masyarakat saja namun terdapat makna penting di dalamnya yakni membangun kehidupan masyarakat yang berbudaya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh kelompok orang atau masyarakat yang di wariskan dari generasi ke generasi. Beliau juga sangat mengapresiasi bahwa pelaksanaan Festival Budaya Maluhu ini selain menampilkan budaya Jawa khas mayrakat maluhu, juga menampilkan kesenian daerah Kutai. Beliau juga berpesan kepada seluruh masyarakat Mahulu, agar menjaga keamanan dan ketertiban selama Festival Budaya berlangsung, agar menjadi tuan rumah yang baik dan melalui kolaborasi tiada henti, bangunlah citra yang baik untuk Kutai Kartanegara melalui pelaksanaanFestival Budaya Maluhu ini.




Festival Jembayan Kampung Tuha Di Kecamatan Loa Kulu


 Festival Jembayan Kampung Tuha III di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara kembali di gelar, kegiatan  berlangsung selama seminggu, dibuka pada tanggal 24 Maret dan akan ditutup pada tanggal 01 April 2019, festival ini terjadwal dalam kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, kembali di gelar berbagai macam kegiatan di dalamnya, diantaranya pada tanggal 21 maret doa bersama ( haul akbar ), ritual tepung tawar, karnaval. Tanggal 25 maret – 28 Maret akan berlangsung olahraga tradisional begasing serta diadakan pertunjukan seni budaya. Tanggal 27 Maret akan berlangsung napak tilas situs sejarah dan peniggalan bambu. 28 Maret ada acara ngande atau ngapeh budaya. Tanggal 30 Maret akan berlangsung susur sungai Jembayan, kuda lumping atau jaranan. Tanggal 31 Maret akan berlangsung ngelenjang begenjoh, becoret muha, pembagian dorprize, workshop, lomba nyayian lagu daerah. Dan tanggal 1 april penutupan Festival Jembayan Kampong Tuha III.







 


 Pembukaan telah berlangsung dan di Panggung Terbuka Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu. Pembukaan ini dihadiri unsur Musawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kecamatan Loa Kulu, Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., perwakilan Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Loa Kulu. Kepala Desa Jembayan. kegiatan ini berguna menghidupkan kembali budaya dan kearifan lokal yang ada di Desa Jembayan, kegiatan ini terlaksana berkat partisipasi masyarakat, dimana tahun ini merupakan tahun ketiga dalam penyelengaraan Festival Jembayan Kampong Tuha. Dalam kesempatannya Camat Loa Kulu H Adriansyah mengatakan Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang telah dilaksanakan melalui gotong royong ini, apalagi kegiatan ini telah teragendakan dalam kalender event tahunan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. merupakan sebuah ekspresi untuk terus mengingat sejarah kejayaan Jembayan dimasa lampau dan juga sebagai ruang temu bagi semua pihak untuk duduk bersama menyuarakan gagasan yang bersifat membangun, Festival Jembayan Kampung Tuha III sekaligus memberi ruang ekspresi seni untuk memelihara nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Desa Jembayan.


 adapun agenda acara ini yang di tunggu oleh masyarakat Jembayan dan sekitarnya kegiatan berupa karnaval, pertunjukan seni, bazar kuliner dan kerajinan, ngetam padi gunung, olahraga tradisional, ngentul benda, napak tilas situs sejarah, ngapeh budaya, lomba nyanyi lagu kutai, susur sungai jembayan, begenjoh, workshop (kerajinan) dan becolet muha.


Hari Tanpa Bayangan


 Peringatan Hari Tanpa Bayangan yang telah terlaksana dan terjadwal di kalender event Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, Acara ini juga diikuti dan di hadiri Kabid dan Kasi Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, beserta ratusan warga dan Saka Pariwisata yang telah melaksanakan kegiatan perkemahan selama dua hari di Tugu Equator Marang Kayu.

 Dalam geografis khatulistiwa ( bahasa arab ) dan equator ( bahasa inggris ) merupakan sebuah garis imajinasi yang di gambar di tengah planet di antara dua kutub dan pararel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Equator di sebut juga khatulistiwa. Thugu Khatulistiwa Santan Ulu atau Equator Santan Ulu adalah sebuah Tugu penanda garis imajiner khatulistiwa yang berlokasi diatas bukit yang tidak jauh dari pinggir jalan raya Bontang – Samarinda Km 25 Santan Ulu Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Tugu ini didirikan pada tahun 1993 oleh suatu kegiatan yang di namakan Karya Bakti LATSIRTADA ( Latihan Integrasi Taruna Wetda Nusantara ) yang di resmikan oleh Panglima ABRI Jendral TNI Faisal Tanjung.





 Adapun pada tahun 2010/2011 Tugu Equator tersebut di renovasi oleh PT. Kaltim Methanol Industri dan Kodim 0908/BTG.

 Didesa Santan Ulu ini kita dapat menikmati fenomena hari tanpa bayangan, secara ilmiah hari tanpa bayangan sebagai Transit Utama yakni saat matahari berada di titik Zenith sebuah tempat atau biasa di sebut Kulmulasi jika di sebuah tempat tersebut terjadi hari tanpa bayangan maka matahari tengah singgah tepat di titik atas wilayah tersebut. Fenomena tersebut memang tak pengaruh apa – apa, akan tetapi di Indonesia hanya terjadi di beberapa titik Kulmulasi matahari atau Ekinos, terjadi setahun dua kali tepatnya pada tanggal 21 – 23 maret dan 21 – 24 September.   


Pesta Adat Panen Ketan Muda Dusun Putak Desa Loa Duri Ilir


 Kembali terlaksana kegiatan Pesta Panen Padi Ketan Muda dalam rangka "Ngetooq Ngotamp Parai Puluut Manguur" yang di laksanakan oleh masyarakat Dusun Putak di Desa Loa Duri Ilir Kecamatan Loajanan, yang pelaksanaanya bertepatan dengan pase bercocok tanam yaitu pase panen padi ketan muda. Pesta Panen ini di hadiri dan di buka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sriwahyuni. MPP. bersama unsur Muspika Loa Janan, Managemen Perusahaan ABK beserta mitra kerja (Program Kebudayaan) selaku Pembina adat budaya Dusun Putak, dan Para Pemuka Adat serta tokoh masyarakat Desa Loa Duri Ilir.

 Dalam kesempatannya Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sriwahyuni. MPP. menyampaikan dalam sambutannya bahwa "Biasanya CSR Perusahaan membangun infrastruktur, namun disini berbeda. Disini ada pembangunan kebudayaan dan pembangunan sumberdaya manusia (SDM). Saya mengapresiasi perusahaan yang ada di Kecamatan Loa Janan yang konsen terhadap pelestarian budaya lokal yang ada di Kutai Kartanegara ini. Seperti ABK dan Mitra kerja, diuraikannya, budaya lokal yang mulai terkikis ini jika tidak ada yang peduli melestarikan, dipastikan kebudayaan yang ada di lingkungan warga akan hilang. Selain itu pihaknya mengapresiasi petani yang ada di Dusun Putak yang masih berladang padi. Ia menaruh harapan agar tahun depan bisa meningkatkan produktivitas padi yang selama ini digeluti.

 Dilanjutkan dengan pemaparan Manajer CSR PT ABK, Agung Hasanudin, mengatakan padi yang ditanam oleh masyarakat setempat adalah padi Varietas Serai dan Mayas. Padi khusus di lahan kering ini berbeda dengan varietas padi yang ditanam di lahan basah seperti sawah. Proses panennya juga berbeda, masyarakat Dusun Putak memanen padi dengan menggunakan ani-ani, yakni memetik helai demi helai.




Untuk di ketahui bahwa setiap tahunnya didemonstrasikan proses pembuatan bahapm oleh warga. Yaitu makanan tradisional adat dayak yang terbuat dari ketan yang sengaja dipetik waktu masih muda namun sudah berisi, ketan yang dipanen itu kemudian disangrai bersama kulitnya. Setelah matang kemudian ditumbuk menggunakan lesung. Selanjutnya ditapis dan dibersihkan dari kulitnya. Kemudian dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa. Makanan inilah sebagai sajian tradisional yang disuguhkan kepada pengunjung yang hadir pada saat panen raya itu.








Muara Badak Festival


 Pada bulan Maret, Kecamatan Mura Badak memiliki kegiatan yang telah masuk dalam Kalender Event Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, yang berlangsung pada tanggal 8 – 17 Maret 2019 yang bertajuk Muara Badak Festival 2019 #MBFEST2019 resmi dibuka oleh Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., Acara itu dirangkai dengan pemberian piagam penghargaan kepada semua sponsor acara MB Festival 2019 oleh Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. M.Si. dengan meneken tombol sirine sebagai tanda dibukanya Muara Badak Festival 2019. pada malam Jumat, 08 Maret 2019. Event terbesar di Kecamatan Muara Badak ini merupakan event tahunan dari Kecamatan Muara Badak yang kini sudah masuk di kalender tahunan event Kabupaten Kutai Kartanegara bersama dengan ERAU dan event lainnya. Dalam kesempatannya ketika membuka #MBFEST2019 beliau mengatakan setiap event dalam kalender event daerah menjadi representasi dan potret Kukar dengan berbagai keunikan dan keragaman wilayahnya. Demikian pula dengan MB Festival, yang secara khusus menghadirkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Diharapkan dengan adanya #MBFEST2019 sektor UKM (Usaha Kecil Menengah) bisa terus tumbuh dan berkembang di Kecamatan Muara Badak sehingga mampu menjadi solusi perekonomian Muara Badak dimasa mendatang. “Hal ini menunjukkan kesungguhan dan konsistensi untuk menjadikan Festival ini sebagai sebuah event tetap yang dimiliki oleh masyarakat Muara Badak. Karena itu pula, Muara Badak semakin menggeliat, dibarengi dengan berbagai agenda lainnya dengan menggandeng para pelaku seni budaya maupun siswa sekolah, bisa memeberikan warna baru dalam gelaran di Kukar.

 Salah satu tujuan penyelenggaraannya, #MBFEST2019 bukan sekedar hiburan bagi masyarakat. Konten edukasi, kolaborasi, pemasaran produk UKM dan apresiasi seni budaya menjadi bagian di dalamnya. Ragam pengayaan konten inilah yang menjadi atraksi atau daya tarik #MBFEST2019.“Atraksi inilah yang menjadi magnet bagi pengunjung untuk datang ke festival ini, untuk melihat ataupun menjajaki produk-produk UKM, melakukan transaksi belanja, menyaksikan apresiasi seni budaya serta melakukan perjalanan wisata di sekitar Muara Badak, khususnya pantai-pantai di Pangempang yang semakin dikenal masyarakat.




 


 Beliau mengatakan, pertumbuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang cukup tinggi di Kukar perlu mendapat pendampingan agar dapat bersaing baik dari sisi kualitas, kuantitas maupun keberlangsungannya. “Untuk itu, Pemkab Kukar telah meluncurkan program Idaman, yakni Inovasi Dagang Kemitraan bagi pelaku UMKM. Melalui program Idaman ini, pihak perusahaan setempat melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan menjadi bapak angkat yang membina para pelaku UMKM di wilayah operasi kerjanya, melalui kesempatan yang baik ini, saya mengajak kepada para pimpinan perusahaan untuk turut serta berpartisipasi dan meningkatkan program pembinaan dan pendampingan terhadap para pelaku UMKM melalui progam TJSP masing-masing. Keberhasilan pendampingan yang dilakukan adalah, ketika produk-produk UMKM setempat menjadi konsumsi produk di lingkungan perusahaan, dapat bersaing dengan produk-produk lainnya di toko-toko modern, serta memperoleh pangsa pasar yang lebih luas,” ajaknya. Beliau juga berharap agar Organisasi Perangat Daerah (OPD) terkait dapat mengambil langkah-langkah percepatan untuk pendampingan dan pembinaan UMKM di Kukar, agar memiliki daya saing dan pangsa pasar yang lebih luas baik melalui toko-toko modern maupun secara online. untuk diketahui bahwa selama #MBFEST2019 ini akan berlangsung berbagaimacam kegiatan diantaranya Bazar UMKM, Color run, serta akan mendatangkan para artis dangdut dari ibukota.




Workshop Koreografi Dan 13 Dasar Tari Jepen Kutai


 Workshop Koreografi dan 13 Dasar Tari Jepen Kutai dengan tujuan untuk mengenalkan maupun terus melestarikan Tari Jepen Kutai berlangsung di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kerjasama dari SKK Migas - PT Pertamina Hulu Mahakam, Yayasan Mahakam Lestari dengan Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara.



 Kegiatan Workshop Koreografi ini berrlangsung selama dua hari, dan di buka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegar Dra. Sri Wahyuni. MPP. untuk di ketahui bahwa Tari Jepen merupakan kreasi artistic yang timbul di tengah – tengah masyarakat umum. Gerakan tarian rakyat ini menggabungkan unsur – unsur tarian yang ada pada tarian suku yang berdiam ( tinggal ) di daerah pantai. Seni Tari Rakyat kutai yakni Tari Jepen. Tari jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang di pengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam ( Arabic ). Kesenian ini sangat popular di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun daerah pantai. Tarian pergaulan ini biasanya di tarikan berpasang – pasangan tetapi dapat pula di tarikan secara tunggal atau para muda mudi saja. Tarian jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama music khas Kutai yang di sebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus ( jenis gitar berdawai 6 khas kutai ) dan ketipung ( seperti gendang kecil ) da nada yang bernama Terbang ( seperti rebana ), di karnakan populernya kesenian ini, maka hamper di setiap kecamatan terdapat grup – grup jepen sekaligus tingkilan yang masing – masing memiliki gayanya sendiri – sendiri. 



  



 Selam dua hari ini para peserta di berikan materi dan langsung diajarkan gerak dasar dari tari jepen, Adapun Pakem ( Dasar ) Tari Jepen adalah Gelombang, samba ( putar ) setengah, samba ( putar ) penuh, ayun anak, tepok, langkah belau, langkah ketam, putar gasing, setep, taktim. Dalam rumpun melayu jepen di kenal banyak nama sesuai dengan identitas atmosfir wilayah terciptanya tari tersebut ada jepeng, zapin, japing, bedanya dan merupakan kebudayaan melayu yang mengakar dengan sisi tradisi masyarakat setempat jepen ini adalah salah satu tari pergaulan rakyat atau masyarakat melayu dan biasanya di tarikan dalam berbagai kegiatan sukacita atau pesta rakyat. Di lanjutkan dengan pengenalan kostum Jepen Kutai ini adalah baju cina yang kalau daerah lain biasanya disebut dengan baju telok belanga, baju cina ini baju yang di pakai dalam keseharian masyarakat Kutai, di lanjutkan dengan pengenalan gerak dasar Jepen yang diikuti oleh seluruh peserta Jepen dari Kecamatan Anggana, Kecamatan Samboja, Kecamatan Muara Jawa, dan Kecamatan Tenggarong.

 



  


Pelatihan Pemandu Wisata Di Visitor Center Tenggarong

 Dinas Pariwisata kab Kutai Kartanegara bekerjasama dengan SKK Migas – PT. Pertamina Hulu Mahakam dengan Yayasan Mahakam Lestari. Telah melaksanakan Pelatihan Pemandu Wisata selama dua hari di Jam Bentong, Tenggarong Visitor Center mulai tanggal (6/2/2019) sampai tanggal (7/2/2019). Acara ini di buka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan di hadiri oleh seluruh Kasi dan Kabid Dinas Pariwisata.


 Para peserta pelatihan ini selam dua hari akan di bimbing oleh pemateri dari Ketua DPD HPI Prov Kaltim Rusdiansyah. Selama kegiatan berlangsung semua peserta sudah merasa senang dengan kehadiran oleh pemateri Rusdiansyah karna sifat humoris beliau saat mengajarkan. Untuk hari pertama ini peserta akan di berikan beberapa materi. Materi pertama di sampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengenai peran pemandu wisata dalam meningkatkan citra daya tarik wisata Kutai Kartanegara. Isinya diantaranya membahas Daya Tarik wisata ( DTW ), SDM Daya Tarik Wisata, Citra Daya Tarik Wisata, Peran Pemandu Wisata bagi citra Daya Tarik Wisata.

 Beliau menjelaskan kalau ada top 7 Daya Tarik Wisata Utama Di Kutai Kartanegara bagi Wisman yaitu dari tertinggi kunjungannya sampai keterendah, BOSF Samboja, Bukit Bengkirai Samboja, Makam Raja – Raja Kutai Kartanegara, Museum Mulawarman Tenggarong, Lamin Etam Ambors, Museum Kayu Tenggarong, Wisata Sungai Mahakam. Dan Daya Tarik Wisata Utama Di Kutai Kartanegara bagi Wisnus yaitu dari tertinggi kunjungannya sampai keterendah, Pulau Kumala Tenggarong, Ladaya Tenggarong, Makam Raja – raja Tenggarong Lamin Etam Ambors Samboja, Pantai Pangempang Muara Badak, Museum Mulawarman Tenggarong, Pantai Tanah Merah Samboja, Pantai Sambera Muara Badak, Desa wisata Kresik Marang Kayu, Pantai Pemedas Samboja.

 Materi selanjutnya di sampaikan oleh bapak Rusdiansyah, beliau menyampaikan diantaranya pengertian pramuwisata atau pemandu adalah seseorang yang betugas memberikan bimbingan, pelayanan dan petunjuk tentang obyek wisata Indonesia serta membantu segala sesuatu yang di perlukan oleh wisatawan. Seorang pramuwisata harus memiliki kepribadian penuh perhatian, ketajaman daya ingatan, pandai bergaul dan periang, jujur, inisiatif, humoris, suka menolong, empati, dan pemimpin yang baik. Beliau juga memberikan mengenai pelajaran bahwa seorang pemandu haru harus dapat membuat perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan, pertama tentukan tempat farwell yang nyaman tenang dan mengesankan, tanyakan kesan dan pesan selama dalam perjalanan, berikan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan mengingatkan barang bawaan mereka, ucapan maaf dan terimakasih dan terakhir sampai jumpa lagi di lain waktu waktu dengan tour yang lain.

Tidak hanya belajar berupa materi, namun pelajaran langsung berupa praktek mengajak para peserta langsung ke objek wisata yang ada di Tenggarong Kutai Kartanegara seperti mengunjungi Pulau Kumala Tenggarong yang juga menjadi salah satu tempat wisata yang terbanyak pengunjunjungnya.












Even

Unduh Gratis