Statistik

Hit hari ini : 129
Total Hits : 1,330,819
Pengunjung Hari Ini : 61
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 336,508

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 53 Next > Last >>

Tenggarong Kutai Carnival ( TKC ) 2019


 Peragaan kostum yang sudah ditunggu masyarakat Kutai Kartanegara karna semua masyarakat dapat langsung berinteraksi dengan para talent yang ramah dan menggunakan kostum uniknya, masyarakat yang menonton bisanya langsung berfoto saat talen berjalan di rute yang telah disiapkan. Tenggarong Kutai Carnival   ( TKC ) digelar dalam menyemarakkan Festival Kota Raja ( FKR ) 2019.


 Dari pentas panggung Tenggarong Fair III para talen ini melakukan fashion show dengan mengangkat 3 tema kostum kearifan lokal daerah Kutai Kartanegara yaitu senjata tradisional Mandau, Tandok Payau atau Tanduk Rusa, dan Buah Lai yang bentuknya sama seperti durian namun berwarna kuning.  Tenggarong Kutai Carnival ( TKC ) di lepas langsung oleh Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara H Sunggono yang di damping Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP. Sebanyak 24 talent yang tampil memperagakan busana uniknya untuk TKC 2019, akan berjalan dari pentas FKR di lapangan parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong menuju lintasan Jalan Stadion, Jalan Teratai, Jalan Ki Hajar Dewantara, dan akan berakhir di depan Kedaton Kutai Kartanegara.


 Dalam kesempatannya Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara H. Sunggono menyampaikan beliau sangat terkesan dengan kostum – kostum yang menjadi kreasi para talent Tenggarong Kutai Carnival ( TKC ), ucapan terimakasih kepada para talent yang berpatisipasi serta inisiatif dari Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegarayang telah mempasilitasi kegiatan ini.


 Antusiasme warga dan peserta sangat luar biasa, mudah – mudahan kedepan ini dapat di pertahankan dan ditingkatkan lagi. Beliau berharap hal ini dapat meninkatkan kecintaan masyarakat untuk ikut melestarikannya, serta menimbulkan inspirasi bagaimana kearifan lokal tersebut dapat di jaga dan di pertahankan.

Tari Topeng Wirun Di Festival Kota Raja VIII


 Suasana penonton yang ramai memenuhi halama parkir Stadion Rondong Demang, seketika menjadi tenang ketika pembawa cara membacakan narasi dari cerita yang akan ditampilkan oleh Yayasan Songkoh Piatu. Musik yang dimainkaan saat tampilan tari membuat suasana hening, para penonton dengan seksama memperhatikan setiap tarian ini, Sandra tari ini di persembahkan untuk mempisualkan tari Topeng Wirun agar lebih menarik dan tidak membosankan bagi penonton , diawali baksa persembahan sebagai tari pembuka, yayasan Songkoh Piatu, mempersembahkan Sendra Tari Topeng yang berjudul Topeng Kutai Dalam Cerita Panji.


 Festival Kota Raja VIII dan Tenggarong Fair III ini menjadi ajang yang baik untuk memperkenalkan lagi Tari Topeng ini, serta mempromosikan tarian ini untuk di kenal dan di ketahui oleh peserta Peserta program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dari 11 negara, yang turut hadir pada malam ini.



 Tari Topeng Kutai mengalami kejayaan di masa Pemerintahan Raja Kutai Kertanegara ke XIX Sultan Aji Muhammad Parikesit. Tari ini dihidupkan kembali oleh Yayasan Sangkoh Piatu dimana anggotanya adalah generasi penerus sebelumnya. Tari Topeng yang akan di tampilkan oleh Yayasan Songkoh Piatu kali ini ada kisah Topeng Wirun. Kisah topeng wirun mempunyai kemiripan kisah dengan Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji yang menyebar keseluruh nusantara dan Asia Tenggara.Berawal dari kisah sekelompok putri keratin yang sedang bermain di taman sari, terganggu oleh kehadiran seorang pangeran yang mempunyai sifat angkara murka.


 Dengan kelicikan dan sifat angkara murkanya telah menculik salah satu putri yang tak lain adalah istri dari Pangeran Wirun. Pangeran wirun yang sedang tidur dan tengah bermimpi menjadi seorang wanitapun terbangun, ia lalu mencari sang putri disekelilingi istana. Pangeran wirun terus mencari dan mencari, sampai pada akhirnya tanpa disadari pangeran yang telah menculik istrinya tersebut telah menyerangnya dari belakang. Pangeran Wirun pun terjatuh, lalu tersadar bawa ia adalah seorang laki – laki yang istrinya sedang dalam bahaya, sehingga pertempuran pun tak terelakkan. 


Pecinta Hewan Hadir Di Tenggarong Fair III


 Festival Kota Raja VIII dan Tenggarong Fair III 2019 pada hari ke lima ini di meriahkan oleh kegiatan yang dilaksanakan oleg para pecinta binatang, hadir diantaranya Komunitas Pecinta Reftile atau Korek Tenggarong, Korek Samarinda, pecinta kucing Tenggarong. Mereka hadir dengan misi untuk memeriahkan Festival Kota Raja VIII dan mengedukasi lagi kepada masyarakat, bahwa kita bisa menjaga serta memelihara peliharaan kita dengan baik. Berlokasi di halaman parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong, komunitas pecinta reptil ini langsung menyapa para penonton bersama binatang yang telah di bawa. Dipandu Rudi sebagai pembawa acara para pemilik hewan – hewan ini memperkenalkan satu persatu hewan peliharaannya. Beberapa pecinta reptil asal Tenggarong memamerkan hewan reptil koleksi mereka, seperti ular, iguana hingga buaya.

 Jauh – jauh dari kota Samarinda, pecinta reptile ini hadir di Tenggarong Fair untuk ikut bersilaturahmi dan berkumpul sesame pecinta reptile yang berada di Tenggarong. Roby nama pemilik hewan yang unik ini bernama pana atau kadal lidah biru, beliau menjelaskan telah memelihara panana ini selama 3 bulan, makannya pun mudah bisa berupa sayuran dan buah. Disisi lain ada pula yang sedang asik menaruh dipundakkya hewan berupa musang akar yang di beri nama momo, momo ini sudah cukup lama di peliharanya yaitu selam 4 tahun. Roby menjelaskan bagi masyarakat yang ingin bergabung bisa untuk mengunjungi fecebook @samarinda reptile.

 Sejumla pengunjung yang awalnya takut terhadap reptile ini, namun setelah di jelaskan langsung oleh pemilik reptile kalau hewaln peliharaannya tidak berbahaya, karna memang sudah di pelihara dan di rawat sangat baik oleh pemiliknya. Akhirnya pengunjung yang memadati Tenggarong Fair berebut untuk berfoto bareng dengan hewan reptil. Bahkan ada yang langsung memegang serta bermain dengan hewan yang terkenal buas seperti ular piton, dan buaya.

 Tak hanya pencinta reptile yang hadir membawa hewan peliharaanya, para pecinta kucing atau yang bernama Tenggarong Cat Lover juga hadir sekaligus memberikan pelayanan kesehatan untuk kucingnya, jadi bagi masyarakat bisa datang membawa kucing kesayangannya untuk di periksa kesehatannya secara gratis. Dan bagi masyarakat yang ingin bergabung dengan pecinta kucing Tenggarong bisa bergabung melalui Facebook @Tenggarong cat lover.

Grand Final Teruna Dara Kutai Kartanegara 2019


 Kemeriahan dari dukungan para penonton yang hadir langsung memenuhi halaman parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong, mereka hadir untuk memberi dukungan kepada para finalisnya masing – masing. Tahapan demi tahapan seleksi sampai dengan karantina telah dilakukan para finalis Teruna Dara hingga sampai pada akhirnya terpilihlah ke 20 orang finalis ini yang pada malam ini mengukuti grand final Teruna Dara Kutai Kartanegara. ke 20 finalisnya yaitu 1. Feri Andrianton, 2. Medy Mercy, 3. M. Rizky Akbar Rianda, 4. Maulika Robiatul, 5. Muhammad Lufianto, 6. Rieke Auliya Rosdiana, 7. Erick Irawan, 8. Mercy Oct Fenny, 9. Ikhwan Irawan, 10. Yanti Ratna Sari, 11. Muhamad Defa Seman, 12. Miftahul Jannah, 13. Muhaqqy Dhafa Al-Ghifari, 14. Eka Fiva Parmasari, 15. Muhammad Andy Abdillah, 16. Prisilia Dina Fitdiyanti, 17. Satria Naufal Putra Ansar, 18. Uci Utami, 19. Giofray Mark, 20. Hilga Dwi Ariani. Mereka semua tampil memberikan tampilan terbaiknya di Panggung Hiburan Festival Kota Raja FKR ke VIII dan Tenggarong Fair 2019.

 Acara ini di hadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan yang menjadi Dewan Juri pada malam grand final Teruna Dara Kukar,  M. Fauzan Noor, SE. Par., M.Par MMHTRL, Dwie Arum Meynina. BA., I Made Kertayasa, S.K.M. CPS., Deddy Sudarya., Hasrulliansyah Wachyuni. SE. MM., selama masa Tanya jawab para peserta dapat memberikan jawaban terbaiknya, ini di karnakan para finalis selama karantina telah telah banyak dibekali akan pengetahuan dan wawasan Pariwisata dan Budaya tentang Kutai Kartanegara.

 Dan akhirnya terpilihlah sebagai Teruna dengan nama Satria Naufal Putra Ansar dan Dara Mercy Oct Fenny. Terpilih sebagai Putri Pariwisata Medy Mercy, Terpilih sebagai Teruna Wakil I adalah Giofray Mark dan Dara Wakil II : Prisilia Dina Fitdiyanti. Teruna Wakil II : Muhaqqy Dhafa Al – Ghifari  dan Dara Wakil II : Eka Fiva Parmasari Sedangkan untuk Teruna Persahabatan ialah Muhaqqy Dhafa Al – Ghifari  dan Dara Persahabatan ialah Maulika Robiatul. Terpilih sebagai Teruna Favourite ialah Giofray Mark dan Dara Favourite ialah Yanti Ratna Sari Untuk Teruna Berbakat terpilih ialah Muhammad Rizky Akbar Rianda dan Dara Berbakat ialah Prisilia Dina Fitdiyanti.

 semua Taruna Dara mengemban misi  utama untuk melestarikan budaya dan mempromosikan Pariwisata Daerah, dari 20 Finalis ada satu yang terdepan mereka ini lah yang nantinya yang menjadi representasi generasi muda mewakili Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara didalam menyuarakan budaya daerah dan memajukan, mempromosikan potensi pariwisata Kutai Kartanegara,




Pemilihan Teruna Dara Kutai Kartanegara 2019


 Festival Kota Raja FKR ke VIII dan Tenggarong Fair 2019 yang masih berlangsung selama sepekan ini, satu kegiatan yang juga di tunggu oleh masyarakat Kab Kutai Kartanegara khususnya, yaitu ajang pemilihan Teruna Dara kutai Kartanegara 2019. Ajang bergengsi ini selalu ditunggu oleh para pemuda yang berada di Kab kutai Kartanegara dan sekitarnya, karna akan banyak proses yang akan dilaui oleh setiap pemuda baik pria maupun wanita yang akan mengikuti ajang pemilihan Turuna Dara Kukar 2019 ini.  Pemilihan Teruna Dara Kutai Kartanegara (KuKar) berlangsung setiap tahunnya untuk memilih Teruna dan Dara terbaik yang akan menjadi Duta Wisata Kutai Kartanegara dalam mempromosikan maupun memperkenalkan pariwisata Kutai Kartanegara di dalam maupun di luar daerah. Setiap tahunnya pula dalam tahap seleksi ini diikuti peseta dari berbagai kecamatan di Kutai Kartanegara seperti Tenggarong, Kota Bangun, Loa Kulu, Marangkayu, Anggana, dan kecamatan lainnya di Kutai Kartanegara. Dalam tahap pemilihan yang nantinya akan memilih 20 finalis Teruna Dara, calon Teruna Dara harus mengikuti beberapa tahap seleksi yang meliputi tes wawancara maupun tes tertulis menyangkut pengetahuan umum, seni budaya lokal, dan kepariwisataan Kutai Kartanegara.

 Setelah melakukan semua proses seleksi, tahap selanjutnya yaitu penentuan peserta yang lolos sebagai finalis Teruna Dara Kutai Kartanegara sebanyak 20 finalis (10 Teruna, 10 Dara). Seteelah 20 finalis terpilih, para finalis harus mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk menghadapi tahapan selanjutnya. Para finalis akan memasuki masa karantina hingga babak yang paling penting, yakni grand final Teruna Dara Kutai Kartanegara. Kemudian sebagai persiapan menghadapi masa karantina dan grand final, para finalis Teruna Dara mengikuti pra karantina sebagai pembekalan sebelum di karantina. Dalam tahap pra karantina, para peserta diberi materi pembekalan sebelum karanitina dengan tujuan para finalis siap mengikuti karantina agar bisa tampil total dalam grand final.

 Pada hari rabu 10 Juli 2019 bertempat di panggung FKR halaman parkir Stadion rondong demang Tenggarong,  akan di laksanakan grand final pemilihan Teruna Dara Kutai Kartanegara 2019. Pemilihan ini akan di laksanakan pada pukul 19.30 Wita. Jadi bagi masyarakat bisa langsung memberikan dukungannya kepada para finalis baik melalui instagram @terakukar Teruna Dara Kutai Kartanegara dan bisa hadir langsung saat malam pemilihan di panggung FKR Tenggarong fair 2019.

 Adapun nama ke 20 finalisnya yaitu 1. Feri Andrianton, 2. Medy Mercy, 3. M. Rizky Akbar Rianda, 4. Maulika Robiatul, 5. Muhammad Lufianto, 6. Rieke Auliya Rosdiana, 7. Erick Irawan, 8. Mercy Oct Fenny, 9. Ikhwan Irawan, 10. Yanti Ratna Sari, 11. Muhamad Defa Seman, 12. Miftahul Jannah, 13. Muhaqqy Dhafa Al-Ghifari, 14. Eka Fiva Parmasari, 15. Muhammad Andy Abdillah, 16. Prisilia Dina Fitdiyanti, 17. Satria Naufal Putra Ansar, 18. Uci Utami, 19. Giofray Mark, 20. Hilga Dwi Ariani.




Zumba Party Dan Lomba Mewarnai Di FKR Ke VIII


 Hari kedua rangkaian Festival Kota Raja 2019, pada hari ini akan ada kegiatan dari pagi sampai malam harinya, Lomba begasing yang masih dalam babak penyisihan karna banyak sekali peminatnya akan terus berlanjut sampai dengan sepuluh besar, acara liga dangdut juga masih dalam penyisihan, lalu ada pameran dan bazar art & craft yang menyajikan berbagai macam olahan masing khas daerahnya masing – masing.   

 Suasana Festival Kota Raja FKR ke VIII dan Tenggarong Fair 2019 pagi ini menjadi meriah karna adanya kegiatan Zumba Party yang diikuti oleh ratusan masyarakat umum baik dari ibu – ibu maupun anak – anak yang ikut meramaikan saat Zumba Party tersebut, lengkap dengan seragam serba kuningnya dari topi, pakaian, hingga sepatu.  

 Setelah usai kemeriahan Zumba Party, masih di lokasi yang sama, yaitu di panggung Tenggarong Fair 2019 puluhan anak telah siap dengan alat tulis dan gambarnya, untuk mengikuti kegiatan lomba menggambar dan mewarnai. Untuk kegiatan ini Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara bekerjasama dengan Rumah Budaya melaksanakan kegiatan lomba mewarnai, pada hari minggu tanggal 7 juli 2019 dengan peserta mewarnai sebanyak 18 orang. Dengan dukungan para orang tuanya, semua peserta anak – anak penuh semangat mengerjakan tugasnya masing – masing.

 Setelah selesai mewarnai dan menggambar, semua hasil lomba menggambar dan mewarnai langsung dinilai oleh dewan juri. Terpilih sebagai Juara 1 mewarnai dengan nama Zhahira chintya dwi afifah, juara 2 Emilia Nabila Putri, Juara 3 Nur Afni Octavia. Harapan 1 Vincent Farliant, Harapan 2 Kalila Nur Ratifa, harapan 3 Andi Syarah Billa, Favorit 1 Pramatya Arum Kinasih, Angelina Farliant, favorit 3 Ashika dwi rahma.

Pada malam harinya di panggung hiburan Tenggarong Pair 2019 akan berlangsung tampilan Esemenes, di lanjutkan tampilan Smk N 2 Tenggarong ( Doremi Band ), Uyai Tiga ( Tampilan pentas seni daerah ), TMC Band, Red Sugar, Rivera.




Liga Dangdut Di Festival Kota Raja VIII


Kabar gembira untuk pencinta dangdut yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sekitarnya, karna dalam rangkaian kegiatan Festival Kota Raja FKR ke VIII pada tahun 2019 ini mengadakan kegiatan Liga Dangdut. Kerjasama dari Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara dengan Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia ( PAMMI ). Pada sebelumnya telah dilaksanakan audisi di gedung serbaguna yang yang berada di Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara.

 Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP., di dampingi perwakilan Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia Kutai Kartanegara ( PAMMI ), telah membuka secara resmi di pentas Tenggarong Fair yang di tandai dengan pemukulan bedug. dalam kesempatannya beliau mengatakan bahwa selama dua tahun ini, Kab Kutai Kartanegara telah melahirkan talenta – talenta dangdut hingga ke ajang nasional. Pemkab Kutai Kartanegara dalam momen ini juga akan mengadakan Liga Dangdut Kutai Kartanegara untuk terus melahirkan talenta – talenta baru.  Liga dangdut ini akan berlangsung setiap harinya selama tiga hari di Panggung Tenggarong Fair yang terletak halaman Stadion rondong demang Tenggarong, sehingga masyarakat dapat melihat serta memberikan dukungannya secara langsung kepada para penyanyi yang mengikuti Liga Dangdut.

 Suasana FKR VIII dan Tenggarong Fair 2019 memang selalu di penuhi masyarakat yang ingin melihat setiap kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia dari pagi hari sampai dengan malam hari akan selalu kegiatan baik di panggung maupun di area stand pameran yang ada, terlebih lagi pada acar Liga Dangdut ini yang memang sudah di nantikan oleh masyarakat Kutai Kartanegara. Dan untuk Masyarakat Kutai Kartanegara sekitarnya dapat menyaksikan Final Liga Dangdut yang akan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 9 Juli 2019 dari pukul 10. 00 – 16 .00 Wita. Di panggung hiburan Tenggarong Fair.

Lomba Begasing Di Festival Kota Raja VIII Dan Tenggarong Fair 2019


Serunya Lomba Begasing dalam rangka meramaikan Festival Kota Raja VIII dan Tenggarong Fair 2019. Dinas pariwisata kab Kutai kartanegara bekerja sama dengan Keroan Begasing Kutai melaksanakan Perlombaan tradisional begasing ini dari tanggal 7 sampai dengan 8 Juni 2019. Kegiatan ini berlangsung di halaman Stadion Rondong Demang Tenggarong. Permainan Bagasing ini tidak terpisahkan dari masyarakat Kutai karna menariknya permainan tradisional ini, sehingga dari anak – anak hingga dewasa, hingga orang tua beradu ketangkasan dalam memainkan gasing yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Antusias terhadap permainan olahraga tradisional ini sangatlah tinggi dan menjadi tontonan mengasikkan bagi masyarakat.





Begasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik, sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial) dengan diameter sekitar 10 hingga 15 centimeter, tinggi sebuah gasing 15 sampai 20 centimeter, salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin. Pada ujungnya dipasang bahan logam sebagai poros putaran, biasanya menggunakan paku jenis kayu yang digunakan kayu benggris atau ulin. Sementara tali penarik berdiameter 0,5 centimeter dengan panjang 1 hingga 1,5 meter. Kemudian tali ini dililitkan ke gasing dengan bagian ujung tali dikaitkan ke jari sang pemain. Setelah itu dilemparkan ke bawah seperti membanting sesuatu, sehingga tali melilitnya membuat gasing berputar dan gasing dapat berputar.

 Melalui Festival Kota Raja (FKR) VIII di Tenggarong, permainan gasing kembali diperkenalkan. Masyarakat bisa menyaksikan langsung berbagai jenis gasing dan ikut bertanding di Tenggarong Fair 2019, di halaman parkir Stadion Rondong Demang. Komunitas Keroan Begasing Kutai hadir mempertahankan permainan tradisional yang nyaris punah. Terlihat antusias masyarakat umum yang mengikuti Lomba Begasing ini dengan peserta untuk katagori beturai sebanyak 142 Orang dan katagori Berajaan sebanyak 72 Orang. Selama beberapa hari permainan ini dilaksanakan dan berhasil menjadi pemenang dengan dua kategori.

 Kategori Beturai : Keluar sebagai Juara 1. Agus Bro KBM, Juara 2.Amat KGH, Juara 3. Panut KGH, Juara 4.Husni KBM. Dan untuk Kategori Berajaan : Juara 1. Ahmad KGH Juara 2. Muhammad zhamborano BOR Juara 3. Syahran MKR Juara 4. Johansyah JGC.




Festival Kota Raja FKR Ke VIII


 Festival Kota Raja FKR ke VIII kembali digelar selama sepekan, mulai tanggal 6 - 14 Juli 2019. Acara pembukaan berlangsung pada sabtu malam yang dibuka dengan di tandai pemukulan bedug oleh Kepala Dinas Pariwisata beserta para tamu kehormatan lainnya. Dalam kesempatannya Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengatakan, penyelenggaraan Festival Kota Raja FKR ke VIII tahun ini akan berbeda dibandingkan pada tahun sebelumnya, di samping beberapa kegiatan yang sama, seperti Tenggarong Fair, pentas komunitas, ekspresi pelajar, pentas seni daerah, lomba permainan tradisional dan Tenggarong Kutai Carnival (TKC). "Menariknya nanti, 11 mahasiswa asing, penerima BSBI (Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia) akan tampil di penutupan FKR,".

 Pada tahun ini ke 12 orang peserta BSBI tersebut berasal dari Azarbaijan, Bangladesh, Fiji, Filipina, Jerman, Kamboja, Kiribati, Kolombia, Portugal, Serbia, Vietnam, dan tuan rumah Indonesia. Yayasan Gubang dari Tenggarong dipercaya kembali untuk menjadi mitra kerja Kementrian luar negeri RI sebagai tempat belajar kesenian daerah bagi peserta program BSBI.

 Mahasiswa asing ini akan menampilkan kemahiran mereka bermain musik gambus dan sampek serta menari Jepen dan Dayak. Peserta BSBI yang belajar seni budaya di Kukar selama 3 bulan ini akan menampilkan lebih dulu tarian asal negara mereka masing-masing, kemudian mereka mempersembahkan kesenian daerah yang sudah mereka pelajari di Kutai Kartanegara. Peserta BSBI akan tampil membawakan kesenian dari negara masing-masing, setelah itu mereka berganti baju untuk mempersembahkan kesenian musik daerah Kutai dan Dayak, tarian jepen, gantar dan belian dari Dayak Benuaq.

 Untuk diketahui selama sepekan ini selam setiap harinya dari pagi hari sampai malam hari akan selalu ada kegiatan yang berpusat panggung dan halaman parkir stadion rondong demang Tenggarong. Untuk kegiatannya akan ada kegiatan Lomba Begasing, Liga Dangdut, Pameran dan Bazar Art & Craft, Lomba Mewarnai, Zumba party, tampilan kesenian dari pelajar atau siswa yang berada di Kab Kutai Kartanegara, dan pada malam harinya aka nada acara Pop Night, Metal Night, Olah Musik Daerah, Grand Final Teruna Dara, Screning Film, Reggeae Night, Hiburan Rakyat, dan saat penutupan akan tampil Tari Songkoh Piatu Tenggarong serta yang menarik aka nada tampilan dari pertukaran Budaya International Beasiswa Seni dan Budaya ( BSBI Night ).

Pembukaan Festival Budaya Kutai Adat Lawas Desa Kedang Ipil


 Pada tahun ini Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun untuk ke tiga kalinya mengadakan Festival Budaya yang diberi nama Kutai Adat Lawas. Acara yang berlangsung selama dua hari sejak Tanggal 29 s/d 30 Juni 2019. Untuk pembukaan Festival Budaya Kutai Adat Lawas berlangsung di Desa Wisata Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun telah di buka oleh Kepala Dinas Pariwisata, Ibu Dra. Sri Wahyuni, MPP.,  mewakili Bupati Kutai Kartanegara membuka secara resmi Festival Budaya yang saat ini sudah masuk dalam Calendar Event tahunan Kutai Kartanegara. Dalam kesempatannya beliau menyampaikan bahwa Desa Kedang Ipil adalah salah satu desa tertua yang ada di Kutai Kartanegara, desa ini sudah berumur 110 tahun.


 Setelah dinobatkan menjadi desa wisata, Kedang Ipil semakin giat menggali dan mengembangkan potensi pariwisatanya. Ibu Dra. Sri Wahyuni, MPP.,Wahyuni berharap agar desa wisata Kedang Ipil dapat bersinergi dengan banyak pihak, agar semakin menyiapkan festival yang bisa dikemas dalam paket paket wisata untuk menarik minat wisatawan. Pada tahun ini 12 pelajar mancanegara yang masuk dalam peserta program Beasiswa Seni dan Budaya ( BSBI ) 2019 dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Juga turut hadir mengikuti setiap proses adat dan budaya yang berlangsung selam dua hari ini di Desa Kedang Ipil. Desa Kedang Ipil yang ada di Kecamatan Kota Bangun, merupakan sebuah desa yang menjadi cikal bakal suku Kutai yang kemudian menyebar kemana-mana. Masyarakat desa Kedang Ipil hidup dari bercocok tanam padi dan sayur mayur serta buah-buahan.





 


 Kegiatan bercocok tanam padi pun hanya untuk dikonsumsi sendiri dengan memanfaatkan ladang berpindah dilahan berbukit dengan cara ngasak atau nugal atau yang dikenal dengan cara menabur benih secara langsung tanpa penyemaian dengan waktu cocok tanam pada bulan September sampai dengan bulan November dan dipanen sekitar empat sampai lima bulan kemudian. Desa yang sudah berusia ratusan tahun ini memiliki pesona alam serta adat dan budaya yang begitu menarik dengan daerah lainnya, salah satunya adalah upacara adat Nutuk Beham yang telah di laksanakan sebelumnya pada tanggal 26 sampai 28 April 2019 lalu. Nutuk Beham ialah merupakan acara adat dalam rangka merayakan keberhasilan panen, Nutuk Beham di laksanakan 1 kali dalam setahun, yakni saat panen muda ( prapanen / panen awal ) dalm acara ini warga bergotong royong untuk melaksanakan seluruh rangkaian acara mulai dari proses pembuatan tikar dari pandan hutan yang di pergunakan sebagai alas untuk menumbuk baham, lesung untuk menumbuk baham, memotong padi ketan muda untuk baham, merontok padi ketan muda untuk baham, di rendam minimal 1 malam, diangkat lalu ditiriskan, kemudaian di sangrai, lalu didinginkan kemudian di haluskan dengan cara di tumbuk menggunakan alu dan lesung sebanyak 2 tahap, berikutnya akan di buat menjadi kue ketan ( wajik / bongkal baham ). kue ketan akan di bacakan doa terlebih dahulu sebelum disantap bersama oleh semua warga yang hadir dalam acara tersebut. beberapa acara menarik akan disuguhkan kepada pengunjung dianataranya tepong tawar, tari pupur, tari ngasak padi, tari jepen, behempas, dan proses yang luar biasa yaitu Nutuk Beham yang semuanya dilakukan gotong royong tidak berhenti 24 jam selama 3 hari 3 malam. Keunikan yang ada pada proses nutuk beham adalah penggunakan lesung yang dibuat dari batang pohon cempedak dan diatur sedemikian rupa diatas panggung. Warga secara bergantian dan berkelompok mulai menumbuk atau menutuk beham dan pada saat alu di tumbukkan, lesung mengeluarkan bunyi khas dan berirama sesuai kekuatan yang menumbukkan alu pada lesung.


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis