Benner Naga

Fashion Street

Bukit Bangkiray

Seni

Lapion

Statistik

Hit hari ini : 359
Total Hits : 316,038
Pengunjung Hari Ini : 95
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 74,418

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 25 Next > Last >>

DIALOG BUDAYA MASYARAKAT KUTAI

 Bertempat di area Festival Kampung Kutai, pada Senin  malam 13/10/2014  digelar acara dialog Budaya dengan menghadirkan tokoh budayawan dan Seniman dari Kota Raja Tenggarong, dialog ini membahas tentang Seni Budaya yang ada di Kutai Kartanegara, dan hal ini berkaian dengan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang ke 232, ada pun narasumber yang dihadirkan adalah Sekretaris Kedaton Kutai Kartanegara HAP Gondo Prawiro, Erhamsyah Sadi, Adi Kuswara, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP yang juga sebagai Moderator pada diskusi ini.

 Ketika ditanya tentang Festival Kampung Kutai, HAP Gondo Prawiro mengatakan Diera globalisasi yang serba modern, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dan Pemda Kukar masih ingat dengan Kampung Kutai, sebab miniatur Kampung Kutai ini sangat menarik dan mengingakan tentang kehidupan Kampung Kutai jaman dulu, dan kedepanya mungkin perlu untuk berdiskusi dengan arsitek kampung kutai, sebab bentuk-bentuk rumah kutai ada beberapa bentuk, menurut nya karena ini kampung kutai jaman dulu sebaiknya ada kegiatan seperti orang membuat / masak lemang, ngawah ( masak nasi di tempat kawah  besar) yang dilakukan secara bersama yang dilakukan oleh para pria. Karena ini merupakan budaya, dan budaya menghasilkan misalnya makanan, seperti jajak cincin dan lainnya, dan kalau perlu ada pohon buah bolok yang sering dinyanyikan namun tidak pernah melihat bentuk pohon dan buahnya yang terkenal itu.

 Begitu pun dengan Narasumber yang lain mengapresiasi keberadaan  dengan adanya kampung kutai ini, menurut seniman Erhamsyah Sadi (caca) ia kagum dengan desain kampung kutai jaman dahulu, namun karena ini baru awal ada beberapa hal yang diperhatikan, seperti rumah daun, dindingnya menggunakan dinding kajang, dan kedepanya, agar bisa menghadirkan kampung kutai sebenarnya, karena ini kampung kutai maka budaya dan adat istiadat kutai juga harus ada didalamnnya

Semantara itu menurut seniman yang juga budayawan kutai Adi Kuswara mengatakan Perkampungan kutai ini cukup bagus, ada 2 pondok pehumaan dan rumah rantauan Perkampungan kutai merupakan gambaran perkampungan masa lalu, dan ini sebagai upaya pelestarian budaya, supaya anak cucu kita tahu tentang rumah-rumah kutai tempo dulu. Dan menghimbau kepada para seniman agar bersama-sama membina dan mengembangkan seni dan Budaya Kutai.

 Dalam kesempatan itu sekretaris kedaton menampik bahwa ada anggapan  orang kutai itu “Pembayut” (Pemalas), dan hal itu tidak benar ini dibuktikan  pada abad ke II sudah berdiri kerajaan di tanah kutai yang merupakan kerajaan tertua di Indonesia, menurut dia mana mungkin orang pembayut bisa membangun sebuah kerajaan, adanya kota Balikpapan, samarinda, tenggarong dan kota bangun itu semua dibangun oleh orang kutai, jadi tidak benar bahwa orang Kutai Itu pembayut (Pemalas) dan orang pendatang merasa hebat, mungkin kata pembayut sebagai pemacu supaya orang kutai lebih maju lagi, pungkasnya

Semantara itu Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan  rumah-rumah yang ada di kampung Kutai ini hanya bersifat semantara dan dalam jangka panjang, nantinya akan ada Perkampungan Kutai yang sebenarnya, dengan kehidupan dan adat istiadat Kutai didalamnya, menanggapi tentang Pembayut, Dra. Sri Wahyuni. MPP menmbahkan bahwa dari 10 Kabupaten / Kota di Kaltim 8 kota diantaranya merupakan eks Wilayah Kesultanan Kutai, itu mengambarkan betapa besarnya wilayah Kutai sehingga tidak benar bila orang Kutai dikatakan Pembayut,untuk itu jangan mau di katakan pembayut dan mari tunjuk kan kalau orang kutai bisa menjaga dan memelihara Kejayaan.

Penutupan Kampong Koetai Dan Pentas Seni


 Minggu malam tanggal 19 Oktober 2014, Festival Kampong Kutai dan Festival Seni Nusantara dalam rangka Hari Jadi Kota Tenggarong ke-232  Tahun 2014 resmi ditutup oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Dra. Hj. Yuni Astuti, MM., acara yang ini telah berlangsung selama sepekan yang diisi dengan kegiatan khas kutai dari pagi sampai dengan malam hari, penutupan kampong koetai ini juga dihadiri ketua panitia penyelnggara dan tokoh masyarakat , seniman, dan budayawan, acara ini dirangkai dengan penampilan kelompok seni dan paguyuban yang ada di Tenggarong.



 Dimulai dengan penampilan sanggar Kutai Lestari yang menampilkan  tari Singkil Mayang yang merupakan tari untuk upacara bependian atau mandi – mandi, kemudian menari Jepen Cirup untuk upacara menanam padi dan menyanyikan beberapa lagu tingkilan dengan judul Ulang Tahun Tenggarong. Paguyuban Sunda menampilkan Seni Bela Diri Pencak Silat yang merupakan bagian seni bela diri dari Jawa Barat di iringi dengan hentakan gendang, terompet dan gong, terlihat seseorang yang sangat cekatan menampilkan seni bela diri tersebut diatas pentas tak hanya ini  Kelompok tiak belulaq dari kelompok Dayak Benuaq menampilkan tari penghormatan para tamu .Dalam Sambutannya Hj. Yuni Astuti selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwiata merasakan senang dan bahagia  berkumpul dalam sepekan dalam kegiatan Pentas Seni Nusantara dalam rangka Festival Kampong Kutai yang telah terlaksana dengan tertib,lancar aman dan baik. Festival Kota Tenggarong yang ke-III telah melaksanakan berbagai macam kegiatan  yaitu Pemilihan Teruna Dara 2014, Festival Seni Nusantara , Festival Kampong Kutai, Tenggarong Kutai Carnival dan lampion ini semua untuk memeriahkan HUT Kota Tenggarong.






 Tujuan Festival Kampong Kutai adalah untuk mengingat atau mengenang kehidupan nenek moyang etam dahulu dimana setiap hari sida embok dengan busu menyediakan makanan dengan masakan ala Kutai , dari ujung keujung rumah yang dibuat dari kulit kayu berhatapkan daun kajang dan disandingkan perubahan bahan pembuatan rumah yang lebih modern. “ mari kita lestarikan dan memperkenalkan keanak cucu dan generasi muda pada saat ini. Siapa lagi kalau bukan kita untuk melestarikannya”.Tenggarong merupakan Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara yang merupakan kerajaan tertua diindonesia, Tenggarong dikenal dengan Kota Raja oleh karena itu kita  tetap menjaga ketertiban, keramahan, kebersihan, keindahan dan keamanan Kota Tenggarong sebagai kota wisata tempat kunjungan wisatawan. Beliau juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih setinggi – tingginya kepada Bank Kaltim, Panitia Penyelenggara , masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan dari Paguyuban Banyuwangi yang menampilkan seni tari yang berjudul Penggawa Panii Belambangan.


Sultan Menikmati Suasana Di Kampong Koetai





Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara yang menyelenggarakan Festival Kampong Koetai mendapatkankan kunjungan dari Sultan Kutai Kartanegara HAM Salehoeddin II, beliau mengunjungi arena Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu, sekaligus menikmati gambaran suasana pemukiman masyarakat Kutai asli. beliau mengatakan "Sudah dua hari berturut - turut saya kesini, karena saya suka dan menikmati suasana seperti ini," saat Sultan Kutai ke-21 tersebut berada di salah satu bangunan berdinding nipah di Kampong Koetai tersebut.



Saat berada salah satu rumah berdinding dan beratap nipah tersebut Sultan Kutai Kartanegara HAM Salehoeddin II diterima langsung oleh Kepala Dinas dan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan Dra. Hj. Yuni Astuti. semua tamu yang hadir mencicipi salah satu masakan khas Kutai yang telah di masak secara tradisional yaitu Bubur Jalo. 

Sultan Kutai Kartanegara HAM Salehoeddin II sangat mengapresiasi kegiatan Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu ini, menurut beliau kegiatan tersebut sangat tepat untuk melestarikan adat dan tradisi masyarakat, agar generasi saat ini bisa melihat dan melestarikannya, kemudian juga bagus untuk daya tarik wisata dan kegiatan itu bisa menunjukkan dan mengingatkan kembali suasana di perkampungan masyarakat Kutai puluhan tahun lalu. "Dulu dilingkungan istana kami juga punya pondok seperti ini untuk bersantai, sekaligus menikmati suasana kampong, beliau berarap bangunan yang ada di arena Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu itu tidak di bongkar.






Dra. Sri Wahyuni. MPP. mengatakan mengenai rumah yang ada karena letaknya di jalur hijau ditepi sungai mahakam, maka bangunan  Kampong Kutai tersebut tidak dibuat permanen dan akan di bongkar usai kegiatan dan "Insyaallah kami akan memindahkan atau membuat bangunan serupa yang permanen rencananya di areal Museum Kayu,". Kehidupan masyrakat asli Kutai yang ditampilkan pada Sepekan Kampong Kutai Tempo Dulu, sebagai kegitan Festival Kota Raja (FKR) dalam rangka memeriahkan hari jadi Tenggarong ke- 232. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada 13 - 19 Oktober 2014 mengambil lokasi di areal parkir Skate Park Timbau, Tenggarong.

Dra. Sri Wahyuni. MPP. menambahkan Terdapat 9 bangunan rumah yang disiapkan, terdiri dari 2 bangunan kulit kayu, 4 berbahan daun nipah, dan 4 berbahan papan kayu. Tiga jenis bangunan tersebut menggambarkan tahapan perkembangan arsitektur bangunan asli rakyat Kutai tempo dulu. Pada kegiatan Sepekan Kampong Kutai tersebut akan disimulasikan kehidupan sehari-hari penduduk asli Kutai, yaitu ada yang berprofesi sebagai petani dan nelayan. Kemudian ada juga yang berjualan kue-kue dan panganan tradisional khas Kutai, disini ditampilkan juga simulasi pembuatan gula merah dan alat-alat tangkap nelayan tradisional.


Malam Ramah Tamah RAKERNAS ASITA Bersama Bupati Rita Widyasari. S.Sos. MM.


Kehadiran tamu undangan dari Rakernas Ke III Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA) disambut pejabat strukural Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam acara  Ramah Tamah Bupati Kutai Kartanegara dihibur oleh  Band Orkes Kedaton asal Tenggarong yang menyanyikan lagu- lagu bernuansa dansa. Rombongan Rapat Kerja Nasional Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA) yang ke- III dari 19 Dewan Pelaksana Daerah ASITA hadir berdatangan dan langsung menempati meja yang telah disiapkan oleh panitia.

Dalam sambutan tertulis Bupati Kutai kartanegara yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Drs. Edi Damansyah, M.Si., memaparkan visi dan misi serta kebijakan mengenai Kepariwisataan Daerah, perbaikan akses transportasi menuju  Destinasi Wisata serta memperbaiki jalur transportasi Darat, Air maupun Udara sehingga keterbatasan untuk menjangkau disetiap Kecamatan dapat berjalan dengan lancar baik itu hak Pemerintah Daerah Maupun Jalan yang di pelihara oleh negara untuk terus didorong pembangunannya. Bupati juga mengharapkan dengan diselenggarakannya Rapat Kerja Nasional Asosiasi Travel Agent ini dapat membantu dan mendatangkan wisatawan lokal maupun asing untuk berwisata di Tenggarong Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur dengan mempromosikan daerah kerajaan Hindu Tertua di Indonesia.

Dilain sambutan Ketua ASITA Indonesia Asnawi Bahar mengatakan “Kami pilih Kalimantan Timur dan khususnya Kutai Kartanegara adalah sebuah misi agar destinasi yang ada di Indonesia lebih dikenal, agar tidak hanya destinasi yang sudah terkenal saja yang diangkat,”. Bersiap siaga menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA), Menurut Asnawi, industri pariwisata merupakan sektor industri yang memiliki sumber daya manusia paling siap menghadapi MEA 2015. Sebab, industri pariwisata memiliki banyak sertifikasi kerjasama dengan pemerintah dan memiliki LSU yang telah disahkan oleh pemerintah. Nantinya, dalam rapat ini akan dibahas susunan rancangan program pengembangan pariwisata yang akan direkomendasikan kepada presiden terpilih Joko Widodo.

UPACARA ADAT KUTAI, NAIK AYUN


 Bertempat di Kampong Koetai  Pada hari Sabtu 18/10/2014 berlangsung prosesi Naik Ayun yang dihadiri oleh Pejabat struktural dilingkungan Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara dan para Peserta  Rakernas Asita III, serta para penonton yang memadati halaman Parkir Kampung kutai yang ingin menyaksikan secara langsung prosesi Naik Ayun.


 Acara Naik ayun merupakan upacara adat menaikan untuk pertama kalinya seorang anak yang baru lahir yang berumur 40 hari ( kurang lebih 2 (dua ) Bulan)  kedalam ayun. Naik ayun sendiri bermakna pemberian doa dan restu agar anak memperoleh berkah, Sebelum upacara naik ayun di mulai, maka di dahului dengan pemberian nama atau Tasmiyah yang didahuui dengan Pembacaan Ayat suci Al-Qur’an. Ketika seorang anak yang lahir pada bulan Syafar maka sebelum dilaksanakan acara naik ayun maka wajib didahului dengan acara betimbang (menimbang anak) yakni anak terlebih dahulu ditimbang diatas dacing (alat timbangan) secara berturut-turut dengan kitab suci Al-qur’an, segelas air, buah-buahan serta sayur-sayuran.


 Setelah pemberian nama (Tasmiyah) selesai dilaksanakan, maka selanjutnya adalah menaikkan anak ke ayun dan Pemotongan rambut, yang diiringi dengan pembacaan berzanji (puji-pujian ke pada Rasulullah SAW), anak di gendong oleh seorang wanita “tetuha” keluarga yang berdiri diatas tilam kasturi dan secara bergilir laki-laki sesepuh keluarga atau pemuka masyarakat yang hadir bergantian memasukan anak ke dalam ayun seraya di tempung tawari dan ditaburi beras kuning.

 Setiap kali anak selesai dimasukan kedalam ayunan maka selembar kain dikeluarkan dalam ayunan, ini dilakukan sebanyak 5 (lima) kali berturut-turut rambut yang sudah dipotong dimasukan ke dalam buah kelapa gading, setelah itu dilanjutkan dengan acara mengedarkan ayam putih dan sebatang lilin yang menyala mengitari ayun dari sebelah kanan ke kiri sebanyak 3 kali, lolong ayam di lukai dan dioles kedua alis anak yang disebut becerak darah, selanjutnya lilin dimatikan dan jelaga pada sumber lilin di oleskan di dahi anak yang disebut becerak lilin.

 Setelah itu dilanjutkan dengan acara Tumbang Apam dan Nasi Rasul, yaitu anak yang naik ayun di gendong ibunya yang didampingi ayah serta saudaranya, yang berdiri diatas kain atau tajong yang berlapis, lalu Nasi Rasul dan Lilin yang menyala diangkat setinggi kepala,Nasi rasul dicicipi oleh anak dan kedua orang tuanya, semantara acara berlangsung diselingi dengan Selawat ke pada nabi Muhammad SAW, yang dibarengi dengan behambur beras kuning dan uang logam.

Sebagai akhir acara ibu yang menggendong bayinya didudukan diatas tilam kasturi, anak dicicipi pisang, bertus dan Nasi Rasul, kemudian anak di “Pelas” dengan acara diinjakkan kakinya pada besi dan Batu (Penunggu Ayun) kemudian segumpal tanah dan digenggamkan emas dan Perak, kemudian ibu dan anak di tempung tawari, dicecapi air bunga dan kepada ibu diisyaratkan mematikan lilin, sebagai Penutup oleh ibu dan Sanro (orang memimpin upacara) ditarik “ketikai lepas” sebagai ungkapan rasa syukur bahwa hajat untuk pelaksanaan naik ayun sudah selesai dengan selamat



CITY TOUR PESERTA RAKERNAS ASITA DI TENGGARONG



Hari terakhir pelaksanaan Rakernas ASITA III 2014 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, diisi oleh para peserta Rakernas dengan melaksanakan City Tour di Kota Raja Tenggarong.








Sebagaimana telah diketahui bahwa Rakernas ASITA telah berlangsung sejak tanggal 16 Oktober 2014 dan berakhir Tanggal 18 Oktober 2014, hari berakhirnya Rakernas ini bertepatan dengan perhelatan event besar di Tenggarong yaitu Tenggarong Kutai Carnival dan Pelepasan 10.000 lampion yang akan memecahkan rekor MURI.






City Tour yang dilaksanakan oleh para peserta Rakernas ASITA ini didampingi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan mengunjungi Planetarium Jagad Raya Tenggarong, Museum Mulawarman serta Festival Kampong Kutai. setelah City Tour ke tiga tersebut peserta Rakernas langsung menuju area Show Time Tenggarong Kutai Carnival (TKC) yang berlangsung di pedestrian depan Kantor Bupati Kutai Kartanegara. Para peserta Rakernas ASITA bersama para tamu undangan dengan antusias menyaksikan event tahunan yang menjadi ikon dari Festival Kota Raja yang diselenggarakan setiap tahun.






Pada malam harinya peserta rakernas kembali mengikuti salah satu event besar yang juga dilaksanakan setiap tahun di Tenggarong yaitu pesta langit malam atau pelepasan 10000 lampion yang tahun ini memecahkan rekor sebagai pelepasan lampion terbanyak se Indonesia.



SHOW TIME TENGGARONG KUTAI CARNIVAL 2014


The Nature Of Borneo menjadi tema pelaksanaan Tenggarong Kutai Carnival (TKC) ke III tahun ini. Diikuti 131 talent, dari 131 talent tersebut, 40 orang adalah talent anak - anak. Tenggarong Kutai Carnival 2014 mengusung 3 sub tema, yakni Mangrove (pohon bakau), Purun (anyaman tikar), dan Enggang (burung khas Kalimantan).






Tenggarong Kutai Carnival 2014 ini juga dimeriahkan oleh Marching Band dan Talent dari Jember Fashion Carnaval (JFC). Show Time TKC diawali dengan penampilan khusus dari para talent Tenggarong Kutai Carnival yang mengenakan kostum carnival tahun 2012 dan 2013.
Tenggarong Kutai Carnival 2014 ini salah satu rangkaian acara dari Festival Kota Raja dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong ke 232.







Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata, Sri Wahyuni mengatakan, TKC ini bertujuan untuk menggerakkan potensi kreatifitas masyarkat khususnya, dari segi kostum yang bersumer dari nilai budaya dan alam kukar. Tentu juga dari salah satu bentuk promosi wisata Kutai Kartanegara.







Bupati Kutai Kartanegara, Hj. Rita Widyasari, yang membuka sekaligus menyaksikan kegiatan tersebut memberikan apresiasi kepada para talent yang makin berkembang, baik dari segi kreatifitas pembuatan kostum maupun penampilan. Walaupun, menurutnya beberapa talent belum menunjukkan kemampuan secara total, khususnya talent anak - anak. Rita pun berharap kedepannya TKC terus berkembang dan maju dengan mempertahankan ciri khas kostum yang berasal dari budaya dan kekayaan alam Kukar.






Pembukaan Dan Welcome Dinner RAKERNAS ASITA 2014





Pembukaan Rapat Kerja Nasional III Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) dilaksanakan di halaman Kantor Bupati Kutai Kartanegara pada hari Jumat (17/10). Acara ini dihadiri oleh Ketua DPP Asita H Asnawi Bahar dan Ketua DPD Kaltim H
Eddy Yusuf Assainar serta staf ahli Bupati Kutai Kartanegara bidang
Hukum dan Politik serta jajaran FKPD Kukar. Rakernas III Asita di
Tenggarong dilaksanakan selama tiga hari sejak 16-18 Oktober diikuti
200 peserta dari DPD Asita seluruh Indonesia. 






Sambutan tertulis Gubernur Kaltim yang direncanakan akan membuka Rakernas ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaltim HM Aswin. Dalam sambutan itu disampaikan bahwa Biro-biro dan agen-agen perjalanan wisata harus turut ambil bagian serta berperan lebih besar di setiap event kepariwisataan. Gubernur menegaskan membuka kesempatan bersama agar potensi wisata digarap dan dikelola secara profesional dengan kemampuan maksimal.

Kendala dan hambatan terkait infrastruktur  terutama sarana dan prasarana penunjang (jalan/jembatan/pelabuhan/transportasi, perhotelan, rumah makan dan restoran maupun bidang SDM terus diatasi dengan dilakukan pembangunan sektor infrastruktur. Permasalahan di sektor pariwisata harus dapat diatasi melalui program dan kegiatan yang dilaksanakan secara sinergis dari para pihak (stakeholders) di jajaran pemerintah maupun swasta dengan dukungan masyarakat,” Sektor kebudayaan dan pariwisata menurut Gubernur terus dikembangkan karena Kaltim memiliki banyak potensi seperti peninggalan sejarah, keanekaragaman adat-istiadat dan budaya masyarakat yang didukung dengan keindahan panorama alam yang sangat menakjubkan.




Pembangunan sektor kepariwisataan sangat penting perlu dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu dan berkelanjutan dengan tujuan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai seni, adat-istiadat, budaya dan agama dalam masyarakat Kaltim yang multikultur. Dalam visi Kaltim Maju 2018 disebutkan sektor kebudayaan dan pariwisata dikembangkan dan diarahkan pada pengelolaan kekayaan budaya dan sejarah serta mengembangkan potensi pariwisata sebagai sumber devisa. Melalui  Tahun Kunjungan Wisata (Visit Kaltim Years 2014) kunjungan wisatawan akan terus ditingkatkan dengan kesiapan obyek wisata, pengelolaan usaha jasa, sarana dan prasarana pariwisata serta penunjang lainnya.





Gladi Resik Tenggarong Kutai Carnival (TKC) 2014



Sehari sebelum pelaksanaan Show Time TKC 2014. Para Talent TKC bersama instruktur dari Jember Fashion Carnival (JFC) melaksanakan Gladi Bersih yang dilaksanakan di area show time, pedestrian di depan Kantor Bupati Kutai Kartanegara (17/10. Sebelum melaksanakan gladi terlebih dahulu para talent melakukan blocking untuk pengenalan area runway mereka nantinya.






Kegiatan gladi ini dipimpin oleh Ketua TKC Ibu Nur Fajri dan Ketua AKARI Win Gunawan dibantu oleh para talent senior TKC yang lain. Instruktur dari Jember Fashion Carnival juga melakukan blocking untuk pengenalan runway yang baru pertama kalinya dilaksanakan di pedestrian depan kantor Bupati Kutai Kartanegara. Dua tahun sebelumnya opening show time TKC dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Kutai Kartanegara.






Presiden JFC, Dinand Fariz turut hadir dalam gladi resik ini dan ikut mengarahkan para talent TKC maupun JFC dalam melakukan latihan demi untuk mensukseskan kegiatan Show Time esok hari.






Tahun ini Tenggarong Kutai Carnival 2014 mengusung 3 sub tema, yakni Mangrove (pohon bakau), Purun (anyaman tikar), dan Enggang (burung khas Kalimantan).




PAGELARAN SENI MAMANDA “JANGAN NODAI PERJUANGAN KAMI”

Di Kerajaan Panji Berseri muncul lah sosok Pemimpin Perang yang gagah berani yang bernama Angga Sakti, dan selalu bertekad memberikan Perdamaian dan Kesatuan di dalam Kerajaan dan Raja Pun Senang dengan perjuangannya.

Pada suatu hari ketika Angga Sakti berjalan dari desa ke desa, tak disangka ia bertemu dengan orang yang sedang berkelahi, dan Angga Sakti pun cepat mengambil langkah dengan mendamaikan mereka antara kedua belah pihak.

Lalu Angga Sakti pun mengusulkan agar masalah ini diselesaikan dihadapan paduka Raja yang mulia, dan mereka pun sepekat menghadap Paduka Raja, akhirnya setelah mendengarkan dengan seksama pihak-pihak yang bersengketa, paduka Raja memutuskan bahwa masalah ini hanya salah paham dan minta kepada kedua belah pihak untuk berdamai dan saling memaafkan, keputusan sang Raja diterima kedua belah pihak dan mereka pun berdamai.

Paduka Raja merasa senang dan memberikan tanda Jasa kepada Angga Sakti, Ketampanan dan Kesaktian yang dimiliki Angga Sakti membuat Putri Raja yang bernama Putri Mayang Sari jatuh hati kepadanya, begitupun dengan Angga Sakti mengagumi kecantikan Putri Mayang Sari, akhirnya  Putri Mayang Sari memberanikan diri untuk menyampaikan maksud hatinya ke Permaisuri untuk disampaikan ke Paduka Raja, dan akhirnya Paduka Raja menyetujui hubungan mereka dan mengumumkan ke seluruh Negeri Kerajaan Panji Berseri.

Kisah Kerajaan Panji berseri diatas merupakan pementasan mamanda atau teater Tradisional khas Kutai yang dipentaskan oleh kelompok Mamanda Panji Berseri dengan judul Jangan Nodai Perjuangan Kami, pementasan ini untuk menyemarakan Festival Kampong Koetai dalam rangka HUT kota tenggarong yang ke 232 tahun yang digelar pada Jum’at 17/10/2014.

Menurut Derfi Kennedi yang juga sutradara dalam pementasan ini, kelompok Mamanda Panji berseri didukung oleh 20 pemain yang terdiri dari 16 pemain lakon, 3 pemain musik, sebab selama pertunjukan alunan musik yang khas yang terdiri dari Gong, gendang dan biola menyertainya, dan 1 orang Juru rias dan Pementasan ini juga di dukung penuh oleh Yayasan Total Indonesia