Banner 2

Baner Calender

Banner 3

Banner 6

Banner 5

Banner 7

Banner 8

Banner 9

Statistik

Hit hari ini : 185
Total Hits : 1,313,373
Pengunjung Hari Ini : 84
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 330,146

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 52 Next > Last >>

Tari Udip Kak Iwan Dan Tari Udip Kaq Metun


 Tarian yang di tampilkan saat pembukaan Upacara Adat Mecaq Undat Tabang, yang menceritakan peradaban masyakat suku dayak kenyah dari masa ke masa. Tari Udip Iwan yang menceritakan Kehidupan di Iwan sekitar tahun 1852. Di sungai Iwan suatu tempat di perbatasan Malaysia – Indonesia saat ini, suku Dayak Kenyah Lepok Tukung mulai hidup secara komunal atau bersama. Inilah sejarah zaman batu suku dayak kenyah. Kehidupan mereka saat itu benar – benar tergantung dari alam.


 Pakaian, makanan, peralatan kerja dan tempat tinggal diambil dari alam sekitarnya. Pada jaman inipun komunitas etnis Dayak Kenyah Lepok Tukung masih sangat eklusif dan terisolir. Mereka belum dikenal dan dikenal oleh dunia luar, kehidupan pada saat ini masih sangat kental dengan adat mengayau ( perang antar suku ).

 Tari Udip kaq Metun yang menceritakan kehidupan di Metun pada sekitar tahun 1872 Metun adalah period eke dua dalam sejarah perkembangan etnis Dayak Kenyah Lepok Tukung, setelah berdomisili sekian lama di Iwan. Mereka meninggalkan Iwan akibat desakan kebutuhan hidup, tantangan alam sekitarnya dan ancaman dari komunitas etnis Dayak lainnya. Itu terjadi karna perang suku dan kebiasaan Mengayau atau mencari tumbal  sebagai bahan sajian yang di persembahkan kepada dewa dewi yang di percayai.


 Ini adalah bagian dari kehidupan masyarakat dayak kenyah pada masa itu, di Metun masyarakat masih tetap terisolir dan tergantung pada alam sekitarnya, tak jauh berbeda dari kehidupan mereka di Iwan. Di Metun Masyarakat Dayak Kenyah Lepok Tukung sempat mencapai kemakmuran dan kejayaan ( menang dalam peperangan antar suku ) sampai terjadi kesombongan, tatanan kehidupan tidak teratur ( mudip selabu ). Akibatnya kemurkaan alam pun terjadi, masyarakat di serang dengan sebuah wabah penyakit dan kalah dalam perang sampai kehilangan Pemimpin.






Upacara Adat Mecaq Undat Tabang


 Kemeriahan pembukaan Festival Upacara Adat Mecaq Undat yang berlangsung di Tabang Kab Kutai Kartanegara. Seluruh Masyarakat tumpah ruah hadir saat upacara adat tersebut, dan para peserta yang hadirpun seragam masing – masing mengenakan pakaian adat dayaknya lengkap beserta aksesorisnya. Keramahan seluruh warga masyarakat menyambut para pengunjung menjadi salah satu ciri khas masyarakat Dayak Kenyah Lepok Tukung di Desa Tukung Ritan dan Ritan Baru.

 Mecaq Undat dalam bahasa Dayak Kenyah berarti menumbuk beras hingga menjadi tepung. Mecak Undat itu bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kemakmuran dengan hasil panen, juga bermakna kebersamaan dan gotong royong, karena dalam acara ini semua orang satu kampong berbaur dan bersama-sama menyiapkan acara ini. Pesta adat Mecak Undat dilaksanakan oleh suku Dayak Kenyah di Desa Ritan Baru dan Tukung Ritan Kecamatan Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

 Dalam kesempatannya Bupati Kutai Kartanegara Drs Eddy Damasyah. M.Si., yang turut hadir saat pembukaan  Festival Upacara Adat Mecaq Undat. Beliau menyampaikan apresiasi yang sebesar – besarnya kepada segenap tokoh adat dan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Tukung di Desa Tukung Ritan dan Ritan Baru yang telah bahu membahu dan bergotong royong dalam menyelenggarakan kegiatan Upacara Adat Mecaq Undat yang tahun ini dikemas secara berbeda.  Pada hari ini kita menyaksikan rumah – rumah tradisional tempo dulu yang secara khusus di bangun untuk memperkuat suasana tradisi kehidupan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Tukung ketika mulai membangun pemukiman di wilayah ini, seperti tari kolosal, pawai budaya, pertunjukan tari dan music tradisional.

 Bupati Kutai Kartanegara Drs Eddy Damasyah. M.Si., karna Mecaq undat ini merupakan salah satu warisan budaya daerah dan warisan budaya bangsa. Oleh karna itu beliau meminta kepada OPD terkait agar Upacara Adat Mecaq Undat ini dapat di daftarkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan di penuhi persyaratannya agar dapat tetapkan sebagai warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kalimantan Timur. Selanjutnya beliau juga membuka acara Mecak Undat dengan ditandai pemukulan gong, Bupati turut serta ambil bagian dalam menumbuk dengan mengikuti irama gong yang secara serentak bersamaan menumbuk beras.




Nutuk Beham Di Desa Kedang Ipil



Festival Adat Nutuk Beham, Panen Raya Kutai Adat Lawas, di Balai Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun,  yamg telah terjadwal dalam  Kalender Even Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini dimulai  dari Tanggal 26 s/d 28 April 2019. Nutuk Beham merupakan acara adat dalam rangka merayakan keberhasilan panen, Nutuk Beham di laksanakan sekali dalam setahun, yakni saat panen muda ( prapanen / panen awal ). Dalam acara ini warga bergotong royong untuk melaksanakan seluruh rangkaian acara mulai dari proses pembuatan tikar dari pandan hutan yang di pergunakan sebagai alas untuk menumbuk baham, lesung untuk menumbuk baham, memotong padi ketan muda untuk baham, merontok padi ketan muda untuk baham, di rendam minimal 1 malam, diangkat lalu ditiriskan, kemudaian di sangrai, lalu didinginkan kemudian di haluskan dengan cara di tumbuk menggunakan alu dan lesung sebanyak 2 tahap, berikutnya akan di buat menjadi kue ketan ( wajik / bongkal baham ).


 


 Kemudaian Kue ketan akan di bacakan doa terlebih dahulu sebelum disantap bersama oleh semua warga yang hadir dalam acara tersebut. Acara puncak adat Nutuk Beham berlangsung pada tanggal 28 April dalam upaya pelestarian salah satu tradisi dan budaya Kutai Adat Lawas. Acara diawali dengan ritual penyambutan Rombongan Bupati Kutai Kartanegara yg diwakili Dinas Pariwisata oleh Bapak Drs. Witontro. Selaku Kepala Bidang Pemasaran Wisata dengan didampingi oleh OPD terkait dan unsur Muspika Kecamatan Kota Bangun. Dilanjutkan dengan peninjauan prosesi Nutuk Beham, kemudian seremoni acara Nutuk Beham, ritual adat Mam'mang dan di tutup dengan acara Beseprah.

 Keunikan yang ada pada proses nutuk beham adalah penggunakan lesung yang dibuat dari batang pohon cempedak dan diatur sedemikian rupa diatas panggung. Warga secara bergantian dan berkelompok mulai menumbuk atau menutuk beham dan pada saat alu di tumbukkan, lesung mengeluarkan bunyi khas dan berirama sesuai kekuatan yang menumbukkan alu pada lesung.

Untuk di ketahui Desa Kedang Ipil merupakan sebuah desa yang menjadi cikal bakal suku Kutai yang kemudian menyebar kemana-mana. Masyarakat desa Kedang Ipil hidup dari bercocok tanam padi dan sayur mayur serta buah-buahan. Kegiatan bercocok tanam padi pun hanya untuk dikonsumsi sendiri dengan memanfaatkan ladang berpindah dilahan berbukit dengan cara ngasak atau nugal atau yang dikenal dengan cara menabur benih secara langsung tanpa penyemaian dengan waktu cocok tanam pada bulan September sampai dengan bulan November dan dipanen sekitar empat sampai lima bulan kemudian




JEDAK (Jejak Desa Kutai Lama) Gowes Sekulaan 2019 Di Desa Kutai Lama


 JEDAK (Jejak Desa Kutai Lama) Gowes Sekulaan 2019 di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Hari Minggu 28 April 2019. Telah berlangsung dengan sangat ramai dengan garis start di Pelabuhan Naga Kutai Lama, Jalan Putra Mahkota RT 01, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). para goweser sangat bersemangat untuk mengikuti JEDAK tersebut yang di hadiri langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si. terlebih lagi dari team Dinas Pariwisata yang memang sudah menyiapkan teamnya untuk bisa mengikuti Jelajah Desa Kutai Lama Ke 3 tahun ini.



 Acara yang di mulai mulai Pukul 07.00 WITA Peserta disuguhkan trek yang sangat menarik yang ada di Anggana, Kutai Kartanegara. Pihak panitia membuat sedikit perbedaan pada Jedak ke  3 ini, biasanya Gowes Sepedaan hanya manampilkan Trek yang membuat tantangan dan sedikit menyiksa pesertanya, kali ini tidak di Jedak 3. Peserta akan disuguhkan trek suasana Pedesaan, Perkebunan, Pertanian dan Indahnya Perbukitan Kutai Lama nan Asri jauh dari kesan kawasan tambang.  Peserta juga akan disambut oleh Kelompok Sadar Wisata Kutai Lama dengan tari Jepen Selamat datang dan mengikat kain kuning sebagai tanda bahwa anda tamu kami. Jedak juga melibatkàn UKM Center 8 Desa di Kecamatan Anggana yang mengusung program Inovasi Kami Olah Bebaya Putri Kencana dimana nantinya Para Goweser se Kalimantan Bisa berwisata Kuliner dan Jajanan Khas Kecamatan Anggana.



 Berbagai hiburan disajikan dalam event tahunan ini. Mulai dari penampilan seni tari jepen dari Sanggar Tari Sebuku Kutai Lama, kemudian dilakukan pelepasan peserta mulai usia dibawah 10 tahun dan diatas 55 tahun oleh Bupati Kukar di Pelabuhan Naga Kutai Lama. Setelah melewati rute yang dipersiapkan, 10 peserta atau goweser (pria-wanita) yang tercepat sampai di finish, langsung mendapatkan medali. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize berupa 11 unit sepeda MTB, 1 unit kulkas serta beberapa hadiah menarik lainnya.





Festival Hari Budaya


 Perayaan Hari Budaya dan HUT ke 16 Planetarium Jagad Raya Tenggarong berlangsung meriah sejak pagi hingga malam hari di dalam maupun di Halaman Planetarium Jagad Raya Tenggarong. Acara ini turut dihadiri oleh Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., yang didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata kab Kutai Kartanegara Ibu Dra. Sri Wahyuni. Mpp., Para pimpinan kelompok seni dan paguyuban dan para tokoh seni budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara.



 Di ketahui bahwa Hari budaya yang  jatuh pada tanggal 12 April, dan perayaan HUT ke 16 Planetarium Jagad Raya Tenggarong yang telah di resmikan pada tanggal 16 April 2013. Dalam sambutannya Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., beliau menyampaikan bahwa ini menunjukkan bahwa Kutai Kartanegara merupakan pusat budaya di Kalimantan Timur dan kehadiran Planetarium Jagad Raya merupakan perwujudan komitmen dan pandangan yang visioner bahwa Kutai Kartanegara dengan ragam wisata alam dan budayanya juga siap dengan wisata pendidikan yang berdaya saing.



 Festival ini bukan hanya sekedar peringatan atau hiburan masyarakat semata, namun terdapat makna penting di dalamnya yaitu turut membangun kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara yang berbudaya. Hari budaya ini juga bertujuan untuk melahirkan sikap apresiasi dan cinta budaya serta melestarikan budaya daerah dan adat istiadat masyarakat yang hidup dan tumbuh berkembang di lingkungan masing – masing. Jika budaya adalah asset bangsa, maka kita patut menjunjung tinggi, menjaga dan melestarikannya serta bersikap saling menghormati.



 Terkait dengan Planetarium jagad Raya Tenggarong, telah mengalami transformasi teknologi dalam memberikan layanan pengunjung untuk pembelajaran ruang angkasa khususnya di teater bintang. Terakhir beliau mngucapkan selamat Hari Budaya Kutai Kartanegara 2019 dan HUT ke 16 Planetarium Jagad Raya Tenggarong, semoga semakin menjadikan Kutai Kartanegara yang melekat di hati.


Hari Ulang Tahun Planetarium Jagad Raya Tenggarong


 Dalam rangka peringatan Hari ulang Tahun Planetarium Jagad Raya Tenggarong, bermacam kegiatan di laksanakan oleh pengelola Planetarium Jagad Raya Tenggarong yang dibawah naungan Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara. Diantaranya berupa pengamatan matahari dan bulan purnama,serta lomba mewarnai tingkat anak TK / Paud. Untuk pelaksanaan Pengamatan matahari (sun spot) sekitar pukul 11. 00 s/d selesai dan pengamatan bulan purnama pada pukul 20.00 s/d selesai di halaman Planetarium Jagad Raya Tenggarong.










 


 Untuk di ketahui bahwa Pengamatan matahari (sun spot) Sunspot atau bintik matahari adalah daerah di lapisan fotosfer matahari, yang memiliki suhu yang lebih rendah daripada daerah sekelilingnya. Suhu bintik hitam sekitar 4000 sampai 4500K, sedangkan suhu di sekelilingnya 6000 K. Bintik hitam terjadi karena adanya aktivitas magnetik pada matahari.

 Para siswa TK atau Paud yang megikuti lomba mewarnai di Planetarium ini di ajak untuk melihat Taman Tata Surya yang berada di area planetarium, lalu di jelaskan bahwa Planetarium berkapasitas 92 tempat duduk, di gagas oleh Bupati Kutai Kartanegra Bapak H. Saukani HR., planetarium Jagad Raya merupakan Planetarium ke tiga di Indonesia setelah Planetarium jakarta dan Planetarium Surabaya. Di bangun pada tahun 2000 dan di resmikan pada tanggal 16 April 2003, tempat ini merupakan sarana pendidikan untuk menikamti keindahan alam semesta berupa bintang – bintang, planet dan objek planet lainnya, dan pada Planetarium Jagad raya Tenggarong kita dapat menonton tayangan 3D tanpa menggunakan kacamata 3D dan hanya ada pada Planetrium Jagad raya Tenggarong. Dengan harapan setelah mengajak serta memaparkan mengenalkan riwayat Planetarium, adik – adik ini bisa lebih mengenal keragaman seni, budaya dan pariwisata Kalimantan Timur, sehingga nantinya mereka bisa bercerita kepada teman,saudara,dan keluarganya masing – masing tentang Plaetarium Jagad Raya Tenggarong.

 Selamat kepada para pemenang lomba mewarnai, Juara I dari TK Islam Salsabila atas na


ma Kalila Juara II dari TK Negeri 02 atas nama Peramatya Juara III dari TK Aba 1 atas nama Ratu Julia Daniswara Juara Harapan I dari TK Islam Salsabila atas nama Neysha Juara Harapan II dari TK Kemala Bhayangkari 7 atas nama M. Syarozi Zhafran Al Amin Juara Harapan III dari TK Negeri 02 atas nama Fazila Inastasya.


Festival Nasi Bekepor.


 Dalam Rangka memperingati Hari Budaya yang jatuh pada tanggal 12 April 2019, yang dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Kutai Kartanegara, acara ini digelar dihalaman Universitas Kutai Kartanegara bersama para Mahasiswa beberapa komunitas serta para undangan lainnya untuk mememasak Nasi Bekepor kemudian makan bersama dengan cara Beseprah.



Kegiatan Festival Nasi Bekepor merupakan salah satu upaya untuk melestarikan tradisi budaya kutai, mungkin banyak dari generasi sekarang yang tidak tahu Nasi Bekepor,yang merupakan cara memasak yang biasa dilakukan Masyarakat Kutai dahulu, saat berkumpul keluarga dan membuka ladang, untuk memasak nasi bekepor beras yang telah dibersihkan dimasukkan kedalam Kenceng (Periuk) kemudian dimasak menggunakan kayu bakar, seteleh mendidih dan air mulai kering kenceng diturunkan sejajar dengan kayu bakar lalu setiap 5 menit kenceng ini diputar agar matangnya merata,




 Festival Nasi Bekepor di buka Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP, yang ditandai dengan menyalakan kayu bakar, bersama Rektor Unikarta Erwinsyah, wakil ketua DPRD Rudiansyah, Anggota DPRD Abdul Rasyid.serta para undangan lainnya. Sambil menunggu Nasi Bekepor Matang, para undangan menjajal permainan tradisional begasing sembari dihibur musik Tradisi dari kelompok musik sekenceng.

Bupati Kukar dalam amanat tertulis yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar Sri Wahyuni sangat mengapresiasi inisiatif dari Fisipol Unikarta yang menggelar Festival Nasi Bekepor. “Kita tentunya mengapresiasi ini yang dilaksanakan dalam rangkaian Dies Natalies Unikarta sekaligus perayaan Hari Budaya Kukar yang jatuh pada tanggal 12 April,”

 beliau mengungkapkan proses penetapan Hari Budaya yang jatuh pada hari ini tepatnya pada tahun 2015 lalu adalah sumbangsih pemikiran dari salah satu tenaga pengajar Fisipol Unikarta, bersama dengan Puslit Kemenpar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Dalam Penta Helix pariwisata ada lima unsur yang saling terkait di dalamnya yakni Pemerintah, masyarakat atau komunitas, pihak swasta dunia usaha dan pelaku usaha pariwisata, akademisi dan media. Maka festival ini menjadi sebuah aktualisasi kampus Unikarta untuk pelestarian budaya sekaligus menjadi sebuah atraksi wisata,”. beliau berharap sebagaimana komitmen dari pihak kampus untuk menyelenggarakan Festival Nasi Bekepor setiap tahunnya bisa terus terlaksana dan menjadi bagian dari kalender pariwisata daerah Kukar.

 “Kita harap jangkauan pesertanya akan lebih luas, begitu pula dengan konten kegiatannya. Memasak nasi ala nasi bekepor akan menjadi atraksi wisata yang unik bila dikemas dengan baik, dan dipromosikan jauh-jauh hari agar pengunjung dapat merencanakan waktunya untuk datang menyaksikan dan bisa ikut serta dalam prosesnya,” harapnya.

Kegiatan Festival Nasi Bekepor diakhiri dengan makan bersama sambil duduk beseprah, meskipun menu yang disiapkan sederhana namun menggugah selera. Adapun lauk pendamping Nasi Bekepor diantaranya pirik cabek belimbing tunjuk alias sambel ulek belimbing wuluh ikan bakar, jaong atau Kecombrang, sambel goreng pepik dan lainnya.




Lomba Fashion Casual Ulap Doyo Se-Kaltim


 Selamat kepada para pemenang Lomba Fashion Casual Ulap Doyo se-Kaltim tahun 2019 yang telah berlangsung di Hotel Grand Fatma Tenggarong, masing – masing wilayah kota atau kabupaten di Kaltim ikut mengirimkan perwakilannya dalam Fashion Casual Ulap Doyo se-Kaltim, semua pakaian yang terbuat dari ulap doyo terlihat sangat menarik saat di kenakan oleh para model yang mengikuti Fashion Casual Ulap Doyo, baik untuk para model pria maupun wanitanya. Kegiatan ini di dukung diantaranya oleh Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Kutai Kartanegara, serta para seponsor lainnya.





 Untuk di ketahui Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar. Benang daun doyo kemudian diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna yang umum ditemukan antara lain merah dan cokelat. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Adapun warna cokelat diperoleh dari kayu uwar.

 Proses pembuatan tenun ulap doyo diwariskan secara turun temurun melalui suatu proses yang unik. Kaum wanita Dayak Benuaq mulai menguasai proses pembuatan tenun ini sejak usia belasan tahun secara spontan, tanpa melalui proses latihan. Mereka menguasai tehnik ini hanya dengan melihat proses kerja para wanita yang lebih tua seperti ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang. Karena transfer keterampilan yang berlangsung secara unik ini, hampir dipastikan sulit menemukan orang yang menguasai tehnik tenun ulap doyo di luar Suku Dayak Benuaq.



Festival Budaya Maluhu


 Sesuai yang telah terjadwal pada Calender Event Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, bahwa pada tanggal 30 April sampai 3 Mei 2019, bahwa akan ada even Festival Budaya Maluhu untuk memperingati Hari Ulang Tahun Maluhu yang ke- 49. Pawai Budaya dilaksanakan dengan garis Start pawai di SDN 010 Maluhu dan Finish di Lapangan Sasana Krida Bhakti Kelurahan Maluhu. Acara pawai dibuka oleh Bupati Kutai Kartanegara yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP.

 Dalam sambutan Bupati Kab Kutai Kartanegara, yang di bacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP., disampaikan bahwa Festival Budaya Maluhu ini telah menjadi bagian dari Kalender Event Daerah Kutai Kartanegara. Dan setiap event dalam Kalender Event daerah menjadi representasi dan potret Kutai Kartanegara dengan berbagai keunikan dan keragaman di wilayahnya. Maka kedepan, ragam pengayaan konten festival akan menjadi tantangan tersendiri bagi panitia pelaksana, agar festival ini tetap menjadi atraksi wisata yang menarik dengan harapan agar berbagai atraksi yang ditampilkan dalam festival ini dapat menjadi magnet bagi pengunjung untuk datang, menyaksikan apresiasi seni budaya, dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat melalui pemasaran produk unggulan serta melakukan perjalanan wisata di destinasi wisata di sekitarnya.




 Penyelenggaraan Festival Budaya semacam ini bukanlah sekedar perayaan atau hiburan masyarakat saja namun terdapat makna penting di dalamnya yakni membangun kehidupan masyarakat yang berbudaya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh kelompok orang atau masyarakat yang di wariskan dari generasi ke generasi. Beliau juga sangat mengapresiasi bahwa pelaksanaan Festival Budaya Maluhu ini selain menampilkan budaya Jawa khas mayrakat maluhu, juga menampilkan kesenian daerah Kutai. Beliau juga berpesan kepada seluruh masyarakat Mahulu, agar menjaga keamanan dan ketertiban selama Festival Budaya berlangsung, agar menjadi tuan rumah yang baik dan melalui kolaborasi tiada henti, bangunlah citra yang baik untuk Kutai Kartanegara melalui pelaksanaanFestival Budaya Maluhu ini.




Festival Jembayan Kampung Tuha Di Kecamatan Loa Kulu


 Festival Jembayan Kampung Tuha III di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara kembali di gelar, kegiatan  berlangsung selama seminggu, dibuka pada tanggal 24 Maret dan akan ditutup pada tanggal 01 April 2019, festival ini terjadwal dalam kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, kembali di gelar berbagai macam kegiatan di dalamnya, diantaranya pada tanggal 21 maret doa bersama ( haul akbar ), ritual tepung tawar, karnaval. Tanggal 25 maret – 28 Maret akan berlangsung olahraga tradisional begasing serta diadakan pertunjukan seni budaya. Tanggal 27 Maret akan berlangsung napak tilas situs sejarah dan peniggalan bambu. 28 Maret ada acara ngande atau ngapeh budaya. Tanggal 30 Maret akan berlangsung susur sungai Jembayan, kuda lumping atau jaranan. Tanggal 31 Maret akan berlangsung ngelenjang begenjoh, becoret muha, pembagian dorprize, workshop, lomba nyayian lagu daerah. Dan tanggal 1 april penutupan Festival Jembayan Kampong Tuha III.







 


 Pembukaan telah berlangsung dan di Panggung Terbuka Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu. Pembukaan ini dihadiri unsur Musawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kecamatan Loa Kulu, Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., perwakilan Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Loa Kulu. Kepala Desa Jembayan. kegiatan ini berguna menghidupkan kembali budaya dan kearifan lokal yang ada di Desa Jembayan, kegiatan ini terlaksana berkat partisipasi masyarakat, dimana tahun ini merupakan tahun ketiga dalam penyelengaraan Festival Jembayan Kampong Tuha. Dalam kesempatannya Camat Loa Kulu H Adriansyah mengatakan Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang telah dilaksanakan melalui gotong royong ini, apalagi kegiatan ini telah teragendakan dalam kalender event tahunan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. merupakan sebuah ekspresi untuk terus mengingat sejarah kejayaan Jembayan dimasa lampau dan juga sebagai ruang temu bagi semua pihak untuk duduk bersama menyuarakan gagasan yang bersifat membangun, Festival Jembayan Kampung Tuha III sekaligus memberi ruang ekspresi seni untuk memelihara nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Desa Jembayan.


 adapun agenda acara ini yang di tunggu oleh masyarakat Jembayan dan sekitarnya kegiatan berupa karnaval, pertunjukan seni, bazar kuliner dan kerajinan, ngetam padi gunung, olahraga tradisional, ngentul benda, napak tilas situs sejarah, ngapeh budaya, lomba nyanyi lagu kutai, susur sungai jembayan, begenjoh, workshop (kerajinan) dan becolet muha.


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis