Bos

Tabang

Dondang

Tari Kesultanan

Beluluh

Pulau Kumala

Bukit Bangkiray

BEKANTAN

Kaltim Park

Kaltim Park

Statistik

Hit hari ini : 171
Total Hits : 1,579,348
Pengunjung Hari Ini : 52
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 428,215

Flag Counter

Home Berita dan Artikel

Berita dan Artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 63 Next > Last >>

 Surganya Anggrek Di Kecamatan Kenohan

Di Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara terdapat hutan anggrek yang masih lestari, belum tersentuh manusia. Warga setempat menamakan tempat ini dengan sebutan Solong Pinang Abang. Beragam jenis anggrek, Anggrek Hitam, Anggrek Putih, Anggrek Merah, Anggrek Pisang, Anggrek Lipan, dan lain-lain ada di sini. Namun tanaman anggrek ini biasanya tumbuh saat musimnya, jika beruntung, kita bisa melihat beberapa anggrek yang indah mekar disana.Perjalanan dimulai dengan perahu dari kawasan penduduk menuju lokasi dengan membutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju muara sebuah danau yang masuk kawasan Gambut Mahakam Tengah. Jika air danau sedang surut, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju tepi danau, melewati rawa basah. 
Berjalan kaki menembus hutan pun bisa ditempuh kurang lebih tiga jam.Penemuan hutan anggrek ini sebenarnya sudah diketahui beberapa tahun silam. Hanya saja, belum ada penjelajahan dan pengelolaan lebih lanjut. Status hutan ini pun masih masuk dalam Kawasan Budidaya Kehutanan. Status ini membuat kawasan hutan anggrek melarang aktivitas selain aktivitas kehutanan. 
Saat ini, pemerintah desa sedang melakukan upaya agar nantinya bisa jadikan sebagai hutan desa dan kita berharap jadi salah tujuan wisata karena memiliki potensi luar biasa untuk wisata anggrek di Desa Kahala Kecamatan Kenohan ini. Hingga kini, banyak media lokal maupun nasional tertarik datang melihat langsung tanaman anggrek meskipun jalur aksesnya cukup sulit.

 Daftar Pemenang Lomba Desain Souvenir Khas Kukar 2020

Setelah melewati 2 tahapan penjurian dengan menyeleksi 5 peserta dari 14 partisipan yang mengikuti Lomba Desain Souvenir. Tiga orang juri yaitu Setyo Harwanto Juri dari Yogyakarta, Awang Rivani dan Drs. Hery Rusnadi telah berunding dan memberi penilaian akhir pada hari ini Senin, 5 Oktober 2020. Akhirnya ditetapkan 5 orang pemenang yang berhak mendapatkan uang tunai dari Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara.Berikut nama-nama Pemenang Lomba Desain Souvenir Khas Kutai Kartanegara Tahun 2020 :
•Juara I atas nama Endra Ade Winata dengan desain Replika Jembatan Kutai Kartanegara.
•Juara II atas nama dengan desain hiasan yang terbuat dari limbah kepiting dan batok kelapa.
•Juara III atas nama Nur Hendriansyah dengan desain Miniatur Pakaian Adat Kutai.
•Juara Harapan I atas nama Andi Arham Firdaus dengan desain gantungan kunci dan magnet kulkas khas Kutai Kartanegara.
•Juara Harapan II atas nama Mulyati dengan desain Guci Semen Putih dengan gambar khas Kutai Kartanegara.
Dengan adanya lomba desain souvenir khas Kutai Kartanegara ini, diharapkan bisa memicu industri kreatif untuk terus mengembangkan kreatifitas guna meningkatkan sektor ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara.

 Sejarah Lahirnya Kota Tenggarong

238 tahun yang lalu tepatnya 28 September 1782 ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara dipindahkan ke Tepian Pandan. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti ‘rumah raja’, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.   Hari ulang tahun Kota Tenggarong tidak lepas dari peran Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Sultan Aji Imbut. Siapakah sosok Sultan Aji Imbut sesungguhnya? Mari kita tengok kembali sepenggal sejarah mengenai kisah beliau. Sultan Aji Imbut adalah Putra pertama dari Sultan Aji Muhammad Idris dan Ibundanya adalah Anak dari Sultan Wajo (Sulawesi Selatan) yang saat ini sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional yaitu Sultan La Madukelleng. Dengan demikian Sultan Aji Imbut juga berdarah Bugis, dan ayahnya Sultan Aji Muhammad Idris adalah raja pertama di Kerajaan Kutai Kartanegara yang mengganti sebutan Raja menjadi Sultan. Sejak Abad ke-17 di bawah kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris Kerajaan Kutai Kartanegara berubah menjadi kerajaan Islam dan Kerajaan menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. La Maddukkelleng adalah putra dari Raja Wajo (Arung Paniki) yg melarikan diri dari Sulawesi Selatan karena tidak ingin diadili di Bone, menyeberangi Selat Makassar dan tiba di Paser kemudian melanjutkan pelayaran memasuki sungai Mahakam. Saat itu La Madukkelleng meminta suaka kepada Raja Kutai dan diberi lokasi yg sekarang tepatnya berada di Samarinda Seberang. Di lokasi inilah Warga Bugis melangsungkan hidupnya dengan bercocok tanam dan menjalankan ajaran Islam sehari-hari. Raja Kutai yg berkuasa ( Sultan Aji Muhammad Idris ) kemudian menikahi Putri dari La Maddukkelleng dan putri beliau tinggal di Istana sebagai permaisuri Raja Kutai. Sewaktu perang bergejolak di Sulawesi Selatan antara Raja-raja Bugis melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC Belanda), Sultan Idris membantu mertuanya (La Madukelleng) di Sulawesi Selatan dan gugur dalam pertempuran (Tahun 1739). jadi Makam Raja Kutai (Sultan Aji Muhammad Idris) berada di Wajo (Paniki) saat ini. Sepeninggal Sultan Idris, terjadinya perebutan takhta kerajaan oleh Aji Kado. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.Pada saat Sultan Aji Muhammad Idris wafat, Putra Mahkota (Aji Imbut) masih belia, karena khawatir Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dibunuh oleh penguasa kerajaan saat itu maka permaisuri mengirim ketiga putranya ke Wajo dan di besarkan oleh kakeknya (Arung Paniki). setelah dewasa Aji Imbut kembali ke Tanah asalnya Kutai. Dalam pelayararannya singgah di Samarinda seberang menghimpun kekuatan kemudian untuk merebut kembali kekuasaan kerajaan Kutai yg dulu dipegang oleh Ayahandanya. Aji Imbut sebagai putra mahkota yang sah dari Kesultanan Kukar kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Aji Muhammad Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda seberang). Sejak itu, dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado. Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC. Namun, VOC tak memenuhi permintaan bantuan Aji Kado tersebut.  Pada 1780, Sultan Aji Imbut berhasil merebut kembali ibu kota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di Istana Kesultanan Kukar. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Jembayan. Aji Imbut memindahkan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan yang dianggap telah kehilangan tuahnya. Dalam proses perjalanan melewati Sungai Mahakam mencari ibu kota pemerintahan yang tepat, Aji Imbut sempat bermalam di daerah Gersik (di kawasan Desa Perjiwa saat ini), sebelum memilih ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara di Tepian Pandan. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja. Lama kelamaan, Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan bertahan hingga kini. Pada 1838 Aji Imbut mangkat dan digantikan oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin. Aji Imbut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, sebelah Museum Mulawarman Tenggarong

 Tarian Kutai Keraton Dan Melayu Di Virtual Event Visit Kaltim Fest 2020

Hari Minggu 27 September 2020 Live Virtual Event Visit Kaltim Fest 2020, dengan mengusung tema "Dari IKN (Ibu Kota Negara) untuk Nusantara", sekaligus memperingati Hari Pariwisata Dunia, pada pukul 15.30 - 17.45 Wita. Visit Kaltim Fest 2020 merupakan wadah bagi pelaku seni pertunjukan untuk membuka ruang kreatif yang tetap berpegang pada kearifan lokal, 
melalui visit kaltim fest yang diharapkan kemajuan kepariwisataan, khususnya pada pengembangan ekonomi kreatif di Kalimantan Timur menunjukkan peningkatan yang signifikan, melahirkan karya-karya yang bertaraf Nasional maupun International.Pemilihan tempat kegiatan Visit Kaltim Fest 2020 di Kabupaten Penajam Paser Utara dimaksudkan untuk pembiasaan para pelaku seni dalam mengisi ruang-ruang kreatif di ibu kota negara yang baru. 
Dalam acara ini, terdapat tarian-tarian budaya khas di Kaltim salah satunya dari Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu Tarian Kutai Keraton dan Melayu.

 Serunya Mendaki Batu Dinding Samboja

Berada di Desa Bukit Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sempat ada yang bilang berada di Batu Dinding ini serasa seperti berada di Tembok Cina, bedanya Tembok Cina adalah buatan manusia sedangkan Batu Dinding adalah hasil buatan alam yang indah alami. Batu Dinding terletak di Jalan Soekarno Hatta, arah Balikpapan menuju Samarinda. 
Tepat di kilometer 45, di sebelah kiri jalan. Dari sanalah jalan masuk ke area batu dinding.Untuk menuju tempat ini tidaklah mudah, cukup menguras energi tetapi disitulah kita merasakan perjuangan untuk mendaki kepuncak. Lelah pengunjung akan terbayar saat menikmati panorama alam di sekitarnya.Pemandangan di Batu Dinding akan terlihat lebih indah pada saat matahari terbit maupun terbenam. Saat ini sudah semakin banyak pengunjung yang berminat mengunjungi Batu Dinding Samboja. Oleh karena itu sejak Tanggal 16 Maret 2020, masyarakat setempat membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan nama Pokdarwis Batu Dinding yang mengelola lokasi ini menjadi lokasi tujuan wisata agar lebih aman dan nyaman untuk dikunjungi.Untuk saat ini pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp. 5000 sd Rp. 10.000,- per kendaraan. 
Pokdarwis ini memliki tugas diantaranya adalah memandu pengunjung agar tertib saat menuju puncak bukit yang sempit dan terjal. Karena itu setiap pengunjung yang datang dihimbau agar berhati-hati saat menyusuri Batu Dinding. Pokdarwis Batu Dinding membuat pagar besi dan kayu serta tali, semua demi keamanan dan kenyamanan pengunjung. Dimasa pandemi covid-19 ini, protokol kesehatan tetap diterapkan saat pengunjung datang.

 Nuansa Alam Yang Asri Di Argowisata Mapantama Kecamatan Loa Kulu

Bertempat di Dusun Marangan, Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu ada wisata menarik dengan konsep argowisata yaitu Argowisata Mapantama. Berbentuk desa wisata, suasananya cocok untuk berwisata sembari mendapatkan ilmu melalui edukasi yang terdapat didalamnya seperti proses menanam, bagaimana sistem pertanian itu berjalan, maupun kita melihat langsung proses pengolahan hasil dari tanaman yang ada disekitar. 
Apalagi didukung nuansa alam yang menyejukan mata. Selain itu, pengunjung bisa membeli berbagai macam sayuran yang ditanam petani. Bahkan dengan harga yang lebih murah dari pasaran seperti jagung, timun, terong, pare, kembang kol, labu, hingga padi.Selain bisa membeli berbagai macam sayuran, pengunjung juga bisa menikmati menaiki transportasi traktor. 
Semabri mengelilingi beberapa spot yang ada Mapantama. Mau beristirahat dan swaphoto pun tersedia di sekitar area Agrowisata Mapantama ini. Yang cukup menarik disini yaitu adanya replika jembatan gantung kutai kartanegara, sangat menarik untuk pengunjung berswa foto.Untuk masuk disini belum dikenakan retribusi tiket masuk, tetapi tetap dikenakan tarif untuk parkir kendaraan masing-masing pengunjung yang datang.

 Rumusan City Branding Kutai Kartanegara

Penyusunan Branding Kutai Kartanegata menitikberatkan pd karakteristik citra inspiratif yang terkandung di dalam muatan nilai-nilai kesejarahan, folklore/mitologi, kekayaan budaya dan sosial/kepribadian dan estetika alam. Nilai-nilai inspiratif tersebut mengambarkan kemajuan peradaban masyarakat Kutai Kartanegara yang dibangun melalui interaksi ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perekonomian dengan bangsa-bangsa luar sejak dahulu. Maka Kutai Kartanegara adalah Kabupaten Asia Wonders yang memiliki peradaban bertaraf internasional. Kemajuan peradaban masyarakat Kukar yang dibangun dengan melalui interaksi ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perekonomian dengan bangsa-bangsa luar negeri sejak dahulu menjadikan:
(1). Kukar sebagai historical civilization: kesejarahan Kutai Mulawarman/Martadipura memiliki peran dan arti penting bagi kesejarahan peradaban modern nusantara. Sementara dalam perspektif kesejarahan internasional, Kutai Martadipura merupakan bandar/pelabuhan penting sebagai jalur niaga dan intetaksi lintas budaya bangsa-bangsa asing.
(2). Kukar memiliki budaya "Asia Heritage": Kukar dengan kekayaan ekspresi tradisi, kesenian, seni arsitektur, bahasa, dan kuliner merupakan hasil dari "Warisan Budaya" bangsa Asia (India, Tionghoa, Melayu, Timur Tengah).
(3). Kukar sebagai pusat "Asia Cultural Wonder : Hunian dengan keberagaman ethis dan keanekaragaman ekspresi budaya hasil interaksi/alkuturasi bangsa-bangsa Asia (India, Melayu, China, Timur Tengah). Dengan citra keajaiban Asia, maka Kukar dipersepsikan sebagai "Kota Budaya Asia".Rumusan tersebut didapat dalam pelaksanaan Workshop Penyusunan Branding Kabupaten Kukar yang dilaksanakan pada tanggal 16 Maret di kecamatan Sangasanga dan 17 Maret 2020 di Kota Tenggarong dengan melibatkan unsur Pentahelix/ABCGM (Akademisi, Bisnis, Comunitas, Government, Media).
Untuk mendapatkan Identitas dan Audio Brand Kabupaten Kukar maka dilaksanakan Workshop Cipta Logo dan Jinggle City Branding pd tgl 12 sd 15 September di Pondok Jajak. Sesuai kesepakatan Logo Brand yang dihasilkan akan mengantikan logo brand pariwisata "Kukar My Borneo" dan Logo Ekonomi Kreatif "Kukar The Magical Borneo" sebagai citra/identitas Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu “Kukar Asia Wonders”.

 Pelatihan Pembuatan Souvenir Ukiran Kayu Di Desa Sungai Bawang

Pelatihan Pembuatan Souvenir Ukir Kayu berlangsung selama 2 (dua) hari, yaitu pada tanggal 12 dan 13 September 2020, di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak. Dibuka oleh Plt Kepala Dispar Kukar, Bapak Thauhid Afriliannoor, SP, M.Si pada hari Sabtu (12/9).Pemateri yang mengisi hari pertama dari Polnes Samarinda, Bapak Rony H.,S.Y.,M.Ds dan Bapak Andy Farid H.,S.T.,M.T.,M.Ds. Untuk hari kedua, yang mengisi materi ialah Bapak Rustam Aji, S.Pd. 
Pemateri-pemateri menerangkan tentang tata cara seni ukir serta praktek langsung untuk para peserta yang semuanya merupakan masyarakat lokal Desa Bawang. Peserta diajari langsung cara mengukir kayu dengan alat modern sehingga lebih efisien pembuatannya. Peserta diajarkan untuk membuat gantungan kunci berbahan kayu dengan kreasi sendiri, terlihat peserta sangat antusias saat pembuatan yang langsung dibimbing oleh pemateri.
Pelatihan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di desa wisata atau desa budaya yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara, khususnya dalam keahlian untuk membuat souvenir khas daerah sebagai daya tarik bagi pengunjung yang datang ke desa wisata/budaya. 
Acara ditutup oleh Bapak M. Ridha Fatriantha, S.STP, M.Si sore (13/9).

 Masa Perawatan, Pulau Kumala Ditutup Sementara

Terhitung dari Tanggal 13 September 2020 sampai tanggal yang belum ditentukan, kawasan wisata Pulau Kumala untuk sementara di tutup dikarenakan adanya beberapa perangkat maupun wahana vital di Pulau Kumala dalam masa perawatan.dan akan dibuka kembali setelah selesai masa perawatan. Adapun perawatan yang dilakukan berupa listrik, wahana bermain, serta fasilitas-fasilitas yang menunjang Pulau Kumala.
Pulau Kumala merupakan salah satu destinasi wisata yang terletak di tengah-tengah sungai Mahakam Tenggarong, Ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara. Pulau Kumala menjadi salah destinasi pariwisata modern dan menarik yang mengusung konsep seni dan budaya yang ada di Kutai Kartanegara.

 Objek Wisata Menarik “Pulau Sahrai” Di Kembang Janggut

Objek wisata Pulau Sahrai terletak di Desa Kembang Janggut, Kecamatan Kembang Janggut. Pulau Sahrai merupakan inisiatif desa setempat dalam memanfaatkan aset lama yang terdiam.  Wisata Pulau Sahrai ini juga sudah diresmikan Bupati Kutai Kartanegara, Bapak Drs. Edi Damansyah M.Si Senin pagi (10/9).
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Bapak Bupati mengapresiasi Pemerintah Desa dalam mengelola objek wisata baru di Kembang Janggut ini. Di era modern, sangat diperlukannya inovasi dan kreatifitas dalam mengelola objek wisata agar mampu terus bersaing dalam sektor pariwisatanya.Pulau Sahrai sendiri merupakan objek wisata buatan dengan konsep rumah terapung,
nantinya juga akan dibangunkan rumah makan terapung dengan konsep yang modern didukung dengan suasana yang sejuk dan asri disekelilingnya serta fasilitas-fasilitas penunjang lainnya sehingga jika sudah siap, akan diterapkan retribusi biaya masuk untuk menunjang pendapatan asli desa. Tetap mengkedepankan suasana sejuk dan asri disekelilingnya sehingga pengunjung merasa nyaman. Di jembatan masuk ke Pulau Sahrai juga dihias dengan kreatif dan menarik agar pengunjung bisa berswa foto.

Even Tahunan

Even