Banner 0

Beluluh Awal

Banner 2

Banner 3

Desa Budaya

Banner 5

Buka Erau

Banner 7

Banner 8

Benner9

Statistik

Hit hari ini : 180
Total Hits : 1,460,892
Pengunjung Hari Ini : 101
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 392,142

Flag Counter

Home Berita dan Artikel

Berita dan Artikel

 Tarian El Ghawazy Dari Egypt


 Setiap harinya kunjungan masyarakat semakin ramai, dengan hadirnya pagelaran tarian yang berlangsung selama sepekan di anjungan atau halaman Pulau kumala Tenggarong, selain berwisata, masyarakat juga ada yang sengaja datang hanya untuk menyaksikan secara langsung dan gratis para peserta TIFAF 2019, karna para delegasi dari luar pasti akan menari dan berinteraksi langsung dengan penonton yang hadir.


 Di awali dengan penampil dari dalam negeri, pada hari ini Indonesia di wakili dari sanggar seni Karya Budi Tenggarong Kutai Kartanegara. Menghadirkan tari khas Kutai yaitu tari Jepen yaitu Jepen Selamat Datang di Kota Raja, Berawal dari gerakan Jepen dan musik dasar tingkilan Kutai tradisi yang dikembangkan menjadi kreasi, tarian ini menggambarkan rasa suka cita dan kegembiraan para muda mudi dalam menyambut kedatangan tamu di kota wisata Tenggarong Kutai Kartanegara, dan juga mengungkapkan rasa cinta yang mendalam pada kampong halaman serta mencerminkan semangat dan motivasi untuk membangun daerah guna mewujudkan masyarakat yang peduli, kreatif, dan berbudaya dalam pergaulan budaya antar bangsa, guna memajukan pariwisata daerah dan nasional.

 Dari delegasi mesir mebawakan tarian El – Sharkia Group. Ada empat tarian yan di bawakan oleh para penari mesir. Tarian pertam bertema Tarian Pernikahan Sharkia merupakan tarian warisan masyarakat pedesaan Sharkia yang biasa dilakukan ketika acara pernikahan. Tarian kedua Al Hawaya pertunjukan atas kepiawaian gadis – gadis Sharkia dalam menggunakan kain yang disebut Al Hawaya, yang pada jaman dahulu digunakan oleh masyarakat untuk mengangkat kendi berisi air. Tarian ke tiga El Ghawazy memperkenalkan tarian yang menggambarkan kehidupan Bani yang mayoritas Gipsi, tarian ini sering di pertunjukan oleh gadis – gadis dalam pertunjukan di kota Sharkia dengan diiringi pemain seruling yang disebut Ghazulaty.


 Dan tarian ke empat ini melibatkan masyarakta yang menonton untuk menari bersama dengan para penari Mesir dengan menggunakan tongkat, dengan judul tarian tongkat lilin menarikan bersama tarian yang menunjukan Kepiawaian Gadis – gadis Sharkia dalam memainkan permainan Tongkat Lilin Diatas Kepala.




 Cerita Rakyat Dari Rumania


 Malam hari suasana pengunjung Kukar Expo yang berlokasi di Stadion Rondong Demang Tenggarong, begitu ramai, sebagian penonton ada yang mengunjungi Expo, ada pula yang sedang menikmati aneka ragam sajian makanan yang begitu banyak terjual di stand – stand expo. Berbeda lagi pengunjung yang memang sengaja telah menunggu tampilan baik dari peserta Luar dan dalam Negeri sendiri, yang akan menampilkan kebudayaannya melalui tarian khas daerahnya. Para penonton telah duduk dengan rapi di depan panggung Kukar Expo untuk menyaksikan tampilan – tampilan pada mala mini.

 Untuk mala mini Rumania akan hadir memberikan persembahan terbaiknya, dengan Nama Group Cununa Apusenilor, nama Director Marcela Vele, dengan pelatih Ciprian and Nicoleta muresan. Sejarah singkat tarian yang akan di tampilkan dari Negara Rumania ialah menceritakanEnsembel rakyat Cununa Apusenilor di Gilau, didirikan pada tahun 1983, tujuan dari ensemble ini adalah untuk melestarikan nilai – nilai otentik dari cerita rakyat Rumania dan untuk melanjutkan tradisi dan adat istiadat baik yang khusus untuk daerah tersebut maupun ke  daerah lain di Negara Rumania. Kami memiliki komposisi musik atau lagu yang kaya yang mencakup semua wilayah Negara, tarian dari Transylvania, Banat, Moldova, Maramures, Negara Oasului. Anggota ansambel ini adalah siswa muda, siswa yang bangga mewakili Negara mereka melalui permainan. Dan tradisi Rumania. Instruktur dari ansambel ini adalah Ciprian dan Nicoleta Muresan, direktur artistic Marcela Vele.   

 Group Tari Cossack Stanitsa dalam sejarahnya STANITSA adalahsebuah organisasi politik dan ekonomi orang – orang COSSACK di dalam kekaisaran Rusia. Di dalam rusia modern, STANITSA di klarifikasikan sebagai salah satu jenis daerah pedesaan dan terutama di bagian selatan daerah Rostov Oblas, Krasnodar, starvropol Krais dan kebanyakan dari republic kaukasus Utara. masyarakat KUBAN COSSACKS adalah penganut kepercayaan Kristen Ortodox dan mengikuti adat orthodox yang tegas. Group kesenian rakyat Rusia STANITSSA. Di bentuk pada tahun 1990 atas dasar rumah budaya dan olahraga.

 Selanjutnya dari tampilan Indonesia di wakili Sanggar seni Serapun MAN 2 Kutai Kartanegara dengan membawakan tari Jepen 2 Dara. Dengan makna tari jepen yang memvisualisasikan sepasang adik dan kakak dalam sebuah keluarga, yang dimana di dalamnya terdapat banyak suka dan duka, dengan bekerja bersama, melalui hal bersenang – senang bersama, sampai duka pun mereka lalui dengan bersama. Tetapi keakraban ini kadang pula merekapun bisa saling bertengkar karna sesuatu hal.






 Tari Ves Dance Menggambarkan Kemegahan Sri Lanka Kuno


 Masih dalam rangakai gelaran TIFAF yang berlangsung di lapangan basket timbau Tenggarong, malam ini Delegasi dari Srilanka, hadir yang akan memberikan tampilan terbaiknya, da nada pula pastinya yang akan tampil dari Indonesia dengan tarian khas pedalamannya.

 Diawali dengan Negara Srilanka, Nama group Ranranga dance academy, director Mr. Basnayake. Ranrange dance adalah sebuah institusi yang dikelola sangat baik di Sri lanka sejak tahun 1994, group ini telah mencetak siswa siswinya yang piawai dalam menguasai tari tradisional maupun kontemporer, group ini juga sering mengirimkan siswanya lebih dari 150 festival internasional yang ada di dalam maupun luar negeri. Khususnya festival yang di selenggarakan oleh international folk and cultural organizations.

 Tarian yang ditampilkan : Ves Dance menggambarkan kemegahan Sri Lanka kuno, penari pria yang mengenakan pakaian cerah dan berwarna – warni untuk menarik perhatian diatas panggung. Penari laki – laki ini melakukan gerakan tarian dengan bersemangat dan cepat, mengikuti gendang tradisional. Tarian ke dua dengan nama tari Chamara Dance yang artinya tarian ini dengan menggunakan Chamara, instrument yang digunakan di istana pada zaman kuno. Dilanjutkan dengan tarian ketiga dengan judul tari Raban Dance yitu tarian daerah yang satu ini terdiri dari penari laki – laki dan perempuan pada dasarnya tarian ini terdiri dari dua instrument yaitu Ath Raban dan Banku Raban, dan tamipannya akan menggunakan Ath Raban.

 Berlanjut dengan Delegasi Indonesia dengan di wakili dari Sanggar Tari Bangen Tawai Desa Budaya Sungai Bawang, menggunakan alat musik seperti gong, sampeq, jatung utang, di bawah binaan Norti dan Heppy Apriliati. Sangga seni membawakan tarian yang menceritakan tentang kehidupan di sebuah kampong mereka hidup dengan sangat harmonis dan penuh kebersamaan. Pada suatu hari datanglah beberapa wanita kesebuah sungai, mereka pun melakukan berbagai kegiatan selang waktu datanglah dua orang pria yang sangat gagah perkasa satu diantara pria ini memiliki niat yang jahat, tanpa piker panjang pria ini pun menculik salah satu wanita yang sedang berada di sungai, dengan segeranya teman – temannya pun menceritakan kejadiannya kepada pemuda – pemuda kampong, panas hati yang membara sehingga terjadilah peperangan yang sengit. Kemudian datanglah Udoq Kiba ini melakukan ritual untuk memanggil dewa Bungan malan yang merupakan dewa pelindung suku dayak kenyah lepok jalan.


 Dan pada akhirnya kampong inipun menjadi aman damai tentram, mereka merayakannya dengan tari – tarian.




 Tarian Bernuansa Sufi Dari Negara Mesir


 Suasana di Panggung lapangan basket begitu ramai baik dari penonton maupun dari para penari yang sedang menampilkan tariannya, diiringi suara musik yang bertabuh tampilan dari delegasi tuan rumah Indonesia yang bernama Serapun dari Pelajar MAN 2 Kutai Kartanegara, menarikan Jepen 2 Dara. Dengan dukungan lampu latar yang begitu mempesona, membuat tampilan setiap delegasinya begitu memukau Para pelajar ini menarikan tari Jepen yang memvisualisasikan sepasang adik dan kakak dalam sebuah keluarga yang dimana di dalamnya terdapat banyak suka dan duka, bekerjasama, bersenang – senang pun kadang bersama dengan suka cita, dan kadang pula merekapun saling bertengkar karena sesuatu hal.

 Salah satu tampilan yang ditunggu para penonton ialah tampilan dari peserta TIFAF mancanegara, dan yang tampil dari delegasi Negara Mesir yang membawakan Sembilan jenis tari, dengan nama tarian Sharkia Group Mesir. Tarian pertama menarikan tarian pernikahan Sharkia yang merupakan tarian warisan masyarakat pedesaan Sharkia yang biasa di lakukan ketika acara pernikahan. Kedua tarian Al Hawaya ialah pertunjukan atas kepiawaian gadis – gadis sharkia dalam menggunakan kain yang disebut Al Hawaya, yang pada jaman dahulu digunakan oleh masyarakat untuk mengangkut kendi berisi air. Tarian ke tiga El Ghawazy yaitu tarian yang menggambarkan kehidupan bani yang mayoritas Gipsi. Tarian ini sering dipertunjukkan oleh gadis – gadis dalam pertunjukan dikota sarkhia dengan diiringi pemain seruling yang disebut Ghazulaty.


 Tarian keempat dengan judul tari Tongkat Lilin yang menunjukkan kepiawaian gadis- gadis dalam memainkan permainan tongkat lilin diatas kepala. Tarian kelima dengan judul tari Tongkat mesir yang menceritakan tarian permainan pemuda pemudi menggunakan tongkat. Tarian keenam tarian Al dahya yang menggambarkan pertunjukan dari suku Badui ( Badawi ) yangdisajikan dalam malam pertunjukan laki – laki Suku Badui. Tarian penutup ialah tarian kuda yaitu menceritakan suatu wilayah Sharkia terkenal dengan kuda – kuda arab, tarian ini juga menggambarkan kepiawaian pria Sharkia dalam mengendarai dan melatih kuda.

 suasana religius sangat terasa karna setiap tarian yang bawakan bernuansa islami yang bertemakan pujian kepada Allah dan Rasul.

 Tari Waweq Madang Dan Tari Teton Montain Stomp


 Selama sepekan Masyarakat Kutai Kartanegara dan sekitarnya dapat menyaksikan pertunjukan kesenian dari para peserta TIFAF, yan berpusat di dua lokasi yang telah disiapkan oleh Dinas Pariwisata Kab Kutai kartanegara yaitu di area Lapangan Basket Kelurahan Melayu dan Panggung arena Kukar Expo Rondong Demang. Akan tampil pertunjukan seni, baik kesenian lokal maupun kesenian mancanegara yang pasti akan memukau para penonton yang hadir.

 Pada malam ini tampil kesenian dari Lentera Indonesia, Delegasi Belanda, Kesenian Bengen Tawai Indonesia, delegasi Srilanka, dan Rusia. Tampil pertama dari tuan rumah Indonesia membawakan tarian dayak dengan judul tema Waweq madang, tarian ini menceritakan tentang kehidupan perempuan suku pedalaman dayak benuaq. Dengan menggunakan ragam khas tari gantar symbol dari semangat para gadis – gadis suku pedalaman, senyum khas mereka merupakan bentuk keramahan dari penduduk asli suku ini.

 Tampilan selanjutnya dari delegasi Belanda, salah satu tariannya, tarian Cidy swing dengan arti dari tarian merupakan kombinasi antara chariston dan foxtrot dengan diiringi lagu Goodbye sweetheart, tarian selanjutnya polka jenny lind yang merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh Jenny lindseorang penyayi opera berkebangsaan Swedia. Dia adalah penyayi soprano di opera Swedia dan dikenal seantero eropa. Dia juga merupakan anggota akademi musik royal Swedish yang rekaman pertamnya dilakukan tahun 1939.

 Dan tarian berikutnya yang dibawakan oleh delegasi dari Belanda yaitu Teton Montain Stomp, berasal dari Negara bagian Wyoming, Amerika serikat yang dikelilingi dengan pegunungan. Tarian ini di perkenalkan di daerah kami oleh tentara Amerika setelah perang dunia ke dua.




 Menarikan Bersama Tarian Ry Polka Af Dari Belanda


 Salah satu tampilan yang dapat di saksikan oleh masyarakat yaitu pertunjukan di jalan kesenian rakyat Internasional yang berlansung setiap harinya di tempat wisata Pulau Kumala Tenggarong. Setiap harinya akan tampil peserta TIFAF baik dari delegasi luar negeri maupun dari tuan rumah Indonesia.

 Pada hari senin sebagai pembuka tampil dari tuan rumah Indonesia yaitu Insting Smanda Indonesia yang membawakan dua tarian, tarian pertama dengan tema tari Kancet bapelaktawai, tarian ini menceritakan tentang persaudaraan suku dayak yang di tarikan oleh beberapa wanita, mereka ini menari mengikuti irama musik sampe yang mendayu, gerakan tariannya menggambarkan seolah – olah burung yang sedang terbang. Tarian ini juga bertujuan sebgai ucapan selamat datang kepada para tamu mereka dengan gerak yang lemah gemulai seolah mengungkapkan kecantikan, kepandaian dengan lemah lembutnya. Dan tarian yang ke dua tarian bepacar.

 Berlanjut pada delegasi Belanda yang menampilkan tarian Cidy swing dengan arti dari tarian merupakan kombinasi antara chariston dan foxtrot dengan diiringi lagu Goodbye sweetheart, tarian selanjutnya polka jenny lind yang merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh Jenny lindseorang penyayi opera berkebangsaan Swedia. Dia adalah penyayi soprano di opera Swedia dan dikenal seantero eropa. Dia juga merupakan anggota akademi musik royal Swedish yang rekaman pertamnya dilakukan tahun 1939.

 Tarian berikutnya yang dibawakan oleh delegasi dari Belanda yaitu Teton Montain Stomp, berasal dari Negara bagian Wyoming, Amerika serikat yang dikelilingi dengan pegunungan.


 Tarian ini di perkenalkan di daerah kami oleh tentara Amerika setelah perang dunia ke dua. Saat tarian ini berlangsung para penari ini langsung mengajak para penonton untuk menari bersama.   




 Pemilihan Teruna Dara Cilik Tifaf 2019


 Pelaksanaan kegiatan yang merupakan agenda tahunan di sector pariwisata yaitu Tenggarong International Folk Arts Festival 2019, pelaksanaannya yang berlangsung selam sepekan ini di hadiri oleh delegasi kesenian dari berbagai Negara, untuk berpartisipasi meramaikan Tenggarong International Folk Arts Festival dan menghibur masyarakat Kutai Kartanegara, dengan menampilkan kesenian khas negaranya masing – masing.

 Bertempat di Stadion Rondong Demang Tenggarong, berlangsung acara di panggung Tenggarong Fair acara Pemilihan Teruna Dara Cilik, yang di Hadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata, yang diwakili Kepala Bidang Pemasaran Wisata Drs. Witontro, dan acara ini di buka langsung Bupati Kutai Kartanegara yang sambutannya di bacakan oleh Drs. Witontro. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa sebagai perwujudan upaya pemerintah untuk melestarikan kearifan lokal. Sudah seharusnya kita tetap mengedepankan kesenian, tradisi adat budaya yang kita miliki, sebagai asset yang tidak ternilai harganya, tidak kalah menarik dengan kesenian dari Negara lain. Kegiatan ini diharapkan menjadi penyemangat bagi anak – anak kita untuk terus menggali potensi serta meningkatkan kualitas yang ada dalam dirinya dalam segala bidang, dan menunjukkan kemampuannya ke khalayak ramai.

 Pemilihan Teruna Dara Cilik ini bukan semata – mata menjadi ajang untuk fisik dan kebolehan saja, tetapi ada misi sosial dan kebudayaan didalamnya. Tidak hanya itu, dengan segala kemampuan dan bakat yang dimiliki, harus melestarikan dan mempromosikan potensi wisata dan budaya Kutai Kartanegara.

 Melalui Teruna Dara Cilik ini kami berharap menjadi salah satu wadah bagi anak – anak kita untuk menyalurkan energy, waktu dan kesempatan yang ada kearah yang positif. Sehingga kesenian dan tradisi tetap terjaga dengan baik, menjadi warisan turun temurun bagi anak cucu kelak.






 Pembukaan Festival Kesenian Rakyat Internasional


 Berlangsung pada hari minggu 22 September 2019 di Stadion Rondong Demang Tenggarong, gelaran kemeriahan seremony pembukaan Tenggarong International Folk Arts Festival (TIFAF) tahun 2019. Kemeriahan ini di awali dengan parade dari para delegasi setiap negaranya, masing – masing peserta memperlihatkan sekitar 2 menit tarian daerah dari asal Negaranya.

Selesai parade di lanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan Tenggarong International Folk Arts Festival (TIFAF) tahun 2019, dalam sambutannya Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Dr. Ir. H. Isran Noor, M.Si. menyampaikan, TIFAF yang dimeriahkan 7 grup kesenian rakyat mancanegara itu diharapkan dapat lebih memperkenalkan budaya asli di Kukar serta mengembangkannnya. “Bagi saya, festival ini bukan semata-mata untuk mendatangkan wisatawan, namun yang paling penting adalah budaya, kesenian adat istiadat harus dijaga dan dipertahankan dengan baik,”

 Beliau menambahkan bahwa, kehadiran kesenian mancanegara di Kutai Kartanegara merupakan salah satu wujud nyata dalam memperkenalkan budaya adat istiadat daerah ke kancah internasional. “Artinya, potensi kebudayaan, adat istiadat yang dimiliki bangsa kita sangatlah berlimpah, terutama di wilayah pedalaman perlu mendapatkan apresiasi, karna terus menjaga kelestarian budaya sampai saat ini.

Dalam sambutannya Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. M.Si mengatakan, festival tersebut merupakan kebanggaan masyarakat Kukar dan dinantikan oleh masyarakat dan menjadi ruang aktualiasi bagi para seniman daerah, nusantara dan mancanegara, sekaligus memacu para pelaku industri pariwisata untuk turut menggerakkan kemajuan sektor pariwisata di Kukar.

 “Festival ini merupakan salah satu ikon wisata budaya Kutai Kartanegara, yang telah menjadi agenda tetap secara nasional, yang makin dikenal di nusantara dan di kalangan festival kesenian rakyat internasional yang berlangsung di berbagai negara. Festival ini menjadi pintu masuk yang strategis, untuk mengenal dan mempromosikan daya tarik wisata di Kutai Kartanegara beserta ragam seni budayanya,” katanya. Disebutkan Edi, pada tahun 2018, tercatat lebih dari 1,7 juta wisatawan yang berkunjung ke Kukar.

“Ini merupakan angka terbesar kedua bagi kunjungan wisatawan di Kaltim. Festival ini akan semakin besar lagi apabila semua pihak memiliki semangat yang sama untuk menyukseskannya. Pemkab Kukar tidak dapat menjalankannya sendirian. Melainkan bergerak bersama-sama dengan masyarakat, dunia usaha dan para pemangku kepentingan lainnya. Kita bisa Bena Benua Etam, jika Betulungan Etam Bisa.

 Diketahui, turut hadir dalam pembukaan TIFAF yakni, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kaltim dan Kukar, Tim Pelaksana Calendar of Event Wilayah Kalimantan Kementerian Pariwisata, Bapak Tazbir Abdullah, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Mohammad Arifin, Presiden CIOFF Indonesia dan undangan lainnya.

Adapun enam grup kesenian rakyat mancanegara ikut serta dalam pagelaran TIFAF 2019 yaitu, Ranranga Dance Academy Srilanka, Phranajhon Rajabhat University Thailand, Folkloristische Dansgroep Hellendorn Netherlands, Cossack Dance Ensemble Stanitsa Rusia, Cununa Apusenilor Romania, Arts and Culture Association Timor Furak Timor Leste dan Sharkia Folklore Troup Mesir dengan jumlah keseluruhan personil keseluruhan sebanyak 151 orang






 Karnaval Seni Internasional TIFAF 2019


 Kemeriahan berlangsung di sepanjang jalan yang di lalui oleh peserta Tenggarong Internasional Folk Art Festival (TIFAF), ratusan orang memadati jalanan Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dari Jl Akhmad Muksin, Jl Sudirman, Jl S Parman hingga depan Kesultanan Kutai, Sabtu (21/9/2019). Masyarakat yang hadir menyaksikan langsung Karnaval kesenian internasional ini sebagai pembuka rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama sepekan ini.

Karnaval yang diikuti oleh delegasi kesenian mancanegara peserta TIFAF serta sejumlah paguyuban dan grup kesenian yan berada di Kutai Kartanegara. Pada barisan pertama Karnaval dibuka oleh barisan prajurit Keraton Kesultanan Kutai berpakaian serba hitam, disusul kelompok marching band. Karnaval kali ini dimeriahkan 30 grup kesenian dan paguyuban di Kukar, serta 5 negara partisipan.

 Antusiasme begitu terlihat dari para penonton yang hadir baik disepanjang rute jalan yang di lalui peserta pawai, maupun yang sudah berada menunggu di halaman Kedaton Kesultanan Kutai. Suasana hangat terbangun antar masyarakat dan peserta TIFAF, tidak segan para peserta TIFAF bersalaman dengan para penonton dan dengan antusias pula para penonton langsung meminta berfoto bersama dengan para peserta pawai.

 Sampai di depan Kedaton, Tiap grup kesenian menampilkan atraksi selama 2-5 menit di depan Panggung Kehormatan Kedaton Kesultanan Kutai. Hadir langsung menyaksikan pertunjukan kesenian internasional ini mereka disaksikan langsung oleh Sultan Kutai Adji Mohammad Arifin didampingi Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. Msi., dan tamu undangan lainnya.

 Untuk diketahui Acara TIFAF digelar selama sepekan, mulai 21-29 September 2019. Upacara pembukaan TIFAF bakal digelar di Stadion Rondong Demang Tenggarong, Minggu (22/9/2019). Selama di Tenggarong delegasi peserta TIFAF akan melakukan pertunjukan seni dari Negara masing – masing acara bergantian di tiga tempat yaitu di parkiran Stadion Rondong Demang Tenggarong dan Pentas yang berada dtepian sungai Mahakam di jl. KH. Ahmad Muksin, serta tempat wisata Pulau Kumala Tenggarong. Para delegasi juga akan dijadwalkan berkunjung ke sekolah – sekolah, serta menghadiri kegiatan ziarah ke makam Aji Imbut poada saat perayaan HUT tenggarong ke 237 pada 28 September 2019.




 Expo TIFAF 2019


 Tenggarong Internatioanal Folk Art Festival (TIFAF) yang berlangsung secara meriah di Stadioan Rondong Demang Tenggarong, usai seremony pembukaan TIFAF, Bupati Kutai Kartanegara bersama rombongan, yang juga turut didalamnya di damping Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar. Dra Sri wahyuni. MPP. menuju stand expo untuk membuka secara resmi Expo TIFAF 2019, dengan melakukan pengguntingan pita maka Expo TIFAF 2019 telah di buka dan dapat disaksikan untuk umum oleh masyarakat Kutai Kartanegara.

 Bupati Kutai Kartanegara bersama rombongan mengunjungi satu persatu setiap stand pameran yang ada di Expo TIFAF 2019, untuk di ketahui bahwa M Fazriannur sebagai Even Organizer (EO) Fazri Toy Collection mengatakan Expo TIFAF 2019 diikuti 53 stand , bazaar 91 stand dan PKL 40 stand. “Kami menawarkan dengan harga bervariasi dari 18 juta untuk ukuran 3 x 3 meter, kemudian 5 juta, 4 juta, 3 juta dan 2 juta untuk bazzar yang diluar expo.

 Dalam kesempatannya Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah mengungkapkan untuk tahun 2019 ini, pertama kali antara Erau dan TIFAF dipisah pelaksanaannya,”Kalau dilihat dari dari sisi kemeriahannya akan lebih meriah kalau kita satukan antara Erau dan TIFAF, kami akan terus lakukan komunikasi dengan pihak kesultanan selanjutnya nanti dalam perayaan berikutnya akan terus dievaluasi Lebih lanjut inti dari acara Erau dan TIFAF 2019 adalah melestarikan adat seni budaya yang ada di kesultanan maupun budaya yanga ada di Kabupaten Kukar. ”Ada sebagian persepsi dari sebagian orang mengatakan kita mengeseampingkan budaya lokal, disini pelu kita luruskan bahwasanya acara TIFAF ini adalah untuk mempromosikan budaya kita kemancanegara, yang selama ini kita sudah promosikan ke daerah lokal dan nasional saja dengan adanya TIFAF ini kita mempromosikan budaya kita kepada mereka yang datang sebagai participant sehingga adanya pengetahuan budaya antara kita dan mancanegara.

 Harapan beliau, bahwa bangga selama 7 tahun kegaiatannya TIFAF 2019 telah masuk dalam100 Calender Of Event (COE) Indonesia. “Dari data yang ada dengan adanya acara TIFAF ini sudah meningkatkan jumlah pengunjung yang datang kekukar. Adanya peningkatan ini bisa menambah pendapatan daerah dan menaikan perekonomian masyarakat.




Even Tahunan

Even