Banner 2

Baner Calender

Banner 3

Banner 6

Banner 5

Banner 7

Banner 8

Banner 9

Statistik

Hit hari ini : 111
Total Hits : 1,330,801
Pengunjung Hari Ini : 58
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 336,505

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Susur Sungai Mahakam Di Kab Kutai Kartanegara


 Begitu banyak wisata yang dapat di kunjungi di Kab Kutai Kartanegara, khususnya di Tenggarong. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menikmatinya, seperti yang saat ini sedang popular yaitu melalui dengan menaiki Kapal Wisata sambil menyusuri Sungai Mahakam. Dengan berwisata menggunakan kapal wisata, wisatawan bisa lebih menikmati perjalanan, ada sensasi tersendiri yang bisa dirasakan saat berada di atas kapal dan menikmati suasana sepanjang Sungai Mahakam. Menyinggahi tempat-tempat wisata yang menarik, baik wisata alam, budaya, sejarah, flora fauna dan bahkan petualangannya. Perjalanan kapal Wisata Famtrip Komunitas Wisata hari ini yang telah menyusuri sungai Mahakam dan berkeliling serta mengunjungi Pulau Kumala, berlanjut menuju Desa Lekaq Kidau Kab Kutai Kartanegara. Di desa ini mereka disambut di Lamin Adat dan disuguhi tari tarian khas Dayak Kenyah.Desa Lekaq Kidau kini telah dijadikan sebagai salah satu desa budaya yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Morfologi Desa budaya ini berupa dataran pinggiran sungai. Keletakannya terhadap sungai mahakam di sisi sebelah utara sungai. Morfologi wilayah di sebelah timurnya adalah perbukitan.Seperti halnya pada komunitas Dayak yang bermukim di Desa Lung Anai, komunitas Dayak yang tinggal di Desa Lekaq Kidau ini juga berasal dari daerah Apo Kayan, sebuah daerah di pedalaman Kalimantan yang kini berbatasan dengan wilayah Malaysia. Mereka merupakan suku Dayak Kenyah yang pindah ke Lekaq Kidau pada sekitar tahun 1987, dengan alasan antara lain agar dapat mempermudah akses mendapatkan pendidikan bagi anak-anak mereka dan untuk lebih mendekati daerah perkotaan agar mereka dapat memperbaiki taraf kehidupan mereka.Hal ini karena di tempat asal mereka akses untuk mendapatkan pendidikan dan berbagai sarana transportasi serta komunikasi sangat sulit, yang menyebabkan mereka seperti terisolir dan terpisah dengan masyarakat lainnya.


 Atas kesepakatan bersama, mereka memilih lahan di Lekaq Kidau sebagai tempat mereka untuk tinggal dan menetap. Daerah tersebut menjadi pilihan mereka dengan alasan selain karena tempat itu masih kosong, juga karena letaknya yang berada di tepi Sungai Mahakam yang memudahkan mereka untuk melakukan berbagai aktivitas seperti di tempat asal mereka. Mayoritas warga desa ini adalah Suku Dayak Kenyah Lepoq Bem. Desa Lekaq Kidau ini baru ditempati sekitar tahun 1998 setelah 87 Kepala Keluarga warga Dayak Kenyah yang mendiami Long Les pindah menuju desa ini. Petani adalah profesi bagi sebagian besar masyarakat desa ini. Tanah di sekitar desa digarap dan dimanfaatkan sebagai lahan bercocok tanam. Pada suatu ketika saat musim panen tiba, masyarakat desa melakukan pesta panen. Sebagian hasil panen disisihkan untuk Mecaq Undat.

 Bagaimana Visitor, penasaran? Ayo coba deh alternatif wisata susur Sungai Mahakam yang mengasyikkan ini. Segera kunjungi Tenggarong Kab Kutai Kartanegara.

Kegiatan Sosialisai Proses Pengusulan Kota Kreatif Indonesia Kedalam Unesco Creative Cities Network ( UCCN ) / Jejaring Kota Kreatif


 Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara melaksanakan kegiatan Pembahasan mengenai peningkatan Badan Ekonomi Kreatif di Gedung Bappeda pada tangga 13 Juni 2019 guna mewujudkan model panutan (Role Model) Kabupaten / Kota (KaTa) kreatif Indonesia khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara yang berkaitan dengan peningkatan kepariwisataan menyangkut event-event maupun budaya Kutai Kartanegara.


 Hadir langsung dalam kegiatan ini yaitu Dra. Sri Wahyuni. MPP., selaku Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, sebagai salah satu narasumber yang di dampingi Drs. Witontro., Kepala Bidang Pemasaran Wisata pada Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara.

Dalam pemaparanya ibu Dra. Sri Wahyuni. MPP. menyampaikan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) / Jejaring Kota Kreatif UNESCO bertujuan utk mempromosikan kerjasama dengan dan diantara kota-kota yg mengakui kreatifitas sebagai faktor strategis pembangunan berkelanjutan dalam hal aspek ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Dengan bergabungnya ke dalam jejaring, kota-kota berkomitmen untuk berbagi best practices dan membangun komitmen yg melibatkan sektor publik, swasta dan masyarakat dalam rangka mengembangkan komitmen yg mempromosikan kreativitas dan industri budaya, memperkuat partisipasi ekonomi kehidupan budaya dan mengintegrasikan budaya dalam rencana pembangunan perkotaan.Partisipasi Indonesia pada program UCCN atau Jejaring Kota Kreatif UNESCO dan field category di bawahnya merujuk dan diselaraskan pada Sistem Ekonomi Kreatif Nasional. Penilaian Mandiri Kabupaten / Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) oleh Brekraf adalah sebagai prasyarat sebelum bergabung dalam UCCN. Terdapat 55 Kab/Kota telah mengikuti proses uji petik PMK3I dan Kabupaten Kutai Kartanegara masuk nominasi 10 Kab/Kota Kreatif Indonesia, yang akan diseleksi kembali menjadi 4 Kab/Kota Kreatif terpilih sebagai Role Model Kab/Kota Kreatif Indonesia. Sedangkan Kab. Kutai Kartanegara sendiri juga telah bergabung dalam Indonesia Creative Cities Network (ICCN) sejak thn 2015 dalam deklarasinya di Solo pd tgl 25 Oktober yg lalu


 Partisipasi Indonesia pada program UCCN atau Jejaring Kota Kreatif UNESCO dan field category di bawahnya merujuk dan diselaraskan pada Sistem Ekonomi Kreatif Nasional. Penilaian Mandiri Kabupaten / Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) oleh Brekraf adalah sebagai prasyarat sebelum bergabung dalam UCCN. Terdapat 55 Kab/Kota telah mengikuti proses uji petik PMK3I dan Kabupaten Kutai Kartanegara masuk nominasi 10 Kab/Kota Kreatif Indonesia, yang akan diseleksi kembali menjadi 4 Kab/Kota Kreatif terpilih sebagai Role Model Kab/Kota Kreatif Indonesia. Sedangkan Kab. Kutai Kartanegara sendiri juga telah bergabung dalam Indonesia Creative Cities Network (ICCN) sejak thn 2015 dalam deklarasinya di Solo pd tgl 25 Oktober yg lalu. 





 

Sosialisasi Tanda Daftar Usaha Pariwisata Di Kecamatan Anggana


 Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara melaksanakan Sosialisasi Tanda Daftar Usaha Pariwisata bagi usaha-usaha pariwisata yang ada di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara. Hadir sebagai narasumber dalam pelaksanaan tersebut Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., perwakilan dari Kecamatan Anggana, perwakilan dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kab Kutai Kartanegara, perwakilan dari Dinas Kesehatan Kab Kutai Kartanegara Yulia Hermini.

 Saat membuka kegiatan Sosialisasi Tanda Daftar Usaha Pariwisata di Kecamatan Anggana, Dra. Sri Wahyuni MPP., menyampaikan beberapa hal mengenai TDUP diantaranya bahwa Sosialisasi Tanda Daftar Usaha Pariwisata ( TDUP ) ini sebagai tindak lanjut atas Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan khususnya pasal 15 ayat 1 dan 2 dalam klausul ayat itu menyebutkan bahwa untuk dapat menyelenggarakan Usaha Pariwisata, pengusaha pariwisata wajib mendaptarkan usahanya terlebih dahulu kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah.

 Pembkab Kutai Kartanegara sendiri telah menetapkan Peraturan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 44 Tahun 2015 tentang Pendaftaran Usaha Pariwisata. Dan pada tahun 2018, terbit lagi peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Pariwsata. Bahwa sosialisasi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran bagi pelaku usaha jasa dan sarana pariwisata agar memiliki kepastian hukum dalam menjalankan usaha pariwisata bagi pengusaha. Kemudian dengan adanya TDUP ini akan mampu menyediakan sumber informasi bagi semua pihak yang berkepentingan mengenai hal – hal yang tercantum dalam daftar usaha pariwisata, serta meningkatkan daya saing usaha pariwisata khususnya di Kutai Kartanegara. 

 Diharapkan kesadaran pelaku usaha pariwisata memang sudah semakin tumbuh baik untuk mendaftarkan usahanya agar memiliki TDUP, namun sering tumbuhnya usaha jasa dan asrana wisata baru pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terus melakukan upaya sosialisasi TDUP.




Sosialisasi Penerapan Sapta Pesona Di Lingkungan Dinas Pariwisata


 Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara melaksanakan kegiatan Sosialisasi penerapan Sapta Pesona di lingkungan Dinas Pariwisata, kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pejabat struktural dan staf Dinas Pariwisata untuk bersama mendapatkan sosialisasi tersebut.  Hadir sebagai pemateri ialah Drs. Triatma, sebagai Kasi Pemasaran Wisata pada Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, beliau menyampaikan Sadar wisata adalah bentuk kesadaran Masyarakat, menyadari hak dan   kebutuhannya untuk menjadi pelaku wisata atau wisatawan dalam  melakukan perjalanan ke  suatu daerah tujuan wisata Masyarakat menyadari peran dan      tanggung jawabnya sebagai tuan rumah (host) yang  baik. Dan menciptakan suasana seperti yang tertuang dalam slogan Sapta Pesona. Sapta pesona memiliki logo yang dilambangkan dengan matahari yang bersinar sebanyak tujuh unsur yang maknanya aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, kenangan.



 Lebih lanjut Drs Triyatma memaparkan bawa Aman merupakan suatu kondisi atau keadaan yang memberikan suasana tenang dan rasa tentram bagi wisatawan, sehingga wisatawan tidak merasa cemas dalam menikmati kunjungannya. Lalu tertib ialah suatu kondisi atau keadaan yang mencerminkan suasana tertib dan teratur bagi berlangsungnya kegiatan kepariwisataan yang mampu memberikan layanan teratur dan efektip bagi wisatawan, aplikasinya bisa dilakukan dengan mewujudkan budaya antri serta memelihara lingkungan dengan tata aturan yang berlaku, disiplin waktu. Yang ketiga bersih merupakan suatu kondisi atau keadaan yang menampilkan sifat bersih dan layanan higienis yang harus selalu tercermin pada lingkungan, sarana dan prasarana serta pelayanannya. Dengan betuk aksinya bisa seperti tidak membuang sampah / limbah ke sembarang tempat. Turut menjaga kebersihan sarana dan lingkungan destinasi pariwisata.


 Keempat Sejuk merupakan kondisi atau keadaan lingkungan yang memberikan suasana nyaman, segar dan rasa betah bagi wisatawan sehingga mendorong lama tinggal dan kunjungan yang lebih lama, dengan contoh aksi seperti melaksanakan penghijauan dengan menanam pohon, memelihara penghijauan di obyek dan daya tarik wisata. Kelima indah yang merupakan suatu kondisi lingkungan yang mencerminkan keadaan yang indah dan menarik yang akan memberikan rasa kagum dan kesan mendalam bagi wisatawan. Bisa melalui dengan aksi menjaga keindahan objek wisata dalam tatanan yang alami dan harmoni, menata tempat tinggal dan lingkungan secara teratur, menjaga karakter kelokalan. Keenam ramah yaitu suatu kondisi lingkungan yang bersumber dari sikap masyarakat di destinasi pariwisata yang mencerminkan suasana yang akrab, terbuka dan penerimaan yang tinggi yang akan memberikan perasaan nyaman, perasaan diterima atau merasa betah seperti di rumah sendiri bagi wisatawan dalam perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut. Bisa melaui aksi seperti bersikap sebagai tuan rumah yang baik siap membantu wisatawan, memberi informasi tentang adat istiadat secara sopan, menampilkan senyum yang tulus. Ketujuh kenangan ialah suatu bentuk pengalaman yang berkesan di daerah tujuan wisata yang akan memberikan rasa senang dan kenangan indah yang membekas bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan kedaerah tersebut, aksinya bisa dilakukan dengan menggali dan mengangkat keunikan budaya lokal, menyajikan makanan dan minuman khas lokal yang bersih, sehat dan menarik, menyediakan cindramata yang menarik, unik, khas serta mudah dibawa dan harga yang wajar.




Buka Puasa Dinas Pariwisata Bersama Peserta BSBI


 Kab Kutai Kartanegara kembali menjadi tuan rumah untuk yang kedua kalinya, dari 12 pelajar mancanegara yang masuk dalam peserta program Beasiswa Seni dan Budaya (BSBI) 2019 dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Para pelajar ini akan tinggal selama tiga bulan lebih di Kab Kutai Kartanegara untuk belajar bahasa Indonesia serta seni budaya daerah. Bertepatan dengan bulan suci Ramadan Dinas pariwisata mendapat kesempatan untuk melaksanakan Buka bersama di Masjid yang berada di komplek perkantoran Bupati Kutai Kartanegara.

 Dalam hal ini Kepala Dinas Pariwisata juga mengundang ke 12 peserta BSBI untuk hadir bersama sekaligus memperkenalkan para peserta tersebut dengan pegawai Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara. Pada tahun ini ke 12 orang peserta BSBI tersebut berasal dari Azarbaijan, Bangladesh, Fiji, Filipina, Jerman, Kamboja, Kiribati, Kolombia, Portugal, Serbia, Vietnam, dan tuan rumah Indonesia.

Yayasan Gubang dari Tenggarong dipercaya kembali untuk menjadi mitra kerja Kementrian luar negeri RI sebagai tempat belajar kesenian daerah bagi peserta program BSBI.  Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong juga ditunjuk Kementrian Luar Negeri RI sebagai tempat kuliah para peserta BSBI dalam rangka memperdalam bahasa Indonesia. Untuk diketahui bahwa program BSBI tahun ini merupakan tahun ke 17 dilaksanakan oleh Kemenlu RI yang diikuti 72 peserta dari 40 negara. Masing – masing 12 peserta disebar ke 6 lokasi yang ditetapkan yaitu Kutai Kartanegara, Padang, Banyuwangi, Bali, Yogyakarta, dan Makasar.



 Suasana hangatpun terjalin saat berbuka puasa dengan terlihat para peserta berkomunikasi dengan staf Dinas Pariwisata sambil menikmati makanan khas Indonesia Kab Kutai Kartanegara. 



 



 


Tari Udip Kak Iwan Dan Tari Udip Kaq Metun


 Tarian yang di tampilkan saat pembukaan Upacara Adat Mecaq Undat Tabang, yang menceritakan peradaban masyakat suku dayak kenyah dari masa ke masa. Tari Udip Iwan yang menceritakan Kehidupan di Iwan sekitar tahun 1852. Di sungai Iwan suatu tempat di perbatasan Malaysia – Indonesia saat ini, suku Dayak Kenyah Lepok Tukung mulai hidup secara komunal atau bersama. Inilah sejarah zaman batu suku dayak kenyah. Kehidupan mereka saat itu benar – benar tergantung dari alam.


 Pakaian, makanan, peralatan kerja dan tempat tinggal diambil dari alam sekitarnya. Pada jaman inipun komunitas etnis Dayak Kenyah Lepok Tukung masih sangat eklusif dan terisolir. Mereka belum dikenal dan dikenal oleh dunia luar, kehidupan pada saat ini masih sangat kental dengan adat mengayau ( perang antar suku ).

 Tari Udip kaq Metun yang menceritakan kehidupan di Metun pada sekitar tahun 1872 Metun adalah period eke dua dalam sejarah perkembangan etnis Dayak Kenyah Lepok Tukung, setelah berdomisili sekian lama di Iwan. Mereka meninggalkan Iwan akibat desakan kebutuhan hidup, tantangan alam sekitarnya dan ancaman dari komunitas etnis Dayak lainnya. Itu terjadi karna perang suku dan kebiasaan Mengayau atau mencari tumbal  sebagai bahan sajian yang di persembahkan kepada dewa dewi yang di percayai.


 Ini adalah bagian dari kehidupan masyarakat dayak kenyah pada masa itu, di Metun masyarakat masih tetap terisolir dan tergantung pada alam sekitarnya, tak jauh berbeda dari kehidupan mereka di Iwan. Di Metun Masyarakat Dayak Kenyah Lepok Tukung sempat mencapai kemakmuran dan kejayaan ( menang dalam peperangan antar suku ) sampai terjadi kesombongan, tatanan kehidupan tidak teratur ( mudip selabu ). Akibatnya kemurkaan alam pun terjadi, masyarakat di serang dengan sebuah wabah penyakit dan kalah dalam perang sampai kehilangan Pemimpin.






Upacara Adat Mecaq Undat Tabang


 Kemeriahan pembukaan Festival Upacara Adat Mecaq Undat yang berlangsung di Tabang Kab Kutai Kartanegara. Seluruh Masyarakat tumpah ruah hadir saat upacara adat tersebut, dan para peserta yang hadirpun seragam masing – masing mengenakan pakaian adat dayaknya lengkap beserta aksesorisnya. Keramahan seluruh warga masyarakat menyambut para pengunjung menjadi salah satu ciri khas masyarakat Dayak Kenyah Lepok Tukung di Desa Tukung Ritan dan Ritan Baru.

 Mecaq Undat dalam bahasa Dayak Kenyah berarti menumbuk beras hingga menjadi tepung. Mecak Undat itu bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kemakmuran dengan hasil panen, juga bermakna kebersamaan dan gotong royong, karena dalam acara ini semua orang satu kampong berbaur dan bersama-sama menyiapkan acara ini. Pesta adat Mecak Undat dilaksanakan oleh suku Dayak Kenyah di Desa Ritan Baru dan Tukung Ritan Kecamatan Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

 Dalam kesempatannya Bupati Kutai Kartanegara Drs Eddy Damasyah. M.Si., yang turut hadir saat pembukaan  Festival Upacara Adat Mecaq Undat. Beliau menyampaikan apresiasi yang sebesar – besarnya kepada segenap tokoh adat dan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Tukung di Desa Tukung Ritan dan Ritan Baru yang telah bahu membahu dan bergotong royong dalam menyelenggarakan kegiatan Upacara Adat Mecaq Undat yang tahun ini dikemas secara berbeda.  Pada hari ini kita menyaksikan rumah – rumah tradisional tempo dulu yang secara khusus di bangun untuk memperkuat suasana tradisi kehidupan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Tukung ketika mulai membangun pemukiman di wilayah ini, seperti tari kolosal, pawai budaya, pertunjukan tari dan music tradisional.

 Bupati Kutai Kartanegara Drs Eddy Damasyah. M.Si., karna Mecaq undat ini merupakan salah satu warisan budaya daerah dan warisan budaya bangsa. Oleh karna itu beliau meminta kepada OPD terkait agar Upacara Adat Mecaq Undat ini dapat di daftarkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan di penuhi persyaratannya agar dapat tetapkan sebagai warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kalimantan Timur. Selanjutnya beliau juga membuka acara Mecak Undat dengan ditandai pemukulan gong, Bupati turut serta ambil bagian dalam menumbuk dengan mengikuti irama gong yang secara serentak bersamaan menumbuk beras.




Nutuk Beham Di Desa Kedang Ipil



Festival Adat Nutuk Beham, Panen Raya Kutai Adat Lawas, di Balai Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun,  yamg telah terjadwal dalam  Kalender Even Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini dimulai  dari Tanggal 26 s/d 28 April 2019. Nutuk Beham merupakan acara adat dalam rangka merayakan keberhasilan panen, Nutuk Beham di laksanakan sekali dalam setahun, yakni saat panen muda ( prapanen / panen awal ). Dalam acara ini warga bergotong royong untuk melaksanakan seluruh rangkaian acara mulai dari proses pembuatan tikar dari pandan hutan yang di pergunakan sebagai alas untuk menumbuk baham, lesung untuk menumbuk baham, memotong padi ketan muda untuk baham, merontok padi ketan muda untuk baham, di rendam minimal 1 malam, diangkat lalu ditiriskan, kemudaian di sangrai, lalu didinginkan kemudian di haluskan dengan cara di tumbuk menggunakan alu dan lesung sebanyak 2 tahap, berikutnya akan di buat menjadi kue ketan ( wajik / bongkal baham ).


 


 Kemudaian Kue ketan akan di bacakan doa terlebih dahulu sebelum disantap bersama oleh semua warga yang hadir dalam acara tersebut. Acara puncak adat Nutuk Beham berlangsung pada tanggal 28 April dalam upaya pelestarian salah satu tradisi dan budaya Kutai Adat Lawas. Acara diawali dengan ritual penyambutan Rombongan Bupati Kutai Kartanegara yg diwakili Dinas Pariwisata oleh Bapak Drs. Witontro. Selaku Kepala Bidang Pemasaran Wisata dengan didampingi oleh OPD terkait dan unsur Muspika Kecamatan Kota Bangun. Dilanjutkan dengan peninjauan prosesi Nutuk Beham, kemudian seremoni acara Nutuk Beham, ritual adat Mam'mang dan di tutup dengan acara Beseprah.

 Keunikan yang ada pada proses nutuk beham adalah penggunakan lesung yang dibuat dari batang pohon cempedak dan diatur sedemikian rupa diatas panggung. Warga secara bergantian dan berkelompok mulai menumbuk atau menutuk beham dan pada saat alu di tumbukkan, lesung mengeluarkan bunyi khas dan berirama sesuai kekuatan yang menumbukkan alu pada lesung.

Untuk di ketahui Desa Kedang Ipil merupakan sebuah desa yang menjadi cikal bakal suku Kutai yang kemudian menyebar kemana-mana. Masyarakat desa Kedang Ipil hidup dari bercocok tanam padi dan sayur mayur serta buah-buahan. Kegiatan bercocok tanam padi pun hanya untuk dikonsumsi sendiri dengan memanfaatkan ladang berpindah dilahan berbukit dengan cara ngasak atau nugal atau yang dikenal dengan cara menabur benih secara langsung tanpa penyemaian dengan waktu cocok tanam pada bulan September sampai dengan bulan November dan dipanen sekitar empat sampai lima bulan kemudian




JEDAK (Jejak Desa Kutai Lama) Gowes Sekulaan 2019 Di Desa Kutai Lama


 JEDAK (Jejak Desa Kutai Lama) Gowes Sekulaan 2019 di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Hari Minggu 28 April 2019. Telah berlangsung dengan sangat ramai dengan garis start di Pelabuhan Naga Kutai Lama, Jalan Putra Mahkota RT 01, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). para goweser sangat bersemangat untuk mengikuti JEDAK tersebut yang di hadiri langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si. terlebih lagi dari team Dinas Pariwisata yang memang sudah menyiapkan teamnya untuk bisa mengikuti Jelajah Desa Kutai Lama Ke 3 tahun ini.



 Acara yang di mulai mulai Pukul 07.00 WITA Peserta disuguhkan trek yang sangat menarik yang ada di Anggana, Kutai Kartanegara. Pihak panitia membuat sedikit perbedaan pada Jedak ke  3 ini, biasanya Gowes Sepedaan hanya manampilkan Trek yang membuat tantangan dan sedikit menyiksa pesertanya, kali ini tidak di Jedak 3. Peserta akan disuguhkan trek suasana Pedesaan, Perkebunan, Pertanian dan Indahnya Perbukitan Kutai Lama nan Asri jauh dari kesan kawasan tambang.  Peserta juga akan disambut oleh Kelompok Sadar Wisata Kutai Lama dengan tari Jepen Selamat datang dan mengikat kain kuning sebagai tanda bahwa anda tamu kami. Jedak juga melibatkàn UKM Center 8 Desa di Kecamatan Anggana yang mengusung program Inovasi Kami Olah Bebaya Putri Kencana dimana nantinya Para Goweser se Kalimantan Bisa berwisata Kuliner dan Jajanan Khas Kecamatan Anggana.



 Berbagai hiburan disajikan dalam event tahunan ini. Mulai dari penampilan seni tari jepen dari Sanggar Tari Sebuku Kutai Lama, kemudian dilakukan pelepasan peserta mulai usia dibawah 10 tahun dan diatas 55 tahun oleh Bupati Kukar di Pelabuhan Naga Kutai Lama. Setelah melewati rute yang dipersiapkan, 10 peserta atau goweser (pria-wanita) yang tercepat sampai di finish, langsung mendapatkan medali. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize berupa 11 unit sepeda MTB, 1 unit kulkas serta beberapa hadiah menarik lainnya.





Festival Hari Budaya


 Perayaan Hari Budaya dan HUT ke 16 Planetarium Jagad Raya Tenggarong berlangsung meriah sejak pagi hingga malam hari di dalam maupun di Halaman Planetarium Jagad Raya Tenggarong. Acara ini turut dihadiri oleh Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., yang didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata kab Kutai Kartanegara Ibu Dra. Sri Wahyuni. Mpp., Para pimpinan kelompok seni dan paguyuban dan para tokoh seni budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara.



 Di ketahui bahwa Hari budaya yang  jatuh pada tanggal 12 April, dan perayaan HUT ke 16 Planetarium Jagad Raya Tenggarong yang telah di resmikan pada tanggal 16 April 2013. Dalam sambutannya Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., beliau menyampaikan bahwa ini menunjukkan bahwa Kutai Kartanegara merupakan pusat budaya di Kalimantan Timur dan kehadiran Planetarium Jagad Raya merupakan perwujudan komitmen dan pandangan yang visioner bahwa Kutai Kartanegara dengan ragam wisata alam dan budayanya juga siap dengan wisata pendidikan yang berdaya saing.



 Festival ini bukan hanya sekedar peringatan atau hiburan masyarakat semata, namun terdapat makna penting di dalamnya yaitu turut membangun kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara yang berbudaya. Hari budaya ini juga bertujuan untuk melahirkan sikap apresiasi dan cinta budaya serta melestarikan budaya daerah dan adat istiadat masyarakat yang hidup dan tumbuh berkembang di lingkungan masing – masing. Jika budaya adalah asset bangsa, maka kita patut menjunjung tinggi, menjaga dan melestarikannya serta bersikap saling menghormati.



 Terkait dengan Planetarium jagad Raya Tenggarong, telah mengalami transformasi teknologi dalam memberikan layanan pengunjung untuk pembelajaran ruang angkasa khususnya di teater bintang. Terakhir beliau mngucapkan selamat Hari Budaya Kutai Kartanegara 2019 dan HUT ke 16 Planetarium Jagad Raya Tenggarong, semoga semakin menjadikan Kutai Kartanegara yang melekat di hati.


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis