Banner 2

Baner Calender

Banner 3

Banner 6

Banner 5

Banner 7

Banner 8

Banner 9

Statistik

Hit hari ini : 849
Total Hits : 1,294,610
Pengunjung Hari Ini : 376
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 323,242

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Pesta Adat Panen Ketan Muda Dusun Putak Desa Loa Duri Ilir


 Kembali terlaksana kegiatan Pesta Panen Padi Ketan Muda dalam rangka "Ngetooq Ngotamp Parai Puluut Manguur" yang di laksanakan oleh masyarakat Dusun Putak di Desa Loa Duri Ilir Kecamatan Loajanan, yang pelaksanaanya bertepatan dengan pase bercocok tanam yaitu pase panen padi ketan muda. Pesta Panen ini di hadiri dan di buka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sriwahyuni. MPP. bersama unsur Muspika Loa Janan, Managemen Perusahaan ABK beserta mitra kerja (Program Kebudayaan) selaku Pembina adat budaya Dusun Putak, dan Para Pemuka Adat serta tokoh masyarakat Desa Loa Duri Ilir.

 Dalam kesempatannya Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sriwahyuni. MPP. menyampaikan dalam sambutannya bahwa "Biasanya CSR Perusahaan membangun infrastruktur, namun disini berbeda. Disini ada pembangunan kebudayaan dan pembangunan sumberdaya manusia (SDM). Saya mengapresiasi perusahaan yang ada di Kecamatan Loa Janan yang konsen terhadap pelestarian budaya lokal yang ada di Kutai Kartanegara ini. Seperti ABK dan Mitra kerja, diuraikannya, budaya lokal yang mulai terkikis ini jika tidak ada yang peduli melestarikan, dipastikan kebudayaan yang ada di lingkungan warga akan hilang. Selain itu pihaknya mengapresiasi petani yang ada di Dusun Putak yang masih berladang padi. Ia menaruh harapan agar tahun depan bisa meningkatkan produktivitas padi yang selama ini digeluti.

 Dilanjutkan dengan pemaparan Manajer CSR PT ABK, Agung Hasanudin, mengatakan padi yang ditanam oleh masyarakat setempat adalah padi Varietas Serai dan Mayas. Padi khusus di lahan kering ini berbeda dengan varietas padi yang ditanam di lahan basah seperti sawah. Proses panennya juga berbeda, masyarakat Dusun Putak memanen padi dengan menggunakan ani-ani, yakni memetik helai demi helai.




Untuk di ketahui bahwa setiap tahunnya didemonstrasikan proses pembuatan bahapm oleh warga. Yaitu makanan tradisional adat dayak yang terbuat dari ketan yang sengaja dipetik waktu masih muda namun sudah berisi, ketan yang dipanen itu kemudian disangrai bersama kulitnya. Setelah matang kemudian ditumbuk menggunakan lesung. Selanjutnya ditapis dan dibersihkan dari kulitnya. Kemudian dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa. Makanan inilah sebagai sajian tradisional yang disuguhkan kepada pengunjung yang hadir pada saat panen raya itu.








Muara Badak Festival


 Pada bulan Maret, Kecamatan Mura Badak memiliki kegiatan yang telah masuk dalam Kalender Event Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara, yang berlangsung pada tanggal 8 – 17 Maret 2019 yang bertajuk Muara Badak Festival 2019 #MBFEST2019 resmi dibuka oleh Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., Acara itu dirangkai dengan pemberian piagam penghargaan kepada semua sponsor acara MB Festival 2019 oleh Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. M.Si. dengan meneken tombol sirine sebagai tanda dibukanya Muara Badak Festival 2019. pada malam Jumat, 08 Maret 2019. Event terbesar di Kecamatan Muara Badak ini merupakan event tahunan dari Kecamatan Muara Badak yang kini sudah masuk di kalender tahunan event Kabupaten Kutai Kartanegara bersama dengan ERAU dan event lainnya. Dalam kesempatannya ketika membuka #MBFEST2019 beliau mengatakan setiap event dalam kalender event daerah menjadi representasi dan potret Kukar dengan berbagai keunikan dan keragaman wilayahnya. Demikian pula dengan MB Festival, yang secara khusus menghadirkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Diharapkan dengan adanya #MBFEST2019 sektor UKM (Usaha Kecil Menengah) bisa terus tumbuh dan berkembang di Kecamatan Muara Badak sehingga mampu menjadi solusi perekonomian Muara Badak dimasa mendatang. “Hal ini menunjukkan kesungguhan dan konsistensi untuk menjadikan Festival ini sebagai sebuah event tetap yang dimiliki oleh masyarakat Muara Badak. Karena itu pula, Muara Badak semakin menggeliat, dibarengi dengan berbagai agenda lainnya dengan menggandeng para pelaku seni budaya maupun siswa sekolah, bisa memeberikan warna baru dalam gelaran di Kukar.

 Salah satu tujuan penyelenggaraannya, #MBFEST2019 bukan sekedar hiburan bagi masyarakat. Konten edukasi, kolaborasi, pemasaran produk UKM dan apresiasi seni budaya menjadi bagian di dalamnya. Ragam pengayaan konten inilah yang menjadi atraksi atau daya tarik #MBFEST2019.“Atraksi inilah yang menjadi magnet bagi pengunjung untuk datang ke festival ini, untuk melihat ataupun menjajaki produk-produk UKM, melakukan transaksi belanja, menyaksikan apresiasi seni budaya serta melakukan perjalanan wisata di sekitar Muara Badak, khususnya pantai-pantai di Pangempang yang semakin dikenal masyarakat.




 


 Beliau mengatakan, pertumbuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang cukup tinggi di Kukar perlu mendapat pendampingan agar dapat bersaing baik dari sisi kualitas, kuantitas maupun keberlangsungannya. “Untuk itu, Pemkab Kukar telah meluncurkan program Idaman, yakni Inovasi Dagang Kemitraan bagi pelaku UMKM. Melalui program Idaman ini, pihak perusahaan setempat melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan menjadi bapak angkat yang membina para pelaku UMKM di wilayah operasi kerjanya, melalui kesempatan yang baik ini, saya mengajak kepada para pimpinan perusahaan untuk turut serta berpartisipasi dan meningkatkan program pembinaan dan pendampingan terhadap para pelaku UMKM melalui progam TJSP masing-masing. Keberhasilan pendampingan yang dilakukan adalah, ketika produk-produk UMKM setempat menjadi konsumsi produk di lingkungan perusahaan, dapat bersaing dengan produk-produk lainnya di toko-toko modern, serta memperoleh pangsa pasar yang lebih luas,” ajaknya. Beliau juga berharap agar Organisasi Perangat Daerah (OPD) terkait dapat mengambil langkah-langkah percepatan untuk pendampingan dan pembinaan UMKM di Kukar, agar memiliki daya saing dan pangsa pasar yang lebih luas baik melalui toko-toko modern maupun secara online. untuk diketahui bahwa selama #MBFEST2019 ini akan berlangsung berbagaimacam kegiatan diantaranya Bazar UMKM, Color run, serta akan mendatangkan para artis dangdut dari ibukota.




Workshop Koreografi Dan 13 Dasar Tari Jepen Kutai


 Workshop Koreografi dan 13 Dasar Tari Jepen Kutai dengan tujuan untuk mengenalkan maupun terus melestarikan Tari Jepen Kutai berlangsung di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kerjasama dari SKK Migas - PT Pertamina Hulu Mahakam, Yayasan Mahakam Lestari dengan Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara.



 Kegiatan Workshop Koreografi ini berrlangsung selama dua hari, dan di buka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegar Dra. Sri Wahyuni. MPP. untuk di ketahui bahwa Tari Jepen merupakan kreasi artistic yang timbul di tengah – tengah masyarakat umum. Gerakan tarian rakyat ini menggabungkan unsur – unsur tarian yang ada pada tarian suku yang berdiam ( tinggal ) di daerah pantai. Seni Tari Rakyat kutai yakni Tari Jepen. Tari jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang di pengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam ( Arabic ). Kesenian ini sangat popular di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun daerah pantai. Tarian pergaulan ini biasanya di tarikan berpasang – pasangan tetapi dapat pula di tarikan secara tunggal atau para muda mudi saja. Tarian jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama music khas Kutai yang di sebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus ( jenis gitar berdawai 6 khas kutai ) dan ketipung ( seperti gendang kecil ) da nada yang bernama Terbang ( seperti rebana ), di karnakan populernya kesenian ini, maka hamper di setiap kecamatan terdapat grup – grup jepen sekaligus tingkilan yang masing – masing memiliki gayanya sendiri – sendiri. 



  



 Selam dua hari ini para peserta di berikan materi dan langsung diajarkan gerak dasar dari tari jepen, Adapun Pakem ( Dasar ) Tari Jepen adalah Gelombang, samba ( putar ) setengah, samba ( putar ) penuh, ayun anak, tepok, langkah belau, langkah ketam, putar gasing, setep, taktim. Dalam rumpun melayu jepen di kenal banyak nama sesuai dengan identitas atmosfir wilayah terciptanya tari tersebut ada jepeng, zapin, japing, bedanya dan merupakan kebudayaan melayu yang mengakar dengan sisi tradisi masyarakat setempat jepen ini adalah salah satu tari pergaulan rakyat atau masyarakat melayu dan biasanya di tarikan dalam berbagai kegiatan sukacita atau pesta rakyat. Di lanjutkan dengan pengenalan kostum Jepen Kutai ini adalah baju cina yang kalau daerah lain biasanya disebut dengan baju telok belanga, baju cina ini baju yang di pakai dalam keseharian masyarakat Kutai, di lanjutkan dengan pengenalan gerak dasar Jepen yang diikuti oleh seluruh peserta Jepen dari Kecamatan Anggana, Kecamatan Samboja, Kecamatan Muara Jawa, dan Kecamatan Tenggarong.

 



  


Pelatihan Pemandu Wisata Di Visitor Center Tenggarong

 Dinas Pariwisata kab Kutai Kartanegara bekerjasama dengan SKK Migas – PT. Pertamina Hulu Mahakam dengan Yayasan Mahakam Lestari. Telah melaksanakan Pelatihan Pemandu Wisata selama dua hari di Jam Bentong, Tenggarong Visitor Center mulai tanggal (6/2/2019) sampai tanggal (7/2/2019). Acara ini di buka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan di hadiri oleh seluruh Kasi dan Kabid Dinas Pariwisata.


 Para peserta pelatihan ini selam dua hari akan di bimbing oleh pemateri dari Ketua DPD HPI Prov Kaltim Rusdiansyah. Selama kegiatan berlangsung semua peserta sudah merasa senang dengan kehadiran oleh pemateri Rusdiansyah karna sifat humoris beliau saat mengajarkan. Untuk hari pertama ini peserta akan di berikan beberapa materi. Materi pertama di sampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengenai peran pemandu wisata dalam meningkatkan citra daya tarik wisata Kutai Kartanegara. Isinya diantaranya membahas Daya Tarik wisata ( DTW ), SDM Daya Tarik Wisata, Citra Daya Tarik Wisata, Peran Pemandu Wisata bagi citra Daya Tarik Wisata.

 Beliau menjelaskan kalau ada top 7 Daya Tarik Wisata Utama Di Kutai Kartanegara bagi Wisman yaitu dari tertinggi kunjungannya sampai keterendah, BOSF Samboja, Bukit Bengkirai Samboja, Makam Raja – Raja Kutai Kartanegara, Museum Mulawarman Tenggarong, Lamin Etam Ambors, Museum Kayu Tenggarong, Wisata Sungai Mahakam. Dan Daya Tarik Wisata Utama Di Kutai Kartanegara bagi Wisnus yaitu dari tertinggi kunjungannya sampai keterendah, Pulau Kumala Tenggarong, Ladaya Tenggarong, Makam Raja – raja Tenggarong Lamin Etam Ambors Samboja, Pantai Pangempang Muara Badak, Museum Mulawarman Tenggarong, Pantai Tanah Merah Samboja, Pantai Sambera Muara Badak, Desa wisata Kresik Marang Kayu, Pantai Pemedas Samboja.

 Materi selanjutnya di sampaikan oleh bapak Rusdiansyah, beliau menyampaikan diantaranya pengertian pramuwisata atau pemandu adalah seseorang yang betugas memberikan bimbingan, pelayanan dan petunjuk tentang obyek wisata Indonesia serta membantu segala sesuatu yang di perlukan oleh wisatawan. Seorang pramuwisata harus memiliki kepribadian penuh perhatian, ketajaman daya ingatan, pandai bergaul dan periang, jujur, inisiatif, humoris, suka menolong, empati, dan pemimpin yang baik. Beliau juga memberikan mengenai pelajaran bahwa seorang pemandu haru harus dapat membuat perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan, pertama tentukan tempat farwell yang nyaman tenang dan mengesankan, tanyakan kesan dan pesan selama dalam perjalanan, berikan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan mengingatkan barang bawaan mereka, ucapan maaf dan terimakasih dan terakhir sampai jumpa lagi di lain waktu waktu dengan tour yang lain.

Tidak hanya belajar berupa materi, namun pelajaran langsung berupa praktek mengajak para peserta langsung ke objek wisata yang ada di Tenggarong Kutai Kartanegara seperti mengunjungi Pulau Kumala Tenggarong yang juga menjadi salah satu tempat wisata yang terbanyak pengunjunjungnya.












Dialog Kepariwisataan Bersama Pelajar Di Sangasanga


 Masih dalam kegiatan Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga tahun 2019, Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara juga melaksanakan kegiatan dialog kepariwisataan, yang memang pada setiap tahunnya telah di lakukan, untuk tahun ini ada dua sekolah yang berada di Kecamatan Sangasanga yaitu dari SMK Muhammadiyah dan SMAN I Sangasanga. Dalam kegiatan dialog ini para siswa cukup antusias mendengarkan pemaparan dari Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Bapak Witontro beserta Kasi Promosi Wisata, Bapak Triyatma

 Salah satu materi yang di bahas diantaranya pengenalan kerajaan kutai martadipura (420 – 1035 m). Pada akhir abad iv dan awal abad v di muara kaman berdiri sebuah kerajaan kutai / kerajaan kutai martadipura yang oleh masyarakat secara nasional  mengakui dan mempercayai bahwa kerajaan hindu tertua di nusantara/indonesia.

Bukti adanya kerajaan di Muara Kaman, pertama melalui berita dari Negara Cina, Pada abad ix telah menjalin hubungan dagang antara kerajaan martadipura dengan negeri cina bahwa berita tersebut antara lain menyebut-nyebut daerah tujuan perdagangan mereka dengan istilah kho-thay (bahasa cina), thay artinya besar kho artinya tanah negeri pusat jadi kho – thay berarti negeri besar (kerajaan besar). Selain itu orang india menyebut daerah tujuan perdagangan mereka dengan istilah quetairy yang artinya hutan belantara. Pendapat ini bukan untuk nama etnis/identitasnya melainkan teritori atau kawasan

 Kedua ditemukannya prasasti yupa, pada tahun 1880 m pada masa pemerintahan kesultanan kutai kartanegara ing martadipura di perintah oleh sultan adji muhammad sulaiman di masa kekuasaan hindia – belanda ada 4 orang ilmuwan/sejarawan yang telah menemukan 4 buah prasasti di bukit brubus desa muara kaman dengan menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sansekerta. Pada tahun 1939 m di temukan lagi oleh ilmuwan graham irwin m.adh.d 3 buah prasasti di bukit brubus desa muara kaman  yang juga menggunakan huruf  pallawa dan berbahasa sansekerta, dari ke tujuh prasasti benda cagar budaya tersebut saat ini tersimpan di museum nasional Jakarta.

 Dengan diketemukannya 7 buah prasasti yupa dengan huruf pallawa dan berbahasa sansekerta di bukit brubus muara kaman tempat dikenalinya huruf (aksara) pertama kali di nusantara, hal ini menunjukkan muara kaman merupakan tonggak sejarah peradaban manusia dari belum mengenal tulisan menjadi peradaban manusia yang mengenal tulisan atau dari zaman prasejarah menjadi zaman sejarah.

Para siswa sangat baik dalam menyimak pemaparan yang di berikan oleh Kabid Pemasaran Pariwisata Drs. Witontro, sehingga pada kesempatan Tanya jawab, banyak siswa yang bertanya lebih mendalam mengenai silsilah Kerajaan Kutai hingga akhir acara kegiatan berlangsung sangat baik.


Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga 2019


 Bertempat di lapangan Bola Pertamina EP Aset 5 Field Sangasanga, Upacara Parade Peristiwa Merah Putih digelar pada hari Minggu 27 Januari 2019. Apel parade peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga dihadiri jajaran pemerintah Pemprov Kaltim dan Pemkab Kukar, para Veteran, Pimpinan Ormas, Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama dan undangan lainnya. Gubernur Kalimantan Timur Dr. Ir. H. Isran Noor. M. Si menjadi Inspektur upacara, dalam sambutannya, Isran mengatakan sebagai warga masyarakat Kalimantan Timur terlebih Kecamatan Sangasanga, patut bersukur dan bangga karna Kota Sangasanga menjadi salah satu sejarah perjuangan tingkat nasional. Pada 1947, peristiwa heroik itu menorehkan tinta emas yang patut kita kenang sepanjang masa. Sebagai bangsa besar semua pihak sepatutnya menghargai perjuangan para pahlawan melawan NICA yang berhasil menguasai kota yang kaya akan minyak tersebut. Oleh karna itu jejak perjuangan harus kita kenang, patriotismenya patut pula kita tularkan kepada generasi muda ini. Beliau juga menyampaikan bahwa “Semangat pengorbanan para pejuang hendaknya ditanamkan sejak dini kepada generasi penerus bangsa. Sebagai bangsa besar, kita harus pandai menghargai jasa pahlawan,”.

Setelah Upacara, ditempat yang sama, para undangan dan pengunjung yang hadir menyaksikan pertunjukan Opret yang menggambarkan Perjuangan Peristiwa Merah Putih


 


 Sangasanga 27 Januari 1947 tahun silam. Selanjutnya, setelah upacara selesai, Gubernur Kalimantan Timur Dr. Ir. H. Isran Noor. M. Si didampingi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Privinsi Kaltim dan Kukar, rombongan berziarah ke Taman Makam Pahlawan Wadah Betuah, Kecamatan Sangasanga. Dipimpin Gubernur Kalimantan Timur Dr. Ir. H. Isran Noor. M. Si, para penjiarah melakukan doa bersama serta menaburkan bunga pada makam pahlawan yang gugur pada 1947 silam.

Untuk di ketahui bahwa selain perayaan pada 27 Januari 2019, berbagai rangkaian parade juga diselenggarakan sejak 26 Januari 2019. Diantaranya, Napak tilas di beberapa lokasi sejarah, Launching Kalender Event Kutai Kartanegara 2019.






Penabalan Sultan Kutai XXI


 Sejarah baru terukir di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2018, telah berlangsung acara Penabalan Putra Mahkota Adji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat akan dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI di Kedaton Kesutanan Kutai atau Museum Mulawarman Tenggarong.

 Setelah wafatnya Ayahanda almarhum Sultan Adji Muhammad Salehuddin II, maka anak beliau yang bernama Drs Adji Muhammad Arifin Praboe, Msi. Akan melanjutkan tahta ayahanda dengan gelar Sultan Adji Muhammad Arifin. Di ketahui bahwa sehari sebelumnya pada hari jumat telah dilaksanakan prosesi Beluluh yang mana Putra putra mahkota duduk di balai bambu bertingkat yang digunakan sebagai singgasana dalam upacara ini. Balai bambu ini diletakkan di atas lukisan tambak karang, yakni lukisan yang dibuat dari kumpulan beras warna-warni, tujuan Prosesi ini dilakukan untuk mengusir unsur jahat di sekeliling putra mahkota. Upacara ini juga sering dimaknai sebagai penyucian diri dan setelah prosesi beluluh selesai, tambak karang diperebutkan oleh masyarakat, karna masyarakat meyakini beras warna-warni di atas gulungan tikar itu akan membawa keberkahan.

 Untuk melaksanakan Penobatan maka pihak – pihak terkait seperti Pemkab Kukar, Dinas Pariwisata Kukar dan Pihak Kesultanan telah berkoordinasi untuk meminjam Benda pusaka peninggalan Kesultanan Kutai yaitu Ketopong dan Pedang yang berada di Museum Nasional Jakarta. Dan di bawa serta di kawal langsung oleh Kepala Museum nasional Siswanto.



 Benda pusaka ini digunakan langsung dalam prosesi penabalan atau penobatan sultan. Dua benda pusaka itu adalah ketopong dan pedang. Menteri Kelestarian Nilai Adat Kesultanan Kutai, Adji Pangeran Haryo Kusumo Puger, menjelaskan, proses peminjaman benda pusaka ini sudah berjalan satu bulan yang lalu. Sudah ada kesepakatan bahwa penabalan dilaksanakan 15 Desember, ada penandatanganan nota kesepahaman antara Plt Bupati Kutai Kartanegara dan Dirjen Kebudayaan. Kemarin, petugas Dinas Pariwisata dengan dua kerabat kesultanan yang mewakili menjemput pusaka itu ke Museum  Nasional di Jakarta. "Sampai di sini diambil prosesi tempong tawar karena benda ini sangat sakral dan bersejarah yang hanya kami gunakan pada saat acara penabalan sejak Sultan AM Sulaiman, Sultan Alimuddin, Sultan Parikesit, Sultan Aji Salehuddin II sampai Yang Mulia Putra Mahkota akan dinabalkan besok (hari ini) harus menggunakan keaslian dari benda pusaka itu sendiri.

 Saat prosesi penobatan, Sultan Kutai XXI mengenakan baju kebesarannya sembari menggunakan ketopong atau mahkota di kepala. Setelah menyampaikan ikrar sembari mengangkat keris, Sultan Kutai XXI segera mengajak seluruh masyarakatnya untuk makan di samping kiri gedung Museum Mulawarman. Seluruh tenda menyediakan makanan dan minuman gratis buat masyarakat. Ratusan warga segera menyerbu tenda makanan dan minuman. Nasi kebuli, nasi kuning, serabai, lemang, bubur kacang ijo. Pesta rakyat juga dimeriahkan dengan pentas seni budaya yang diisi dari beberapa sanggar tari di Kukar, serta atraksi seni yang dipersembahkan dari beberapa paguyuban di Kukar





Penutupan Festival Kota Raja ( FKR ) Ke VII


 Gelaran Festival Kota Raja (FKR) ke VII, untuk menyambut HUT kota Tenggarong ke-236, yang di laksanakan Dinas Pariwisata selama sepekan digelar sejak 29 September sampai 7 Oktober 2018  telah berakhir, acara yang diawali Ziarah makam pendiri kota Tenggarong Aji Imbut dan Sidang Paripurna di gedung DPRD Kukar, lalu diisi berbagai macam kegiatan yang berpusat di Tenggarong Fair II tahun 2018 yang berpusat dihalaman parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong.

 Kegiatan FKR VII dan Tenggarong Fair II tahun 2018 yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong ke 236 tahun. Pada malam penutupan tersebut para pengunjung yang hadir dihibur dengan penampilan artis ibu kota seperti Tika KDI, Ari Bintang Pantura, Wandie Mario dan Ira Babyra serta performance band lokal, fashion show Batik Kutai Melayu karya Imam Pranawa Utama oleh alumnus putra-putri Teruna Dara Kukar. Lebih lanjut, pada kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan hadiah lomba foto Eksotika Erau 2018, lomba Gasing dan pemberian piagam penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Kukar kepada pihak sponsorship yang telah ikut berpartisipasi pada pelaksanan FKR VII dan Tenggarong Fair II.

 Drs. Edi Damansyah. M. Si., selaku (Plt) Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) menutup secara resmi Festival Kota Raja (FKR) VII dan Tenggarong Fair II tahun 2018. Hadir pada kegiatan penutupan tersebut diantaranya Kadis Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP, Dandim 0906 Tenggarong Letkol Czi Bayu Kurniawan, Kapolres Kukar AKBP Anwar Haidar, Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar H Sukhrawardy, Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Satu Pintu (BPMPSP) Kukar Bambang Arwanto serta tamu dan undangan lainnya.

 Dalam kesempatannya Drs. Edi Damansyah. M. Si., memberikan arahannya mengapresiasi kegiatan FKR VII dan Tenggarong Fair II tahun 2018 yang dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong royong oleh seluruh Stakeholder yang ada."Kami ucapkan terimaksih kepada seluruh sponsorship sehingga kegiatan ini bisa terlaksana dengan semangat betulungan (gotong royong)," beliau berharap kegiatan FKR dan Tenggarong fair tersebut bisa terus dilaksanakan setiap tahunnya sehingga kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong tersebut akan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

Festival Jepen Kreasi Di Tenggarong Fair II


 Festival Kota Raja ( FKR ) ke VII telah berlangsung selama beberapa hari, dan termasuk dalam kegiatan acaranya ialah Festival Jepen Kreasi yang akan berlangsung selam dua hari. Acara ini di hadiri langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni.MPP., selama dua hari ini akan berlangsung dua kategori tari Jepen yaitu kategori anak SD sampai SMP dan kategori Umum. Tiga orang dewan juri yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya.


 pertama DRA. Hj. Zaifah Nurbani, Kedua Dra. Hj. Isnaniah usman, dan ketiga Drs. Surya Gunawan. Pada hari pertama dimulai dengan Jepen Anak atau Tingkat Pelajar, tampil sebagai pembuka dengan judul tari Jepen Pegi Behuma, menceritakan aktifitas kehidupan para petani dalam proses menanm padi ( Behuma ). Seperti membuka dan membersihkan lahan, mengasak / membuat lubang pada permukaan tanah, menabur benih padi menjaga muma dari gangguan burung dengan menggunakan boneka orangan sawah lau bersuka ria dengan penuh rasa cinta dan persaudaraan bersama memanen dan memetik buah padi, merontokkan dan melenggang dan menempi hasil buah panen padi.


 Jempen Rampak Begenjoh yang bersinopsiskan Berjepen Begenjoh berempak beriramamelayu Kutai dengan khazanah tradisi yang ada, kekanakan menaridengan serentak berempak begenjoh menguatkan tradisi mengkokohkan norma – norma yang ada dengan moderenisasi tanpa melupakan akar tradisi yang ada. Berlanjut lagi dengan tampilan dengan judul tarian Bena semayang, tarian yang menceritakan tentang pergaulan muda – mudi yang menari dengan lincahnya dengan diiringi tingkilan danau semayang dengan gerak lemah gemulai, dan dinamis mengsimbolkan kekuatan dan persatuan masyarakat Kutai kartanegara tidak lupa serahung melambangkan perlindungan dari mara bahaya, tarian ini mengandung unsur melayu yang begitu kental dan menyatu dengan nilai religi.  Masing – masing peserta membawa para pendukungnya, sehingga setiap kali para peserta yang tampil di panggung Tenggarong Fair II, riuh keramaian dari para pendukung meramaikan suasana Festival Tari Jepen Kreasi ini.


TKC Akan Tampil Dengan Kostum Baru


 Salah satu yang di tunggu masyarakat Tenggarong dan sekitarnya saat berlangsungnya Hari Ulang Tahun Tenggarong ke 236  yang di gelar Dinas Pariwisata kab Kutai Kartanegara lewat even Festival Kota Raja (FKR) ke VII, yaitu tampilan dari para talent  Tenggarong Kutai Carnival (TKC). Sesuai yang telah terjadwal dari kegiatan selama sepekan di Tenggarong Fair II, para talent TKC akan tampil menyapa masyarakat Kutai Kartanegara dan menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke 236  tenggarong pada hari Sabtu tanggal 6/10.


 Dalam Kesempatannya Kepala Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., menyampaikan Show time ini sekaligus memeriahkan HUT Kota Tenggarong ke-236, dimana akan ada sejumlah talent yang tampil dengan kostum tema baru. "Tahun ini kita perkenalkan lagi 3 tema yang baru, yakni tema Ulap Doyo, Sampe' dan Bunga Jaong atau Kecombrang,".Masing-masing tema akan dibawakan 10 talent, total ada 30 talent. Nantinya manajemen TKC akan memilih 30 kostum baru untuk ditampilkan pada perhelatan Erau Adat Kutai & International Folklore Art Festival (EIFAF) 2019.


 "Nanti kostum baru ini pada EIFAF tahun depan akan kita tampilkan seperti di opening dan closing Asian Games 2018, dimana mereka akan membawa nama-nama negara,". Dra. Sri Wahyuni. MPP  menambahkan Untuk rute, seluruh talent TKC akan start dari panggung Tenggarong Fair II di lapangan parkir Stadion Rondong Demang."Start dimulai pukul 15.30 Wita, rutenya melewati jalan Stadion, Jalan Teratai dan akan finish di Kedaton Kesultanan Kutai.


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis