Banner 1

Banner 2

Banner 3

Banner 4

Banner 5

Banner 6

Banner 7

Banner 8

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 651
Total Hits : 1,072,536
Pengunjung Hari Ini : 159
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 248,637

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Hari Ketiga Pentas Seni EIFAF 2017




Pentas
seni EIFAF 2017 sampai hari ke-3 masih berlangsung meriah. Terlihat dari antusias para
penonton yang masih ramai mendatangi dua panggung pentas seni yaitu Stadion
Utama Lapangan Basket Timbau dan panggung kedua yaitu panggung Stadion Rondong
Demang.




Panggung
Utama Lapangan Basket Timbau menghadirkan peserta dari Tabang, China Taipei,
Slowakia, Tonyoi Bennuaq dan Polandia dan di panggung Stadion Rondong Demang
menghadirkan Ngelawai, Thailand, Malang, India dan Jepang.




Group
seni tari dari Tonyoi Benuaq membawakan tari yang bercerita tentang pengobatan
yang diberikan kepada orang yang sedang sakit dan membayar makan semengat
ucapan syukur orang yang sembuh dari sakit. Tari ini di sebut dengan tari
Belian Bawo. Group seni tari Polandia hadir dengan costum yang sangat menonjol
dari rompi bersulam, puluhan manik-manik, bulu burung burung merak  dan sabuk yang dihiasi.




Group
seni tari dari India membawakan tari GHoomar yaitu tari yang berasal dari salah
satu daerah di India yaitu Rajasthan. Para penari berputar-putar di atas kaki
sembari bergerak masuk dan keluar dari sebuah lingkaran besar.



Upacara Adat Merangin


Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).



Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.




Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu.



Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa.

Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan.



Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat.



Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.


Prosesi Menjamu Benua Menjelang Erau


Dalam pelaksanaan Upacara Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017, maka empat hari menjelang dilaksanakannya Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2017. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Upacara Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2017 berlangsung, baik keselamatan Sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong.

Upacara Menjamu Benua memiliki makna memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberikan makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan".

Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif atau gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu, dan Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu. Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua.

Ditiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning kearah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya


Beluluh Awal Sultan


Beluluh Awal dilakukan di Kedaton Kutai kartanegara pada tanggal 19 Juli 2017, yang hadir pada acara beluluh awal ini antara lain Sultan Kutai Kartanegara H. Aji Muhammad Salehhuddin II, Putra Mahkota H. Aji Pangeran Adapati Prabu Anum Hadiningrat, Pejabat Pemkab Kukar serta Kerabat Kesultanan Kutai, Upacara adat Beluluh ini dimulai sejak pukul 10.00 s/d selesai, Dalam Upacara Ritual Beluluh yang dilakukan seorang Belian terhadap raja/sultan/putera mahkota yang berperan mengucapkan doa memohon kepada yang maha kuasa guna membersihkan diri dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, maka akan diluluhkan di atas buluh/bambu dan sebagai pertanda dimulainya pelaksanaan Erau. Upacara Ritual Beluluh dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung.





Upacara Ritual Beluluh sendiri terdiri dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi. Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk.








 

Demong mengatur dewa laki melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri. Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakang. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka. Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggi setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan music gamelan salaseh atau marandowo.



Setelah sultan menjalani beluluh, giliran Putra Mahkota Kesultanan Kutai HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat menjalani ritual Beluluh. Apabila sultan telah melakukan Beluluh, maka Sultan tidak boleh menginjakan tanah atau Betuhing sampai berakhirnya perayaan erau yang ditandai dengan belimbur.


Persiapan Liasion Officer EIFAF 2017

Koordinator Bidang I Seksi Liasion Officer (LO) mengadakan rapat sebagai persiapan dalam menyambut Erau Adat Kutai & 5th International Folk Art Festival (EIFAF) 2017 pada hari ini, Senin, 17 Juli 2017 bertempat di Sekretariat EIFAF “Jam Bentong”.




Rapat dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra, Sri Wahyuni, MPP. didampingi Penanggung jawab Koordinator Bidang II H. Syahliansyah, S. Sos., M. Si, Koordinator Bidang I Seksi Acara Drs. Triyatma dan Koordinator Bidang II Seksi  Parade Opening dan Closing Ceremony H. Surya Admadi dihadiri oleh peserta Liasion Officer (LO) dan Staf Dinas Pariwisata Kab. Kukar.




Rapat membahas masalah tugas dan tanggung jawab yang akan diberikan kepada setiap Liasion Official dan Negara peserta EIFAF 2017 yang akan di damping oleh masing-masing Liasion Officer.




Dalam kesempatan itu Ibu Kepala Dinas juga memperkenalkan setiap Koordinator Panitia yang  bertanggungjawab pada bidang mereka masing-masing dan juga memperkenalkan Peserta Liasion Officer yang telah terpilih. Berikut nama- nama peserta Liasion Officier yang terpilih untuk mendampingi para peserta International Folk Art adalah :

1. Wahyu Aulia Wati = Slovakia  

2. Aldi Riandana = Bulgaria       

3. Sandi Mulya Cipta = Thailand           

4. Sherlington Kalapadang = Polandia

5. Heru Wahyu Prasetya = Korsel

6. Dedy Purwa Nugraha = Taiwan

7. Utari Citra Ihsani = Jepang

8. Fajar Siddiq = Vanila Island  

9.Aftia Putri Lovelia = India

Kegiatan ini diakhiri dengan pembagian perlengkapan bagi setiap peserta Liasion Official dan acara makan siang.

Persiapan Kuliner Dalam Rangka EIFAF 2017


Kabupaten Kutai Kartanegara mulai berbenah untuk  menyambut kegiatan EIFAF 2017. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah rapat Persiapan Kuliner dalam Rangka Erau Adat Kutai & 5th International Folk Art Festival (EIFAF) 2017. Rapat ini diadakan pada Hari Kamis, 13 Juli 2017 pukul 08.30 WITA bertempat di sekretariat EIFAF “Jam Bentong” dipimpin oleh Ibu Airin Susanti, SE, MM  selaku Koordinator  Bidang III Seksi Beseprah dan Kuliner dan dihadiri oleh masing-masing perwakilan peserta kuliner.



 



Beberapa perwakilan peserta kuliner yang akan meramaikan acara tersebut adalah dari DISPERINDAGKOP yang akan menghadirkan 6 peserta, Koperasi dan UKM menghadirkan 8 peserta, Keluarga Berencana (KB) 2 peserta, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebanyak 6 peserta, IWAPI, PKK, DHARMA WANITA, GRAND ELTY dan GOW.





Dalam rangkaian acara “kuliner” yang bertema “Makanan Tradisional Kutai” tersebut akan diadakan beberapa lomba. Penilaian lomba tersebut diantaranya adalah :

    Kebersihan Stand Kuliner ( tiap peserta diwajibkan untuk menyiapkan tempat sampah)

    Makanan basah yang wajib disiapkan sebanyak 10 macam/klp dan

    Makanan ringan/kering sebanyak 20 macam/klp





Adapun pembukaan Kuliner  dalam Rangka EIFAF 2017 ini akan dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2017 bertempat di sebelah gedung bulutangkis Stadion Rondong Demang.





Pembentukan Kelompok Sadar Wisata Desa Jembayan.


Bertempat di Balai Pertemuan Umum  Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu diadakan Pembentukan Kelompok Sadar Wisata yang hadiri Kepala Bidang Pemasaran Drs. Witontro dan Kasi Promosi Drs. Triyatma, serta Kasi Pemberdayaan Masyarakat Wisata Airin Susanti, SE. MM, dari perwakilan Kecamatan, Desa, LPM dan Lembaga Adat, yang berlangsung pada hari kamis 18/5/2017.

Menurut Hartono yang merupakan ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa mengatakan Jembayan merupakan Kampung Tuha sebagai pendahulu desa-desa yang ada sehingga meninggalkan berbagai peninggalan yang bersejarah, seperti situs makam, monumen perjungan, gua dan bangunan jaman jepang, serta situs sejarah lainnya. Ditambahkannya potensi –potensi tersebut perlu dikelola dan diberdayakan dengan maksimal maka salah satunya dengan membentuk kelompok Masyarakat sadar wisata atau POKDARWIS yang peduli dan komitmen membangun Desa Jembayan.

Semantara itu dalam sesi pembekalan oleh Kabid Pemasaran Drs. Witontro mengatakan bahwa Sadar Wisata, adalah suatu kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi atau wilayah.

Menurutnya Kelompok Sadar Wisata, selanjutnya disebut dengan Pokdarwis, adalah  kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona dalam meningkatkan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan manfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, pungkasnya.


Setelah melakukan diskusi dan Musyawarah maka terbentuklah kelompok sadar wisata desa Jembayan dengan nama “Rindu Kampung Tuha” dengan ketua Hartono, Wakil Ketua Sony, Sekretaris Emmi Dehmi, Bendahara Hamisah dan harapannya agar para pengurus yang terbentuk ini melakukan koordinasi untuk membentuk seksi-seksi dalam pokdarwis.

 



Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Di Desa Wisata Kedang Ipil


Setelah satu minggu kegiatan pelatihan Kerajinan Anyaman berlangsung maka Pada hari Rabu, 17 Mei 2017 pukul 09.30 Wita bertempat di Balai Adat Desa Kedang Ipil dilakukan Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Kerjasama Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Kedang Ipil dan Pokdarwis Kandua Raya. Penutupan dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP, yang di dampingi oleh Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Ir. H. Muhammad Bisyron, Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Kepala Desa Kedang Ipil, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan peserta pelatihan.

Kepala Dinas Pariwisata dalam sambutannya mengatakan bahwa jika Desa Wisata Kedang Ipil ingin tetap eksis dan selalu dikunjungi wisatawan harus selalu menjaga kekompakan antara Pemerintah Desa, Pokdarwis dan Masyarakat. Selain itu beliau juga mengharapkan untuk terus menjaga nilai-nilai Budaya Adat Kutai Lawas dan menurunkannya ke generasi yang ada sekarang sehingga budaya dan adat kutai lawas yang terpelihara dengan baik ini tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman.

Di akhir sambutannya beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada 2 (dua) orang narasumber Ibu Anasfasia Esah dan Ibu Maretha yang telah membagikan ilmunya, kepada peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan ini serta mengajarkannnya kepada teman-teman yang belum sempat ikut dalam pelatihan.




Pelatihan Pelaku Usaha Sarana Rumah Makan Dan Restoran


Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara mengadakan Pelatihan pelaku sarana rumah makan dan restoran yang telah terlaksana di Hotel Liza Tenggarong, dalam pelatihan ini Dinas Pariwisata mengundang para pelaku usaha seperti pemilik Rumah makan dan restoran yang berada di Tenggarong Kutai Kartanegara.




Kegiatan Pelatihan ini juga di juga dihadiri oleh seluruh pejabat Dinas Pariwisata, acara yang berlangsung selama satru hari mendatangkan dua orang  narasumber yang berkompeten di bidangnya, seperti  ibu Nurul yang juga sebagai Auditor bidang usaha hotel, auditor bidang usaha jasa perjalanan wisata, auditor bidang usaha MICE, auditor jasa konsultan pariwwisata, asesor kompetensi bidang perhotelan.




Dra. Sri Wahyuni. MPP., selaku Kepala Dinas Pariwisata, membuka secara resmi Pelatihan pelaku sarana rumah makan dan restoran. Dalam pemaparannya saat membuka pelatihan beliau mengatakan bahwa agar para pelaku usaha seperti restoran dan rumah makan agar dapat mengambil peluang karna Tenggarong sudah menjadi kota wisata, bahkan dari enam daya tarik wisata Kutai Kartanegara dan kunjungan terbanyaknya ada di Tenggarong yaitu Pulau Kumala, dalam hal ini restoran dan rumah makan harus berbenah untuk menjadi lebih baik dari pelayanan maupun penyajian makanan, serta dapat mendaptarkan restoran dan rumah makannya, agar terdata sehingga mudah untuk bekerjasama dengan pihak terkait seperti travel saat ada rombongan kunjungan ke Tenggarong.






Berlanjut pada tahap pemberian materi oleh narasumber mengenai hygine sanitasi makanan yaitu upaya kesehatan dalam memelihara dan melindungi kebersihan makanan, melalui pengendalian factor lingkungan dari makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit dan atau ganguan kesehatan.  Para pelaku usaha juga di bekali enam prinsip Higiene Makanan dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makan masak yang benar, cara pengangkutan makanan yang siap santap, dan cara penyajian makanan yang baik.  

Lomba Tari Jepen Kreasi Dalam Rangka Hari Budaya


Dalam rangka memperingati Hari Budaya Kutai Kartanegara tahun 2017 Indonesia Marketing Assocition (IMA) Chapter Kutai Kartanegara melaksanakan Lomba Tari Jepen Kreasi tingkat Sekolah Dasar Se Kutai Kartanegara yang berlangsung pada hari Minggu (16/4/2017) di Pulau Kumala Tenggarong.Menurut ketua IMA kukar  Hariyanto yang juga General Meneger Grand Elty Singgasana Tenggarong, Indonesia Marketing Assocition (IMA) Chapter Kutai Kartanegara baru terbentuk 3 bulan yang lalu, yang beranggotakan seluruh Steakholder dan Multiplayer Marketing dan Bisnis yang ada di Kutai Kartanegara. Ia mengucapkan terima kasih atas partisipasi peserta yang mengikuti lomba tari Jepen Kreasi ini dengan semangat dan antusias,dan juga para pembimbing yang mendampangi para peserta lomba, dan harapann nya dari lomba ini bisa melestarikan seni Tari Jepen Kutai, sehingga melahirkan seniman Tari yang kreatif kedepannya, ia berharap agar kegiatan lomba ini bisa dilaksanakan secara rutin dengan memperebutkan piala bergilir. Semantara itu dalam sambutan nya Kepala Dinas Pariwisata Kukar yang dibacakan Kepala Bidang Pengambangan Ekonomi Kreatif, Syahliansyah mengatakan bahwa Dinas Pariwisata mengapresiasi kegiatan lomba ini, sehingga menjadi mahnet untuk orang berkunjung ke Pulau Kumala Tenggarong sebagai tempat wisata, demi melestarikan Seni Budaya, khususnya Tari Jepen. Lomba Tari Jepen Kreasi dinilai oleh Juri yang berkompoten dibidang Tari Jepen yang terdiri M.Ihsan, H Eramsyah Sadi dan Hj. Isnaina Usman, ada pun yang dinilai adalah gerak Tari, Kekompakan, Koreo serta Kostum. Setelah melakukan rangkaian lomba terpilih para juara lomba Tari Jepen Kreasi, berikut daftar pemenang lomba. Juara I SD 003 Tenggarong, Juara II SD 005 Muara Kaman, Juara SD 007 Tenggarong, The Best Koreo SD 003 Tenggarong, The Best Kostum SD 028 Tenggarong, Juara Favorit SD 012 Sebulu.

 


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis