Banner 0

Beluluh Awal

Banner 2

Banner 3

Desa Budaya

Banner 5

Buka Erau

Banner 7

Banner 8

Benner9

Statistik

Hit hari ini : 328
Total Hits : 1,461,040
Pengunjung Hari Ini : 144
Pengunjung Online : 4
Total pengunjung : 392,185

Flag Counter

Home Berita dan Artikel

Berita dan Artikel

 Ayo Ikuti Lomba Foto Eksotika TIFAF 2019


 Dinas Pariwisata Kab Kutai Kartanegara kembali melaksanakan Festival Kesenian Rakyat International VII ( 7th Tenggarong International Folk Arts Festival) yang akan hadir di Kota Raja Tenggarong pada tanggal 21 – 29 September 2019. Festival ini juga bertepatan dengan perayaan hari jadi kota Tenggarong ke 237 . sebanyak tujuh group kesenian rakyat mancanegara akan ikut serta memeriahkannya. Partisipan TIFAF dari mancanegara ini akan tampil satu panggung bersama kelompok – kelompok kesenian dari Indonesia, mereka semua akan tampil di beberapa tempat untuk setiap malamnya aka nada tempat yaitu panggung area Lapangan Basket Timbau dan Panggung arena Kukar Expo Rondong Demang, dan adapula tampilan partisipan TIFAF setiap sore yang akan mengelar Street Performance atau pertunjukan dijalan yaitu berpusat di Pulau Kumala Tenggarong.

Dan untuk para pecinta fotografi dapat langsung menyaksikan sekaligus memotret berbagai keunikan dan pesona wisata budaya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), baik dari Partisipan TIFAF maupun dari Kebudayaan serta olahraga yang di tampilkan selama sepekan TIFAF berlangsung. Hasilnya pun dapat diikutkan dalam Lomba Foto Eksotika TIFAF.

 Adapun syarat dan ketentuannya ialah.


Ketentuan Umum :

1.    Lomba Foto terbuka untuk umum

2.     Foto diambil pada semua kegiatan TIFAF dari tanggal 21 – 29 September 2019

3.    Pengiriman foto melalui email : lombafototifaf@gmail.com

4.    Pengiriman dukungan atau foling foto favorit dilakukan dengan menyatakan tanda suka pada foto finalis melalui Facebook Visiting Kutai Kartanegara.

 Ketentuan Khusus :

1.    Tidak diperkenankan mengirimkan hasil karya orang lain

2.    Hasil karya tidak boleh mengandung unsur pornografi dan sara

3.    Seluruh hasil foto merupakan tangghung jawab dari peserta ( dalam hal penggunaan model dan property )

4.    Tidak di perkenankan mengirimkan foto kolase dan montase

5.    Editing foto diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto( contrast, Brightness, Cropping )

6.    Menggunakan kamera digital ( DSLR, Pocket Mirrorless ) atau smartphone yang mendukung ketentuan foto.

7.    Untuk poling foto favorit, peserta tidak di perkenankan menggunakan fasilitas auto laike / bom like atau fasilitas sejenisnya

 Adapun jadawal lomba foto, pengambilan foto dari tanggal 21` s/d 29 September 2019. Pengirman foto dari tanggal 1 s/d 11 Oktober 2019. Utuk penentuan nominasi dari tanggal 11 s/d 17 Oktober 2019. Sedangkan untuk poling foto Favorit dari tanggal 17 Oktober s/d 17 November 2019.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi Panitia Wiwi no hp / wa 082152902310 dan Rahmat no hp / wa 085752001412.

 Rapat Keamanan TIFAF Di Jam Bentong


 Agenda rapat dilakukan jelang event TIFAF (Tenggarong International Folk Art Festival) 2019, kali ini, rapat dilaksanakan hari Senin tanggal 9 September 2019 untuk membahas segi keamanan yang dilakukan sebelum TIFAF berlangsung tanggal 21-29 September 2019.

 Turut hadir dalam rapat antara lain Dinas Perhubungan, Kepolisian, TNI, Satpol PP, dan perangkat daerah yang berhubungan dengan keamanan saat berlangsungnya TIFAF.

 Dalam rapat yang dilakukan di Jam Bentong tersebut, membahas mengenai kesiapan, hingga hari H pembukaan menjadi pembahasan inti untuk meminimalisir terjadinya kesalahan maupun yang menghambat jalannya TIFAF .

 Diharapkan dengan dilakukannya persiapan-persiapan yang matang menjelang TIFAF, event tersebut akan berjalan lancar dengan membawa delegasi asing yang terlibat dengan TIFAF juga merasa nyaman berada di Tenggarong saat event berlangsung.






 Rapat Festival International TIFAF 2019


 Nantinya sebelum pembukaan atau opening ceremony TIFAF (Tenggarong International Folk Art Festival), di adakan Festival International di jalan raya mulai dari depan penyebrangan Pulau Kumala / jembatan repo-repo sampai panggung kehormatan depan Kedaton.


 Adapun dalam rapat kali ini yang dilaksanakan di Jam Bentong diikuti beberapa kelompok seni tari nusantara yang ikut serta dalam pawai Festival International TIFAF 2019. 


 Festival International dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 21 September 2019, tepat satu hari sebelum opening ceremony di Stadion Rondong Demang esoknya.Rapat tersebut membahas beberapa poin penting mulai dari keamanan, kesiapan, rute, hingga setiap kelompok seni diberikan kesempatan untuk menampilkan keseniannya didepan panggung utama depan Kedaton.


 Merebahkan Ayu Erau 2019


 Ritual merebahkan ayu sebagai puncak akhir dari rangkaian kegiatan acara Erau yang digelar dikeraton (Museum Mulawarman) pada pagi hari ini prosesi merebahkan Ayu dilakukan oleh Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. M.Si dan pejabat Pemkab Kutai Kartanegara, serta dihadiri seluruh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 Pangkon Luar yang semula bertugas di bagian luar telah bergabung masuk ke dalam istana dan duduk bersila di sebelah pangkon dalam. Sultan dan kerabat duduk berjejer menghadap ke tiang ayu yang di kelilingi oleh dewa dan belian, di atas jalik ada tambak karang, tilam, bantal kuning dan hamparan tapak liman. Sesaat kemudian empat orang kerabat berdiri menghampiri tiang tiang ayu dan memegang sambil menggoyang sebanyak tiga kali, seakan-akan merebahkan sebatang pohon yang kokoh tertanam di tanah dan langsung rebah di atas tilam atau kasur dan bantal kuning, sebagaimana tidur dan beristirahatnya seorang petinggi yang di layani dengan rasa kasih sayang. Setelah Ayu direbahkan, kemudian dilanjutkan dengan ritual Tepung Tawar oleh pawang perempuan atau yang disebut Dewa bini, ritual ini dilakukan sambil memercikan air ke Ayu yang telah dibaringkan dari bagian kepala atau puncak menurun ke bawah ( bagian / renbak / pangkal ) sebanyak tiga kali sambil besawai. Kemudian dewa bini besawai lagi sambil membawa peralatan tepong tawar berjalan duduk hormat dan sembah kehadapan sultan untuk melaksanakan tepong tawar di bagian punggung tangan kanan dan kepala, baru turun ke lutut kiri dan kanan, juga betis kiri dan kanan. Kemudian Sultan di persilahkan mengambil air kembang  bunga tepong tawar untuk dioleskan ke bagian mata kiri dan kanan lalu menyapu dan menyeka bagian muka dan atas kepala.

 Selesai Sultan di tepung tawari, bersilaturahmi sekalian hadirin. pertanda bahwa acara Erau Adat Kutai sudah selesai atau berakhir dan dilanjutkan pula dengan pembacaan do'a selamat yang dipimpin oleh seorang kerabat Keraton sebagai tanda syukur kepada Allah S.W.T bahwa acara Erau Adat Kutai berlangsung sukses.

 Selanjutnya Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura serta kerabat Keraton lainnya serta petugas adat, Belian dan Dewa hingga pasukan mulai berpamitan.






 Penyucian Diri Dengan Belimbur


 Berbarengan dengan rombongan Prajurit Kesultanan dari Keraton yang membawa Naga Bini dan Naga Laki ke Kutai Lama. Di depan Keraton Kutai, beberapa rangkaian ritual dilaksanakan dimulai dengan beumban, begorok, rangga titi, dan berakhir dengan Belimbur.dalam rangkaian ritual yang dilaksanakan, Belimbur merupakan acara puncak dari rangkaian ritual ini. Dalam ritul Belimbur, seluruh masyarakat antusias mengikuti Belimbur dengan suka cita dan keceriaan sambil basah-basahan. Hal ini juga menjadi ajang masyarakat untuk memperkuat tali silaturahmi antar warga dengan berpartisipasi dalam ritual Belimbur.

 Pada masa sekarang, tradisi Belimbur berkembang menjadi suatu rangkaian acara Erau yang paling ditunggu oleh masyarakat dengan suka cita, bukan hanya masyarakat lokal yang menyambut suka cita Belimbur, tetapi juga ada warga asing atau wisatawan mancanegara yang turut hadir dalam acara adat Erau ini, para wisatawan mancanegara yang memang khusus datang ke Kabupaten Kutai Kartanegara untuk berkunjung sangat antusias menyambut momen Belimbur.

 Belimbur dilakukan setelah prosesi Mengulur Naga selesai. Saat Kapal pembawa naga kembali ke Tenggarong dan di semua kampong atau desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.

 Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.






 Ngulur Naga Erau 2019


 Bertempat di depan Keraton Kutai (Museum Mulawarman) Tenggarong Kutai Kartanegara Ing Martadipura, puncaknya dari kegiatan Erau Adat Kutai yang telah berlangsung selama sepekan, seluruh masyarakat, para Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara, dan seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menyaksikan prosesi Ngulur Naga. Sebelumnya, replika Naga Laki yang ditempatkan di serambi kanan dan Naga Bini di serambi kiri keraton bersemayam selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya diturunkan melalui Rangga Titi.


 Sesaat sebelum Naga diulur, Wakil Gubernur Hadi Mulyadi dalam sambutannya berharap agar tradisi pesta adat Erau dapat terus diprtahankan dan di lestarikan, mudah – mudahan acara ini dapat memberikan manfaat bagi masyrakat Kalimantan Timur dan Indonesia. Usai sambutan, terlebih dahulu dibacakan riwayat naga, selanjutnya setelah ritual Besawai, kedua replika naga tersebut dibawa menuju dermaga depan Museum Mulawarman untuk dinaikkan keatas kapal. Menteri Pelestarian Nilai-nilai Budaya Adat, Kesultanan Kutai, H Adji Pangeran Haryo Kusumo (APHK) Poeger, mengatakan, kedua replika naga ini selanjutnya akan diulur atau dilarung di sungai Mahakam, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana.


 "Sementara saat naga dalam perjalanan ke Kutai Lama, di keraton diadakan upacara Beumban dan Begorok untuk Sultan yang kali ini digantikan Putera Mahkota,". Setelah upacara Beumban dan Begorok dilaksanakan, tepat pukul 11.00 Wita, akan dilakukan upacara Rangga Titi di pelabuhan yang telah tersedia Balai, Putera Mahkota kemudian duduk di atas Balai menghadap ke Sungai Mahakam yang diapit oleh 7 orang Pangkon laki dan 7 orang Pangkon bini.


 "Setelah itu Air Tuli yang diambil dari sungai di Kutai Lama tiba dan dipercikan oleh Putera Mahkota kepada para hadirin, maka seluruh masyarakat di sekitar keraton dan lokasi-lokasi yang telah ditentukan melakukan ritual Belimbur atau saling menyiramkan air yang bermakna mensucikan diri,".

 Pembacaan Berjanji Di Erau 2019


 Acara Bepelas yang terus dilaksanakan setiap malamnya selama Erau Adat Kutai, namun khusus malam Jum’at, acara bepelas ditiadakan dan digantikan dengan pembacaan Berzanzi, Bertempat di keraton Kutai Kartanegara, Kamis 12 September 2019, tepat pukul 20.30 Wite acara pembacaan berzanji dilaksanakan, acara ini dihadiri langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI , kerabat kesultanan serta para undangan.


 Pembacaan Berjanzi ini di pimpin oleh Imam Jahidi dari kelompok Hadrah Al Fatah, yang beranggotakan 40 orang.


 Arti dari Berzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul.


 Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Acara pembacaan berjanzi diakhiri dengan  pembacaan doa, dan dilanjutkan dengan tari Rudat yang dibawakan 10 orang, tarian ini mirip dengan tariam saman dari Aceh, yang mana setiap gerakan tarian rudat adalah Zikir Kepada Allah SWT.

 Meriahnya Panggung Kesenian Di Erau Adat Kutai


  Antusiasnya masyarakat menyaksikan panggung kesenian Erau di Kedaton dari tanggal 8 – 14 September 2019. Budaya khas lokal ditampilkan dipanggung, berbagai kesenian dan musik daerah dilantunkan di panggung.


 Kesenian yang ditampilkan berasal dari beberapa Kecamatan di Kutai Kartanegara, setiap delegasi dari Kecamatan-Kecamatan sangat mengapresiasi panggung kesenian ini karena memberi kesempatan kepada kesenian tiap Kecamatan untuk menampilkan kesenian mereka masing-masing. Begitu pula antusias masyarakat yang menyaksikan panggung kesenian di Kedaton ini, terlihat ramainya masyarakat dari awal hingga malam penutupan untuk menyaksikan kesenian-kesenian daerah khas Kecamatan-Kecamatan.


 Adapun Kecamatan yang tampil antara lain Kecamatan Tenggarong, Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Muara Muntai, Kecamatan Muara Kaman, Kecamatan Kota Bangun, Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Tabang, Kecamatan Samboja, Kecamatan Muara Badak, Kecamatan, Marangkayu, dan Kecamatan lain yang ikut serta dalam kesenian panggung di Kedaton.


 Tiap Kecamatan berharap event seperti ini terus dilaksanakan guna mengembangkan kesenian yang ada di Kecamatan-Kecamatan.

 Olahraga Tradisional Dagongan Di Erau 2019


 Masih dalam menyemarakkan Erau Adat kutai, permainan tradisioanl dagongan turut di perlombakan selam beberapa hari di samping halaman parkir tempat wisata Pulau Kumala Tenggarong, olahraga tradisional dagongan berlangsung sangat seru karna setiap tim menurunkan para pemainnya atau atlitnya yang memang memiliki postur tubuh yang besar, agar dapat mengalahkan tim lawan dengan mudah.

 Dagongan adalah permainan olahraga tradisional yang mempergunakan bambu dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kekuatan untuk  saling mendorong antara regu yang satu dengan regu yang lain. Permainan  Olahraga tradisional dagongan ini merupakan kebalikan dari permainan tarik tambang. Untuk tarik tambang dalam cara bermain dengan saling manarik, sedangkan untuk permainan dagongan, kedua regu saling mendorong sekuat tenaga untuk mencari kemenangan.

 Dagongan dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu sebanyak 7 orang, terdiri dari 5 pemain dan 2 cadangan.  Kedua regu diwajibkan memakai kostum seragam dengan nomor dada/punggung dimulai dari angka 1 s.d 7. Sebagaimana permainan tradisional lainnya, Permainan olahraga tradisional dagongan ini dilakukan di arena berumput dan memiliki permukaan yang datar/rata. Area dagongan merupakan area petak persegi panjang yang mempunyai ukuran 2 meter X 18 meter. Garis tengah dibuat untuk membagi dua lapangan dengan sama panjang. Area serang dibatasi oleh garis pembatas  dengan jarak 2,5 meter dari garis tengah. Garis serang ini merupakan garis batas kaki pemain paling depan. Seluruh garis pembatas lapangan sebaiknya dibuat dari kapur saja.

 Bambu yang dipergunakan dalam permainan olahraga tradisional ini adalah menggunakan bamboo yang mempunyai ketebalan dan kekuatan yang dipersyaratkan. Tidak diperkenankan menggunakan bamboo dengan diameter yang terlalu kecil dan mudah patah, karena dapat membahayakan seluruh pemain. Bambu yang dipergunakan minimal berdiameter 12 cm – 18 cm dengan ukuran panjang 5 m – 8 m.

Lomba Dagongan sendiri dimainkan dengan sistem gugur dengan permainan dua kali main. Yang kalah didorong maka dianggap gugur dalam pertandingan tersebut.




 Olahraga Tradisional Begasing Di Erau 2019


 Serunya Lomba Olahraga Tradisional dalam rangka meramaikan Erau Adat Kutai 2019, Berbagai lomba olahraga tradisional telah dimulai hari ini, diantaranya lomba begasing, belogo, dagongan, dan lain-lain.

 Lomba begasing yang memang memiliki banyak sekali peminatnya, terlihat dari berbagai komunitas mengikuti permainan ini, baik dari kecamatan – kecamatan yang dari kab Kukar maupun dari luar Kab Kukar, adapun yang di perlombakan kali ini ialah kategori berajaan.

 Permainan Bagasing ini tidak terpisahkan dari masyarakat Kutai karna menariknya permainan tradisional ini, sehingga dari anak – anak hingga dewasa, hingga orang tua beradu ketangkasan dalam memainkan gasing yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Antusias terhadap permainan olahraga tradisional ini sangatlah tinggi dan menjadi tontonan mengasikkan bagi masyarakat. Begasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik, sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial) dengan diameter sekitar 10 hingga 15 centimeter, tinggi sebuah gasing 15 sampai 20 centimeter, salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin.


 Pada ujungnya dipasang bahan logam sebagai poros putaran, biasanya menggunakan paku jenis kayu yang digunakan kayu benggris atau ulin. Sementara tali penarik berdiameter 0,5 centimeter dengan panjang 1 hingga 1,5 meter. Kemudian tali ini dililitkan ke gasing dengan bagian ujung tali dikaitkan ke jari sang pemain. Setelah itu dilemparkan ke bawah seperti membanting sesuatu, sehingga tali melilitnya membuat gasing berputar dan gasing dapat berputar. Masyarakat bisa menyaksikan langsung berbagai jenis gasing dan ikut bertanding di Erau, di sepanjang turapan atau tepatnya di samping halamn parkir penyebrangan pulau kumala. Para pemuda ini memang membentuk komunitas – komunitas di setiap kecamatannya masing – masing untuk hadir serta mempertahankan permainan tradisional yang nyaris punah. Terlihat antusias masyarakat melalui Komunitasnya masing - masing yang mengikuti Lomba Begasing ini dengan peserta untuk katagori Berajaan .




Even Tahunan

Even