Foto 2

Foto 1

DEC

Tarian Dewa Erau

Pembukaan

Bukit Bangkiray

Kirab Budaya

Merebahkan Ayu

Streat Performan

Statistik

Hit hari ini : 579
Total Hits : 969,316
Pengunjung Hari Ini : 165
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 219,607

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Ritual Adat Ngatur Dahar


Ritual upacara mengatur dahar yang dilakukan kerabat kesultanan Kutai  Kartanegara sebelum pesta Erau di mulai. Upacara ini pada intinya adalah menyajikan makanan ringan berupa jajanan terdiri 41 jenis. Bertujuan selain  ungkapan rasa syukur  kepada Tuhan yang maha esa juga  mengajak  tokoh warga dan tokoh alam gaib agar selama Erau berlangsung  tidak sungkan untuk  menikmati hidangan setiap hari yang disajikan Sultan dan kerabatnya  di Keraton. Upacara ini juga bisa dilakukan di luar Erau terutama untuk  mengawali  hajatan   yang skalanya lebih besar seperti pesta kemeriahan perkawinan raja atau putra mahkota.

Dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai 2017 upacara mengatur dahar ini  digelar  di ruang pertemuan keluarga Keraton Sultan Tenggarong pada Sabtu malam (2/7)  sebelum Erau dimulai. Dalam pelaksanaan   dilakukan setelah makan malam dengan menyajikan  sejumlah kue khas daerah. Seperti wajik  warna-warni,  pais, lempar dan lemang. Buah buahan sepert pisang juga disajikan, bahkan bahan makanan masih mentah seperti biji kacang hijau dan  pipilan jagung yang sudah dipecah disajikan.  Tersedia pula ikan gabus   dan ayam panggang namun sayur  dan nasi tidak tampak di hidangkan pada upacara ini.




Pawang upacara Mengatur Dahar mengatakan  upacara ini masih tetap dilestarikan karena banyak segi positif ketimbang aspek negatifnya. Sebab  semua mahluk tuhan   pasti senang dan suka  jika    menikmati hidangan. Terlebih yang menyajikan adalah Sultan dan kerbatnya. Dengan suasana senang dan suka cita tentu akan berbuah rasa damai dan tenteram. Turut hadir dalam acara mengatur dahar ini Sekretaris Daerah Ir. Marli. M.Si dan tokoh masyarakat serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara




Kirab Budaya Internasional 2017


Dalam rangka Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017 yang dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai dengan 30 Juni 2017, salah satu rangkaian acaranya yaitu kirab budaya yang dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 22 Juli 2017, acara dimulai dari jam 09.00 – 12.00 WITA.






Hadir pada acara kirab budaya Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.P.Hd, Wakil Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah.,MM, Putra Sultan A.P.A.P.Praboe Anum Surya Adiningrat, Muspida Kabupaten Kutai Kartanegara, Sekretaris Dearah Kab. Kutai Kartanegara Ir. H. Marli.M.,Si, Ketua DPRD Kab. Kukar H. Salehuddin.S.Sos.,Sfill, seluruh  Kepala SKPD, Camat, dan Lurah di lingkungan Kab. Kutai Kartanegara. Kirab budaya ini juga disaksikan oleh seluruh masyarakat Kutai Kartanegara yang ingin menyaksikan kirab budaya Internasional secara langsung.




Kirab Budaya Internasional ini di ikuti oleh 29 paguyuban/sanggar seni lokal yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara dan 8 peserta Foklore. Acara kirab budaya mulai startnya di depan Gerbang Raja yang dibuka oleh  Sekda Kab Kutai Kartanegara Ir. H. Marli.M.,Si dan Kepala Dinas Pariwisata Kab. Kukar Ibu Dra. Sri Wahyuni.,MPP dan Presiden CIOFF Indonesia Said Rachmat. Finis Kirab Budaya Internasioal yaitu di panggung kehormatan di halaman Kedaton, tampilan di depan Kedaton di bagi perjenis, dan diawali oleh prajurut Keraton dan kesultanan memberikan tempong tawar kepada seluruh para undangan.




Kemudian tampilan Marcing Band, kelompok Paguyuban bersalang seling dengan peserta Fokloore, yang pertama dari sanggar tari Gubang Kutai Kartanegara Adecom dan Bunga Mekar. selanjutnya dari Group Negara Jepang, dari kelompok Benuaq Dance dan Group Jepen 2, lalu dari Negara India, kemudian tampil dari group kesenian Dayak Kenyah, lalu dari Negara Polandia, selanjutnya dari Group Jepen 1 dilanjutkan Negara Thailan, tampilan berikutnya dari kerukunan Dayak Modang dan Negara Slowakia, dilanjutkan Group Toraja, dari Negara China Taipei, selanjutnya dari kesenian local dan Negara Korea Selatan, tampilan berikutnya dari Group kesenian KKSU dilanjutkan Negara Bulgaria dan terakhir ditutup oleh kesenian local yaitu Ikatan Keluarga Munang Kukar, dari Group Kesenian Bali, Paguyuban Seni Jaranan (Mekar Asri), Paguyuban Bumi Kutai Kartanegara, Kesenian Gendang Bleg dan Kesenian Reok Ponorogo.






 


 





Upacara Adat Merangin


Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).



Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.




Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu.



Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa.

Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan.



Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat.



Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.


Prosesi Menjamu Benua Menjelang Erau


Dalam pelaksanaan Upacara Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017, maka empat hari menjelang dilaksanakannya Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2017. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Upacara Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2017 berlangsung, baik keselamatan Sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong.

Upacara Menjamu Benua memiliki makna memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberikan makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan".

Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif atau gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu, dan Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu. Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua.

Ditiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning kearah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya


Beluluh Awal Sultan


Beluluh Awal dilakukan di Kedaton Kutai kartanegara pada tanggal 19 Juli 2017, yang hadir pada acara beluluh awal ini antara lain Sultan Kutai Kartanegara H. Aji Muhammad Salehhuddin II, Putra Mahkota H. Aji Pangeran Adapati Prabu Anum Hadiningrat, Pejabat Pemkab Kukar serta Kerabat Kesultanan Kutai, Upacara adat Beluluh ini dimulai sejak pukul 10.00 s/d selesai, Dalam Upacara Ritual Beluluh yang dilakukan seorang Belian terhadap raja/sultan/putera mahkota yang berperan mengucapkan doa memohon kepada yang maha kuasa guna membersihkan diri dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, maka akan diluluhkan di atas buluh/bambu dan sebagai pertanda dimulainya pelaksanaan Erau. Upacara Ritual Beluluh dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung.





Upacara Ritual Beluluh sendiri terdiri dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi. Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk.








 

Demong mengatur dewa laki melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri. Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakang. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka. Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggi setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan music gamelan salaseh atau marandowo.



Setelah sultan menjalani beluluh, giliran Putra Mahkota Kesultanan Kutai HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat menjalani ritual Beluluh. Apabila sultan telah melakukan Beluluh, maka Sultan tidak boleh menginjakan tanah atau Betuhing sampai berakhirnya perayaan erau yang ditandai dengan belimbur.


Persiapan Liasion Officer EIFAF 2017

Koordinator Bidang I Seksi Liasion Officer (LO) mengadakan rapat sebagai persiapan dalam menyambut Erau Adat Kutai & 5th International Folk Art Festival (EIFAF) 2017 pada hari ini, Senin, 17 Juli 2017 bertempat di Sekretariat EIFAF “Jam Bentong”.




Rapat dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra, Sri Wahyuni, MPP. didampingi Penanggung jawab Koordinator Bidang II H. Syahliansyah, S. Sos., M. Si, Koordinator Bidang I Seksi Acara Drs. Triyatma dan Koordinator Bidang II Seksi  Parade Opening dan Closing Ceremony H. Surya Admadi dihadiri oleh peserta Liasion Officer (LO) dan Staf Dinas Pariwisata Kab. Kukar.




Rapat membahas masalah tugas dan tanggung jawab yang akan diberikan kepada setiap Liasion Official dan Negara peserta EIFAF 2017 yang akan di damping oleh masing-masing Liasion Officer.




Dalam kesempatan itu Ibu Kepala Dinas juga memperkenalkan setiap Koordinator Panitia yang  bertanggungjawab pada bidang mereka masing-masing dan juga memperkenalkan Peserta Liasion Officer yang telah terpilih. Berikut nama- nama peserta Liasion Officier yang terpilih untuk mendampingi para peserta International Folk Art adalah :

1. Wahyu Aulia Wati = Slovakia  

2. Aldi Riandana = Bulgaria       

3. Sandi Mulya Cipta = Thailand           

4. Sherlington Kalapadang = Polandia

5. Heru Wahyu Prasetya = Korsel

6. Dedy Purwa Nugraha = Taiwan

7. Utari Citra Ihsani = Jepang

8. Fajar Siddiq = Vanila Island  

9.Aftia Putri Lovelia = India

Kegiatan ini diakhiri dengan pembagian perlengkapan bagi setiap peserta Liasion Official dan acara makan siang.

Persiapan Kuliner Dalam Rangka EIFAF 2017


Kabupaten Kutai Kartanegara mulai berbenah untuk  menyambut kegiatan EIFAF 2017. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah rapat Persiapan Kuliner dalam Rangka Erau Adat Kutai & 5th International Folk Art Festival (EIFAF) 2017. Rapat ini diadakan pada Hari Kamis, 13 Juli 2017 pukul 08.30 WITA bertempat di sekretariat EIFAF “Jam Bentong” dipimpin oleh Ibu Airin Susanti, SE, MM  selaku Koordinator  Bidang III Seksi Beseprah dan Kuliner dan dihadiri oleh masing-masing perwakilan peserta kuliner.



 



Beberapa perwakilan peserta kuliner yang akan meramaikan acara tersebut adalah dari DISPERINDAGKOP yang akan menghadirkan 6 peserta, Koperasi dan UKM menghadirkan 8 peserta, Keluarga Berencana (KB) 2 peserta, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebanyak 6 peserta, IWAPI, PKK, DHARMA WANITA, GRAND ELTY dan GOW.





Dalam rangkaian acara “kuliner” yang bertema “Makanan Tradisional Kutai” tersebut akan diadakan beberapa lomba. Penilaian lomba tersebut diantaranya adalah :

    Kebersihan Stand Kuliner ( tiap peserta diwajibkan untuk menyiapkan tempat sampah)

    Makanan basah yang wajib disiapkan sebanyak 10 macam/klp dan

    Makanan ringan/kering sebanyak 20 macam/klp





Adapun pembukaan Kuliner  dalam Rangka EIFAF 2017 ini akan dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2017 bertempat di sebelah gedung bulutangkis Stadion Rondong Demang.





Lomba Foto Eksotika Erau Meriahkan EIFAF 2017


Menyandang Festival Budaya Terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016, Erau Adat Kutai & The 5th International Folk Arts Festival kembali akan dilangsungkan pada tanggal 22 - 30 Juli 2017 di Tenggarong Kutai Kartanegara, dan  bagi para pecinta fotografi dapat langsung menyaksikan sekaligus memotret keunikan dan pesona wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara, tidak hanya itu, tapi juga dapat mengikuti Lomba Foto Eksotika Erau 2017 dengan total hadiah Rp.18.000.000,-.

Kepala Dinas dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni, MPP mengatakan lomba foto Eksotika Erau 2017 tersebut terbuka untuk umum, lomba foto tersebut disponsori oleh PT. Anugerah Bara Kaltim Menurut nya ketentuan lomba foto sendiri sudah diatur sesuai ketentuan lomba. Adapun pemenang lomba akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai.“Bagi juara I pemenang lomba foto mendapatkan uang tunai Rp. 5 juta. Juara II Rp.  4 juta, Juara III Rp. 3 Juta , Juara Favorit Rp. 3 Juta serta Juara Terunik Rp. 3 Juta,

Melalui lomba foto ini diharapkan dapat memberikan informasi yang luas sehingga menjadi daya tarik kunjungan wisata, sehingga potensi wisata yang ada di Kutai Kartanegara akan dikenal para wisatawan baik lokal maupun mancanegara melalui pagelaran EIFAF 2017.Ketentuan lomba Eksotika Erau  yang harus diperhatikan oleh peserta diantaranya, peserta tidak diperkenankan foto kolase dan montase. Editing diperkenankan hanya sebatas warna, kontras, dodging, burning, rotating dan cropping. Pengambilan foto dilakukan  pada semua kegiatan EIFAF mulai tanggal 22 s/d 31 Juli 2017.

Pengiriman foto sendiri dapat melalui email lombafotoeifaf@gmail.com, peserta boleh mengirim hasil karya foto maksimal 5 foto dengan ukuran sisi panjang 1.500 pixel (foto horizontal) dan 1.000 pixel (foto vertical), atau maksimal 1 MB, format file dalam bentuk JPEG dengan resolusi 300 dpi. Penulisan nama file sebagai berikut kategori Erau Nama Peserta_Judul Foto_Kategori_No HP Contoh Dody_Belimbur_Erau_081347476750. Begitupun dengan kategori On The Spot.

Penjurian dilakukan oleh fotografer nasional professional, pihak PT. Anugerah Bara Kaltim, dan Kadispar Kukar. Adapun untuk poling foto favorit, peserta tidak diperkenankan menggunakan fasilitas Auto like/bom like ataupun fasilitas sejenisnya.Pemasukan foto dilakukan pada tanggal 1 s/d 11 Agustus 2017  penentuan nominasi 14 s/d 18 Agustus 2017, Poling foto favorit 21 Agustus s/d 21 September 2017. Penjurian 29 September 2017, pengumuman pemenang 30 September 2017 dan penyerahan hadiah pada tanggal 1 Oktober 2017.






Pembentukan Kelompok Sadar Wisata Desa Jembayan.


Bertempat di Balai Pertemuan Umum  Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu diadakan Pembentukan Kelompok Sadar Wisata yang hadiri Kepala Bidang Pemasaran Drs. Witontro dan Kasi Promosi Drs. Triyatma, serta Kasi Pemberdayaan Masyarakat Wisata Airin Susanti, SE. MM, dari perwakilan Kecamatan, Desa, LPM dan Lembaga Adat, yang berlangsung pada hari kamis 18/5/2017.

Menurut Hartono yang merupakan ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa mengatakan Jembayan merupakan Kampung Tuha sebagai pendahulu desa-desa yang ada sehingga meninggalkan berbagai peninggalan yang bersejarah, seperti situs makam, monumen perjungan, gua dan bangunan jaman jepang, serta situs sejarah lainnya. Ditambahkannya potensi –potensi tersebut perlu dikelola dan diberdayakan dengan maksimal maka salah satunya dengan membentuk kelompok Masyarakat sadar wisata atau POKDARWIS yang peduli dan komitmen membangun Desa Jembayan.

Semantara itu dalam sesi pembekalan oleh Kabid Pemasaran Drs. Witontro mengatakan bahwa Sadar Wisata, adalah suatu kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi atau wilayah.

Menurutnya Kelompok Sadar Wisata, selanjutnya disebut dengan Pokdarwis, adalah  kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona dalam meningkatkan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan manfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, pungkasnya.


Setelah melakukan diskusi dan Musyawarah maka terbentuklah kelompok sadar wisata desa Jembayan dengan nama “Rindu Kampung Tuha” dengan ketua Hartono, Wakil Ketua Sony, Sekretaris Emmi Dehmi, Bendahara Hamisah dan harapannya agar para pengurus yang terbentuk ini melakukan koordinasi untuk membentuk seksi-seksi dalam pokdarwis.

 



Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Di Desa Wisata Kedang Ipil


Setelah satu minggu kegiatan pelatihan Kerajinan Anyaman berlangsung maka Pada hari Rabu, 17 Mei 2017 pukul 09.30 Wita bertempat di Balai Adat Desa Kedang Ipil dilakukan Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Kerjasama Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Kedang Ipil dan Pokdarwis Kandua Raya. Penutupan dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP, yang di dampingi oleh Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Ir. H. Muhammad Bisyron, Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Kepala Desa Kedang Ipil, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan peserta pelatihan.

Kepala Dinas Pariwisata dalam sambutannya mengatakan bahwa jika Desa Wisata Kedang Ipil ingin tetap eksis dan selalu dikunjungi wisatawan harus selalu menjaga kekompakan antara Pemerintah Desa, Pokdarwis dan Masyarakat. Selain itu beliau juga mengharapkan untuk terus menjaga nilai-nilai Budaya Adat Kutai Lawas dan menurunkannya ke generasi yang ada sekarang sehingga budaya dan adat kutai lawas yang terpelihara dengan baik ini tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman.

Di akhir sambutannya beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada 2 (dua) orang narasumber Ibu Anasfasia Esah dan Ibu Maretha yang telah membagikan ilmunya, kepada peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan ini serta mengajarkannnya kepada teman-teman yang belum sempat ikut dalam pelatihan.