Baner 1

Banner 2

Banner 3

Banner 4

Banner 5

Banner 6

Banner 7

Banner 8

Banner 9

Banner 10

Statistik

Hit hari ini : 747
Total Hits : 1,275,013
Pengunjung Hari Ini : 231
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 316,278

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Mapak Suro Kirab Grebek Tumpeng Dusun Sukasari


 Suasana ramai di Dusun Sukasari, Desa Bukit Pariaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di sepanjang pinggir jalan masyarakat berbaris dan berkumpul untuk menyaksikan acara Mapak Suro Kirab Grebek Tumpeng ini digelar dengan tujuan memeringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 H. acara ini tidak hanya di hadiri masyarakat Dusun Sukasari, namun yang berada di Tenggarong dan sekitarnya pun ikut menyaksikan dan meramaikan Mapak Suro tersebut. Dalam kesempatannya Bapak Sugeng Riadi sebagai kordinator acara Mapak Suro mengatakan, sebanyak 15 orang dilibatkan untuk menyusun tumpeng raksasa dari 40 jenis buah dan sayur hasil sedekah bumi warga sekitar.


 "Tumpeng raksasa ini dibuat dengan swadaya masyarakat. Kami membuat tumpeng raksasa ini 3 hari 3 malam," tuturnya. Lewat Mapak Satu Suro, ia ingin melestarikan budaya tradisional sekaligus meramaikan Tahun Baru Islam dan kami juga melibatkan semua suku yang ada di dusun kami. Ketinggian Tumpeng sekitar 3 meter di bawa menggunakan mobil pikup, terdiri 40 jenis sayuran dan buah, seperti wortel, timun, sawi, kacang panjang, bawang bombay, bawang putih, cabai merah, cabai hijau, petai, jengkol, pare, jagung, jeruk, buah naga, apel dan masih banyak lainnya.


 Sedangkan 5 tumpeng lainnya digotong warga ada tumpeng jajanan pasar, jajanan dan minuman kemasan, tumpeng nasi beras merah, nasi kuning dan nasi putih. Tumpeng pun di bawa keliling dusun sejauh 3 kilometer. Selain arakan tumpeng, barisan depan terdiri ibu-ibu yang membawa sajian makanan atau kue dalam wadah segi empat terbuat dari batang pohon pisang, seniman reog lengkap dengan penari jatilannya menjadi pengiringnya. Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara turut hadir dalam acara ini diantarax Plt Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah. M.Si., Kabag Kesra M Arsyad, Kepala Dinas Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan Camat Tenggarong Seberang Suhari, beserta tamu kehormatan lainnya.


 Plt Bupati Drs. Edi Damansyah M.Si., berharap ajang ini akan menjadi agenda tahunan, sedangkan acara kali ini masuk tahun ketiga. Puncak acara Mapak Satu Suro adalah memperebutkan tumpeng raksasa, yang isinya diantara berupa hasil bumi, seperti sayur – sayuran, buah – buahan, hingga aneka jajanan. Hanya beberapa menit saja 6 tumpeng raksasa ini habis tak bersisa. Ratusan warga berebut tumpeng raksasa, mulai anak-anak, remaja, bapak-bapak dan ibu-ibu,dan terlihat ada sejumlah warga makan bareng tumpeng nasi lengkap dengan lauknya di tempat acara, namun adapula yang membawa sayuran, makanan dan buah yang berhasil direbutnya untuk di bawa pulang.



 


Dinas Pariwisata Ikuti Pawai Pembangunan Merah Putih


 Pawai Pembangunan Merah Putih, dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke - 73 di Kota Raja Tenggarong. Acara pawai merah putih  HUT Kemerdekaan RI ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kukar, Ir. H. Marli. M.Si.,  Semangat serta kemeriahan pun terlihat dari para peserta Pawai Merah Putih yang berlangsung di jalanan kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (21/8/2018).


 Tempat star terbagi menjadi tiga, bagi peserta tingkat SD, SMP di Sekretariat Gerbang Raja, sedangkan Tingkat SMA dan Umum di halaman Kantor DPRD dan untuk kendaraan Hias akan star di halaman kantor Bupati dengan menempuh rute mulai dari Jl. KH Akhmad Muksin, Jl. Imam Bonjol, Jl. Danau Aji, Jl. Gunung Gandek, Jl. Gunung Kinibalu, Jl. RA Kartini, Jl. S. Parman dan finis didepan kediaman Sultan Kutai Kartanegara.Ribuan warga berkumpul di pinggir jalan protokol yang menjadi rute pawai.


 Semua penonton tampak antusias menyaksikan acara pawai yang diikuti 129 kelompok pelajar dan masyarakat umum. Untuk Team Dinas Pariwisata menurunkan dari seluruh Kepala Seksi dan Staf yang ada di Dinas Pariwisata kab Kutai Kartanegara, menggunakan baju adat cina dan peserta team TKC Kutai Kartanegara turun menggunakan berbagai macam kostum diantaranya Buah bolo, Pesut, Purun, dll.


 Tak hanya menggunakan baju cina, para team dari Dinas Pariwisata juga mmengedukasi serta mempromosikan kepada masyarakat atau para penonton dengan membawa baner yang berisi diantaranya dukungan untuk kain tenun ulap doyo dan cara mendukungnya, dukungan untuk facebook Visiting Kutai Kartanegara, pemberitahuan web Kutai Kartanegara Web My Borneo.

Para pelajar yang mengikuti Pawai tak hanya mengenakan busana daerah, mereka juga tampil dengan kreasi masing-masing. Pelajar SMPN 3 Tenggarong Seberang menampilkan ogoh - ogoh Pelajar SMKN 2 Tenggarong tampil dengan kreasi mobil balapnya, warga juga disajikan aksi barongsai dari perusahaan sawit dan di barisan terakhir, pawai dimeriahkan penampilan 20 mobil hias dari dinas, instansi, rumah sakit dan perbankan.

Berlimbur


 Ribuan masyarakat dari berbagai daerah berkumpul di tenggarong untuk mengikuti proses Berlimbur di Tenggarong, terlebih lagi yang terpusat di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, karna berlangsung banyak prosesi adat sebagai penanda puncaknya Erau.

 Bersamaan dengan rombongan Keraton yang membawa Naga Bini dan Naga Laki ke Kutai Lama. Di depan Keraton Kutai, beberapa rangkaian ritual dilaksanakan dimulai dengan beumban, begorok, rangga titi, dan berakhir dengan Belimbur, Dalam rangkaian ritual yang dilaksanakan, Belimbur merupakan acara puncak dari rangkaian ritual ini. Dalam ritul Belimbur, seluruh masyarakat antusias mengikuti Belimbur dengan suka cita dan keceriaan sambil basah-basahan.


 Hal ini juga menjadi ajang masyarakat untuk memperkuat tali silaturahmi antar warga dengan berpartisipasi dalam ritual Belimbur. Pada masa sekarang, tradisi Belimbur berkembang menjadi suatu rangkaian acara Erau yang paling ditunggu oleh masyarakat dengan suka cita, bukan hanya masyarakat local yang menyambut suka cita Belimbur, tetapi juga ada warga asing atau wisatawan mancanegara yang berpartisifasi dalam peserta Erau Adat Kutai dan The 6Th International Folk Arts And Festival (EIFAF) tahun 2018, maupun wisatawan mancanegara yang memang khusus datang ke Kabupaten Kutai Kartanegara untuk berkunjung sangat antusias menyambut momen Belimbur. Belimbur dilakukan setelah prosesi Mengulur Naga selesai. Saat Kapal pembawa naga kembali ke Tenggarong dan di semua kampong / desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.


 Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat. Belimbur sebagaimana Maklumat Sultan Kutai ke-XX H Adji Mohammad Salehoeddin II, ditetapkan dari Kepala Benua, Tengah Benua dan Buntut Benua. "Yaitu sepanjang Jalan Mangkurawang, Jalan AM Sangaji, Jalan Awang Long Senopati, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Jendral Sudirman, Jalan KH Akhmad Muchsin, Jalan Woltermonginsidi, dan diakhiri pada pukul 14.00 Wita," ucap APHK Poeger.


Mengulur Naga


 Bertempat di depan Keraton Kutai (Museum Mulawarman) Tenggarong Kutai Kartanegara Ing Martadipura, puncaknya dari kegiatan Erau Adat Kutai yang telah berlangsung selama sepekan, baik masyarakat, peserta ke enam negara Erau International Folk Arts Festival ( EIFAF ), para Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara, dan seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menyaksikan prosesi Ngulur Naga. Sebelumnya, replika Naga Laki yang ditempatkan di serambi kanan dan Naga Bini di serambi kiri keraton bersemayam selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya diturunkan melalui Rangga Titi. Sesaat sebelum Naga diulur, Plt Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah, M. Si. menyampaikan sambutan dihadapan Putera Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAP Adipati Anoem Soerya Adiningrat beserta kerabat.

 "Upacara Mengulur Naga telah menjadi icon dari upacara Erau Adat Kutai yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau Adat Kutai telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu,". Beliau menegaskan, upaya Pemkab Kukar menyelenggarakan Festival Kesenian Rakyat Internasional dalam rangka Erau Adat Kutai, tidak lain untuk mengangkat upacara adat luhur ini agar dikenal oleh masyarakat dunia. "Kita harus membuka banyak jendela untuk memberi ruang masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui Erau Adat Kutai, sekaligus memajukan pariwisata daerah dan nasional,".Usai sambutan, terlebih dahulu dibacakan riwayat naga, selanjutnya setelah ritual Besawai, kedua replika naga tersebut dibawa menuju dermaga depan Museum Mulawarman untuk dinaikkan keatas kapal.


 Menteri Pelestarian Nilai-nilai Budaya Adat, Kesultanan Kutai, H Adji Pangeran Haryo Kusumo (APHK) Poeger, mengatakan, kedua replika naga ini selanjutnya akan diulur atau dilarung di sungai Mahakam, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana. "Sementara saat naga dalam perjalanan ke Kutai Lama, di keraton diadakan upacara Beumban dan Begorok untuk Sultan yang kali ini digantikan Putera Mahkota,". Setelah upacara Beumban dan Begorok dilaksanakan, tepat pukul 11.00 Wita, akan dilakukan upacara Rangga Titi di pelabuhan yang telah tersedia Balai, Putera Mahkota kemudian duduk di atas Balai menghadap ke Sungai Mahakam yang diapit oleh 7 orang Pangkon laki dan 7 orang Pangkon bini. "Setelah itu Air Tuli yang diambil dari sungai di Kutai Lama tiba dan dipercikan oleh Putera Mahkota kepada para hadirin, maka seluruh masyarakat di sekitar keraton dan lokasi-lokasi yang telah ditentukan melakukan ritual Belimbur atau saling menyiramkan air yang bermakna mensucikan diri,".


Eksibisi Olahraga Tradisional Peserta EIFAF


 Pulau Kumala Tenggarong menjadi tempat yang sangat cocok bagi wisatawan untuk berekreasi, karna didalam kawasan tersebut tak hanya menawarkan keindahan alamnya, namun terdapat beberapa tempat yang bertujuan mengedukasi pengunjung yang datang ke Pulau Kumala Tenggarong.


 Semenjak pagi hari para peserta Erau Adat Kutai dan The 6Th International Folklore and Art Festival (EIFAF) Tahun 2018, dengan antusias telah mengikuti penanaman pohon, dan di lanjutkan dengan berkeliling di Pulau Kumala Tenggarong sambil mencari sudut – sudut terindah untuk mengambil foto.


 Para peserta ini diajak mengunjungi Amin Biok yang merupakan pusat informasi budaya dayak atau Dayak Experience Center yang ada di Pulau Kumala, lau berlanjut untuk memperkenalkan permainan tradisional Kutai, Keriuhan pun terdengar di salah satu Lamin di kawasan Pulau Kumala tak henti terdengar, suara teriakan dalam bahasa asing silih berganti mendukung tim yang tengah bertanding dalam eksibisi cabang permainan olahraga tradisional Kutai.


 Peserta Erau Adat Kutai dan The 6Th International Folklore and Art Festival (EIFAF) Tahun 2018, diikuti Rumania, Turki, Polandia, India, Hongaria, Meksiko,  menjajal kemampuan masing-masing timnya dalam olahraga tradisional yang telah di siapkan panitia, permainan itu diantaranya Begasing, Menyumpit, Enggarang, Bakiak.Hadir pada kegiatan eksebisi diantaranya Kepala Dinas Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni, MPP., beserta seluruh Pejabat Eselon Dinas Pariwisata Kukar. Permainan tradisional ini memang setiap tahunnya di laksanakan, dengan tujuan memperkenalkan sekaligus mencoba langsung permainan tersebut kepada para peserta Erau Adat Kutai dan The 6Th International Folklore and Art Festival (EIFAF).


Lomba Permainan Olahraga Tradisional Kutai


 Erau Adat Kutai Dan 6th International Folk Arts Festival (EIFAF) 2018, mengagendakan berbagai macam kegiatan baik berupa kesnian daerah maupun mancanegara, dan termasuk di dalamnya diadakan lomba olahraga tradisional Kutai. Penggiat seni dan budaya dari Rumah Budaya Kutai (RBK) Hasruliasnyah mengatakan perlombaan olahraga tradisional syarat pesan bermakna dari leluhur nenek moyang kita.


 Beliau berharap kepada seluruh peserta lomba tak hanya mengejar hadiah namun juga turut menjaga dan melestarikan budaya olahraga tradisional yang kita miliki. “Semua olahraga tradisional yang kita lomba kan dalam Erau tahun ini banyak pesan dan makna halus terkandung didalamnya.Ini warisan dan pesan langsung dari leluhur kita agar tetap kita jaga dan lestarikan. Jangan kejar hadiahnya tapi kejar edukasinya dan tetap konsisten melestarikannya, beliau menjelaskan salah satu makna filsofis bermain egrang ialah seseorang dituntut untuk menantang ketakutannya sendiri dengan terus berjalan dan maju menghadapi tantang yang ada dihadapnnya.


Dikatakan menantang karena menuntut keterampilan dan keseimbangan tubuh agar bisa menaiki dan menjalankan Egrang, berjalan di atas kayu, jadi permainan Egrang ini tidak hanya sekedar untuk bersenang-senang belaka namun juga mengajarkan nilai konsentrasi tinggi bagi para pemainnya. Kerja ker as, sportivitas, keuletan, percaya diri, tekad keberanian yang tinggi, konsentrasi penuh, jangan cepat takut kalau jatuh dan yang terakhir adalah sportivitas inilah makna dan pesan mendalam dari Egrang.Yang tak kalah seru dari lima olahraga tradisional yang dilombakan pada Erau tahun ini ialah Kelom Panjang atau biasa disebut Bakiak dan Terompah. Bahwa makna dari permainan yang diikuti lima orang ini menggunakan sandal panjang itu diibaratkan rakyat. Butuh semangat yang kuat, tekad yang kuat dan yang paling penting kekompakan yang nyata agar bersama-sama mencapai tujuan dan tidak terpisah satu dengan yang lainnya.

Tenggarong Hijau Di Pulau Kumala


 Pagi ini semua peserta Erau Adat Kutai & The 6th International Folk Arts Festival 2018 berkunjung ke salah satu destinasi wisata terbaik yang dimiliki Kutai Kartanegara, yaitu Pulau Kumala Tenggarong, disini para peserta berkumpul untuk melakukan penanaman bibit pohon buah asli Kalimantan.Kegiatan Tenggarong Hijau berupa penanaman berbagai macam pohon buah khas Kutai dengan melibatkan para delegasi dari berbagai negara peserta EIFAF 2018.


 Tenggarong  Hijau bertujuan meningkatkan kepedulian  tentang arti pentingnya penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan, dalam rangka mengurangi dampak pemanasan global, dengan harapan kegiatan penanaman pohon ini menjadi momentum yang akan menjadi  kebanggaan semua terutama peserta EIFAF mancanegara. 


 Pohon yang hari ini ditanam, agar diniatkan akan dipelihara dengan sebaik-baiknya, sehingga akan kelihatan manfaatnya setelah lima tahun kemudian dan mudah-mudahan generasi pengganti penerus kelak akan mengenang upaya pelestarian lingkungan ini.


 Semua peserta pun dengan antusias menanam pohon yang telah disediakan oleh panitia, dengan sambil mengabadikan momen penanaman bibit pohon tersebut, dengan berpoto dengan bibit pohonnya masing – masing dikarnakan pada setiap bibit pohon telah di beri nama sesuai dengan Negara peserta.


 Usai penanaman bibit pohon, para peserta di ajak berkeliling Pulau
Kumala untuk menikmati keindahan pulau kumala dan semua peserta pun tak
mau ketinggalan momen ini dengan berpoto di setiap sudut terindah di
Pulau Kumala. Dengan harapan Kulau Kumala Tenggarong akan lebih di kenal
sampai ke Mancanegara. 


Nikmatnya Makan Beseprah


 Tepat pada hari rabu, sebagai rangkaian kegiatan perhelatan Pesta Adat Erau di depan Kedaton Kutai, Jalan Monumen Timur, Tenggarong. Salah satu kegiatan yang di tunggu – tungu oleh masyarakat Kutai Kartanegara, khusunya berada di kota Tenggarong, pada saat Erau Adat Kutai dan 6 Th Internasional Folk Art Festival (EIFAF) 2018. Karna pada hari ini berlangsung pada pagi hari acara Beseprah, Acara beseprah merupakan makan duduk bersama Putra Mahkota Kesultanan Kutai Aji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat dengan warganya, dan hadir pula seluruh Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara.

 Baik dari Pihak Kesultanan, Pejabat Pembkab Kutai Kartanegara dan seluruh masyarakat duduk bersila saling berhadap – hadapan untuk menikmati berbagai hidangan tradisional, khususnya makanan khas Kutai disajikan, seperti bongko, sarabai, putu ayu, singkong goreng, kue cincin, tumbi, bingka, nasi kuning dan nasi uduk.

Beseprah pun di mulai setelah di bunyikannya kentongan oleh Putra Mahkota Kesultanan Kutai Aji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat, bersama Plt Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., serta Director dari peserta CIOFF. Wargapun menikmati semua hidangan sampai habis.




 


 Enam delegasi dari negara asing yang memeriahkan Erau tahun ini ikut pula makan sambil lesehan, yakni Polandia, Rumania, Hongaria, Mexico, India dan Turki.

Dalam kesempatannya Plt Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si. menyampaikan, "Acara beseprah merupakan komitmen pemerintah dalam melestarikan tradisi. Beseprah menjadi simbol kedekatan Sultan dan rakyatnya," Lewat beseprah, lanjutnya, antara kesultanan, pemerintah dan masyarakat saling berbagi dan menjalin keakraban. Ide beseprah sendiri datang dari Sultan. Karena Sultan dulu sering beseprah ke tiap kecamatan yang dikunjunginya. Berharap kedepannya Erau bisa melibatkan 18 kecamatan di Kutai Kartanegara. "Kalau dulu Erau, warga mempersembahkan hasil bumi kepada Sultan. Ke depan, kita bisa rancang, tiap perwakilan kecamatan mempersembahkan kesenian masing-masing di hadapan Sultan,".


Tampilan Kesenian Dari India Di Pulau Kumala


 Dalam kegiatan Erau, ada kegiatan yang berpusat dan belangsung di Pulau kumala Tenggarong yang juga menjadi salah satu obyek wisata kebanggaan warga Kutai Kartanegara. Berlangsung kegiatan street performance dari tanggal 23 – 28 Juli 2018, festival keseniaan rakyat internasional VI dalam rangka Erau Adat Kutai 2018. Pada setiap harinya aka di tampiklkan kesenian baik dari tuan rumah Indonesia maupun dari delegasi para peserta CIOFF. Tampil pada hari ini perwakilan dari Negara Indonesia dan India.

 Di awali dari tuan rumah Indonesia, yang menampilkan sanggar seni “Se Kimet “ dari Kecamatan Tabang Kutai Kartanegara, dengan judul tarian Kanjet Uyai Ume atau Tarian Membuka Ladang, tampilan tarian ini menceritakan tarian bersama yang dilakukan oleh masyarakat dayak Kecamatan Tabang pada saat mau membuat ladang atau mulai membuka lahan perladang yaitu di mulai dari pergi melihat lokasi tanah atau rimba yang mau di kerjakan setelah menemukan lokasi yang cocok dan subur lalu nenek moyang kami membuat tip atau tanda sebagai bukti bawa tanah tersebut mau di kerjakan. Setelah itu merekapun membuat suatu acara doa syukur atau doa untuk kesuburan tanah yang mau di kerjakan menurut keyakinan mereka pada saat itu. Lemerek yaitu menebas membersihkan rumput dan akar – akar di lahan, ngade dan menebeng kayu kecil dan kayu besar, metuq artinya mencincang memotong dahan ranting, menutung membakar lahan, mekup membersihkan ranting yang masih tersisa, senuyun nuga artinya bergotong royong menanm benih padi, mafau artinya merumput membersihkan rumput yang tumbuh di antara padi, masau artinya panen padi yang sudah menguning, miyek artinya membersihkan biji padi dari tangkainya. Pergerakan dalam bentuk tarian ini biasanya di tampilkan pada saat upacara Adat pesta panen raya setiap tahunnya.

 Masih dari sanggar seni “Se Kimet “  tampilan kedua menampilkan tarian Peragaan kehidupan jaman dulu, bahwa masyrakat dayak pada jaman dahulu dalam kehidupan sehari – hari melakukan aktifitas mereka dari pagi jam 4 subuh masyarakat dayak sudah bangun pagi setelah merapikan tempat tidur langsung menuju ke sungai sambil membawa tempat untuk ambil air yang mau di masak, tempatnya terbuat dari bambu. Sementara di sungai sambil mencuci pakaian, sabun yang digunakan dari daun, cara memasak menggunakan kayu kering.

 Di lanjutkan dengan penampilan India yang membawakan tari Ghumro yang diketahui bahwa tarian ini sangat terkenal dari Shamlaji di Gujarat. Shamlaji terkenal dengan pameran dan Kuilnya. Bahwa Kui Shamlaji berdiri di tepi sungai Meshwo, dalam pemujaan Dewa Wisnu, di peraya bahwa kuil ini telah ada setidaknya selam 500 tahun. Komunitas Bhil di Gujarat memiliki kepercayaan yang luar biasa dalam kekuatan Shamlaji yang dengan senang hati mereka sebut sebagai Kaliyo Dev ( Dark Divinity ).





 


 Pada perayaan Shamlaji laki – laki dan perempuan mencari pasangan hidup mereka, dan setelah menemukan pasangan hidup, mereka merayakan momen ini dengan sukacita dan kesenangan dan mereka memainkan tarian yang di sebut Ghumro Dance. kemeriahan suasan pun bertambah ketika para penari India mengajak para penonton untuk menari bersamanya. 


Tampilan Dayak Modang Dan Meksiko





 Pada setiap malamnya selama Erau berlangsung maka ada tampilan kesenian di dua tempat yaitu Panggung Erau Expo yang berada di Stadion Rondong Demang dan Lapangan Basket yang berada di Timbau Tenggarong. Kesenian perwakilan dari Indonesia yang di wakili Flepet Indonesia dan Modang. Membawakan Tarian yang menceritakan tentang perjalanan singkat suku dayak lundayeh sejak dahulu kala suku dayak lundayeh mempunyai kepercayaan tentang upacara – upacara permohonan perlindungan kepada yang paling berkuasa.


 Suku dayak lundayeh memiliki kebiasaan berpindah – pindah tempat tinggal sampai di daratan cina demi memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman. Karna ada hal mengenai persaingan sosial disana maka dayak lundayeh pun berpindah – pindah ke daerah borneo dan mereka menetap di hulu sungai borneo untuk membuat ladang sebagai pekerjaan dan sumber makananmereka. Pada saat itu masih ada masa – masa perang karna terjadi perebutan wilayah. Sementara para pria bertarung dan para wanita tetap melakukan aktifitas hingga ada masa mereka mendengar hasil perang bahwa keluarga mereka telah gugur dari masa perang. Nulung merupakan tarian duka gugurnya para pahlawan. Bertahun – tahun suku lundayeh bersekutu dengan alam dan menunjukkan alam palingberkuasa di dunia, sampai masuknya misionaris yang memperkenalkan sang pencipta yaitu Tuhan sebagai kepercayaan yang benar.

 Tampilan dari peserta folklore meksiko yang menceritakan salah satu tempat yang sangat indah di Meksiko adalah Negara Jalisco tanah tempat minuman nasional kami, tequila di produksi dadimana music mariachi berasal. Jalisco memiliki salah satu pakaian tradisional yang paling simbolik di Meksiko, setelan charro, yang di pakai oleh para pria sementara para wanita menggunakan gaun berwarna – warni, penari yang bersemangat, kostum yang rumit dan elegan, music yang ceria, dan gerak kaki yang energik, datang bersama untuk menciptakan selebrasi magis budaya dan tradisi Meksiko.


 

Even

Unduh Gratis