Banner 1

Banner 2

Banner 3

Banner 4

Banner 5

Banner 6

Banner 7

Banner 8

Banner 9

Banner 10

Statistik

Hit hari ini : 380
Total Hits : 1,219,638
Pengunjung Hari Ini : 160
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 295,986

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Pesta Laut Kaluku Makkiana




Pembukaan Festival Kaluku Makkiana telah berlangsung pada hari jumat tanggal 9 Maret 2018 di desa Muara Badak Ulu Kec Muara Badak kabupaten Kutai Kartanegara. Festival Kaluku Makkiana, Adalah sebuah Sebuah ritual tahunan yang di rangkaikan dengan acara mappanre tasi dan sijempo’e. setiap prosesi dari rangkaian acara memiliki makna dan filosofi dimna manusia sebagai makhluk yang tidak boleh sombong dan senantiasa berterimakasih kepada sang pencipta alam dan seisinya . Suatu ketika sedang mencari ikan di laut sang nelayan melihat sebuah kelapa yang berputar mengelilingi perahunya, akhirnya sang nelayan membawa pulang kelapa tersebut dan menanmnya di dekat rumah peristirahatannya. Tak disangka semenjak kelapa di tanam banyak hal aneh yang terjadi, kebun – kebun semakin subur, hasil laut semakin melimpah dan banyak hal tak terduga lainnya. Keanehan lainnya yang terjadi pada kelapa yang telah tumbuh tersebut dapat menghasilkan tunas – tunas baru lainnya di sekitar pohonnya tanpa diawali dengan buah, dalam hal ini tunas muncul dengan sendirinya. Ketika tunas baru muncul akan diikuti dengan matinya pohon induk kelapa sebelumnya, begitu seterusnya sehingga kelapa ini disebut sebagai “ Kaluku Makkiana “ yang dalam bahasa bugis artinya kelapa beranak, hingga saat ini kelapa tersebut masih ada di jaga oleh keturunan sang nelayan dan dapat dilihat di gang keramat Desa Muara Badak Ulu Kecamatan Muara Badak.








adapun kegiatan yang berlangsung selama Festival Kaluku Makkiana di Kecamatan Muara Badak, Desa Muara Badak Ulu, ialah ada bazar ukm yang berlangsung dari tanggal 9 – 11 Maret, lomba tari tradisional berlangsung dari tanggal 9 – 10 Maret, lomba busana daerah berlangsung dari tanggal 9 – 10 Maret, Lomba Lagu Daerah berlangsung dari tanggal 9 – 10 Maret, dan pada tanggal 11 Maret akan ada gerakan shalat subuh berjamaah ( tausiah, dzikir bersama ), ritual adat pesta laut berlangsung tanggal 11 Maret, Pawai Kapal Hias, sijempoe, mandre sibawa. Special tausiah oleh ustadz H. Raden Affandi S.Psi ( DA 1 MNC TV Jakarta ). 


D’OS Event Muara Jawa


 Beragam acara diselenggarakan selama sepekan di Kecamatan Muara Jawa pada gelaran event yang bertajuk D’OS Event yang di mulai sejak tanggal 21 Februari 2018, diawali denga kegiatan bertajuk Battle For The Beat yang diikuti puluhan penggemar breakdance dan music hip hop dari berbagai daerah, yang di ketahui pesertanya tidak hanya berasal dari Muara Jawa saja, ada dari Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Palu, Bandung dan Surabaya.

 kegiatan D’OS Run, berlangsung di Lapangan Sudirman pada Jumat tanggal 26 Februari 2018,  Ribuan kawula muda memadati lapangan Sudirman, karna pada malam itu menghadirkan para Disk Jockey ( DJ ) yang akan menghibur warga Muara Jawa. Dalam kesempatannya Rizky A Putra sebagai ketua panitia pelaksana D’OS Run merupakan yang pertama kali di gelar di Muara Jawa Kutai Kartanegara, acara ini di gelar bersamaan dengan HUT ke – 13 Radio Delta Mahakam dan HUT ke 7 Edge Crew ( E.O.S ) yang juga sebagai penyelenggara kegiatan.

 Acara pun berlangsung dengan daiawali pemotongan Tumpeng serta penyalaan kembang api oleh Sekretaris Camat Muara Jawa Gunawan, beserta ketua KNPI Muara Jawa Hambrani dan Ketua Karang Taruna Muara Jawa Saddam Abdullah. Untuk di ketahui bahwa tak hanya Festival dangdut, panitia juga menggelar berupa lomba karaoke yang di laksanakan mulai 23 – 24 Februari, dan sebagai penutup seluruh rangkaian di laksanakan kegiatan D’OS Green pada 28 Februari 2018 dengan menanam pohon sebanyak 500 bibit trambesi yang di pimpin oleh Camat Muara Jawa Ahmad Junaidi dan diikuti para pegawai di lingkungan Kecamatan Muara Jawa dan Kelurahan Muara Jawa Pesisir, pengurus KNPI Muara Jawa, Karang Taruna dan komunitas masyarakat di Muara Jawa.


Festival Cerau Kampong Muara Kaman


 Bertempat di desa Muara Kaman Ilir, kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara telah berlangsung pembukaan acara adat Cerau Kampong Mulawarman, hadir pada acara pembukaan tersebut diantara Plt Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah, Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara H. Marli, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, Dra. Sri Wahyuni. MPP., dan BPCB Provinsi Kalimantan Timur, perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H Adji Pangeran Haryo Kusumo (APHK) Poeger, sejumlah anggota DPRD Kutai Kartanegara, Camat Muara Kaman Surya Agus, Kapolsek Muara Kaman AKP TM Panjaitan, serta Danramil Muara Kaman Kapten Inf Ali Ahmad, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama.


 Camat Muara Kaman Surya Agus dalam sambutannya menyampaikan Kecamatan Muara Kaman memiliki nilai sejarah yang wajib diperhatikan oleh pemerintah, ada dua agenda erau tahun ini yaitu Erau Muara Kaman dan Erau Benua Lawas Desa Sabintulung, dan melalui Nilai-nilai sejarah perlu kita angkat sebagai perekat kita semua, perlu pengamanan terhadap areal situs Lesung Batu. Acara adat Cerau dilaksanakan dalam rangka pagelaran pesta adat seni budaya Kerajaan Kutai Mulawarman, dan merupakan tradisi budaya suku Kutai Muara Kaman.Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pun dalam kesempatannya menyampaikan,yang di wakili H Adji Pangeran Haryo Kusumo Poeger, bahwa pihak Kesultanan mendukung sepenuhnya pelaksanaan Cerau dan berharap masuk dalam agenda rutin Pemerintah Kecamatan. Semoga potensi wisata Muara Kaman dapat menjadi ikon wisata Kabupaten Kutai Kartanegara dan Provinsi Kaltim.


Acara pun di buka oleh Plt Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Dra. Sri Wahyuni. MPP, berharap Semoga melalui festival Cerau mampu mengangkat wisata lokal dan menumbuhkan perekenomian masyarakat lokal, Pelaksanaan acara adat Cerau sendiri bertujuan untuk mendukung program pemerintah di bidang pariwisata dan budaya, sehingga mampu mengangkat seni tradisional yang merupakan asli budaya lokal kecamatan Muara Kaman, tradisi adat istiadat Kutai Muara Kaman dapat dilestarikan dalam festival Cerau dan menjadi salah satu ikon sejarah di Kutai Kartanegara.


Acara adat Cerau ditandai dengan acara sakral atau ritual arak-arakan Lipan dan Baong Putih, tepong tawar, serta penyalaan damar ketepot. Untuk diketahui bahwa Kesenian Cerau budaya yang berlangsung dari tanggal 17 Februari hingga 23 Februari 2018 ini akan menampilkan sejumlah agenda, diantaranya Pasar Expo, Prosesi ritual adat Mendirikan Tiang Ayu,Tepong Tawar, Penyalaan Damar Ketepot, pentas seni Bejepen, Musik Etnik, Betingkilan, Kelentangan, lomba tradisional berupa Lomba Tarik Tamban diikuti 20 Desa, Lomba Burung Lanten Berkicau, Lomba Betonjakaan, literasi, jelajah situs dan gelar wicara.





Upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga Ke 71.


 Telah berlangsung Upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga ke 71 secara tertib dan khidmat dilapangan Lapangan Sepak Bola Gelora Pantai PT Pertamina Kecamatan Sangasanga, pada hari Sabtu tanggal 27 Januari 2018. Plt Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah menjadi inspektur upacara pada peringatan tersebut, Upacara parade merah putih ini dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Ketua DPRD dan Anggota FKPD Kukar, para Veteran, Pimpinan Ormas, Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama serta tamu undangan lainnya.

Plt Bupati Kukar Edi Damansyah membacakan sambutan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, bahwa tujuh puluh satu tahun silam tepatnya 27 Januari 1947, para pejuang Sangasanga dengan gagah berani bertempur melawan aksi pendudukan Belanda. Peristiwa heroik itu telah menorehkan tinta emas yang patut kita kenang sepanjang masa dan sebagai teladan kejuangan bagi generasi sekarang dan generasi mendatang untuk menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.

 Peristiwa Merah Putih Sangasanga merupakan perjuangan berskala Nasional yang sepantasnya menjadi catatan sejarah penting di antara catatan sejarah Nasional lainnya. Sebagai bangsa yang besar, kita seharusnya pandai menghargai jasa-jasa para pahlawan. Oleh karena itu lanjutnya, jejak perjuangan mereka harus kita kenang, harus kita hargai dan patriotisme kepahlawanan mereka harus pula kita tularkan kepada semua generasi bangsa. Jiwa dan semangat patriotisme, berbangsa dan bernegara di kalangan generasi muda, di era globalisasi ini tidak boleh terkikis dan luntur. 

 dalam sambutannya Gubernur Kalimantan Timur mengatakan agar pemahaman akan sejarah dan penghargaan terhadap para pahlawan dan pejuang kemerdekaan, dari sejak dini harus ditanamkan pada anak-anak, agar tidak lupa pada jejak langkah para pejuang pendahulu yang berkorban dan berjuang luar biasa bertaruh harta benda dan nyawa yang tak ternilai harganya. Peristiwa Merah Putih Sangasanga, menggambarkan betapa kokohnya persatuan, senasib sepenanggungan di antara warga kota Sangasanga pada masa itu. Mereka berkorban, berjuang tanpa melihat dan membeda-bedakan asal usul etnis, agama, latar belakang kelompok, golongan dan identitas lainnya, tetapi satu tujuan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Beliau juga mengajak melalui peringatan Peristiwa Perjuangan Merah Putih tersebut untuk laksanakan Gerakan Nasional Revolusi Mental di segala bidang. Apakah sebagai Aparatur Sipil Negara, TNI atau Polri, Pengusaha, Pimpinan Partai Politik, Pimpinan Organisasi Sosial, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda dan Wanita, dalam kapasitas apapun.

 Usai upacara, acara pun di rangkai dengan Aksi teatrikal Merah Putih Sangasanga Membara, Ini bagian dari visualisasi sejarah yang terjadi Perjuangan perebutan kota Minyak di Sangasanga. Sejarah mencatat pertempuran di Kota Sangasanga pada 27 Januari 1947 itu sebagai satu diantara pertempuran paling hebat di Asia. Teater Merah Putih Suyono menyampaikan, bahwa awak pemain, yang melibatkan siswa dan siswi SMP, SMA / SMK, diikuti hingga mencapai 150 orang.  Tahun ini dipilih tema besar pejuang Sangasanga Budiyono . “Tema ini memang secara khusus menjadi pilihan di pementasan Sangasanga Membara, Sosok Budiyono sangat luar biasa dan tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa perebutan kota Sangasanga atau yang kita kenal dengan peristiwa Merah Putih 27 Januari . Tentara KNIL tetapi kontribusi Budiyon pada masa itu sangat besar, Ia sebagai pejuang sekaligus tokoh diplomasi yang mewakili kepentingan rakyat Sangasanga.


Semangat Peserta Napak Tilas Sangasanga









Salah satu agenda rutin yang selalu di gelar dalam rangka memperingati peristiwa Merah Putih ke-70 di Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara ialah Napak Tilas, pada tahun ini peserta Napak Tilas diikuti Sebanyak 128 regu.








Kegiatan Napak Tilas ini dilepas oleh Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah di Tugu Monumen Perjuangan Merah Putih di Sangasanga Muara, Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah mengatakan, Napak Tilas ini dilakukan bukan sebagai kegiatan seremonial, namun dapat dimaknai sebagai bagian untuk mengenang perjuangan yang telah dilakukan para pejuang terdahulu dalam membebaskan Sangasanga dari tangan penjajah, yang terjadi tujuh puluh tahun lalu.








Beliau berharap, kegiatan napak tilas itu dapat pula dimaknai sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan, peningkatan terhadap semangat perjuangan dalam mengisi kemerdekaan. "Mari bergandengan tangan untuk membangun bersama-sama, khususnya Kecamatan Sangasanga agar lebih maju dan lebih baik lagi, dengan bekerja baik, tulus dan ikhlas guna terwujudnya Kutai Kartanegara maju, mandiri, sejahtera, dan berkeadilan,"








Dalam Kesempatannya Camat Sangasanga Gunawan mengatakan, ke-128 regu yang mengikuti Napak Tilas terdari dari, pelajar dan kelompok pemuda yang berasal dari Kota Samarinda, Kecamatan Sangasanga, Muara Jawa, Samboja dan Kecamatan Muara Badak, para peserta akan menempuh jarak 10 kilometer, dari Kelurahan Sangasanga Muara sampai ke ibu kota Kecamatan Sangasanga, dan bagi peserta yang menjadi juara akan menerima uang pembinaan dan tropi.  


Tenggarong Kutai Carnival Menampilkan Tema Kostum Sampe’


Masih dalam rangkaian Festival Kota Raja VI dalam rangka memeriahkan HUT Kota Tenggarong ke 235 , Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara kembali menggelar Tenggarong Kutai Carnaval ( TKC) pada Sabtu siang (07/10) yang bertemakan Sampe, Sampe sendiri merupakan alat musik suku Dayak Kalimantan, serta 4 lainnya seperti Buah Bolok, Pesut, Sumpit dan Hudoq.Kepala Dispar Kukar Sri Wahyuni mengatakan sebagai event tahunan, TKC  tetap dilaksanakan meskipun dengan kondisi terbatas. Menurutnya untuk TKC tahun ini diikuti 32 peserta yang terdiri dari 28 orang talent dewasa, dan 4 orang talent anak-anak. “Mereka akan memamerkan berbagai tema dan lima orang peserta nantinya akan menampilkan desain baru untuk karnapal kostum pada tema Sampe dan Sumpit hari ini. Selebih peserta lagi nanti akan memakai kostum karnaval yang pernah ditampilkan pada tahun sebelumnya, tapi akan lebih di modifikasi lagi oleh management atau talent-talent dari TKC itu sendiri,” ujarnya. Menurut nya sebagai event tahunan, TKC tidak dapat dipisahkan dengan  Festival Kota Raja (FKR). “Walupun dengan format yang berbeda paling tidak mereka punya ruang memperkenalkan diri untuk beraktualisasi dalam event seperti ini,”


Lebih lanjut dikatakannya, selain memfasilitasi pelaku seni tradisi, Dispar juga memfasilitasi pelatih seni kontemporer. Melalui gelar seni ini masyarakat dapat melihat serta menikmati pertunjukkan karya- karya kreative dari management TKC. Diantaranya,  bagaimana cara membuat kostum dari kearifan lokal,  misalnya pada tahun ini bertemakan Sampe dan Sumpit.“Ini merupakan tantangan ide yang sangat bagus, dengan  tema- tema yang diangkat khas dari alat musik khas suku Dayak. Kami berharap kedepan TKC tidak hanya tampil di moment–moment FKR, tapi mempersilahkan juga bagi institusi atau lembaga pemerintah ataupun swasta yang mengundang management TKC.


Para Talen TKC memulai performance di panggung hiburan Tenggarong Fair dan secara perlahan melakukan Karnaval dijalan, masyarakat sangat antusias melihat pagelaran ini dengan sesekali berfoto bersama Talent, Carnival ini berakhir di halaman Kedaton Kutai Kartanegara.

Jepang Hebohkan EIFAF 2017


Penampilan pentas seni yang dilaksanakan dilapangan Stadion Rondong Demang pada tanggal 28 Juli 2017 yang masih menampilkan tiga Negara peserta Folklore Jepang, Thailand  dan Bulgaria serta dua peserta Indonesia. Ini salah satu rankaian dari Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017.  

Penampilan yang pertama tuan rumah sendiri yang tampil yaitu Sanggar Tari LSBK, dilanjutkan penampilan dari peserta Jepang, lalu tuan rumah lagi dari Sanggar Tari Temengang Lian lala dari peserta lagi yaitu Thailand dan Bulgaria.

Penampilan dari Negara Jepang mampu memukau dan membuat penonton terhipnotis dengan penampilan yang sisuguhi dari Negara Jepang, apalagi saat gendang di tabukan dengan kencang dan sekuat tenaga secara bergantian membuat merinding mendengarnya. Serta tepuk tangan penonton pun tidak ketinggalan, mereka sangat – sangat menyambut meriah penampilan dari Negara Jepang.


Kemeriahan Mamanda Di EIFAF 2017


Kesenian Mamanda ikut serta meramaikan Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017, Kesenian Mamanda tampil di lapangan parkir Stadion Rondong Demang pada kamis malam tanggal 27 Juli 2017 pukul 20.00 - 22.00 WITA. Hadir pada penampilan kesenian Mamanda ini yaitu Wakil Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah,M.,Si, para Kepala Seksi Dinas Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara dan masyarakat luar dan dalam Tenggarong.

Penampilan Kesenian Mamanda kali ini berjudul “Dendam Cinta Berselimut Angin”.  Ceritan ini menceritakan di sebuah Desa kerajaan Panji Berseri, terjadi percintaan antara pemuda kerajaan dengan seorang gadis desa yang cantik jelita yang bernama Bulan. Dikala itu mereka saling mencintai tanpa sepengetahuan orang tua. Dan pada saat yang sama ada seorang pemuda biasa bernama Alif yang ingin mendapatkan cinta Bulan. Sungguh tak diduga cintanya pun ditolak dengan nada yang sombong karena dia sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Pangeran Kusuma Jaya Putra Mahkota Kerajaan Panji Berseri, Alif pun tidak tinggal diam, dia mendatangi seorang dukun untuk membunuh pangerah sehingga dia bias memiliki Bulan.


Pangeran pun akhirnya jatuh sakit, dan kembali keistana, setiba dikerajaan raja dan permaisuri sangat terkejut melihat putranya yang datang dengan keadaan sakit, raja pun memerintahkan kepada pahlawan untuk mencari seseorang yang bias mengobati pangeran. Pahlawan pun tiba dikerajaan dengan seseorang mengobati pangeran. Pangerang diobati oleh petapa tua yang konon bias mengobati orang sakit dengan cara belian. Dan Alif pun ditangkap dan dibawa kekerajaan Panji Berseri untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap pangeran.


Hari Ketiga Pentas Seni EIFAF 2017




Pentas
seni EIFAF 2017 sampai hari ke-3 masih berlangsung meriah. Terlihat dari antusias para
penonton yang masih ramai mendatangi dua panggung pentas seni yaitu Stadion
Utama Lapangan Basket Timbau dan panggung kedua yaitu panggung Stadion Rondong
Demang.




Panggung
Utama Lapangan Basket Timbau menghadirkan peserta dari Tabang, China Taipei,
Slowakia, Tonyoi Bennuaq dan Polandia dan di panggung Stadion Rondong Demang
menghadirkan Ngelawai, Thailand, Malang, India dan Jepang.




Group
seni tari dari Tonyoi Benuaq membawakan tari yang bercerita tentang pengobatan
yang diberikan kepada orang yang sedang sakit dan membayar makan semengat
ucapan syukur orang yang sembuh dari sakit. Tari ini di sebut dengan tari
Belian Bawo. Group seni tari Polandia hadir dengan costum yang sangat menonjol
dari rompi bersulam, puluhan manik-manik, bulu burung burung merak  dan sabuk yang dihiasi.




Group
seni tari dari India membawakan tari GHoomar yaitu tari yang berasal dari salah
satu daerah di India yaitu Rajasthan. Para penari berputar-putar di atas kaki
sembari bergerak masuk dan keluar dari sebuah lingkaran besar.



Upacara Adat Merangin


Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).



Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.




Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu.



Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa.

Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan.



Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat.



Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.


Even Tahunan

Even

Unduh Gratis