Bupati Kukar

Performance TKC

Ngulur Naga.

Bukit Bangkiray

Mencaq Undat

Ngulur Naga 2

Pembukaan Erau

Taruna Dara

Tari Memanah

Festival Tari Jepen

Statistik

Hit hari ini : 715
Total Hits : 657,908
Pengunjung Hari Ini : 98
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 148,212

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Prosesi Menjamu Benua


 Dalam pelaksanaan Upacara Erau Adat Pelas Benua, yaitu empat hari menjelang dilaksanakannya Erau Adat Pelas Benua Etam dan Pembukaan Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF) Tahun 2015. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Upacara Erau Adat Pelas Benua Etam dan Event EIFAF berlangsung, keselamatan sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong. Makna upacara menjamu benua adalah memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberi makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan". Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif / gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu. Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu.






 Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua. Di tiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning keaah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya. 



 
 



 




































Pemutaran Film Dokumenter Erau Sesi Ke-2


Pemutaran film dokumenter gelombang ke-2 dalam rangkan memeriahkan Erau Adat Kutai and International Folk And Art Festival Tahun 2015 dilaksanakan di Jam Bentong pada hari Rabu tanggal 03 Juni 2015 pukul 08.00 Wita yang pesertanya dari SD Muhammadiyah Tenggarong kelas 5 dengan jumlah pesertanya adalah 50 orang siswa – siswi dan pada pukul 10.00 Wita yang pesertanya dari SMK Negeri 2 Tenggarong dengan jumlah 70 siswa -siswi. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai sarana pengajaran dan pencerahan kepada para murid, mahasiswa maupun masyarakat serta untuk memberikan informasi kepariwisataan bagi wisatawan yang sedang berkunjung di Tenggarong.




Sesi  pertama dibuka oleh Kasi Data dan Informasi Drs. Yanto Haryanto.,M.Si yang langsung menyampaikan tentang Jam Bentong sebagai tempat Pusat Informasi Budaya dan Pariwisata serta menjelaskan peralihan Jam Bentong yang dikengelola oleh Dinas Pendidikan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara sejak Tahun 2015.




Pada sesi selanjutnya dilakukan pemutaran Film Dokumenter tentang Erau yang langsung di lakukan penjelasan oleh Kasi Pengelolaan Permuseuman Drs. Tri Yatma, beliau menjelaskan satu persatu prosesi Erau kepada para siswa – siswi, di mulai dari Menjamu Benua, Beluluh, Mendirikan Ayu, Merangin (Belian), Bepelas, Ngatur Dahar, Tambak Karang, Mengulur Naga, Berlimbur dan Merebahkan Ayu.




Setelah selesai acara dari pemutaran film dokumenter para siswa – siswi baik dari SD Muhammadiyah  dan SMK Negeri 2 Tenggarong diberikan kesempatan naik kelantai dua (2) Jam Bentong untuk melihat pemendangan kota Tenggarong dari tempat tersebut, siswa – siswi yang naik dibatasi berkisar 10 orang siswa – siswi karena keamanan. 





SEMBILAN NEGARA IKUT BERPARTISIPASI DALAM LANJONG ART FESTIVAL 2015


Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kaltim H.M. Aswin  didaulat untuk membuka secara resmi pagelaran Lanjong Art Festival (LAF) 2015 dengan tema “ Habis Barat Terbitlah Timur” yang menghadirkan sejumlah Seniman Nasional Maupun  seniman dari Sembilan Negara yakni Amerika, Singapura, Jepang, Meksiko, Italia, Malaysia, Korea, Spanyol serta tuan rumah Indonesia 






Kadisbudpar Kalim H.M. Aswin  mengatakan karena event ini dilakukan setiap tahun maka, pagelaran ini bisa dijadikan agenda tetap setiap tahun yang merupakan event Budaya di Kaltim, agenda ini dikemas secara professional oleh panitia ini terlihat dari antusisnya peserta dalam mengikuti acara ini, dan dalam kesempatan itu juga ia mengucapkan selamat datang kepada para seniman dari nusantara maupun seniman dari mancanegara yang nantinya akan tampil di Lanjong Art Festival 2015, 






Ia berharap agar pagelaran ini bisa melahirkan seniman muda yang berkualitas, dan salah satu efek dari pagelaran ini adalah tumbuhnya Ekonomi Kreatif, ia berharap agar kita jangan hanya sebagai penonton namun  berbuat dan memberikan hasil karya yang terbaik bagi daerah ini, yang lama kita lestarikan, yang sedang berjalan kita manfaatkan, dan yang akan datang kita kembangkan, sebab bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang maju dalam mempertahankan jati dirinya.






Setelah acara di buka, ratusan pengunjung dihibur penampilan dari Sastrawan Acep Zamzam Noor yang didaulat menyampaikan orasi budaya serta musisi lokal Orkes Sekar Kedaton, dan Tenggarong Drummer Community (TDC) selain itu penampilan wawan sofwan (Aktor dari Bandung) Divisi Musik Lanjong dan Total Perkusi juga ikut meramaikan malam pertama LAF 2015






Menurut Citul, Ketua Panitia Lanjong Art Festival, LAF ini akan digelar pada 23-30 Mei 2015 diikuti pelaku seni dari berbagai daerah seperti Samarinda, Penajam, Lampung, Berau, Banjar, Bontang, Palu, Tasikmalaya, Tarakan, Medan, dan Padang, yang digelar di Ladang Budaya (ladaya) Lanjong Jl. H. Bahrin Seman Kelurahan Mangkurawang, total keseluruhan peserta sebanyak 450, di tambahkannya LAF 2015 akan diisi Festival Monolog, Tari Kontemporer, Musikalisasi Puisi, hingga diskusi soal seni budaya.






Tim juri yang hadir pada LAF 2015 adalah Joko Pinurbo (penyair dan dosen) Maria Darmaningsih (Institut Kesenian Jakarta), Jairin Jain (Kutai Kartanegara) Kak Udin (Kutai Kartanegara), serta dua perwakilan dari Amerika dan Jepang, serta work shop seni dengan menghadirkan narasumber dari total perkusi, Acep Zamzam Noor, Yusef Muldiana, Rita Deiola dan Rodrigo





Pekan Budaya Sebulu 2015


Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari pada Selasa siang Tanggal 12 Mei 2015 membuka Pekan Budaya Sebulu di Desa Sebulu Ilir Kecamatan Sebuluyang ditandai dengan pemukulan gong.




Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan mengucapkan selamat atas hari jadi kota sebulu yang ke – 50 Tahun. Ini adalah peringatan tahun ke emas bagi Kecamatan Sebulu sehingga kegiatan – kegiatan yang digelar betul – betul bermanfaat bagi masyarakat Sebulu.




Menurut Rita, semangat kebersamaan warga Sebulu mempertahankan budaya sangat tinggi ini terlihat pada kegiatan Pekan Budaya yang menampilkan khas budaya sebulu, seperti pondok bahari dan olah raga tradisional. Dan ini perlu di contoh oleh Kecamatan – Kecamatan lain agar budaya yang ada di Kecamatan setempat tidak hilang termakan zaman.




Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, juga mengatakan kegiatan ini harus dipertahankan dan di lanjutkan agar anak – anak kita tidak melupakan budayanya sendiri, karena yang di takutkan adalah pengaruh teknologi yang semakin canggih. Contoh permainan Games yang saat ini sangat digemari oleh anak – anak kita, ini perlu pengawasan dari para orang tua untuk selalu mendampingi anak – anaknya bermain games.




Kegiatan Pekan Budaya Sebulu yang digelar dalam rangka memperingati hari jadi Kecamatan Sebulu yang ke – 50 Tahun, acara ini dihadiri oleh Camat Sebulu, dan unsur musika Kecamatan Sebulu serta tokoh masyarakat Sebulu sendiri. Dalam kesempatan ini Camat Sebulu Murjani menyampaikan bahwa hari Pekan Budaya ini sangat menggembirakan bagi Pemerintah Kecamatan Sebulu dan seluruh masyarakat Sebulu. Karena selama memperingati HUT Sebulu baru kali ini dihadiri oleh Bupati Kutai Kartanegara.




Pekan Budaya Sebulu ini berlangsung selama 10 hari dan diisi dengan berbagai kegiatan, yakni stan pameran pelayanan, olah raga tradisional, pondok bahari, lomba senam dan penampilan kesenian lainnya, seperti lomba tari jepen.


Daftar Peserta Yang Lolos Seleksi LO ( Liaison Officer ) Erau Adat Kutai & International Folk Art Festival 2015 & International Dragon Boat Tournament 2015





           



        



              



 



 


Pembukaan Workshop I Tenggarong Kutai Carnival 2015


Bertempat di Pendopo Wakil Bupati, Kutai Kartanegara (4/4) berlangsung Pembukaan Workshop I Tenggarong Kutai Carnival 2015. Tahun ini untuk pertama kalinya TKC mengadakan workshop tanpa bimbingan dari instruktur Jember Fashion Carnival (JFC), karena selama 3 (tiga) tahun sejak tahun 2012 hingga 2014 TKC dibimbing langsung oleh JFC, namun pada tahun ini TKC sudah bisa melaksanakan workshop sendiri dibawah arahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta TIM 12 dari senior Tenggarong Kutai Carnival.






Ketua TKC, Ibu Nor Fajri dalam laporannya menyampaikan bahwa workshop TKC tahun ini diikuti oleh talent lama dan talent baru, dewasa dan anak-anak. dan TKC sepenuhnya didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.






Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sri Wahyuni.,MPP dalam sambutannya menyampaikan bahwa kostum karnaval TKC didesain dengan inspirasi seni dan budaya daerah Kutai Kartanegara, sejak pertama kali diselenggarakan TKC mengangkat tema yang berhubungan dengan alam dan seni budaya di Kutai Kartanegara. Hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan bagi ekonomi kreatif, dimana sektor pariwisata dapat menggaet sektor-sektor lain dan secara langsung memberi dampak juga bagi sektor sektor lain yang berhubungan dengan ekonomi kreatif.






Di akhir acara, ditampilkan 3 orang talent senior TKC yang mengenakan prototipe tema Tenggarong Kutai Carnival 2015 yaitu Sumpit, Buah Bolok dan Pesut. Para peserta workshop yang terdiri atas dewasa dan anak-anak sangat antusias saat melihat ketiga prototipe tersebut. setelah kegiatan pembukaan workshop selesai, para peserta workshop langsung mengikuti materi pengenalan carnival yang disampaikan oleh narasumber dari Tenggarong Kutai Carnival.


Pemberitahuan Test Tertulis Dan Test Wawancara LO EIFAF Dan International Dragon Boat Tournament 2015


Peresmian Taman Tata Surya Tenggarong





Bertepatan dengan Pencanangan Hari budaya Kabupaten Kutai Kartanegara yang di laksanakan di area Kampoeng Koetai, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, S.Sos. MM., juga telah meresmikan Taman Tata Surya yang berada di area Planetarium Jagad Raya Tenggarong. Dalam sambutannya Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengatakan bahwa Pada hari ini 16 April bertepatan 12 tahun berdirinya Planetarium jagad raya Tenggarong dimana 12 Tahun yang lalu Wakil Presiden RI Hamzah Haz melakukan peresmian Planetarium. Pada usia yang ke 12 ini planetarium memiliki pasilitas baru yaitu taman Tata Surya yang merupakan replika dari delapan buah planet dalam susunan tata surya dalm bentuk lintasan orbitnya, taman tata surya ini termasuk langka di tanah air, karna hanya Kutai Kartanegara yang memiliki taman tata surya ini, di beberapa negara juga terdapat taman tata surya tetapi tidak seperti taman tata surya yang ada di Kutai Kartanegara yang memiliki lintasan orbit di area Planetarium. Di samping itu kehadiran Taman Tata Surya ini di harapkan menjadi taman bermain yang edukatif bagi anak – anak juga untuk menyokong upaya pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam menyediakan ruang terbuka hijau. Meski sederhana peringatan 12 Tahun planetarium ini juga dilakukan melalui lomba mewarnai tingkat anak – anak dan juga ada lomba menulis I love Planetarium yang di gelar pada hari ini Kamis 17 April 2015 sampai dengan bulan depan, kemudian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga mengundang 50 orang anak didik dari pesantren Al- Kahfi Tenggarong dan Pelajar SDLB untuk menonton secara gratis di Planetarium.







 Di ketahui Planetarium ini terletak di jalan pangeran Diponogoro Tenggarong Kutai Kartanegara Kalimantan timur, Planetarium berkapasitas 92 tempat duduk, di gagas oleh bupati Kutai Kartanegra Bapak H. Saukani HR., planetarium Jagad Raya merupakan Planetarium ke tiga di Indonesia setelah Planetarium jakarta dan Planetarium Surabaya. Di bangun pada tahun 2000 dan di resmikan pada tanggal 16 April 2003, tempat ini merupakan sarana pendidikan untuk menikamti keindahan alam semesta berupa bintang – bintang, planet dan objek planet lainnya, dan pada Planetarium Jagad raya Tenggarong kita dapat menonton tayangan 3D tanpa menggunakan kacamata 3D dan hanya ada pada Planetrium Jagad raya Tenggarong.        


Pencanangan Hari Budaya Kabupaten Kutai Kartanegara

 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara melaksanakan Pencanangan Hari Budaya Kabupaten Kutai Kartanegara yang di laksanakan pada hari Kamis, Tanggal 16 April 2015. Acara berlangsung meriah dengan di awali persembahan musik dan tari – tari daerah khas Kutai Kartanegara. Acara tersebut di hadiri Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM, Wakil Bupati Kutai Kartanegara H. M. Ghufron yusuf, Ketua DPRD Salehuddin, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri wahyuni. MPP., dan dari paguyuban kesenian yang ada di Kutai Kartanegara.

 Acara di awali dengan laporan dan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri wahyuni. MPP., mengatakan bahwa telah bekerjasama dengan Fisipol Unikarta yang diskusi publiknya di pimpin langsung oleh Asisten IV Humas dan Kesejahteraan rakyat, kemudian penetapan tanggal 12 April di ambil dari peristiwa tembak moris sebuah momentum dimana tanah Kutai di bawah perlawanan  kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai benteng budaya bangsa menahan serangan tentara asing, pada bulan April juga karakteristik budaya kehidupan masyarakat kutai tergambar melalui aktifitas pesta panen padi Nutuk Baham yang telah berlangsung di desa kedang ipil kecamatan Kota Bangun bertepatan dengan 12 April hari budaya Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan lintas sejarah bagi semua unsur masyarakat Kutai kartanegara dalam memajukan budaya dan adat istiadatnya, penetapan hari budaya ini di maksudkan untuk mengembangkan prilaku dan semangat gotong royong untung mengembangkan khasanah budaya di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan tujuan menumbuh kembangkan sifat apresiasi cinta budaya tetap lestari yang berkembang Kutai Kartanegara. Hari budaya ini nantinya tidak hanya di laksanakan di Tenggarong, tetapi juga di laksanakan di 18 Kecamatan sesuai dengan karakteristik seni budaya masyarakatnya masing – masing. Kemudian di harapkan nantinya akan ada banayak aktifitas pro budaya yang di laksanakan sekolah, perguruan tinggi, badan usaha milik daerah maupun perusahaan swasta lainnya. adapun bentuk pelaksanaan hari budaya dapat berupa apresiasi seni, seminar, dan diskusi, penggunaan atribut budaya dalam kegiatan resmi maupu aktifitas sosial, Exsebisi permainan tradisional, gelar kuliner tradisional, pemberian penghargaan pada pelaku budaya serta aktifitas lainnya yang mengusung nilai - nilai budaya daerah. Sedangkan aktifitas budaya yang telah berlangsung seperti festival desa budaya, Eifaf, dan Festival Kota Raja,tetap berlangsung seperti biasa, perayaan hari budaya ini lebih untuk menumbuhkan sepirit dan media kantong – kantong di luar ibukota Kabupaten kutai Kartanegara. Beliau juga menyampaikan bahwa pada hari ini pula 16 April bertepatan 12 tahun berdirinya Planetarium jagad raya Tenggarong dimana 12 Tahun yang lalu Presiden RI Hamzah Haz melakukan peresmian Planetarium.

 Berlanjut dengan sambutan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM., beliau merasa bangga dan bersukur bahwa gerakan hari budaya telah mengkristal pada penetapan Hari Budaya Kutai kartanegara yang jatuh pada 12 April, Saya memberikan apresiasi yang sebesar – besarnya kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan semua pihak yang telah memberikan sumbangsih pemikiran dan kajian atas penetapan 12 April ini sebagai Hari budaya Kutai kartanegara. Beliau berharap agar semua pihak baik jajaran pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui satuan kerja hingga di tingkat kecamatan dan kelurahan, organisasi wanita dan masyarakat, serta pihak swasta lainnya dan memanfaatkan momentum ini untuk merancang dan melaksanakan aktifitas di lingkungan kerjanya masing – yang mencerminkan nilai – nilai budaya sesuai dengan karakter organisasi dan anggotanya.

Acara berlanjut dengan pemukulan kentongan yang di lakukan oleh Bupati kutai Kartanegara dan seluruh tamu undangan yang hadir sebagai tanda Pencanangan hari Budaya Kabupaten Kutai kartanegara dan peresmian Taman Tata Surya Planetarium Jagad Raya Tenggarong.

Nutuk Beham Di Desa Kedang Ipil


 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara bersama Mahakam Explore, melakukan trip perjalanan wisata ke Desa Kedang Ipil yang bertujuan untuk mengikuti kegiatan adat Nutuk Baham serta menggali Budaya dan Potensi Alam yang di miliki desa Kedang Ipil Kecamatan Kota BangunKabupaten Kutai kartanegara. Adapun yang tergabung dalam kegiatan ini diantaranya Saka Pariwisata Provinsi, Saka Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, yang berlangsung selama dua hari, dari tanggal 11 -12 April 2015.

 Ketika Sampai di Desa Kedang Ipil Para tamu yang hadir di sambut dengan Tari Pupur oleh masyarakat Desa Kedang Ipil yang mencoretkan pupur ke pipi setiap tamu yang datang,  Tari Pupur memiliki makna tari yang di lakukan saat kedatangan tamu atau pembesar ke kampung salah satu kehormatan terhadap tamu, dan di sisi lain syarat para tamu agar terhindar dari mala petaka yang menimpa dirinya, dan tari pupur ini juga saling berkaitan dengan beluluh tamu yang menjauhkan dari mala petaka dari tiba di kampung sampai pulang ke rumah dengan selamat.




 setelah Tari Pupur para tamu kembali di suguhkan dengan Tari Lewang atau Tari Nyiru makna tari ini ialah menceritakan tradisi orang kampung dulu yang behuma atau bertani yang berpindah - pindah untuk membersihkan padi hasil behuma tersebut, jadi pendapatan behuma di habiskan disitu juga, tapi bila tidak habis di makan setahun di tinggal pindah lagi behuma ke tempat lain mencari tanah himba yang subur dan begitu terus menerus.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP., dalam sambutannya mengatakan bahwa sebagai desa yang tua di Kutai banyak sekali tradisi yang tersimpan di desa Kedang Ipil ini,selain kaya akan budaya kedang ipil juga banyak memiliki potensi alam paling tidak ada tiga potensi yang terdapat di kedang ipil, ada air terjun yang di miliki oleh desa ini , di ketahui tidak banyak desa yang memiliki desa lebih dari satu tetapi Kedang Ipil memiliki 5 air terjun, dan di ketahui setelah melihat Desa ini, kita melihat ada lagi yang dapat di kembangkan yaitu agro wisata lawas, kenapa di sebut seperti itu, di tempat balai adat ini menjadi pusat adat Desa Kedang ipil dan di depan balai adat dan di sekitarnya terdapat pohon buah - buah lawas yang usianya sudah ratusan tahun. Beliau juga mengharapkan kedepannya agar setiap pengunjung dapat di kenalkan pohon buah yang terdapat di balai desa maupun di kedang ipil, seperti yang mana pohon langsat, cempedak, durian, elai. di karnakan banyak sekali mungkin diantara kita yang belum mengenali kalu tidak berbuah bahwa pohon ini adalah pohon langsat dan lain - lain.  

Di ketahui bahwa kegiatan adat pada hari ini memang sudah biasa di lakukan secara rutin tetapi parsial atau berkelompok tetapi pada hari ini semua masyarakat bisa menyatu dan ini juaga menjadi satu dorongan yang baik yang perlu terus di pelihara karn adengan keikut sertaan masyarakat ini menunjukkan bahwa rasa memiliki terhadap desa dan cinta terhadap budaya masih melekat di desa kedang ipil dan kita berharap suasana kekeluargaan seperti ini bisa terus terjaga. di harapkan dapat memlihara lingkungannya, dan lingkungan sekitar rumah nya.

Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengharapkan tahun depan ketika melaunching desa kedang ipil menjadi desa wisata, dan ketika di launching sudah ada paket wisata, sudah ada fasilitas home stay yang tidak merubah wujud rumah asli yang ada sekarang, dan ada kegiatan - kegiatan ekonomi yang di lakukan masyarakat kedang ipil seperti makanan dan minuman khas kedang ipil, dan Desa Kedang Ipil juga memiliki madu hutan asli dan alami yang terdapat di pohon jelmu, terdapat puluhan sarang lebah madu hanya dalam satu pohon jelmu.

para tamu yang hadir juga di suguhkan dengan tarian ngasak dan atraksi behempas yang menjadi tradisi orang dulu disaat musim menebas hutan rimba untuk behuma. Nutuk Baham adalah adalah cara adat yang timbul dari niat yang di janjikan sebelum musim padi di lakukan, janji tersebut adalah apabila nantinya panen ladang berhasil dan berlimpah maka akan di lakukan acara adat pesta sukuran padi muda sebagai tanda terima kasih dan ungkapan rasa sukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. Nutuk baham berasal dari bahasa kutai pedalamaman terdiri dari dua kata yaitu nutuk yang artinya numbuk padi dan baham makan dengan cara memasukkan makanan kedalam mulut sebanyak - banyaknya, jadi Nutuk Baham memiliki arti menumbuk padi ketan sebanyak - banyaknya untuk di jadikan sebagai kue wajik untuk di makan bersama - sama.

 adapun proses pembuatan beham inilah yang sangat unik dan membutuhkan kerjasama seluruh masyarakat kedang ipil, awalnya padi atau gabah muda di rendam ke dalam air selama kurang lebih tiga hari tiga malam setelah itu padi ketan di angkat lalu di masukkan kedalam kuwali untuk di sangrai, setelah padi matang lalu di angkat dan di dinginkan dan proses selanjutnya adalah memasukkan padi kedalam lesung untuk di tumbuk, dan keunikannya adalah lesung yang di gunakan untuk menumbuk padi bisa berbunyi di karnakan di bawah lesung di pasangi alil semacam tongkat yang dapat menimbulakan bunyi ketika bersentuhan dengan lesung, setelah padi ketan selesai di tumbuk kemudian beras beham di campur gula merah dan parutan kelapa, lalu di aduk sampai rata, hingga menjadi gumpalan - gumpalan kue wajik dari beras beham.