Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 322
Total Hits : 773,332
Pengunjung Hari Ini : 68
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 171,733

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

“ JEPEN REMPAK BEGENJOH ’’








Gruop Kesenian Teratai dari Tenggarong ikut meramaikan Festival Seni Tradisi Kutai, bertempat di Pentas Seni Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam, beranggotakan 14 Orang Group Kesenian Teratai  menampilkan Jepen Rempak Begenjoh merupakan sebuah tarian kreasi baru yang ditarikan oleh remaja-remaja purti dipesisir mahakam. Tarian ini diiringi alat musik seperti Gambus, Jimbe, Gendang Jawa, Rempak, dan Perkusi. Tarian ini menceritakan tentang keceriaan, kegembiraan dan kebersamaan para remaja-remaja putri yang sedang menari bermain rempak dengan riang gembira tanpa meninggalkan gerak dasar jepen dari tarian tersebut.





“ MEHARIT JEPEN MAHAKAM ’’










Kelompok Seni Adilla dari Kecamatan Tenggarong berpartisipasi dalam acara Festival seni tradisi kutai. Bertempat di Pentas Seni Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival di Lapangan Basket  Turapan Sungai Mahakam. Kelompok Seni yang beranggotakan sebanyak 12 Orang ini menampilkan Tari Meharit Jepen Mahakam merupakan karya tari garapan yang dikembangkan dengan tidak meninggalkan unsur dari tarian jepen Kutai yang mengangkat tema lingkungan. Meharit dalam makna bahasa kutai berarti prihatin, prihatin melihat sungai merotak (kotor) prihatin melihat sungai tercemar. Tarian ini menggambarkan kondisi Sungai Mahakam sebagai sumber kehidupan namun tercemar oleh limbah rumah tangga ataupun Rumah Industri yang berada disepanjang aliran sungai Mahakam. Tarian ini memberikan kesan pesan yaitu jika Mahakam bisa bicara, pasti semua orang akan mendengar jeritan bahkan keluhannya kepada manusia yang melintas diatasnya tampa permisi, namun merusak dan mencemarinya. Tarian ini menampilkan gerakan-gerakan yang atraktif dinamis sarat dengan makna bahwa sungai mahakam seyogyanya adalah awal kehidupan, bukan dari akhir dari kehidupan. Yok etam Jaga Mahakam.




TARI DATUN JULUD PEMUNG JA’E






Bertempat di Pulau Kumala Tenggarong , Group Kesenian Yayasan Benaong dari Indonesia  mendapat kesempatan untuk tampil perdana Street Performance Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (EIFAF), pada hari Rabu tanggal 24 Agustus 2016, jam. 16.00 wita, Yayasan Benaong  membawakan TARI DATUN JULUD PEMUANG JA’E, tari yang menceritakan kehidupan sehari-hari suku dayak kenyah seperti aktivitas pergaulan yang selalu menerapakan norma-norma adat yang yang sopan santun,keramah tamahan, serta saling menghormati dan menghargai.






Romania menampilkan tarian Dance From Aries, tarian berpasangan dari masyarakat gunung Apuseni, tarian ini di tarikan pada hari minggu setelah dari gereja, pernikahan dan acara tertentu. FOCIORESC ditarikan hanya oleh laki-laki, tarian ini baru saja diterima oleh UNESCO di kebudayaan tak berbenda. Tarian ini adalah tarian Kompetisi untuk menunjukan siapa yang terbaik. Pada sesi kedua Romania menampilkan tarian Crihalma yang di tarikan oleh perempuan, bahwa ingin menunjukkan ke laki-laki bahwa mereka bisa menari. Di sesi ke tiga menampilkan tarian Dance from Urca.




Bulgaria menampikan tarian Dshinovski Tants, Trakiiski Tants, kedua tarian ini berasal dari daerah Thrace, tarian ke tiga berasal dari bulgaria utara, tarian keempat dari daerah shopski. Keempat tarian ini di bawakan oleh laki-laki dan perempuan dan di akhir pertunjukan mereka mengajak penonton menari bersama.





Tarsulan Seni Budaya Suku Kutai






Tarsulan adalah salah satu seni budya suku Kutai yang sampai sekarang masih ada di dalam masyarakatnya. Kalau dilihat dari tujuan digelarnya; tarsulan ini ada dua macam, yaitu:Tarsulan Berkhatam Al Quran dan Tarsulan Perkawinan. Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quranberkaitan dengan tardisi agama, khususnya agama Islam. Sedangkan Tarsulan Perkawinanberkaitan dengan tradisi adat perkawinan suku Kutai. Tradisi tarsulan diawali masuknya agama Islam di daerah Kerajaan Kutai Ing Kertanegara. Seperti kita ketahui agama Islam berasal dari Arab yang masuk ke Nusantara ini melalui para pedagang Gujarat. Maka tidaklah mengherankan bersama masuknya agama Islam, masuk pula seni sastranya yang di antaranya bentuk ’syair’. Dari bentuk syair inilah yang menimbulkan keinginan dari salah seorang bangsawan Kutai untuk menciptakan seni sastra yang dapat dikaitkan dengan adat budaya suku Kutai tersebut. Maka sesuai ’nafas’ Islamnya lahirlah Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran dan dilanjutkan dengan Tarsulan Perkawinan. Oleh sebab itu tidak heran kalau ada anggapan bahwa seni budaya tarsulan adalah seni budaya milik kaum bangsawan kerajaan Kutai bukan milik masyarakat umum. Namun ternyata tarsulan ini juga memasyarakat dalam suku Kutai, khususnya Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran.

Menurut hasil penelitian; dahulunya tuturan Tarsulan tersebut disampaikan olehPenerasul dengan cara menghafal. Tetapi dalam perkembangannya karena Penerasul merasa sulit untuk menghafal, maka mereka menggunakan bentuk tertulis (naskah). Dengan demikian pada masa sekarang ini orang yang beterasul diistilahkan dengan membaca terasul ataupembacaan terasul. Walaupun begitu di daerah pedalaman (di sekitar Danau Jempang) masih ada Penerasul yang menyampaikannya dengan menghafal. Penerasul tersebut mengatakan bahwa Beliau belajar ’Berterasul’ tersebut dengan cara dilisankan (pewarisannya secara lisan).

Lomba Seni Tulis dan Baca Tarsul Berpasangan ini diikuti oleh 5 pasangan. Sedangkan untuk hadiah pada perlombaan Festival Seni Tradisi Kutai adalah juara I uang binaan sebesar Rp. 2.000.000,-, juara II uang binaan sebesar Rp.1.500.000,- dan juara III uang binaannya sebesar Rp.1.000.000,-. Lomba Seni Tulis dan Baca Tarsul Berpasangan yang di adakan di Panggung Turap Tepian Mahakan pada Rabu tanggal 24 Agustua 2016 dengan pemenagnya adalah juara I M. Rahmad – Mewani dari Tenggarong, juara II Nazrie – Isna dari Sebulu dan juara III Darjat – Dayang dari Tenggarong.


Musik Tingkilan






Tingkilan merupakan salah satu jenis kesenian musik masyarakat Kutai di Provinsi Kalimantan Timur. Musik ini lahir seiring dengan masuknya Islam ke Kutai dan sedikit banyak memiliki kesamaan bunyi dengan kesenian rumpun Melayu lainnya. Tingkilan lantas menyebar melalui proses akulturasi dengan kebudayaan setempat, membuat musik ini kini terbagi menjadi tiga jenis (Hulu Mahakam, Tengah, dan Pantai) yang memiliki karakternya masing-masing. Kata tingkilan itu sendiri berarti menyindir lewat pantun dan musik.  Makna ini masih bertahan, walaupun struktur musiknya itu sendiri telah mengalami berbagai bentuk perubahanMusik Tingkilan adalah salah satu musik khas kutai yang menggunakan alat musiknya menggunakan gambus. Terdapat dua pandangan yang berbeda mengenai darimana arti kata tingkilan berasal  Pertama, dari kata tingkil  yang  berarti sindir dalam bahasa kutai  Penambahan akhiran-an menjadikannya bermakna sindiran.  Tingkilan dalam arti ini merupakan sindiran berbentuk pantun, berisi kritik dan saran, serta disampaikan dengan nyanyian yang diiringi alat musik gambus danketipung.  Sindiran bagi orang-orang Kutai bisa berbentuk nasihat, kritik, dan teguran yang mencolok. Jadi, tingkilan merupakan media untuk menegur, menyapa atau sebagai media interaksi melalui lagu.  Peningkil mempunyai kemampuan untuk menciptakan pantun secara spontan yang berisi sindiran.  Pantun-pantun nya terucap begitu saja saat peningkil melantunkan lagu dan bermain gambus.  Adapun isi sindiran pantun tersebut biasanya tentang cinta, keadilan, harapan, atau sesuai permintaan pemesan/pengundang/yang punya hajatan. Kedua, Tingkilan berasal dari bahasa kutai, di mana terdiri dari 2 (dua) kosakata yaitu Ting & Kil, Ting artinya suara sebuah senar yang dipetik, sedangkan Kil adalah pekerjaan memetik senar gambus dan adanya akhiran an disitu adalah symbol perbuatan orang yang memainkan atau biasa disebut Ningkil (dalam arti perbuatan).  Dalam bahasa hakikat atau filsafat Kutai Kartanegara, Ting itu berarti: cepat atau secepat kilat sedangkan Kil itu berarti: Ketangkasan atau kemampuan.  Tingkilan dalam bahasa filsafat kutai kartanegara adalah kemampuan yang lebih atau ketinggian ilmu. Dapat dijabarkan lagi arti kemampuan lebih atau ketinggian ilmu itu adalah ketaatan, santun, rendah hati menuju pada iman dan taqwa.




Lomba Musik Tingkilan ini peserta yang turut serta dalam lomba berjumlah tujuh (7) group yaitu group Sendu dari Desa Lebak Mantan Kecamatan Muara Wis, SSAB dari Desa Lebak Mantan juga, TMC Smansa dari Tenggarong, Cahaya Mahakam dari Tenggarong, yang tampil pada tanggal 23 Aguatus 2016 dan untuk yang tampil pada tanggal 24 Agustus 2016 yaitu Sanggar Tari Karya Budi dari Tenggarong, Sanggar Tari Adilla Indonesia dari Tenggarong, dan Tingkilan Karaya Jaya dari Tenggarong pula.


Dalam rangka Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival Tahun 2016 di Tenggarong Kutai Kartanegara. Salah satunya perlombaan Tari Jepen Kreasi Tingkat Umum, Lomba Seni Tulis dan Baca Tarsul Berpasangan dan Lomba Musik Tingkilan Tradisi. Dan  Lomba Festival Seni Tradisi Kutai yang dilaksanakan di Panggung Tepian Turap Mahakam. Lomba music Tingkilan ini dimenengkan oleh Juara I dari Cahaya Mahakam dengan uang binaan sebesar Rp. 2.500.000,-.  juara II dari Karya Budi dengan uang binaan sebesar Rp. 2.000.000,- dan juara III dari Adilla Indonesia dengan uang binaan sebesar Rp. 1.500.000,-. Sedangkan juri dalam lomba music tingkilan ini adalah H. Mohd. Ikhsan, Aji Norbek Askar, H. Adi Kuswara, Faridawati, Dra. Hj. Isnaniah Usman, Selfi Marissa, Drs. Surya Gunawan, dan Fitiyani Sabariah,S.Pd


“ TARIAN JEPEN KAROAN KANAK’’










Bertempat di Taman Ulin Lapangan Pemuda Tenggarong Kukar, Group Kesenian Bengkel Seni dari Indonesia  mendapat kesempatan untuk tampil perdana pada acara perhelatan pesta Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (EIFAF), pada hari Rabu malam tanggal 24 Agustus 2016, jam. 19.30 wit, Group Kesenian Krismas dari Estonia di sesi kedua , dan ketiga Indonesia tampil dengan Tarian jepen karoan kanak merupakan sebuah tarian yang menggambarkan tentang kehidupan anak-anak pesisir yang pada umumnya bermain, bersenda gurau, bersenang-senang bersama. Lewat ekspresi terlihat kebahagian dan keseruan yang terpancar dari raut wajah,yang membuat orang lain ikut senang dan bahagia melihtanya. Aktifitas yang sering mereka lakukan tersebut dituangkan dalam gerakan tari indah mempesona dan di visualisasikan melalui iringan musik cerita dan menghentak. Tarian yang dipersembahkan oleh anak-anak dari SD Negeri 28 Tenggarong ini mewakili Indonesia untuk ikut serta dalam pertunjukan pentas seni Erau di taman Ulin Lapangan pemuda.   









Dan di tutup dari Negara Polandia menampilkan Group kesenian Folk Group Szamotuly yang menapilkan tarian Dance Szamotuly Dance tarian hentakan kaki yang penuh keceriaan dan kegembiraan di tampilkan penuh Aktraktif dan dinamis dengan iringan musik menghentak.






Pentas Seni IDAHO-USA Dan TAIWAN A






Bertempat di lapangan basket turapan sungai mahakam, Group Kesenian yang berasal dari negara IDAHO – USA dan Taiwan mendapat kesempatan untuk tampil pada acara perhelatan pesta Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (IFAF), pada hari Rabu malam tanggal 24 Agustus 2016 dengan menampilkan rangkaian tarian dengan tema yang berbeda dari tarian satu dengan yang lainnya, pada awal pertunjukannya USA menampilkan tarian  “ Southern” yang menceritakkan  rangkian tarian dari Priode perkebunan perang pra-saudara selatan Waltz,polka, dan Gallop. Tarian ini sangat populer dengan pemilik budak di mana mereka akan memamerkan gaun merah dan keanggunan. Sebuah duet  modern “ menyumbat” yang bersaing dengan pemuda daerah kami.

Pada sesi kedua USA tampil dengan tarian “A Capella” adalah tarian yang menceritakkan kisah dengan kaki para penari, perhatikan dengan cermat untuk melihat komedi tanpa kata-kata atau musik. Di sambung dengan tarian “Grandmmas Feather Bed” adalah tarian menyumbat yang menggambarkan keluarga besar sepupu yang tinggal sampai larut malam untuk menari saat orang tua mereka tidak menonton, di akhir pertunjukan mereka.



Pada pertunjukan berikutnya taiwan tampil dengan tarian The Lantern Festival yang menceritakan di malam Lantern Festival suara jangkrik memecahkan keheningan malam, dimana para wanita muda membawa lentera mereka untuk melihat pestival, hati yang penuh dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan.

Di sesi kedua taiwan menampilkan The Fairy with heavanly dresses, cerita para peri memakai  gaun yang indah, peri mendarat dari langit, lembut gelombang sekitar pita mereka, seakan menyebar warnanya ke seluruh dunia untuk mengirimkan berkat dan do’a. Dan di akhir pertunjukan taiwan menampilkan The Festival Drum-mengalahkan Dance “kinerja Chegu”, “ Pochie art Performance” di sajikan di atas panggung melalui tarian, menggunakan cherry penggemar merah untuk mewakili kembang api untuk perayan, menciptakan suasana festival yang menyenangkan.




Selain IDAHO-USA dan TAIWAN tampil juga Group kesenian dari Indonesia berasal dari kutai kartanegara yaitu Group kesenian ST. Dan musik Tradisi Nusantara 2 dan Canada.





Beseprah Tradisi Leluhur





Di Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara pada Rabu 24 Agustus 2016 ribuan masyarakat membaur bersama – sama para pejabat Kab. Kutai Kartanegra duduk bersila dan berhadap – hadapan dalam acara makan beseprah yang dilaksanakan di sekitar Jembatan Besi sampai Gunung Pendidik, beseprah ini sebagaian dari rangkaian acara   Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival Tahun 2016 di Tenggarong Kutai Kartanegara. Hadir pada acara beseprah selain keluarga kesultanan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Karanegara Ing Martadipura Aji Pangeran Prabu Anoem Surya Adiningrat juga dihadiri oleh Bupati Kutai Kartanegara Ibu Rita Widiasari.P.Hd, Wakil Bupati Kukar Bapak Drs. Edi Damansyah.M.,Si, Muspida Kabupaten Kutai Kartanegara, juga delegasi kesenian mancanegara anggota Folklore ikut serta dalam acara tradisi leluhur tersebut.




Sabutan Bupati Kutai Kartanegara Ibu Rita Widyasari.P.Hd mengatakan tampa terasa beseprah tahun ini memasuki tahun ke – 6 yang dimulai sejak tahun 2011. Bupati juga mengatakan memang telah menjadi komitmet Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara untuk terus melestarikan adat dan tradisi asli Kutai Kartanegara dimana salah satunya adalah makan Beseprah yang merupakan tradisi makan bersama pada keluarga kerajaan Kesultanan Kutai. Sambil menikmati hidangan khas kutai, makan beseprah ini merupakan bukti kedekatan Kesultanan Kutai dangan rakyat jelata yang bias dirasakan sebagai tanda keakraban dan kekeluargaan. Dalam konteks Pemerintahan saat ini, tradisis beseprah ini dapat dimaknai sama yaitu adanya kedekatan antara Pemerintah dengan masyarakatnya. Acara ini dapat dijadikan ajang ramah tamah antara Pemerintah, Kesultanan dan seluruh lapisan masyarakat. Moment ini juga merupakan perwujudan rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat yang terus menerus di bumi Kutai Kartanegara tercinta ini.




Beliau juga mengatakan beseprah kali ini mengambil tema masakan khas kutai khususnya Gence Ruan dan masakan khas kutai lainnya. Dia mengatakan gence ruan adalah ikan gabus yang di bakar dan kemudian diberi bumbu khas yang memiliki citarasa yang sangat lezat. Bupati Kukar berharap para tamu dari mancanegara peserta EIFAF juga dapat mengenal dan menikmati gence ruan ini dan memperkenalkan citarasa masakan gence ruan kepada sanak keluarga dan teman – temannya setelah pulang ke Negara asal masing – masing. Dalam kesempatan beseprah ini juga dihidangkan jenis kuliner khas kutai yang tak kalah lezatnya, dan bupati kukar cukup bangga bahwa saat ini kuliner khas kutai telah berkembang cukup pesat dengan ditemuinya variasi masakan yang beragam namun tetap menampilkan ciri khas kutai. Hal ini membuktikan bahwa kita tetap berupaya menghargai den melestarikan tradisi dan ciri khas makanan kutai.





Pada akhir sambutan Bupati Kukar Ibu Rita Widyasari.P.Hd menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada seluruh stakeholders yang telah berpatisipasi mempersiapkan dan mendukung acara ini. Semoga semua sumbangsih kita mendapat limpahan ridho dan rahmat dari Allah SWT. Dan pada kesempatan yang itu pula Bupati Kutai Kartanegara, para Muspida Kab. Kutai Kartanegara dan undangan yang hadir bersama – sama membunyikan kentongan menandakan acara makan beseprah dimulai.





Warga Lokal Dan Asing Ikut Beseprah










Kemeriahan pesta Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival Tahun 2016 di Tenggarong Kutai Kartanegara. Tadisi Beseprah untuk yang ke-6 kalinya mampu menyedot perhatian masyarakat. Pada Rabu 24 Agustus 2016 warga Kutai Karatanegara turut serta mengikuti tradisi makan massal tersebut, hadir pada acara beseprah selain keluarga kesultanan juga dihadiri oleh Bupati Kutai Kartanegara Ibu Rita Widiasari.P.Hd, Wakil Bupati Kukar Bapak Drs. Edi Damansyah.M.,Si, Muspida Kabupaten Kutai Kartanegara, juga delegasi kesenian manca negara anggota Folklore ikut serta dalam acara tradisi leluruh tersebut.







Walaupun acara dijadualkan akan mulai pada pukul 09.00 Wita, namun ratusan orang sudah berkumpul di kawasan Jembatan besi sampai Gunung Pendidik. Panjang area beseprah  kali ini diperkirakan mencapai kurang lebih satu kilometer dan beseprah kali ini di ikuti oleh 48 SKPD Kab. Kukar, perusahaan dan masyarakat. Dan makanan yang di tampilakan untuk beseprah kali ini adalah Gence Ruan (ikan gabus). Beraneka ragam jajanan khas kutai yang ditampilkan seperti serabi, untuk – untuk, apam, putu labu, roti gembung, sedangkan  makanan yang disuguhkan beragam pula selain makan utamanya gence ruan yaitu nasi kuning, nasi kebuli, gangan /sayur labu santan, pirik cabek/sambel mangga, cabek limau, dan cabek tomat. Gence Ruan sendiri yaitu ikan haruan/gabus yang dibakar lalu dilumuri cabek diatasnya.

Beseprah adalah tradisi kesultanan yang artinya makan bersama beramai – ramai sambil duduk bersila  dan berhadap – hadapan. Taridisi ini sudah berlangsung dari zaman dahulu kala dan sampai saai ini hanya sebagian orang saja yg melakukan ini, sehingga makan beseprah kali ini mampu mendatangkan masyarakat baik dari Tenggarong maupun luar Tenggarong yang ingin melihat secara langsung acara beseprah.







Terlihat semua masyarakat, pejabat muspida kab kukar dan peserta Folklore menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka begitu tanda dari Bupati beserta Muspida dan undangan membunyikan kentongan warga pun langsung memakan dengan lahapnya makan yang dihidangkan di hadapan mereka.







Usai beseprah pun para undangan dan peserta folklore tidak langsung meninggalkan lokasi beseprah, mereka turut serta bergoyang di atas panggung yang disediakan oleh panitia, bahkan Bupati  Rita Widyasari dan pejabat muspida pun ikut turut serta bergoyang diatas panggung tersebut. 





GROUP MARTISORUL ENSEMBLE Dan GROUP YITZY FOLK DANCE THEATRE










Penampilan yang disuguhkan di Stadion Aji Imbut Tenggarong Seberang pada selasa malam tanggal 23 Agustus 2016 di tampilkan oleh Group Martisol Ensemble dari Negara Romania dan Group Yitzy Folk Dance Theatre dari Negara Taiwan A.







Penampilan dari group tari Martisol Ensemble dari Negara Romania menampilkan tarian berpasangan, tarian ini biasanya ditarikan setiap hari minggu setelah pulang gereja, acara pernikahan dan acara tertentu. Pada tarian ini pakaian yang digunakan bisanya baju yang berwarna hitam dan putih, sementara untuk penampilan berikutnya yaitu Dance From Ordu yang berasal dari Urtara Timur tarian ini pada intinya memperebutkan perempuan dengan gerakan laki – laki yang mengangkat tinggi kakinya, dua terakhir di belakang harus menyelip mereka yang jahat dan utusan dengan wajah yang jahat. Tarian  ini di bawah koreografer Lone Kasien.







Tampilan berikutnya dari kelompok Yitzy Folk Dance Theatre dari Negara Taiwan A. Tarian asal Taiwan ini menceritakan utusan dewa dengan keyakinan Taulisme yaitu yang menciptakan bentuk upacara melalui tari, masing – masing dari dewa atau yang bertanggung jawab dengan berbagai tugas, yang berikutnya didepan atau utusan yang memberi pesan dari para dewa berikut dua menangkap penari yang harus menyelip yang jahat dan utusan dengan wajah yang ganas bermaksud untuk menakut – nakuti para hantu/setan yang jahat. Kelompok ini tahun depan akan merayakan hari jadi yang ke-60.