Bupati Kukar

Performance TKC

Ngulur Naga.

Bukit Bangkiray

Mencaq Undat

Ngulur Naga 2

Pembukaan Erau

Taruna Dara

Tari Memanah

Festival Tari Jepen

Statistik

Hit hari ini : 6
Total Hits : 702,844
Pengunjung Hari Ini : 6
Pengunjung Online : 3
Total pengunjung : 154,719

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2015


Pelaksanaan pembukaan Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) berlangsung dengan meriah di stadion Rondong Demang Tenggarong. acara pembukaan ini di hadiri oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, Bupati Kutai Karta Negara Rita Widyasari, Deputi Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemendikbudpar RI, Esty Resko Astuti, Kapolda dan Kapolres Kutai Kartanegara, Dandim 0609 Tenggarong, Putra Mahkota Kesultanan Ing Martadipura, Ketua BPK RI DR. Hari Azhar Azis MA, walikota Bontang, Adhi darma, seluruh Peserta CIOFF ( International Council Of Organizations of Folklore Festivas and Folk Arts ).




Acara di awali dengan parade Marching band Gita persada Mulawarman Tenggarong dan di susul 13 negara anggota CIOFF yaitu Estonia, Turkey, Latvia, Slovenia, Germany, Polandia, Italy, Haway- USA, South Korea, Hungary, Malaysia, Russia, dan Egypt serta Indonesia. selain berparade, para delegasi menampilkan tarian - tarian raktyat dari negaranya masing - masing, serta dari Indonesia di wakili sanggar tari dan kelompok seni kesenian kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Panajam Paser Utara, serta Perwakilan Anjungan Kaltim di TMII. setelah parade peserta deelegasi CIOFF, para penonton dan tamu undangan disuguhi dengan tampilan para penari keraton Kutai yang membawakan dua buah tarian yaitu tari persembahan dan tari topeng kemindu.




Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2015 di buka langsung oleh Deputi Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemendikbudpar RI, Esty Resko Astuti. dalam sambutannya beliau membacakan sambutan tertulis Mentri Pariwisata RI, berharap bahwa pelaksanaan Erau yang di laksanakan Kutai Kartanegara untuk tahun - tahun mendatang pesertanya bisa di tingkatkan lagi dari 13 negara menjadi 20 negara. selanjutnya Gubernur Kalimantan Timur mengatakan dalam sambutannya Erau adalah peristiwa sakral sekaligus momentum yang sangat berharga untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Kalimantan Timur 2015 ( Kaltim Visit Years 2015 ). tahun ini Erau mengangkat tema 3 Tahun Erau International Folk Art Festival ( EIFAF ) dan mengharapkan menjadi langkah maju dan kreatif bagi penyelenggara Erau yang patut kita afresiasi, karna itu masyarakat dapat menyambut antusias berbagai event yang di gelar pada Erau adat Kutai tahun ini dan mari kita jadikan Erau momentum yang sangat berharga bagi kebangkitan dan kemajuan pariwisata serta untuk kesejateraan rakyat Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur.




Dalam Kesempatannya Bupati kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM, menyampaikan pemerintah dalam pelaksanaan Erau selalu bekerjasama dengan CIOFF yang bertujuan agar Erau lebih di kenal oleh kancah International, dan beliau mengharapkan agar masyarakat Kutai kartanegara dapat menjadi tuan rumah yang baik dan dengan pelaksanaan Erau tiap tahun ekonomi masyarakat bisa meningkat dan sejahtera.

acara di lanjutkan dengan menyalakan tujuh buah api brong ( Obor Besar ) yang diantanya di lakukan oleh Deputi Kemendikbudpar, Gubernur Kaltim, Putra mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Kapolda Kaltim dan Pangdam IV Mulawarman.

Ribuan masyarakat dan para tamu yang hadir kembali di suguhkan tari masal yang bertajuk "Borneo In Harmony", yang melibatkan sekitar 350 penari yang diiri dengan musik "Interculture" dari gerbang etam orcestra yang membuat kagum seluruh tamu undangan dan sebagai penutup pada acara pembukaan Erau 2015.


Ngatur Dahar





pada tanggal 5 Juni 2015 Pihak Kesultanan Ing Martadipura mengadakan jamuan khusus atau yang disebut Ritual Ngatur Dahar telah dilaksanakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bersamaan dengan ritual Merangin pada malam ketiga, yang dihadiri langsung oleh Sultan H.Aji Muhammad Salehuddin II, ,Aji Pangeran Prabu Surya Adiningrat, Sekretaris Keraton, Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Kerabat Kesultanan dan tamu – tamu lainnya. Ritual Ngatur Dahar dimulai pada saat Sultan memasuki ruang Ngatur Dahar menuju Tilam Kasturi dan duduk memimpin acara Ngatur Dahar tersebut. Berbagai macam makanan dihidangkan di depan Sultan yang terdiri dari 41 jenis jajak khas kutai (kue tradisional) antara lain pulut, getas, elat sapi, jajak cincin, ayam bakar, tumpi, onde-onde dan lain - lain, 3 buah baskom yang berisi (pisang,beras,gula merah, sirih, pinang, kelapa, kain, uang, jarum) yang menandakan penduduk  disebelah kiri dan sebelah kanan. Para kerabat sultan dan pejabat daerah duduk memanjang dan mengelilingi hidangan.

Ritual pertama pawang besawai membacakan mantra didepan  prapen, beras kuning dan air tuli, yang menandakan acara segera dimulai, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dipimpin oleh pemuka agama untuk meminta keselamatan dan  kelancaran selama pelaksanaan Erau, usai berdoa para hadirin dipersilahkan menyantap hidangan 41 jenis jajak kampong yang telah tersedia.




Prosesi Adat Merangin


 Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).






Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Pelas Benua dan EIFAF (Erau Adat Kutai International Folklore And Art Festival) 2015. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.

Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu.

 Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa. Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat.

Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.

 

Prosesi Menjamu Benua


 Dalam pelaksanaan Upacara Erau Adat Pelas Benua, yaitu empat hari menjelang dilaksanakannya Erau Adat Pelas Benua Etam dan Pembukaan Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF) Tahun 2015. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Upacara Erau Adat Pelas Benua Etam dan Event EIFAF berlangsung, keselamatan sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong. Makna upacara menjamu benua adalah memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberi makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan". Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif / gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu. Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu.






 Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua. Di tiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning keaah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya. 



 
 



 




































Pemutaran Film Dokumenter Erau Sesi Ke-2


Pemutaran film dokumenter gelombang ke-2 dalam rangkan memeriahkan Erau Adat Kutai and International Folk And Art Festival Tahun 2015 dilaksanakan di Jam Bentong pada hari Rabu tanggal 03 Juni 2015 pukul 08.00 Wita yang pesertanya dari SD Muhammadiyah Tenggarong kelas 5 dengan jumlah pesertanya adalah 50 orang siswa – siswi dan pada pukul 10.00 Wita yang pesertanya dari SMK Negeri 2 Tenggarong dengan jumlah 70 siswa -siswi. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai sarana pengajaran dan pencerahan kepada para murid, mahasiswa maupun masyarakat serta untuk memberikan informasi kepariwisataan bagi wisatawan yang sedang berkunjung di Tenggarong.




Sesi  pertama dibuka oleh Kasi Data dan Informasi Drs. Yanto Haryanto.,M.Si yang langsung menyampaikan tentang Jam Bentong sebagai tempat Pusat Informasi Budaya dan Pariwisata serta menjelaskan peralihan Jam Bentong yang dikengelola oleh Dinas Pendidikan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara sejak Tahun 2015.




Pada sesi selanjutnya dilakukan pemutaran Film Dokumenter tentang Erau yang langsung di lakukan penjelasan oleh Kasi Pengelolaan Permuseuman Drs. Tri Yatma, beliau menjelaskan satu persatu prosesi Erau kepada para siswa – siswi, di mulai dari Menjamu Benua, Beluluh, Mendirikan Ayu, Merangin (Belian), Bepelas, Ngatur Dahar, Tambak Karang, Mengulur Naga, Berlimbur dan Merebahkan Ayu.




Setelah selesai acara dari pemutaran film dokumenter para siswa – siswi baik dari SD Muhammadiyah  dan SMK Negeri 2 Tenggarong diberikan kesempatan naik kelantai dua (2) Jam Bentong untuk melihat pemendangan kota Tenggarong dari tempat tersebut, siswa – siswi yang naik dibatasi berkisar 10 orang siswa – siswi karena keamanan. 





SEMBILAN NEGARA IKUT BERPARTISIPASI DALAM LANJONG ART FESTIVAL 2015


Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kaltim H.M. Aswin  didaulat untuk membuka secara resmi pagelaran Lanjong Art Festival (LAF) 2015 dengan tema “ Habis Barat Terbitlah Timur” yang menghadirkan sejumlah Seniman Nasional Maupun  seniman dari Sembilan Negara yakni Amerika, Singapura, Jepang, Meksiko, Italia, Malaysia, Korea, Spanyol serta tuan rumah Indonesia 






Kadisbudpar Kalim H.M. Aswin  mengatakan karena event ini dilakukan setiap tahun maka, pagelaran ini bisa dijadikan agenda tetap setiap tahun yang merupakan event Budaya di Kaltim, agenda ini dikemas secara professional oleh panitia ini terlihat dari antusisnya peserta dalam mengikuti acara ini, dan dalam kesempatan itu juga ia mengucapkan selamat datang kepada para seniman dari nusantara maupun seniman dari mancanegara yang nantinya akan tampil di Lanjong Art Festival 2015, 






Ia berharap agar pagelaran ini bisa melahirkan seniman muda yang berkualitas, dan salah satu efek dari pagelaran ini adalah tumbuhnya Ekonomi Kreatif, ia berharap agar kita jangan hanya sebagai penonton namun  berbuat dan memberikan hasil karya yang terbaik bagi daerah ini, yang lama kita lestarikan, yang sedang berjalan kita manfaatkan, dan yang akan datang kita kembangkan, sebab bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang maju dalam mempertahankan jati dirinya.






Setelah acara di buka, ratusan pengunjung dihibur penampilan dari Sastrawan Acep Zamzam Noor yang didaulat menyampaikan orasi budaya serta musisi lokal Orkes Sekar Kedaton, dan Tenggarong Drummer Community (TDC) selain itu penampilan wawan sofwan (Aktor dari Bandung) Divisi Musik Lanjong dan Total Perkusi juga ikut meramaikan malam pertama LAF 2015






Menurut Citul, Ketua Panitia Lanjong Art Festival, LAF ini akan digelar pada 23-30 Mei 2015 diikuti pelaku seni dari berbagai daerah seperti Samarinda, Penajam, Lampung, Berau, Banjar, Bontang, Palu, Tasikmalaya, Tarakan, Medan, dan Padang, yang digelar di Ladang Budaya (ladaya) Lanjong Jl. H. Bahrin Seman Kelurahan Mangkurawang, total keseluruhan peserta sebanyak 450, di tambahkannya LAF 2015 akan diisi Festival Monolog, Tari Kontemporer, Musikalisasi Puisi, hingga diskusi soal seni budaya.






Tim juri yang hadir pada LAF 2015 adalah Joko Pinurbo (penyair dan dosen) Maria Darmaningsih (Institut Kesenian Jakarta), Jairin Jain (Kutai Kartanegara) Kak Udin (Kutai Kartanegara), serta dua perwakilan dari Amerika dan Jepang, serta work shop seni dengan menghadirkan narasumber dari total perkusi, Acep Zamzam Noor, Yusef Muldiana, Rita Deiola dan Rodrigo





Pekan Budaya Sebulu 2015


Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari pada Selasa siang Tanggal 12 Mei 2015 membuka Pekan Budaya Sebulu di Desa Sebulu Ilir Kecamatan Sebuluyang ditandai dengan pemukulan gong.




Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan mengucapkan selamat atas hari jadi kota sebulu yang ke – 50 Tahun. Ini adalah peringatan tahun ke emas bagi Kecamatan Sebulu sehingga kegiatan – kegiatan yang digelar betul – betul bermanfaat bagi masyarakat Sebulu.




Menurut Rita, semangat kebersamaan warga Sebulu mempertahankan budaya sangat tinggi ini terlihat pada kegiatan Pekan Budaya yang menampilkan khas budaya sebulu, seperti pondok bahari dan olah raga tradisional. Dan ini perlu di contoh oleh Kecamatan – Kecamatan lain agar budaya yang ada di Kecamatan setempat tidak hilang termakan zaman.




Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, juga mengatakan kegiatan ini harus dipertahankan dan di lanjutkan agar anak – anak kita tidak melupakan budayanya sendiri, karena yang di takutkan adalah pengaruh teknologi yang semakin canggih. Contoh permainan Games yang saat ini sangat digemari oleh anak – anak kita, ini perlu pengawasan dari para orang tua untuk selalu mendampingi anak – anaknya bermain games.




Kegiatan Pekan Budaya Sebulu yang digelar dalam rangka memperingati hari jadi Kecamatan Sebulu yang ke – 50 Tahun, acara ini dihadiri oleh Camat Sebulu, dan unsur musika Kecamatan Sebulu serta tokoh masyarakat Sebulu sendiri. Dalam kesempatan ini Camat Sebulu Murjani menyampaikan bahwa hari Pekan Budaya ini sangat menggembirakan bagi Pemerintah Kecamatan Sebulu dan seluruh masyarakat Sebulu. Karena selama memperingati HUT Sebulu baru kali ini dihadiri oleh Bupati Kutai Kartanegara.




Pekan Budaya Sebulu ini berlangsung selama 10 hari dan diisi dengan berbagai kegiatan, yakni stan pameran pelayanan, olah raga tradisional, pondok bahari, lomba senam dan penampilan kesenian lainnya, seperti lomba tari jepen.


Daftar Peserta Yang Lolos Seleksi LO ( Liaison Officer ) Erau Adat Kutai & International Folk Art Festival 2015 & International Dragon Boat Tournament 2015





           



        



              



 



 


Pembukaan Workshop I Tenggarong Kutai Carnival 2015


Bertempat di Pendopo Wakil Bupati, Kutai Kartanegara (4/4) berlangsung Pembukaan Workshop I Tenggarong Kutai Carnival 2015. Tahun ini untuk pertama kalinya TKC mengadakan workshop tanpa bimbingan dari instruktur Jember Fashion Carnival (JFC), karena selama 3 (tiga) tahun sejak tahun 2012 hingga 2014 TKC dibimbing langsung oleh JFC, namun pada tahun ini TKC sudah bisa melaksanakan workshop sendiri dibawah arahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta TIM 12 dari senior Tenggarong Kutai Carnival.






Ketua TKC, Ibu Nor Fajri dalam laporannya menyampaikan bahwa workshop TKC tahun ini diikuti oleh talent lama dan talent baru, dewasa dan anak-anak. dan TKC sepenuhnya didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.






Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sri Wahyuni.,MPP dalam sambutannya menyampaikan bahwa kostum karnaval TKC didesain dengan inspirasi seni dan budaya daerah Kutai Kartanegara, sejak pertama kali diselenggarakan TKC mengangkat tema yang berhubungan dengan alam dan seni budaya di Kutai Kartanegara. Hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan bagi ekonomi kreatif, dimana sektor pariwisata dapat menggaet sektor-sektor lain dan secara langsung memberi dampak juga bagi sektor sektor lain yang berhubungan dengan ekonomi kreatif.






Di akhir acara, ditampilkan 3 orang talent senior TKC yang mengenakan prototipe tema Tenggarong Kutai Carnival 2015 yaitu Sumpit, Buah Bolok dan Pesut. Para peserta workshop yang terdiri atas dewasa dan anak-anak sangat antusias saat melihat ketiga prototipe tersebut. setelah kegiatan pembukaan workshop selesai, para peserta workshop langsung mengikuti materi pengenalan carnival yang disampaikan oleh narasumber dari Tenggarong Kutai Carnival.


Pemberitahuan Test Tertulis Dan Test Wawancara LO EIFAF Dan International Dragon Boat Tournament 2015