Benner Naga

Fashion Street

Bukit Bangkiray

TOPENG KEMINDU

Lapion

Statistik

Hit hari ini : 36
Total Hits : 431,984
Pengunjung Hari Ini : 18
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 103,214

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Ragam Fungsi Manik


Manik Sebagai Mas Kawin

Manik – manik sebagai suatu karya budaya yang memiliki berbagai unsur antar lain bahan yang digunakan dan bentuk fisik yang tangible dan mitos/kepercayaan dan nilai tertentu lainnya yang bersifat intangible. Dari unsur tersebut manik – manik dipandang sebagai sesuatu yang bernilai tinggi/berharga, oleh karena itu manik – manik yang berharga tersebut dapat dijadikan sebagai alat tukar atau Mas Kawin, dan pada beberapa kelompok marsyarakat tertentu digunakan sebagai Mas Kawin sebagaimana yang terjadi di masyarakat Kalimantan Tengah.

Manik Sebagai Jimat

Pembuatan manik dengan ritual dan bahan serta bentuk – bentuk tertentu pada sebagian etnis juga diyakini sebagian masyarakat mempunyai kekuatan magis yang dapat melindungi atau menjaga warga masyarakat atau pemiliknya dari gangguan roh jahat atau makhluk halus. Gangguan roh jahat dan gangguan dari alam gaib buatan manusia dapat mengancam gangguan terhadap tempat tinggal, lahan pertanian, wilayah dan gangguan terhadap alam pikiran manusia. Manik sebagai penolak bala biasanya dipakai saat upacara, atau diletakkan begitu saja dalam rumah, lumbung padi, wilayah pertanian, dan lain sebagainya. Penyang dari Dayak Meratus dan Dayak Ngaju merupakan salah satu rangkaian manik – manik yang digunakan untuk penolak bala, dikenakan oleh pemuka adat kelompok masyarakat tersebut.

Manik Sebagai Benda Pakaian Perhiasan

Keindahan bahan bentuk fisik manik – manik merupakan ungkapan artistik yang dituangkan oleh seseorang dalam dua dimensi atau tiga dimensi. Secara material (bahan), keindahan manik – manik juga didapat dalam bahan alami, berupa kilau bebatuan mulia dan motif – motif alam batu setengah mulia. Namun keindahan juga dapat dihasilkan dari warna proses pembuatan butir – butir manik serta dari penataan untaian manik membentuk konfigurasi tertentu, seperti Sa’sawak manik (ikat pinggang) dari Kalimantan Barat


.

Persebaran Manik – Manik Di Indonesia


Secara umum manik – manik ditemukan hampir di semua tempat di Indonesia, walaupun sering tidak dalam konteks penggalian arkeologi, seperti di Sumatera (daerah Barus, Natal, Padang, Sidempuan, Nias, Kroe, Bengkulu, Palembang, dan lain – lain) di Jawa Barat (di wilayah DKI Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Kerawang, Rengasdengklok, Bogor, Cirebon, dll), di Jawa Tengah (Banyumas, Sangiran, Surakarta, Kudus, dll), di Pulau Sumba (Nusa Tenggara Timur/NTT), di daerah Parsingonggo, di Flores, di daerah Ngada dan Manggarai. Di Bali ditemukan dalam wadah kubur berupa sarkofagus dan dalam kubur tanpa wadah ditemukn di Gilimanuk.





Di Sulawesi, manik – manik ditemukan di daerah Maros, Makassar, di Pulau Talaud. Di Kepulauan Maluku, manik – manik antara lain ditemukan di Pulau Ambon, Seram, Tanimbar, Kei, dan sebagainya. Penduduk di pedalaman pada umumnya masih menyimpan dan menggunakan manik – manik jenis tertentu untuk keperluan upacara – upacara tertentu (Indraningsih, 1978 : 133 – 134). Dan Papua di sekitar daerah Santani. Di Kalimantan manik – manik ditemukan hampir di setiap pelosok baik pedalaman maupun daerah pesisir, digunakan sebagai perhiasan, alat upacara, pakaian, tongkat dan lain – lain (Niewenhuis, 1904 : 232 – 234). Di Kalimantan Barat tepatnya di Bukit Selindung, Dusun Air Terjun Desa Baru Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas, ditemukan beraneka ragam   manik – manik betuan dan kaca, gelang kaca, serta gelang dan anting dari logam di dalam Nekara Perunggu, di situs Sungai Serok Kabupaten Kuburaya Pontianak ditemukan manik – manik kornelian bentuk bulat, manik habrur warna putih transparan berbentuk belimbing.


Di Kalimantan Timur, pada suku kayan di daerah Mahakam ditemukan bekal kubur berupa manik – manik dan perhiasan lain serta senjata (Soejono, 1977 : 207). Di daerah bagian barat Kalimantan Timur, di Kabupaten Kutai Barat, Kutai Timur, bagian Utara seperti Kabupaten Berau, Bulungan dan Nunukan. Di Kalimantan Selatan, di dekat sisa – sisa bangunan sebuah Candi Hindu abad ke-10, Candi Laras, Margosari, (Hulu Sungai) ditemukan batu gerinda dan  limbah, benda kaca berwarna kuning (kaca Indo Pasifik) bersama dengan 156 butir manik dalam warna monokrom dan polikrom (Adyatman, 1993 : 73). Penggalian arkeologi di goa Babi, Kabupaten Tabalong Tanjung ditemukan manik – manik dari tulang binatang yang dilubangi perintang.


  


Di Kalimantan Tengah, oleh suku Dayak Ngaju manik – manik sering dihubungkan dengan berbagai kepercayaan, terutama oleh penganut kaharingan, misalnya digunakan pada upacara penyembuhan orang sakit, dengan menggunakan ‘’Manas Sambulun Tambun’’ dengan ciri warna biru, diyakini mengandung obat baik secara medis maupun kejiwaan. Benda – benda yang diciptakan manusia tentu mempunyai tujuan tertentu, baik untuk tujuan praktis yaitu untuk keperluan manik – manik dalam pembuatan pakaian dan perhiasan maupun yang berlatar belakang religius. Bukti tentang pemakaian perhiasan tubuh dan aksesoris dapat dilihat pada relief – relief Candi. Pahatan pada relief membuktikan bahwa wanita pada masa lampau telah memakai perhiasan, berupa cincin, kalung, hiasan telinga (anting), gelang kaki, gelang tangan, ikat pinggang, ikat perut, ikat pinggul, dan mahkota, bahkan cincin yang dipakai pada jari kaki seperti digambatkan pada Arca Harihara yang merupakan perwujudan dari Raja Singosari, yaitu Kartanegara (Ratnawati, 1993 : 225).  





RAKERNAS III ASITA AKAN BERLANGSUNG DI TENGGARONG


 Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) ke-3 akan dilaksanakan di Kota Tenggarong pada tanggal 16 – 18 Oktober 2014. Dewan Pengurus Daerah (DPD) ASITA Kalimantan Timur telah ditunjuk sebagai Tuan Rumah Penyelenggara RAKERNAS ASITA 2014 di Kabupaten Kutai Kartanegara sesuai SURAT KEPUTUSAN DEWAN PENGURUS PUSAT ASITA No.KEP.KU.027/DPP/XII/2013 Tentang PENETAPAN TEMPAT DAN WAKTU RAKERNAS III ASITA 2014.

 RAKERNAS ini akan dihadiri oleh pengurus dan anggota ASITA dari seluruh Indonesia yang diperkirakan akan mencapai 500-an orang. Acara ini memiliki nilai strategis untuk promosi pariwisata Provinsi Kalimantan Timur pada umumnya serta Kabupaten Kutai Kartanegara pada khususnya, karena akan dihadiri secara langsung oleh pimpinan biro-biro perjalanan dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.






Acara Rakernas ini dilaksanakan bertepatan dengan event Festival Kota Raja di Tenggarong. Dengan demikian kegiatan ini dapat sekaligus menjadi ajang untuk mempromosikan event dan atraksi wisata yang ada di Kutai Kartanegara. Di hari terakhir kegiatan Rakernas ini yaitu pada Tanggal 18 Oktober 2014, para peserta rakernas diundang untuk menyaksikan Tenggarong Kutai Carnival dan malam harinya menyaksikan pesta langit malam yaitu pelepasan 10.000 lampion yang merupakan pemecahan rekor MURI ditahun ini untuk kategori pelepasan lampion terbanyak.


“ Si Kecil Nan Indah Dan Menawan”


 Tema diatas adalah tema yang diambil oleh panitia Pameran Manik Se Borneo yang dilaksanakan di Meseum Mulawarman Tenggarong yang digelar  mulai tanggal 14-22 Oktober 2014. Acara pembukaan Pameran Manik Se Borneo dilaksanakan pada hari selasa, 14 Oktober 2014 yang dibuka langsung Asisten III Provensi Kaltim yang ditandai dengan pengguntingan Pita Manik disaksikan Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara, Ketua Umum Asosiasi Mesium Indonesia, Putu Supadma Rudana, Kepala Disbudpar Kaltim HM. Aswin.

 Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisita Kaltim yang juga Ketua Panitia Pelaksana Mengatakan bahwa Pameran Manik Se Borneo di ikuti oleh 3 Tiga Negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam dan ini merupakan suatu langkah yang sangat baik dalam rangka meningkatkan hubungan yang erat antar Negara tetangga, dan akan terus ditingkatkan dan momentum ini juga dapat dijadikan sebagai upaya memberikan manfaat bagi genarasi muda.

 Putu Supadma Rudana yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Mesium Indonesia dalam sambutan mengatakan sangat mengapresiasi acara pameran ini,dia mengatakan bahwa pameran manik dilaksanakan setiap tahun, dan untuk tahun ini Kutai Kartanegara sebagai tuan rumah.

Semantara itu Asisten III Kaltim Sa’bani menyambut baik acara Pemeran Manik Se Borneo ini sebab langkah ini tentunya sejalan dengan langkah Kaltim untuk meningkatkan kerjasama dengan Negara-negara tetangga.

Bupati Kutai Kartanegara dalam sambutannya yang dibacakan Kadis Disbudpar Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan bahwa Pameren Manik Se Borneo akan menyamarakan Festival Kota Raja (FKR) dalam rangka Memperingati Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang ke 232, dan melalui pameran ini merupakan salah satu upaya dalam menyamakan visi diantara mesium-mesium se Borneo bahkan negara tetangga untuk mengangkat serta menjadikan manik sebagai barang yang bernilai tinggi serta dapat menembus pasar Dunia.


PEMBUKAAN FESTIVAL KAMPOENG KOETAI 2014


 Dalam rangka menyemarakkan HUT Kota Raja Tenggarong ke-232,  Pemkab Kutai Kartanegara menyelenggarakan Festival Kampoeng Kutai, Bertempat di halaman parkir taman Skate Park, Sekkab Kukar Edy Damansyah yang mewakili Bupati kukar membuka acara Festival Kampoeng  Kutai yang dihadiri oleh seluruh Kepala SKPD, Kapolres, dan paguyuban yang ada di kota Tenggarong.

 “Dalam waktu sepekan Festival Kampung Kutai, kami ingin mengangkat spirit kehidupan Kutai tempo dulu. Mulai dari menampilkan arsitektur rumah Kutai dari waktu tempo dulu hingga perkrmbangan jaman lebih modern, kehidupan dalam rumah, penggunaan perabotan rumah tangganya, pakaiannya hingga kuliner tradisonal,” kata Kepala Dinas Budaya Pariwisata (Disbudpar) Kutai Kartanegara, Sri Wahyuni

Dra. Sri Wahyuni. MPP. menambahkan, Setelah acara pembukaan, akan digelar dialog seni yang dihadiri oleh komunitas seni, generasi muda dan pelajar yang membahas bagaimana harapan dan kendala terkait issu yang mengangkat budaya Kutai dengan menampilkan tokoh- tokoh Kutai.





 Semantara Edy Damansyah dalam sambutannya menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Budaya dan Pariwisata akan menggelar Festival Kampung Kutai yang dikemas dengan nuansa Kutai tempo dulu, seperti arsitektur rumah budaya Kutai dari waktu ke waktu, yang diselenggarakan dari tanggal 13-19 Oktober 2014. Ia berhara agar tumbuh kesadaran pada diri masing-masing untuk terus memelihara adat istiadat dan Tradisi budaya yang positif sebagai warisan anak cucu yang akan datang, dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam mensukseskan acara Festival Kampung Kutai.

Festival Kampung Kutai dirangkai juga dengan panggung pentas seni budaya Kutai dan hadir paguyuban-paguyuban suku yang ada di Kutai dan lomba-lomba. Selain itu, digelar pula lomba story telling atau bekesah (cerita, red) anak yang sekaligus memeringati Hari Anak Nasional.

Lomba ini menunjukan bagaimana peserta mengungkapkan gagasannya tentang cerita dongeng dengan bahasa daerah Kutai. Selain itu, ada pula lomba mewarnai untuk anak-anak yang akan diberikan informasi dongeng sejarah Kutai dan diakhiri doorprize.

Dalam sepekan festival, kami juga menggelar sehari penampilan dari sanggar untuk mengenalkan apa itu Jepen, apa itu Tingkilan, apa itu Tarsul dan Bedandeng. Kita ingin generasi muda punya kebanggan dan spirit dengan budaya Kutai,” tuturnya.

Secara resmi, Sekda Kab. Kukar edy Damansyah membuka acara Festival Kampung Kutai 2014 dengan di tandai pemukulan kentongan dan dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba Foto Beautiful Erau 2014


Sejarah Manik


Manik – manik adalah benda kecil, indah dan rumit yang biasanya berbentuk bulat, dilubangi dan dironce menjadi suatu perhiasan atau menghiasi suatu benda. Manik – manik dalam bahasa Inggris disebut ‘’bead’’, berasal dari bahasa Inggris Tengah ‘’bede’’, yang artinya ‘’prayer’’ (objevt of worship = benda untuk memuja). Awalnya manik – manik dikaitkan dengan amulet atau talisman (benda berkekuatan gaib/jimat) sesuatau yang berhubungan dengan religi dan upacara (Envyclopedia Americana Vol, 3 1967 : 394 – 395). 


  


Manik – manik dibuat tidak hanya untuk keperluan sendiri juga sebagai komoditi perdagangan. Pusat awal pembuatan manik – manik berada di Mesopotamia dan Mesir. Sejak 6500 SM, manik – manik batu telah menjadi barang dagangan utama bagi pedagang Laut Tengah dan Asia Barat (Jazirah Arab, Rusia, dan Pakistan). Perkembangan selanjutnya terjadi dibeberapa bangsa di Asia dalam beberapa periode dimana masyarakatnya sudah terbiasa membuat berbagai bentuk manik – manik. Bangsa tersebut diantaranya Srilanka, Klong Thom (Thailand), Sungai Endah (Malaysia), dan beberapa tempat di Indonesia.


Di Indonesia manik – manik ditemukan sejak masa prasejarah, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (Mesolitik) berupa manik – manik kerang yang ditemukan dalam goa di Sampung (Jawa Timur) (Soejono, 1984 : 285 – 287). Pada masa akhir prasejarah (perundingan), manik – manik ditemukan pada penggalian di gunung Wingko, Matesih, Bojonegoro, Besuki, Bondowoso, Solo, Kudus, Madiun dan sebagainya. Temuan terdapat di situs kubur dengan wadah seperti peti kubur, sarko fagus, Dolmen, dan Tempayan.





Salah satu kegunaan manik – manik yang berhubungan dengan unsur religi ditemukan di situs – situs kubur maupun pemujaan seperti di Pasemah, Jawa Barat, Pasir Angin, Gunung Kidul, Baseki, Sintang, Sanggau, Kutai, Samarinda, Banjarmasin, Gilimanuk dan Gunung Rabur. Pada masa klasik (Hindu – Budha), manik – manik ditemukan dan dibuat dari bahan setengah mulia, kaca, tanah lempung, kuarsa, kornelian dan kalsedon. Manik tersebut digunakan dalam upacara keagamaan, perhiasan dan komoditi perdagangan, seperti digunakan pada Arca Dewa Avalokitesqo (Jateng) abad ke-8, Was Rapani abad ke-9. Pada masa Islam manik ditemukan di Tri Donorejo (Demak, Jateng), Bukit Patunggung (Subang), dan Banten dibuat dari tanah liat, kaca, kornelian, dan kuarsa.





Kampong Koetai


Rangkaian acara Festival Kota Raja III (FKR) dalam rangka memeriahkan HUT Tenggarong ke-232 salah satunya adalah menampilkan Kampong Koetai yang didalamnya terdapat bangunan rumah kutai tempo dulu dan kehidupan masyarakat asli Kutai. Kegiatan Kompong Kutai ini akan dilaksanakan sepakan lamanya dari tanggal 13 sampai dengan 19 Oktober 2014 yang berlokasi di area parkir Skate Park Timbau, bangunan rumah yang dibangun ada 9 jenis rumah berdasarkan beradapan masyarakat pada saat itu.


  


Rumah Kulit Kayu  adalah lanjutan mata rantai dari priode masa pra sejarah dimana manusia tinggal digoa – goa. Kehidupan di goa berangsur – angsur mulai ditinggalkan, pada abad ke I M kehidupan masyarakat mengalami perkembangan zaman, dengan berbekal pengetahuan seadanya dan peralatan yang terbatas terciptalah sebuah bangunan khas dengan memanfaatakan bahan  yang ada dialam sekitar mereka, seperti kayu sungkai, haur (petung) dan daun nipah.


  


Rumah Daun merupakan babak kedua cikal bakal rumah kutai. Pada masa ini masyarakat sudah tau akan buruknya jika menebang kayu untuk mangambil kulitnya, masyarakat dikutai mulai mencari alternatif bahan yang mudah diperoleh dari segi pemanfaatannya lebih praktis dibandingkan dengan kulit kayu. Rumah Daun mulai berkembang diperkirakan sekitar abad 16 M dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya. Rumah ini berfungsi sebagai tempat tinggal serta mengelola hasil pertanian, perikanan, dan hutan dalam upaya mencukupi kebutuhan sehari – hari.


  


Rumah Papan berkembang sekitar abad ke-19. Rumah ini selain menurut fungsi sebelumnya seperti daktivitas sehari – hari juga menunjukkan status pemiliknya di masyarakat. Rumah papan ini terbuat dari bahan kayu yang sudah di olah dengan peralatan yang lebih lengkap dengan cara manual jika dilihat dari bentuk dan ukuran bermacam – macam sesuai dengan penempatannya. Untuk bangunan khas Kutai bahan yang dipakai biasanya bahan kayu telihan atau ulin tetapi dasarnya atau lantai biasanya menggunakan kayu kapur atau meranti dengan atap sirap.


  

Pembekalan Kepribadian Teruna Dara Kutai Kartanegara 2014


 Masih dalampemberian materi terhadap seluruh finalis Teruna Dara Kutai Kartanegara 2014 yang di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, yang saat mengajarkan mengenai Materi kepribadian yang disampaikan oleh bapak Yanuar yang juga Human Resouces Development Manager “MJ Hotel by Adonara Samarinda”. materi yang di bawakan sangat menarik bagi teruna dara, terlihat dari antusias paran terna dara dimana baru beberapa menit bapak yanuar menyampaikan meteri beliau mengatakan bahwa “ kalau begini sikap dan prilaku teruna dara maka tidak sampai 1 menit beliau sudah dapat memberikan nilai dan dinyatakan bahwa semuanya tidak lulus atau penilaiannya rendah “ .




 Dalam pemaparannya, bapak yanuar mencontohkan beberapa hal yang sangat mencerminkan kepribadian seseorang misalkan cara memperkenalkan diri, duduk, berjalan dan bersalaman. Dijelaskannya bahwa orang yang mempunyai sikap optimis adalah orang yang tegas dan tidak ragu-ragu dalam melakukan pergerakan sikap prilakunya. Teruna dara menyambut baik hal – hal yang dijelaskan sehingga banyak pertanyaan yang muncul dibenak peserta misalkan bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri pada saat ditonton orang dan lain – lain.

 Kepribadian adalah keseluruhan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain Kepribadian paling sering di diskripsikan dalam istilah sifat yang bisa di ukur yang ditunjukkan oleh seseorang. Sikap, sifat, tempramen dan watak merupakan tolak ukurnya. Aspek – aspek kepribadian meliputi sifat kepribadian, intelejensi, pernyataan diri dan cara menerima kesan-kesan, kesehatan, bentuk tubuh, sikapnya terhadap orang lain, pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,penguasaan dan kuat lemahnya perasaan, dan peranan. Kemudian penyampaian factor – factor yang mempengaruhi kepribadian baik di internal maupun eksternal serta membahas kepribadian yang sehat dan kepribadian tidak sehat.

Penyampaian materi ini sampai pukul 17.00 Wita kemudian disambung pada malam hari pukul 20.00 wita pada acara makan malam atau  praktek table manner dan penerapan materi yang telah di disampaikan pada siang harinya oleh bapak yanuar.


WILDAN DAN ERSA PEMENANG TERUNA DARA 2014

 Malam Grand Final Pemilihan Teruna Dara Kutai Kartanegara 2014 Meresmikan Pemenang Teruna Dara yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Halaman Kedaton Kutai Kartanegara Jumat Malam Tanggal 10 Oktober 2014, Yang dihadiri oleh Staf Ahli Drh. Suriansyah, Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata beserta jajarannya, dan Perwakilan Duta Wisata  Provinsi Kalimantan Timur.

Kegiatan yang di selenggarakan  setiap tahun ini berjalan dengan sukses dan meriah. Selain Menampilkan 19 Finalis Teruna Dara malam itu juga dimeriahkan tampilan tari jepen yang dibawakan teruna dara dewasa dan cilik serta peragaan busana Batik Melayu Paku Raja Rancangan Imam Pranawa.

 Finalis Nomor urut 13 Wildanu Mukholadun dan Finalis Nomor urut 14 Ersa Rahmawati berhasil menyabet gelar Teruna Dara Kutai Kartanegara 2014. Sebagai juara keduanya berhak menerima piala bergilir Bupati Kutai Kartanegara, Piala Tetap, Piagam Penghargaan, serta uang pembinaan sebesar Rp. 5.000.000,-. Tak hanya itu, Wildan dan Ersa berhak menjadi wakil kukar untuk mengikuti Pemilihan Duta Wisata Kalimantan Timur.

Penyerahan hadiah serta pemasangan selempang Kepada teruna dara terpilih dilakukan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAP. Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat. Wildan Maupun Ersa tidak menyangka bakal terpilih sebagai pemenang teruna Dara Kutai Kartanegara 2014 . Apalagi mereka berdua merupakan pasangan finalis sejak masa pra karantina hingga karantina. Dalam perjalanannya Teruna Dara tidak hanya dinilai pada saat malam grand final tetapi penilaian juga terjadi pada saat karantina dimana tingkah laku cara berkomunikasi dan penyampaian pendapat juga di nilai.

 Dalam Pemilihan Masing – Masing Teruna Dara penyampaikan promosi daerah berupa wisata alam, pendidikan dan lain- lain . setelah itu juri memilih 10 besar yang terdiri dari 5 teruna dan 5 Dara dan masing – masing diberikan pertanyaan oleh salah satu Juri , beberapa juri antara lain M. Fauzan Nur, Budi Warga, Rina Juwita dan Juri Kehormatan Bapak Harianto Bahrul Sekretaris Keraton serta Harianto,Amd.Par.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP  dalam sambutannya mengatakan, pemilihan Teruna Dara Kutai Kartanegara 2014 diikuti 54 peserta. Selain untuk memeriahkan HUT kota Tenggarong ke- 232 juga sebagai  ajang mencari bakat.” Sekaligus untuk mendukung dunia kepariwisataan daerah”. Sementara Staf ahli Bupati Mengatakan mendukung kegiatan ini sebagai upaya terobosan dalam pemberdayaan kaula muda . diharapkan Teruna Dara Kutai Kartanegara 2014 tetap konsisten mempromosikan Kepariwisataan kutai Kartanegara, sebab jika sector kepariwisataan berkembang akan meningkatkan perekonomian masyarakat Kutai kartanegara.

TERUNA DARA 2014 DIBEKALI MATERI TABLE MANNER

 Setelah seremoni  pembukaan karantina  Teruna Dara 2014, peserta langsung menerima pembekalan materi Table Manner  yang di sampaikan oleh Bapak Harianto, Amd.Par  Manager  Grand Elty Singgasana  didampingi oleh Dara 2013.  Penyampaian pertama mengenai perhotelan baik dari fasilitas, kamar, menu makanan, dan lain – lain yang memenuhi standar. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan Table manner atau cara makan atau jamuan makan yang berupa video penyambutan tamu undangan kenegaraan jamuan makan kenegaraan.

 Dalam penyampaiannya dijelaskan bahwa ada beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat jamuan makan, misalnya berbicara pada saat makan dalam keadaan makanan masih dimulut. Tanya jawab dengan peserta teruna dara Kutai Kartanegara 2014, banyak menanyakan cara beretika dalam makan kemudian makanan minuman yang halal dimakan oleh umat muslim.

Materi Table manner selama ini meliputi penyiapan dan pengaturan meja dengan sebaik – baiknya, cara memenuhi undangan, berpakaian yang rapih untuk menghadiri undangan, cara duduk, cara makan, cara berbicara di tempat perjamuan, dan upaya mengatasi keadaan darurat dimeja makan. Dalam perkembangan materi table manner ini mencakup style dan kreativitas, terutama dalam set up, dekorasi dan penggunaan peralatan.

 “Materi table manner merupakan salah satu materi yang sangat penting untuk diketahui oleh teruna dara karena dapat membentuk etika, sikap, perilaku yang bermanfaat bagi pergaulan secara lebih luas “ dalam pemaparan Harianto selaku pemateri Table Manner.