Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 490
Total Hits : 864,735
Pengunjung Hari Ini : 82
Pengunjung Online : 4
Total pengunjung : 191,608

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

TARI SUI TEMENGANG



Sanggar Tari BENING dari Indonesia Tampil memeriahkan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Jum’at  tanggal 26 Agustus pukul 19.30 Wita di taman Ulin, dengan menampilkan tari Sui Temengang merupakan salah satu tarian tradisional Dayak Kenyah yang gerakannya menggambarkan kehidupan burung enggang. Tari Burung Enggang sangat lekat kaitannya dengan masyarakat dayak di Kalimantan. Di Kalimantan Timur burung ini menjadi inspirasi dalam sebuah tarian, yang biasa disebut tari enggang atau tari Sui Temengang. Gerakan dalam tarian ini adalah semua seakan mengumpamakan penari seperti burung enggang. Pada gerakan tangan terbentang, penari menari seperti burung enggang sedang terbang. Sedangkan pada gerakan bulak balik dan putar memutar, penari menari seperti burung yang berpindah tempat. Selain itu gerakkan menari  yang merupakan gerakan utama atau gerakan Khas Dayak menyerupai burung enggang yang membuka dan menutup sayapnya. Pada saat menari para penari menggunakan bulu burung enggang di tangan sebagai property dalam menari dan di balut dengan busana adat khas dayak dan ikat kepala.


Pada Sesi Berikutnya Group Kesenian Gubang Kids Community, menampilkan Jepen Lenggang Mustika yang menceritakan latar belakang budaya melayu kutai, dibawakan kanak-kanak halus atau anak-anak kecil dengan lenggang atau gerak yang di tarikan nantinya akan menjaadi mustika atau permata keindahan yang lembut serta enegik dalam pesona lenggang mustika.




Dari Manca negara Juga Group Kesenia Estonia dan Rumania yang turut menyemarakan pentas seni Taman Ulin Lapangan Pemuda Tenggarong.





Tari Pemburu Enggang Kreasi




Sanggar Tari Merak Mekar dari Indonesia Tampil memeriahkan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Jum’at  tanggal 26 Agustus pukul 04.00 wita bertempat di Pulau Kumala Tenggarong , dengan menampilkan Tari Pemburu Enggang Kreasi,tari pemburu enggang ini menceritakan keadaan burung enggang yang berada dihutan pulau kalimantan yang merasa terusik oleh ulah pemburu-pemburu satwa ini dan menjadikannya ajang bisnis mewah yang marak di ceritakan di media sosial sekarang ini.






Tari pemburu enggang ini di kutip dari tari enggang yang asli. Disesi kedua Merak Mekar menampilkan TARI ENGGANG yang merupakan Tarian suku dayak kenyah, tari enggang menjadi tarian wajib dalam setiap Upacara Adat suku dayak kenyah, menurut kepercayaan orang Dayak Kenyah nenek moyang mereka barasal dari langit dan turun kebumi menyerupai burung enggang, oleh karena itu masyarakat dayak kenyah sangat menghormati, memuliakan burung enggang, sehingga tari enggang dapat dimaknakan sebagai penghormatan suku dayak kenyah terhadap asal-usul leluhur mereka. Bulu-bulu enggang ini selalu memegang peranan yang penting pada setiap upacara-upacara adat dan tarian-tarian adat kenyah.




Pada Street Perpormace di pulau kumala juga turut di meriahkkan dengan tampilan Group kesenial dari luar Negeri IDAHO – USA dan Taiwan A di setiap akhir pertunjukan para peserta mengajak para penonton baik itu anak-anak maupun orang dewasa untuk menari bersama.





UPACARA ADAT LAEUM NGELEIN






Kerukunan Keluarga Dayak Modang Tenggarong ikut menyemarakkan Pesta Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) bertempat lapangan Basket Turapan Mahakam  pada hari Jum’at 26 Agustus jam.02.00 wita dengan megusung tema  UPACARA ADAT LAEUM NGELEIN PELEKATAN DAN PENGUKUHAN NAMA KETURUNAN SEORANG ANAK MENURUT TRADISI ADAT MODANG. Upacara Adat ini biasanya dilakukan pada saat kelahiran seorang anak, karunia ini menjadi kebanggaan dan kegembiraan dan disambut dengan suka cita, tidak hanya oleh ayah dan ibunya tetapi oleh seluruh keluarga dan kerabat sang anak itu sendiri. Kelahiran seorang anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya saja tetapi menjadi tanggung jawab keluarga besar dan komunitas. Dengan demikian peranan kepala adat, pengurus adat, pemangku adat benar-benar dijalan sebagaimana  mestinya.




Sebelum di beri nama sang anak dan kedua orang tuanya akan menjalani berbagai prosesi adat dimana anak yang akan dilekatkan nama bersama orang tua dan pendamping berangkat dari rumah menuju tempat pelaksanaan Adat (gueng teuh) setibanya ditempat pelaksanaan adat, kaki kanan seorang anak akan diinjakkan pada dapur adat, lalu duduk ditempat yang telah di tentukan. Rangkaian upacara adat dilanjutkan dengan monolog (nyekaeng) kepada tuhan yang maha esa (Poq Metae) dan leluhur, untuk menyatakan keinginan tentang pelaksanaan adat pelekatan nama pada tempat ritual adat oleh pemangku adat. Dilanjutkan pemotongan rambut sianak simbolik pelepasan, pembersihan diri anak dari hal-hal yang dipandang dapat berakibat kesialan, merugikan, menghambat pertumbuhan dan perkembangan sianak.







Prosesi Net Leug mengajukan permintaan nama yang akan dilekatkan pada sang anak, lewat ritual net leung dengan sarana daun pisang ambon hingga di kabulkan, pelekatan nama kepada sang anak dengan simbolik mengikatkan gelang manik pada pergelangan tangan serta memasang topi adat (TEPAE), pengukuhan nama sang anak dilengkapi dengan ritual menginjakan kaki kanan anak pada babi, pengukuhan nama yang telah dilekatkan pada anak disampaikan kembali oleh sang babi kepada leluhur dialam baka dan kepada tuhan yang maha esa. Kemudian babi jantan disembelih, darah ditampung dalam tempat yang sudah disediakan, pengolesan darah babi pada sang anak, pakaian adat, barang adat dan tempat ritual untuk memasak sesajen adat dalam bambu berupa darah, jantung, hati, limpa, ginjal, telur dimasukkan dalam bambu lalu dimasak, kemudian sesajen dibungkus dalam daun pisang ambon sebanyak 8 bungkus dilletakkan dalam kelengkang (Legeag) digantung pada bambu dekat Tenkaeg/Telesag dibawah kelengkang di gantung tulang rahang dan persendian leher babi, Nyekaeng penyerahan sesajen masak PAKEAN SAIG kepada leluhur dan yang maha kuasa.





Partisipan EIFAF Mainkan Olah Raga Tradisional Kutai


Seluruh peserta partisipan EIFAF 2016 melakukan Cultural Visit acara ini selain melihat bangunan dan tradisi kehidupan Suku Dayak yang berada di Dayak Experience Center juga mengikuti lomba olahraga tradisional, para peserta yang datang di lamin bioq langsung disambut dengan musik sampek khas suku dayak kenyah, juga ada kegiatan menenun kain ulap doyo dan ini yang menjadi perhatian para peserta EIFAF.







Setelah mengunjungi Dayak Experience Center para peserta mengikuti olah raga tradisional, tampak keriuhan terdengar dari masing masing Negara untuk mendukung tim yang sedang bertanding dalam Eksibisi Cabang Olah Raga Tradisonal Khas Kutai, dan seluruh peserta menjajal kemampuan nya dalam olah raga ini.







Meskipun permainan olah raga ini baru pertama kali dimainkan namun antusias dari peserta untuk memainkan olah raga ini sangat tinggi hal ini bisa dilihat ketika mencoba permainan betisan yang memerlukan kesimbangan tubuh ada peserta yang langsung bisa memainkannya, hal menarik lainnya adalah karena olah raga ini tidak terdapat di negara mereka.







Semantara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan bahwa para peserta EIFAF dikenal kan dengan beberapa cabang permainan olah raga tradisional Kutai Kartanegara seperti Engrang, Begasing, Menyumpit, dan Bakiak. Menurutnya ini sudah menjadi tahun kedua bagi peserta EIFAF untuk memainkan olah raga tradisional dan kembali untuk eksebisi tahun ini di sponsori oleh Bankaltim.







Dalam permainan olah raga tradsional kali ini peserta dari Negara Idaho (USA) berhasil menjadi jura umum setelah mendominasi seluruh cabang olah raga tradisional


Samrah Dan Rabana




Walaupun cuaca dingin dan peserta dari Negara – Negara asing tidak tampil tetapi penonton tetap antusias yang melihat penampilan di Pentas Seni Taman Ulin pada kamis tanggal 25 Agustus 2016, yang tampil pada saat itu ada dua group kesenian dari Tenggarong yaitu dari group Elyassar dan group Rabana. Hadir pada acara pentas seni Taman Ulin yaitu Kepala Bidang Pengelolaan Obyek dan Sarana Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Siswan Hermantoko dan Kasubbag Penyusunan Program bapak Yuniarto.




Tampialan yang disuguhkan dari group Elyassar mampu memukau penonton yang hadir, group kesenian ini manari dan bernyanyi lagu – lagu yang bernuansa Arab. Negara delegasi memang tidak tampil pada hari kamis malam dikarenakan peserta delegasi tersebut pada siangnya melakukan green Tenggarong yang diadakan di Waduk panji Sukarame dan Culture Visit di Amin Biok di Pulau Kumala.




Penampilan selanjutnya ditampilkan dari group rabana yang juga mampu memukau penonton yang hadir, lagu – lagu yang mereka tampilkan berbau islami sehingga penonton terpukau menyaksikannya.


Mamanda Panji Berseri Pentaskan “ Bangkit Dari Kubur”


Didalam sebuah kerajaan tumbuhlah sebuah perempuan yang bernama melati, Putri dari Raja Darma Wangsa dan Permaisuri  Mayang Sari, dan kehidupannya nya dalam suasana bahagia dalam Istana, karena merasa cukup dewasa dalam Istana sang putri pun meminta kepada sang raja dan permaisuri untuk meminta ijin untuk keluar Istana  dan jalan-jalan ke Pedesaan.







Dengan dikawal dengan Prajurit Demong dan Dayang, hatinya pun sangat senang dan selalu ramah bertemu dengan setiap orang yang ditemuinya di pedesaan, namun sang putri tidak mengetahui tentang keadaan diluar sana.








Pada sore hari dalam perjalanan  pulang ke istana rombongan sang putri, dicegat  segerombolan Perampok yang terkenal kejam dan begis, pertarungan pun tak terelakkan lagi antara para perampok dan perajurit Istana, dalam pertarungan yang tak seimbang itu beberapa prajurit terbunuh dan lainnya bisa meloloskan diri dari sergapan perampok tersebut, namun tidak demikian nasib yang menimpa sang putri, ia ditangkap dan diperkosa serta dibunuh dan mayat nya pun dibuang di tengah hutan.







Pada keesokan harinya masyarakat desa gempar dengan ditemukan sosok mayat perempuan oleh seorang warga yang sedang mencari kayu bakar, dan hal ini dilaporkan ke Istana, pihak Kerajaan mengutus panglimanya untuk membawa mayat tersebut ke istana dan betapa terkejutnya Raja dan Permaisuri ternyata mayat tersebut adalah putri kesayangan mereka, sang raja pun murka dan memerintahkan panglima kerajaan untuk menangkap para perampok yang telah membunuh sang putri.








Untuk menebus kesalahan para Prajurit demong yang lalai menjaga Melati, raja memerintahkan untuk menjaga makam Melati selama 40 hari, namun pada malam hari ada kejadian yang mengerikan tampak  bayangan putih muncul dari kubur melati, yang menyebabkan para Prajurit lari tunggang langgang ketakutan dan hal ini dilaporkan kepada raja, namun raja tidak mempercayainya raja pun penasaran dan malam hari ikut prajurit ke makam melati, dan kejadian malam sebelumnya terulang kuburan melati mengeluarkan asap dengan dibarengi bayangan putih yang menyeramkan, melihat hal itu raja pun mengatakan bahwa para pembunuh melati sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, dan meminta agar melati ikhlas menerima takdir ini dan tenang di Alam sana, setelah itu bayangan putih tersebut lenyap dan suasana pun menjadi tenang.








Kisah yang menimpa Putri Raja Darmawangsa tersebut adalah cerita rakyat Kutai yang dipentaskan oleh kelompok seni Mamanda Panji Berseri dengan judul Bangkit dari Kubur, pementasan Mamanda atau Teater Khas Kutai ini merupakan suguhan dalam pentas seni dalam rangka EIFAF 2016 yang digelar pada Kamis malam (25/8) di Pentas seni Lapangan Basket turap Mahakam

Pembacaan Berzanji Di Keraton Kutai Kartanegara


Acara Bepelas yang dilaksanakan setiap malam selama Erau Adat Kutai, namun khusus malam Jum’at, acara bepelas ditiadakan dan digantikan dengan pembacaan Berzanzi, Bertempat di keraton Kutai Kartanegara, Kamis 25 Agustus 2016 , tepat pukul 20.00 Wita acara pembacaan berzanji dilaksanakan, acara ini dihadiri langsung oleh Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II, Putra Mahkota, Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah, kerabat kesultanan serta para undangan.





Pembacaa Berjanzi ini di pimpin oleh Imam Jahidi dari kelompok Hadrah Al Fatah, yang beranggotakan 40 orang, arti dari Berzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.









Acara pembacaan berjanzi diakhiri dengan  pembacaan doa, dan dilanjutkan dengan tari Rudat yang dibawakan 10 orang, tarian ini mirip dengan tariam saman dari Aceh, yang mana setiap gerakan tarian rudat adalah Zikir Kepada Allah SWT.








Tampilan Belian Sentiu Dayak Benuaq






Dalam rangka memeriahkan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival salah satunya adalah Upacara Adat yang kali ini ditampilkan dari Sanggarr Tari Pondok Karya . mereka menampilkan tari Belian Sentiu, tampilan ini dilaksanakan di Plaza Pulau Kumala tepatnya dari pukul 16.00 Wita sampai selesai.




Tari Belian Sentiu merupakan upacara adat yang dilakukan oleh suku Dayak Benuaq untuk mengobati orang sakit, dimana pada zaman dahulu kala apabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit maka keluarga dari mereka melakukan upacara adat Belian Sentiu guna untuk menyembuhkan keluarga yang sakit tadi. Belian Sentiu bias dilakukan/dilaksanakanoleh satu pawing atau lebih.






Pertama – tama para pawing meniup peluit (peluitdari taring macan/beruang) setelah itu para pawing membaca mantera guna memanggil roh para leluhur, kemudian para pawing menari – nari dan berputar – putar serta menghampiru orang yang sakit tadi guna menyembuhkannya keluarga yang sakit. Belian Sentiu ini juga di iringi alunan musik yang diantaranya kentangan (gamelan), gimbar (gendang), dan gendik (gong).





Menyumpit Dan Asen Naga







Dalam rangka memeriahkan pesta Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (EIFAF), berbagai jenis olah raga tradisional di perlombakan diantaranya Olah Raga Menyumpit, Lomba Asen Naga, Begasing, Lomba Perahu Naga, Lomba Ketinting, Lomba Gubang Lunas dan Asen Naga.

Lomba Menyumpit di ikuti oleh 5 Daerah yang di laksanakan di lapangan Pemuda Tenggarong pada hari Kamis 25 Agustus 2016, diikiuti sekitar 50 peserta, Putra sebanyak 40 Orang dan putri 10 Orang seluruh peserta berasal dari Kabupaten Kota di Kalimantan Timur, Yaitu Kutai Barat, Kutai Timur, Mahakam Ulu, Bontang serta Kutai Kartanegara. Pelaksanaan Lomba di mulai pada tanggal 25 Agustus dan berakhir pada 26 Agustus  ini mepertandingan Katagori menyumpit dengan Jarak 20-25 dan 30 meter untuk putra sedang kan untuk putri 15-20 meter.









Yuvensius selaku Koordinator pelaksana mengatakan. Olahraga menyumpit membutuhkan konsentrasi tinggi karena harus menyumpit dengan menghembuskan angin dari mulut agar anak sumpit bisa sampai ke target sasaran,Yunensius juga menambahkan agar generasi muda yang ada dikutai kartanegara khususnya untuk dapat mengembangkan dan melestarikan olah raga tradisional menyumpit.









Sementara di tempat yang sama juga berlangsung lomba Asen Naga masih dalam rangka memeriahkan erau 2016, permainan Asen Naga terbilang Unik dan menarik karna dimainkkan secara berkelompok sebanyak 7 orang dalam setiap kelompok inti dalam permainan ini menghadang lawan agar tidak bisa melewati garis ke garis berikutnya sampai dengan garis terakhir, yang dilakukan secara bolak balik melalui garis tersebut dan tidak mengenai atau tersentuh oleh lawan maka akan mendapatkan satu poin. dengan menggunakan lapangan 9x5m yang dibagi menjadi 6 bagian garis batas dari setiap bagian.













Lomba Gubang Lunas Dan Perahu Naga



Dalam rangka memeriahkan pesta Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (EIFAF), berbagai jenis olah raga tradisional di perlombakan diantaranya Olah Raga Menyumpit, Lomba Asen Naga, Begasing, Lomba Perahu Naga, Lomba Ketinting, Lomba Gubang Lunas dan Asen Naga.

Lomba Gubang Lunas telah dilaksanakan sejak tanggal 21 Agustus dan berakhir pada tanggal 23 Agustus perlombaan di mulai pada pukul 08.00 wita, dan di laksakkan di sungai mahakam Tenggarong yang memakai jalur antara jembatan bongkok dan jembatan besi dengan jarak tempuh 200m. Diikuti sebanyak 154 Peserta yang berasal dari berbagai kecamatan di Kutai Kartanegara,  lomba gubang lunas ini memperlombakan 3 katagori Umum, Pelajar dan perorangan dengan jumlah 40 Putra dan 35 Putri sedangkan katagori beregu dengan jumlah 50 putra dan 29 putri.




Lomba Perahu naga juga ambil bagian dalam rangka memeriahkan Erau tahun 2016 ini, bertempat di Dermaga Pulau Kumala Turapan Mahakam Tenggarong, perlintasan Lomba memakai alur mahakam  antara arah Pulau Kumala dengan turap di Timbau Tenggarong. Di ikuti sebanyak 32 peserta dengan 2 katagori yakni 16 Peserta Pelajar dan 17 dari umum. Denagn jarak tempuh 400m.




Adapun Juara I lomba perahu naga tingkat umum di raih Tim Macan Dahan Kubar yang berhasil mencapai garis finis pertama , Juara II di raih Tim Praja Gym Pol PP Tenggarong dan Juara ke III Tim Laki-LKK Kutai dengan. Sementara Katagori Tim Pelajar di Juara oleh tuan rumah Tenggarong, Juara II Tim Kota Bangun A, dan Juara III Tim Muara Kaman. Para Juara nantinya akan mendapat kan uang pembinaan, Piala dan Piagam Penghargaan.