Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 927
Total Hits : 821,912
Pengunjung Hari Ini : 161
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 182,378

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Lomba Gubang Lunas Dan Perahu Naga



Dalam rangka memeriahkan pesta Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (EIFAF), berbagai jenis olah raga tradisional di perlombakan diantaranya Olah Raga Menyumpit, Lomba Asen Naga, Begasing, Lomba Perahu Naga, Lomba Ketinting, Lomba Gubang Lunas dan Asen Naga.

Lomba Gubang Lunas telah dilaksanakan sejak tanggal 21 Agustus dan berakhir pada tanggal 23 Agustus perlombaan di mulai pada pukul 08.00 wita, dan di laksakkan di sungai mahakam Tenggarong yang memakai jalur antara jembatan bongkok dan jembatan besi dengan jarak tempuh 200m. Diikuti sebanyak 154 Peserta yang berasal dari berbagai kecamatan di Kutai Kartanegara,  lomba gubang lunas ini memperlombakan 3 katagori Umum, Pelajar dan perorangan dengan jumlah 40 Putra dan 35 Putri sedangkan katagori beregu dengan jumlah 50 putra dan 29 putri.




Lomba Perahu naga juga ambil bagian dalam rangka memeriahkan Erau tahun 2016 ini, bertempat di Dermaga Pulau Kumala Turapan Mahakam Tenggarong, perlintasan Lomba memakai alur mahakam  antara arah Pulau Kumala dengan turap di Timbau Tenggarong. Di ikuti sebanyak 32 peserta dengan 2 katagori yakni 16 Peserta Pelajar dan 17 dari umum. Denagn jarak tempuh 400m.




Adapun Juara I lomba perahu naga tingkat umum di raih Tim Macan Dahan Kubar yang berhasil mencapai garis finis pertama , Juara II di raih Tim Praja Gym Pol PP Tenggarong dan Juara ke III Tim Laki-LKK Kutai dengan. Sementara Katagori Tim Pelajar di Juara oleh tuan rumah Tenggarong, Juara II Tim Kota Bangun A, dan Juara III Tim Muara Kaman. Para Juara nantinya akan mendapat kan uang pembinaan, Piala dan Piagam Penghargaan.




Fashion Adat Kanak Cilik





Lomba Fashion Adat Kanak Kutai kembali diselenggarakan untuk menyemarakkan EIFAF yang ke empat tahun 2016. Event ini diselenggarakan hari Rabu, 24 Agustus 2016 di arena EXPO Stadion Aji Imbut Tenggarong Seberang. Lomba yang dimaksudkan untuk menguji bakat  buah hati dalam bidang fashion show adat ini dibagi dalam tiga kategori yaitu kategori pertama atau Kategori A untuk anak usia 4-7 Tahun, Kategori yang kedua atau Kategori B untuk anak usia 8-10 Tahun dan kategori yang ketiga yaitu Teruna Dara Cilik untuk anak usia 11-15 tahun.


  


Dalam penilaiannya tidak berbeda dengan fashion show biasa yang telah sering diselenggarakan. Di mana para peserta tampil di atas panggung dengan gaya dan expresi sesuai dengan busana yang dipakai dan dalam event ini sesuai dengan temanya yaitu Lomba Fashion Adat Kanak Kutai, para peserta memakai baju adat Kutai yang mencerminkan kecintaan mereka terhadap adatmereka  sendiri yaitu adat Kutai. Sedang make up, dress, catwalk dan jenis kelamin adalah penilaian lain dalam event ini. Dengan musik pengiring yang disediakan oleh Panitia anak-anak ini berlenggak-lenggok di atas panggung.



PARTISIPAN EIFAF IKUT MENANAM POHON DI GREEN TENGGARONG


Dalam upaya menghijaukan kawasan waduk Sukarame Tenggarong dan mengurangi efek dari Pemanasan Global yang saat ini melanda dunia, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar bekerja sama dengan Pihak Bankaltim mengadakan acara Green Tenggarong yang kegiatannya dipusatkan di obyek wisata Waduk Panji Sukarame, Kamis (25/8) yang merupakan rangkaian dari Erau Adat Kutai International Folk Art Festival (EIFAF) 2016







Kegiatan Green Tenggarong berupa penanaman berbagai macam pohon buah khas Kutai dengan melibatkan para delegasi dari berbagai negara peserta EIFAF 2016. Hadir pada acara yang telah menginjak tahun keempat ini, Plt Sekda Kukar H Marli, para pejabat di lingkungan Pemkab Kukar, perwakilan unsur Forkopimda, dan para Presiden CIOFF negara peserta dan EIFAF partisipan 2016.







Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan, kegiatan Green Tenggarong merupakan bagian tak terpisahkan dari EIFAF yang telah dilakukan secara berturut-turut.

Green Tenggarong  bertujuan meningkatkan kepedulian  tentang arti pentingnya penanaman dan pemeliharaan pohon yang berkelanjutan, dalam rangka mengurangi dampak pemanasan global, menurut Kadis Disbudpar ada 125 bibit pohon  bantuan dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan yang ditanam dikatakannya Tahun lalu kita melaksanakan Green Tenggarong di Pulau Kumala dan tahun ini  kembali kita melaksanakan di Waduk Panji Sukarame untuk menghijaukan Waduk Panji Sukarame, mengingat daya tarik wisata ini akan dikembangkan dan  Insya Allah tahun depan kami akan bangun taman bunga di kawasan ini,”







Bupati Kukar Rita Widyasari dalam sambutannya yang disampaikan  Plt Sekda  mengatakan sesuai dengan tema peringatan hari lingkungan hidup se-dunia tahun 2016, yaitu “Go Wild For Life”, tema ini merujuk pada agenda aksi perdagangan satwa liar, di mana saat ini di Indonesia lebih dari 270 spesies hewan telah terancam punah dengan status kritis dan membahayakan, ia berharap kegiatan penanaman pohon ini menjadi momentum yang akan menjadi  kebanggaan semua terutama peserta EIFAF mancanegara.  Pohon yang hari ini ditanam, agar diniatkan akan dipelihara dengan sebaik-baiknya, sehingga akan kelihatan manfaatnya setelah lima tahun kemudian dan mudah-mudahan generasi pengganti penerus kelak akan mengenang upaya pelestarian lingkungan ini.

ia juga mengajak warga masyarakat Kukar untuk ikut  berpartisipasi menanam sekaligus memeliharanya.

Bupati menyampaikan rasa terima kasihnya  kepada para peserta EIFAF dalam menyukseskan kegiatan penanaman pohon Green Tenggarong ini, khususnya kepada Bankaltim yang setiap tahun telah menjadi partnership Pemkab Kukar.







Green Tenggarong ditandai penyerahan bibit pohon kepada Presiden CIOFF negara peserta oleh Plt. Sekda, Kadis Disbudpar,Perwakilan Bankaltim, dan perwakilan unsur Forkopimda.








“ Sanggar Tari Senduru’’










Bertempat di Stadion Olah Raga Aji Imbut Tenggarong Seberang Pentas seni Erau Adat Kutai dan Internasional  Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Rabu tanggal 24 Agustus Sangar seni Senduru  tampil mewakili Indonesia pada perhelatan Erau dengan menampilkan Tarian Jepen Nutu padi, tarian ini menceritakan tentang bagai mana proses mengolah beras mulai dari butir-butir padi dengan menggunakan lesung batu kecil, Tarian ini menggambarkan proses dari penanaman, memanen, merisai atau merontokkan padi dari tangkainya, tarian ini ditarikan sekelompok pemudi kampung, mereka menumbuk lesung dengan cara menari-nari.







Di sesi kedua Lithuania tampil dengan mempersembahkan dua tarian, tarian pertama TEPURIN menari dengan Topi tarian salam dan selamat datang biasanya ditarikan oleh para gadis. Tarian kedua PI PENU atau sang pengembala yang menceritakan tentang kehidupan sebuah Negara di mana para pengembala remaja laki-laki dan perempuan,bersenang senang bersama.







Sesi ketiga group kesenian Uyai Tiga dari Indonesia menampilkan “Satu Buah Persembahan Enggang Terbang di Hutan Belantara” yang menceritakan tarian enggang terbang dihutan belantara adalah tarian lehes suku dayak kenyah yang ditarikan oleh sekelompok gadis suku dayak kenyah dengan menggunakan hiasan kepala bermotiv burung enggang, dengan dua tangan yang memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung enggang dan menggunakan pakaian khas dayak kenyah. Budaya adat dayak kenyah sejak  Zaman nenek moyang adalah menyambut tamu dengan tari-tarian enggang terbang di hutan belantara adalah salah satunya yang ditarikan pada waktu menyambut tamu penting, tarian enggang terbang juga biasanya di tarikan pada acara Adat pesta panen dan acara-acara besar lainnya.

Dalam pementasan tarian ini menjadi wajib dan selalu ditarikan, tarian enggang ini mengisahkan perpindahan masyarakat dayak kenyah dari satu tempat ke tempat lainnya secara berkelompok tetapi tetap bersatu, tarian burung enggang ini terkandung arti sebagai bahasa budaya dan mempererat tali persoudaraan antar suku bangsa di Indonesia maupun manca Negara





LOMBA TARI JEPEN KREASI










Pada Tahun 2016  Panitia Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival Mengadakan Lomba Tari Jepen Kreasi yang dilaksanakan selama 2 hari, pada tanggal 23-24 hari Selasa dan Rabu di mulai pada pukul : 09.00 Wita sampai dengan selesai. Pelaksanaan Lomba di pusatkan di Panggung Hiburan Lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam Timbau. Pada Lomba Kali ini di ikuti sebanyak 16 Group Kesenian yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara, yaitu : Group Kesenian Karang Melenu Tenggarong, Jongkang Berseri Tenggarong Seberang, Exstratra SMAN.2 Tenggarong, MAN.2 Tenggarong, Senduru Muara Wiss, Shinjupen Tenggarong, SSAB Desa Lebakmantan, Seni Budaya Tenggarong, Tari Bebaya Tenggarong, Tradacom Smansa Tenggarong, SMAN.2 Sebulu, SMK.1 Marang Kayu, Adilla Tenggarong, Teratai Tenggarong, dan SMPN.2 Muara Kaman. Syarat, ketentuan dan kreteria Penilaian Lomba di tentukan oleh panitia. Group Kesenian SMP N.2 Kecamatan Sebulu  ikut meramaikan Lomba Tari Kreasi Jepen, beranggotakan 6 Orang Group Kesenian SMP N.2  Kecamatan Sebulu, membawakan Tari Jepen Begenjoh, merupakan tari kreasi yang terinspirasi dari tari jepen tradisional. Sebagian besar gerakan dalam tari ini bersumber dari tari Jepen Tradisional. Secara umum dapat di katakan bahwa tari jepen begenjoh merupakan gerakan yang dinamis,atraktif dan energik, tetapi tetap bersahaja dan merepresentasikan kebudayaan kutai. Penari Jepen Begenjoh juga di lengkapi dengan tongkat dan selendang yang merupan atribut pendukung dalam pementasannya.







Kemudian Tampil juga Group Kesenian dari SMK.I Kecamatan Marang Kayu beranggotakan 7 orang yang menampilkan Jepen Bubuh Pesisir, menggambarkan Kehidupan sehari-hari mesyarakat pesisir dalam mencarin ikan, yang disimbolkan melalui gerakan yang energik serta dinamis dengan menggunakan properti melalui pakem-pakem gerak Jepen yang Harmonis dengan musik pengiring yang berakar budaya Kutai Kartanegara.

Jepen Peelan Kanak juga tampil pada lomba ini yang, menceritakan tentang perilaku (peelan) kelakuan sehari-hari anakyang penuh keceriaan dengan kehidupan pergaulan sebayanya. Namun sering terjadi perilaku yang terlalu sibuk akan kesenangan hingga lalai, malas, dan sering menunda akan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan menggunakan property ayaman bambu berbentuk kerucut sebagai alat pendukung. Sehingga membawa pesan tersendiri dari tarian yang dibawakan.

Pada Lomba Tari Jepen Kali ini keluar sebagai pemenang Terbaik I Group Kesenian Shinjupen dari Kecamatan Tenggarong nomor peserta 06 dengan hadiah sebesar Rp.2.500.000,- terbaik II Group Kesenian SMK.I Kecamatan Marang Kayu nomor peserta 12 dengan Hadiah Rp. 2.000.000,- dan terbaik  III Group Kesenian dari Kecamatan Tenggarong dengan nomor peserta 14 mendapat hadiah sebesar  Rp.1.500.000,-





“ TARI RAMPAK REBANA ’’










Gruop Kesenian SMP N.2 Kecamatan Marang Kayu  ikut meramaikan Festival Seni Tradisi Kutai, bertempat di Pentas Seni Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam, beranggotakan 15 Orang Group Kesenian SMP N.2  membawakan tari rampak rebana, merupakan tari kreasi baru dan mempunyai keunikan tersendiri yaitu gerakan yang Atraktif dan penuh semangat. Peran Tari ini mempunyai peran sebagai tari penyambut tamu, dan menghibur tamu. Kesan yang ditimbulkan pada saat memainkan tari ini adalah membuat seseorang menjadi lebih bersemangat dan tertarik untuk melihat tarian ini. Yang menarik dari tarian ini adalah iringan tari berupa alat musik gendang, dan busana tari berupa pakaian tradisional yang dipadukan dengan ornament-ornament modern dan elegan.











“ JEPEN REMPAK BEGENJOH ’’








Gruop Kesenian Teratai dari Tenggarong ikut meramaikan Festival Seni Tradisi Kutai, bertempat di Pentas Seni Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam, beranggotakan 14 Orang Group Kesenian Teratai  menampilkan Jepen Rempak Begenjoh merupakan sebuah tarian kreasi baru yang ditarikan oleh remaja-remaja purti dipesisir mahakam. Tarian ini diiringi alat musik seperti Gambus, Jimbe, Gendang Jawa, Rempak, dan Perkusi. Tarian ini menceritakan tentang keceriaan, kegembiraan dan kebersamaan para remaja-remaja putri yang sedang menari bermain rempak dengan riang gembira tanpa meninggalkan gerak dasar jepen dari tarian tersebut.





“ MEHARIT JEPEN MAHAKAM ’’










Kelompok Seni Adilla dari Kecamatan Tenggarong berpartisipasi dalam acara Festival seni tradisi kutai. Bertempat di Pentas Seni Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival di Lapangan Basket  Turapan Sungai Mahakam. Kelompok Seni yang beranggotakan sebanyak 12 Orang ini menampilkan Tari Meharit Jepen Mahakam merupakan karya tari garapan yang dikembangkan dengan tidak meninggalkan unsur dari tarian jepen Kutai yang mengangkat tema lingkungan. Meharit dalam makna bahasa kutai berarti prihatin, prihatin melihat sungai merotak (kotor) prihatin melihat sungai tercemar. Tarian ini menggambarkan kondisi Sungai Mahakam sebagai sumber kehidupan namun tercemar oleh limbah rumah tangga ataupun Rumah Industri yang berada disepanjang aliran sungai Mahakam. Tarian ini memberikan kesan pesan yaitu jika Mahakam bisa bicara, pasti semua orang akan mendengar jeritan bahkan keluhannya kepada manusia yang melintas diatasnya tampa permisi, namun merusak dan mencemarinya. Tarian ini menampilkan gerakan-gerakan yang atraktif dinamis sarat dengan makna bahwa sungai mahakam seyogyanya adalah awal kehidupan, bukan dari akhir dari kehidupan. Yok etam Jaga Mahakam.




TARI DATUN JULUD PEMUNG JA’E






Bertempat di Pulau Kumala Tenggarong , Group Kesenian Yayasan Benaong dari Indonesia  mendapat kesempatan untuk tampil perdana Street Performance Erau Adat Kutai And International Folk art Festival (EIFAF), pada hari Rabu tanggal 24 Agustus 2016, jam. 16.00 wita, Yayasan Benaong  membawakan TARI DATUN JULUD PEMUANG JA’E, tari yang menceritakan kehidupan sehari-hari suku dayak kenyah seperti aktivitas pergaulan yang selalu menerapakan norma-norma adat yang yang sopan santun,keramah tamahan, serta saling menghormati dan menghargai.






Romania menampilkan tarian Dance From Aries, tarian berpasangan dari masyarakat gunung Apuseni, tarian ini di tarikan pada hari minggu setelah dari gereja, pernikahan dan acara tertentu. FOCIORESC ditarikan hanya oleh laki-laki, tarian ini baru saja diterima oleh UNESCO di kebudayaan tak berbenda. Tarian ini adalah tarian Kompetisi untuk menunjukan siapa yang terbaik. Pada sesi kedua Romania menampilkan tarian Crihalma yang di tarikan oleh perempuan, bahwa ingin menunjukkan ke laki-laki bahwa mereka bisa menari. Di sesi ke tiga menampilkan tarian Dance from Urca.




Bulgaria menampikan tarian Dshinovski Tants, Trakiiski Tants, kedua tarian ini berasal dari daerah Thrace, tarian ke tiga berasal dari bulgaria utara, tarian keempat dari daerah shopski. Keempat tarian ini di bawakan oleh laki-laki dan perempuan dan di akhir pertunjukan mereka mengajak penonton menari bersama.





Tarsulan Seni Budaya Suku Kutai






Tarsulan adalah salah satu seni budya suku Kutai yang sampai sekarang masih ada di dalam masyarakatnya. Kalau dilihat dari tujuan digelarnya; tarsulan ini ada dua macam, yaitu:Tarsulan Berkhatam Al Quran dan Tarsulan Perkawinan. Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quranberkaitan dengan tardisi agama, khususnya agama Islam. Sedangkan Tarsulan Perkawinanberkaitan dengan tradisi adat perkawinan suku Kutai. Tradisi tarsulan diawali masuknya agama Islam di daerah Kerajaan Kutai Ing Kertanegara. Seperti kita ketahui agama Islam berasal dari Arab yang masuk ke Nusantara ini melalui para pedagang Gujarat. Maka tidaklah mengherankan bersama masuknya agama Islam, masuk pula seni sastranya yang di antaranya bentuk ’syair’. Dari bentuk syair inilah yang menimbulkan keinginan dari salah seorang bangsawan Kutai untuk menciptakan seni sastra yang dapat dikaitkan dengan adat budaya suku Kutai tersebut. Maka sesuai ’nafas’ Islamnya lahirlah Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran dan dilanjutkan dengan Tarsulan Perkawinan. Oleh sebab itu tidak heran kalau ada anggapan bahwa seni budaya tarsulan adalah seni budaya milik kaum bangsawan kerajaan Kutai bukan milik masyarakat umum. Namun ternyata tarsulan ini juga memasyarakat dalam suku Kutai, khususnya Tarsulan Berkhatam/Betamat Al Quran.

Menurut hasil penelitian; dahulunya tuturan Tarsulan tersebut disampaikan olehPenerasul dengan cara menghafal. Tetapi dalam perkembangannya karena Penerasul merasa sulit untuk menghafal, maka mereka menggunakan bentuk tertulis (naskah). Dengan demikian pada masa sekarang ini orang yang beterasul diistilahkan dengan membaca terasul ataupembacaan terasul. Walaupun begitu di daerah pedalaman (di sekitar Danau Jempang) masih ada Penerasul yang menyampaikannya dengan menghafal. Penerasul tersebut mengatakan bahwa Beliau belajar ’Berterasul’ tersebut dengan cara dilisankan (pewarisannya secara lisan).

Lomba Seni Tulis dan Baca Tarsul Berpasangan ini diikuti oleh 5 pasangan. Sedangkan untuk hadiah pada perlombaan Festival Seni Tradisi Kutai adalah juara I uang binaan sebesar Rp. 2.000.000,-, juara II uang binaan sebesar Rp.1.500.000,- dan juara III uang binaannya sebesar Rp.1.000.000,-. Lomba Seni Tulis dan Baca Tarsul Berpasangan yang di adakan di Panggung Turap Tepian Mahakan pada Rabu tanggal 24 Agustua 2016 dengan pemenagnya adalah juara I M. Rahmad – Mewani dari Tenggarong, juara II Nazrie – Isna dari Sebulu dan juara III Darjat – Dayang dari Tenggarong.