Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 76
Total Hits : 933,993
Pengunjung Hari Ini : 43
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 210,264

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Tradisi Ngetam Padi Adat Bahari




Prosesi Ngetam Padi Adat bahari yang merupakan salah satu tradisi jaman dahulu kini diangkat kembali oleh masyarakat Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu yang dilaksanakan dusun III Durung pada hari Rabu (01/02/2017). Dalam acara ini hadir Kepala Dinas Pariwisata  Sri Wahyuni, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Erwan Riyadi, Kasdim 0906/Tenggarong Mayor Inf A Inkiriwang, mahasiswa, seniman dan budayawan serta masyarakat desa Jembayan



Menurut Sofyan selaku Panitia Pelaksana Lembaga Adat Pagar Betis Jembayan , pada jaman dahulu nenek moyang suku Kutai memiliki tradisi dalam hal memotong padi menggunakan alat yang disebut Rekapan "Jadi proses memotong itu diawali dengan mengikat padi menggunakan daun padi, kemudian kita ambil tangkainya yang dipotong sebanyak 7 batang. Tangkai yang  dipotong tadi digantung di pondok yang ada di huma  tempat penyimpanan padi, setelah itu barulah dimulai proses pemotongan padi yang lain," terangnya.



Padi yang telah dipotong itu kemudian diletakkan didalam pondok hingga setinggi padi yang telah digantung sebelumnya. "Tujuannya dengan niat agar padi yang kita tumpuk tadi jika padi yang diatas telah habis, maka barulah padi yang dibawah juga habis,"tutur Sofyan. dalam proses pengikatan padi biasanya warga akan melakukan ritual dengan menahan nafas dan membaca niat didalam hati agar pemotongan padi tidak cepat selesai. "Artinya, setiap hari saat orang memotong padi itu seakan-akan padinya terus bertambah, itu filosofinya orang-orang tua kita dahulu,"






Selain prosesi Ngetam Padi, lanjutnya, juga dilaksanakan Ngande Budaya Huma atau berbincang-bincang mengenai tujuan dari kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya dilakukan proses pembuatan Lunau dan kemudian merontokkan padi menggunakan bambu yang disebut dengan Mengehor. "Jadi nanti padi yang sudah dikehor dimasukkan kedalam wajan untuk disangrai yang dalam bahasa Kutai dikenal dengan istilah Mehantui. Setelah dirasa cukup teksturnya, baru padi ditumbuk seperti membuat beras biasa dan ditampi,"



Sebelum dimakan bersama oleh warga, undangan, maupun pemilik hajat, beras yang telah dimasak menjadi nasi tersebut diberikan kepada 'Besi' atau alat-alat yang digunakan untuk bertani. "Maksudnya besi-besi ini tadilah yang telah berjasa sehingga padi-padi bisa kita hasilkan



Sementara itu Kepala Desa (Kades) Jembayan, Samsu Arjali, mengapresiasi tradisi bahari yang dihidupkan kembali oleh warga desanya. "Karena tujuannya tiada lain untuk menggalakan gotong royong, kemudian untuk menggali kearifan lokal yang ada di desa kami



Menurut Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Sumarlan, mengakui budaya ngetam padi tetap harus dihargai sebagai perjalanan mengenang sejarah pertanian, namun kedepannya pertanian harus lebih modern dengan didukung oleh mekanisasi. "Dulu tradisi yang berkembang di masyarakat adalah panen dengan menggunakan ani-ani, tapi untuk hal semacam itu untuk saat sekarang kita rasa sangat lambat, kita sekarang sudah mengembangkan mesin panen Combine Harvester, bagaimana padi dipanen menggunakan mesin dan keluar menjadi gabah,".



Dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Pariwisata mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Durung Desa Jembayan ini yang mana nanti ia berharap agar hal ini terus ditingkatkan sehingga bisa menyamai acara Nutuk beham yang dilakukan masyarakat didesa Kedang Ipil dan acara mecaq undat di Desa Budaya lung anai sehingga bisa masuk dalam Kalender Event Pariwisata, sehingga acara ini  bisa menarik wisatawan untuk melihat secara langsung










Sejarah Singkat Peristiwa Merah Putih Sanga Sanga


Jika di Bandung terkenal dengan peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api,
di Sangasanga yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai
Kartanegara (Kukar) juga memiliki peristiwa heroik mempertahankan
kemerdekaan RI.





Peristiwa heroik di Sangasanga itu disebut dengan Peristiwa Merah Putih
27 Januari, yang selalu diperingati setiap tahun dengan upacara bendera
dan berbagai kegiatan lainnya. Peringatan Peristiwa Merah Putih
Sangasanga berawal ketika tentara Belanda (NICA) pada tahun 1945
menguasai Sangasanga yang memang kaya akan sumber minyak.

Hal tersebut membuat rakyat Sangasanga bersikeras mengusir Belanda,
dengan melakukan perlawanan tiada hentinya. Hingga pejuang Sangasanga
mengadakan rapat dan tercetuslah rencana merebut gudang senjata Belanda
dengan cara mengalihkan perhatian penjajah kepada berbagai keramaian
kesenian daerah pada 26 Januari 1947.

Ditengah keramaian itu, para pejuang membagikan senjata dan amunisi
untuk merebut kekuasaan pada pukul 03.00 wita dinihari 26 Januari 1947.
Perjuangan pun berhasil. Sehingga pada pukul 09.00 wita kota Sangasanga
berhasil dikuasai pejuang, ditandai dengan diturunkannya bendera Belanda
di Sangasanga Muara oleh La Hasan.

Bendera Belanda yang terdiri tiga warna yakni merah, putih, dan biru ini
kemudian dirobek warna birunya, dan di naikkan kembali bendera yang
tinggal berwarna merah putih dengan upacara yang dihadiri para pejuang
dan seluruh masyarakat dengan teriakan "Merdeka!!!."

Peristiwa tersebut tentu saja meninggalkan kesan yang sangat mendalam
bagi warga Sangasanga, terlebih para pelaku peristiwa heroik tersebut.
Sebagai tanda peringatan perjuangan, di Sangasanga dibangun monumen
perjuangan terukir nama-nama pejuang yang gugur pada saat itu. Peristiwa
tersebut diperingati sebagai peristiwa Perjuangan Merah Putih
Sangasanga 27 Januari.



Rangkaian agenda peringatan peristiwa itu tiap tahun dilaksanakan dengan
berbagai fariasi kegiatan, diantaranya Napak Tilas dan pameran
pembangunan.


Peringatan Perjuangan MerahPutih Sanga-Sanga Berlangsung Khidmat


Upacara peringatan Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sanga-sanga ke-70 yang berlangsung khidmat, yang dipimpin oleh Wakil Gubernur Kaltim H Mukmin Faisyal yang dilaksanakan di Lapangan Bola Pertamina Sangasanga, Jumat (27/1/2017). turut dihadiri Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari, Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah, Ketua DPRD Kukar H Salehuddin S.Fil serta para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk sejumlah Forum Koodrinasi Perangkat Daerah Provinsi Kaltim lainnya.





Para pejuang kita dengan gagah berani mengusir para penjajah, dan telah menorehkan sejarah tinta emas yang akan selalu dikenang. Kita doakan semoga arwah para pahlawan diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa," kata Wakil Gubernur Mukmin Faisal dalam sambutannya, serta ia mengajak kepada seluruh masyarakat Kaltim khususnya warga Sanga-sanga untuk bersama-sama mengenang peristiwa perjuangan para pahlawan merah putih Sanga-sanga.
Mukmin juga mengajak kepada generasi muda penerus bangsa, agar apa yang dilakukan para pejuang terdahulu menjadi contoh semangat patriotisme untuk terus berkarya membangun daerah. "Saya mengajak kepada semua masyarakat termasuk para pemuda-pemudi agar terus menjadikan peristiwa ini sebagai sejarah yang tak pernah terkikis, dan kita tularkan semangat juang dalam membangun daerah menuju masyarakat yang adil dan sejahtera," ujarnya.
Diketahui, dalam sejarahnya para pejuang kemerdekaan Sanga-sanga tergabung dalam Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) yang bahu membahu bersama rakyat untuk mempertahankan Sanga-sanga dari gempuran penjajah Belanda, yang ingin menguasai kembali Sanga-sanga dan kekayaan yang ada didalamnya. Peristiwa heroic yang terjadi pada tanggal 27 Januari 1947 tersebut telah banyak memakan korban jiwa dan harta dari rakyat Sanga-sanga. Peristiwa ini setiap tahun selalu diperingati sampai sekarang yang dikenal dengan Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sanga-sanga

Dinas Pariwisata Ikuti Pameran Pembangunan Merah Putih


Dalam rangka memperingati peristiwa perjuangan merah putih yang ke 70,
pemerintah Kabupaten Kutai kartanegara kembali menggelar Pemeran
Pembangunan yang dibuka oleh Bupati Kutai kartanegara Rita Widyasari.
Ph.D yang tahun ini mengambil tema Dengan Semangat Merah Putih Mari Kita
Tinggkatkan Semangat Melayani Masyarakat yang berlangsung Kamis,
(26/01)





Dalam sambutan nya Rita Widyasari mengatakan jangan jadikan rangkaian
kegiatan merah putih sebagai kegiatan seremonial semata namun harus
dimaknai sebagai bentuk dalam memberikan pelayanan terbaik kepada
masyarakat Kukar khususnya warga Kecamatan Sanga - Sanga. "Apabila
kegiatan ini hanya menjadi seremonial belaka maka akan terjadi dan
selesai begitu saja, Tapi bila kita mengetahui dan mendalami hakikatnya
maka akan lahirlah orang-orang yang mempunyai jiwa bekorban dan
berjuang," Ujar Rita Widyasari.




Sementara itu ketua panitia Gunawan dalam laporannya mengatakan kegiatan
pameran pembangunan tersebut bertujuan untuk meningkatkan tali
silaturahmi antara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada di
Kabupaten Kukar dengan seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kukar
khususnya warga Kecamatan Sanga - Sanga. Pada tahun ini pameran
pembangunan dalam rangka memperingati peristiwa merah putih ke - 70
diikuti sebanyak 35 peserta yang terdiri dari SKPD dilingkungan
Kabupaten Kukar, Perusahaan, Ormas, Dan UKM, yang berlangsung hingga 31
januari 2017," Kata Gunawan.



Setelah membuka pameran yang ditandai dengan pemukulan gong dan
pelepasan balon keudara, Rita Widyasari bersama unsur Forum Koordinasi
Pimpinan Daerah (FKPD) berkeliling meninjau stan pameran, dan untuk
tahun ini Dinas Pariwisata kukar ikut berpartisipasi dalam Pameran
Pembangunan merah putih dengan mengusung tema Objek wisata Pulau Kumala,
yang mana saat ini kunjungan wisatawan ke Pulau Kumala meningkat
seiring dengan dibangunnya Jembatan Repo-Repo  hal ini yang menarik bagi
para pengunjung Pulau Kumala.


Peresmian Lamin Adat Ja’au Bangen Tawai


Serah terima dan peresmian Lamin Adat didesa Umaq Dian dilaksnakan  pada 3 Januari 2017 melalui upacara adat yang cukup meriah. Upacara adat peresmian lamin adat ini dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara (Kukar) Sri Wahyuni, pemangku adat wilayah, Kepala Desa Umaq Dian, perwakilan PT FSP Marsono, Vina, dan Diana, serta masyarakat dari 18 desa di Tabang dan Muspika setempat.




“Saya sangat mengapresiasi PT Bayan Resources Tbk, melalui anak perusahaannya PT Fajar Sakti Prima sebagai satu-satunya perusahaan di Kecamatan Tabang yang dalam kesibukannya masih tetap peduli dengan membangun lamin adat, sebagai upaya untuk melestarikan kearifan budaya lokal," ujar Kadisdpar Kukar Sri Wahyuni.

Dia berharap, perhatian perusahaan ke depan tidak berhenti sampai di sini saja. Melainkan terus berkelanjutan untuk mengembangkan dan melestarikan aset budaya dan terus melakukan pembinaan terhadap kesenian tradisonal setempat. "Sehingga Desa Umaq Dian khususnya dan Kecamatan Tabang pada umumnya menjadi objek wisata dan dikenal secara nasional maupun internasional,” lanjut mantan Kabag Humas dan Protokol Setkab Kukar ini.

Ucapan terima kasih kepada PT Bayan Resources Tbk dan PT FSP juga disampaikan oleh Pemangku Adat Wilayah Dr Edy Gunawan Areq Lung MA. “Saya ucapkan terima kasih atas upaya perusahaan dalam mewujudkan mimpi kami untuk memiliki lamin yang megah di Umaq Dian ini. Diharapkan semua perusahaan yang berada di Tabang dapat berpartisipasi dalam pembangunan Lamin Adat Besar yang akan kita jadikan sebagai sentral kebudayaan dan ajang informasi sejarah keberadaan suku Dayak,” harap Edy Gunawan.

Hal senada diungkapkan Jus Ingan, kepala Desa Umaq Dian. “Saya sangat mengapresiasi CSR dari PT Fajar Sakti Prima yang tanpa lelah selalu berkoordinasi dengan kami dan masyarakat, sehingga lamin adat ini dapat diwujudkan. Lamin ini akan menjadi kebanggaan masyarakat Umaq Dian yang akan dipakai sebagai ajang kegiatan positif serta menjadi tempat berkreasi dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Dayak dan kearifan budaya lokal,” ucapnya.

Lamin adat dengan ukuran 16 x 24 meter persegi itu yang dibangun oleh PT FSP terbuat dari kayu ulin dengan hiasan dan ukiran pada hampir semua bagian dindingnya mempunyai arti dalam setiap bentuk ukirannya.




Tim Penilai Panji Keberhasilan Pembangunan Pariwisata Sambangi Disbudpar


Tim penilai Panji-Panji keberhasilan Pembangunan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur turun melakukan penilaian di Kutai Kartanegara (Kukar),  Rabu (26/10). Tim penilai tersebut terdiri dari para akademisi di antaranya Prof Dr. FL. Sudiran. M.Si Guru Besar Budaya Universitas 17 Agustus Samarinda , M. Fauzan Noor. SE., S Par Dosen Pariwisata Polnes Samarinda dan  Ashari dari Disbudpar Kaltim.





Kegiatan tim penilai di Kukar diawali dengan mendengarkan presentasi Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kukar  Dra. Sri Wahyuni MPP tentang  pengembangan Pariwisata dan Kebudayaan Kukar Tahun 2016. Ketua tim penilai Prof Dr. FL. Sudiran. M.Si mengatakan bahwa secara umum penjelasan dari Kadis Disbudpar sangat jelas dan sesuai dengan kondisi dilapangan dan dikatakannya bahwa Kutai Kartanegara memiliki potensi Pariwisata yang bagus ditambah lagi disini terdapat Kerajaan Kutai Ing Martadipura  yang sampai sekarang masih memelihara Adat dan kebudayaan Kutai.




Semantara itu M. Fauzan Noor salah satu tim Penilai mengatakan apa yang ada dalam pikiran tim penilai terjawab semua dari presentasi yang, dan mengapresiasi apa yang selama ini dilakukan oleh Disbudpar dalam pengembangan dunia Pariwisata, seperti Erau adat Kutai dan International Folk Arts Festival serta Festival Kota Raja yang menghadirkan TKC serta Festival Lampion.yang terlaksana dengan baik.

Setelah pemaparan tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa objek wisata di Tenggarong, antara lain Museum Kayu dan Rumah Kayu Suku Kutai . Didampingi Dra. Sri Wahyuni MPP dan Kasi Pengembangan dan Pembinaan Permuseuman Drs. Triyatma  , tim antusias melihat Rumah Kayu Suku Kutai apalagi ditempat ini tim disuguhi Kue Khas Kutai.

 

Setelah mengunjungi Museum Kayu dan Rumah Kayu Suku Kutai melanjutkan kunjungan ke Pulau Kumala Tenggarong untuk mengunjungi Dayak Experience Center (DEC) di Lamin Biok disini tim melihat berbagai macam perabotan suku Dayak serta melihat secara langsung pengarajin Penenun Ulap Doyo dari Suku Dayak Benuaq.





Disela-sela penilaian, Ashari mengatakan bahwa Disbudpar Kaltim sebagai pelaksana program kegiatan penilaian akan memberikan penghargaan kepada Kabupaten/Kota yang telah melaksanakan pembangunan dibidang Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2016, yaitu sebagai pemenang dan penerima Panji-Panji Keberhasilan Pembangunan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata untuk kategori kabupaten / Kota. "Dalam melakukan penilaian keberhasilan pembangunan yang melibatkan para Akademisi, penilaian dilakukan secara menyuluruh baik wisata maupun budaya," ujar Ashari







Pelepasan 5000 Lampion, Puncak Festival Kota Raja (FKR) V.


Malam Puncak Festival Kota Raja V dalam rangkaian HUT Kota Tenggarong ke 234 ditandai dengan penerbangan 5000 lampion yang dilakukan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. PhD diikuti ribuan Masyarakat Tenggarong yang berasal dari berbagai komunitas, Kelompok, serta Instansi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pada selasa malam 25/10/2016 bertempat di Plaza Pulau Kumala Tenggarong.

Kegiatan Festival lampion seperti tahun – tahun sebelumnya di dukung oleh Pihak Bankaltim yang merupakan sponsor tunggal dalam acara ini, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari melepas Lampion secara simbolis bersama Duta Besar Republik Seychelles untuk Indonesia Nico Barito, serta para pejabat lainnya,

Sesaat kemudian penerbangan lampion dilakukan serentak oleh ribuan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini, dan Nampak langit di kota tenggarong menjadi gemerlap oleh ribuan Lampion yang beterbangan.



  

Menurut Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP, sampai batas akhir pendaftaran untuk peserta lampion terdaftar sebanyak 225 Kelompok Komunitas, paguyuban, serta organisasi dari 225 kelompok ini terdiri 2250 orang selain itu juga terdapat 700 undangan termasuk Atlet peserta International Mahakam Dragon Boat dari Brunei Darussalam, Australia, dan Filipina.

Dalam sambutannya Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengatakan “ agar yang memegang lampion itu mari kita bersama berharap melalui lampion dan kekuasaan Allah SWT kita menerbangkan harapan kita agar Kutai Kartanegara mampu bermartabat, bagi Kalimantan Timur, Indonesia, bahkan di Dunia International dan itulah harapan kita semua, dan mudahan  kota tenggarong dicintai rakyatnya dan meningkatkan Kepariwisataan Kota Tenggarong dan Kutai Kartanegara.



FKR V Dimeriahkan Dengan Kumala Color Run


Ribuan peserta  memadati Halaman Sky Tower  Pulau Kumala Tenggarong  pada minggu pagi (23/10) untuk melaksanakan Kumala Color Run acara ini  dalam rangka Festival Kota Raja (FKR) V memperingati HUT Ke 234 Kota Tenggarong dalam suasana fun, exercise & party.

Meskipun Colour Run adalah sebuah ajang lari 5 km, akan tetapi peserta yang mengikutinya tidak diharuskan beradu cepat lari seperti saat mengikuti lari maraton. colour run sendiri dilakukan untuk bersenang-senang dan melepas stres. Di acara ini siapa pun boleh bergabung dan ikut berlari.





peserta mengenakan pakaian berwarna putih panitia juga memberikan sekantung bubuk warna-warni pada peserta, tampak para peserta berjalan santai mengitari pulau kumala sebab dalam acara ini tidak ada perhitungan waktu Dan sesekali para peserta melempar  bubuk warna-warni yang akan membuat pakaian peserta menjadi penuh warna.



Peserta yang mengikuti acara tak perlu khawatir dengan bubuk warna-warni yang mengenai mereka, karena bubuk warna-warni ini dijamin aman. Bubuk warna yang digunakan adalah tepung maizena yang berlabel food grade. Setelah  acara color run dimulai para peserta mengikuti senam Zumba yang dipandu instruktur senam, color run dimulai dengan dilepas oleh kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar Dra. Sri wahyuni. MPP.





Yang membuat Color Run tahun ini istimewa yakni selain dilaksanakan di Pulau Kumala, juga dihibur langsung oleh tiga Dj Performance dan adanya tambahan splash color. “Iya kalau tahun lalu kan cuma hanya color pack saja yakni serbuk warna, kalau tahun ini lebih seru lagi karena adanya splash color atau semprotan air warna yakni warna pink, kuning dan biru,” kata ketua panitia, Yulia Rusmadhani. Adapun tiga Dj yang menambah keseruan acara Kumala Color Run tahun ini yakni didatangkan langsung dari Bali dan Yogyakarta.



Acara dimulai dengan berkumpul di halaman sky tower Pulau Kumala, kemudian berlari gembira bersama, kemudian senam Zumba dan terakhir acara inti yakni menebar serbuk warna sambil dihibur dengan Dj Perform. “Dj Sastra kita datangkan dari Bali, Dj Maria dari Jogja dan Dj Ari dari lokal kita sendiri. Acara ditutup dengan pembagian door prize yang bernilai jutaan rupiah,” tegas Lya sapaan akrabnya. “Mari kita semua support wisata lokal Kukar, karena acara ini bertujuan sangat mulia yakni untuk lebih mempromosikan lagi wisata Kukar khususnya Pulau Kumala,” tambahnya





Pembukaan Internasional Mahakam Dragon Boat 2016


Sebanyak 570 peserta dari 20 tim berasal dari empat negara mengikuti Festival Perahu Naga Internasional ke-3 atau Mahakam International Dragon Boat Festival (MIDBF) 2016, di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar)  yang berlangsung  22 – 24 Oktober 2016, Empat Negara yang terlibat dalam MIDBF 2016 tersebut yaitu Australia, Filipina, Brunei Darussalam dan Indonesia. Tuan rumah diwakili beberapa tim dari beberapa Provinsi yaitu Jakarta, Makassar, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, serta beberapa tim dari kabupaten/kota di Kaltim, termasuk Kukar.



Pelaksanaan lomba MIDBF 2016 yang dilaksanakan guna memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong yang ke-234 itu, kegiatannya dipusatkan di Pualu Kumala, dengan lintasan lomba alur sungai Mahakam antara pulau wisata tersebut dengan jalan Wolter Monginsidi Timbau, Tenggarong.



Ketua Panitia MIDBF 2016, Tajuddin mengatakan ada delapan nomor yang dilombakan pada tahun ini, yaitu pada kategori 22 kru ada 500 meter mix (campuran), 500 meter putera, kemudian mix 250 meter dan 250 meter putera.  Kemudian pada kategori 12 kru, dipertandingkan nomor 250 meter putera, 250 meter puteri, dan mix 250 meter. “Serta pada puncaknya lomba nanti (24/10) dipertandingkan nomor bergengsi International Challange Trophy atau piala antar bangsa pada nomor 500 meter dalam laporannya pada pembukaan MIDBF 2016, Sabtu (22/10) di Pulau Kumala, tenggarong. Menurutnya, selain memacu perkembangan olahraga Perahu Naga daerah, MIDBF sekaligus dapat memperkenalkan Kukar di mata Internasional.

Sementara, Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah saat membuka MIDBF 2016, mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dan official, baik yang berasal dari klub beberapa negara dan klub-klub dayung di Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Indonesia. Dikatakannya, Kukar patut berbangga karena MIDBF merupakan agenda tetap skala Internasional di Kota Raja, yaitu sejak Kukar tercatat sebagai anggota International Dragon Boat Federation (IDBF).





Menurutnya, kegiatan tersebut juga merupakan salah satu cara untuk menjaga tradisi dan budaya bangsa, karena event ini dapat menjadi momentum bagi generasi muda bangsa, dalam mengingat tradisi bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa yang besar karena potensi bahari. dengan dilaksanakannya MIDBF, maka secara tidak langsung akan semakin meningkatkan prestasi olahraga khususnya cabang dayung. “Selain itu, even ini diharapkan akan meningkatkan sektor pariwisata melalui kedatangan para peserta yang tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari negara tetangga,” ujarnya.







Pembukaan MIDBF 2016 ditandai dengan menabuh perkusi oleh Wabup Edi Damansyah didampingi delegasi IDBF. Acara pembukaan itu dihadiri pengurus dan delegasi IDBF, pengurus Persatuan Olahraga Dayung Seluruh indonesia (PODSI), unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan Sekda Kukar H Marli, serta seluruh atlet peserta lomba.  





Tenggarong Kutai Carnival Hadirkan The Colour Of Borneo


Meski cuaca terik tak menyurutkan penonton menyaksikan talent Tenggarong Kutai Carnival (TKC) bercarnaval ria memperagakan busana dengan tema "The Colour Of Borneo", Sabtu (22/10) mulai Lapangan Basket Timbau Tenggarong  hingga finis di Depan Planetarium Jagad Raya Tenggarong.



sebanyak 46 Talen TKC menghadirkan Kostum-ksotum pilihan yang pernah tampil dalam 4 tahun TKC terakhir adapun Tema Kostum yang ditampilkan adalah Sumpit, Pesut, Buah Bolok, Purun, Mangrove, Enggang, Belian, Hudoq, Tameng, dan Kirip. Tenggarong Kutai Carnival (TKC) merupakan rangkaian Festival Kota Raja (FKR)  V memeriahkan hari jadi Tenggarong ke 234, yang dilaksanakan olah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kukar.





 Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar  Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan  meskipun saat ini Pemerintah sedang mengalami Defisit anggran  termasuk Workshop untuk TKC ditiadakan namun hal ini tidak bearti mematikan semangat para talent TKC. Kendati demikan semangat para anggota TKC mempertahankan eksistensi Tenggarong  sebagai Carnaval Jalanan terbaik se Kalimantan Timur  masih tetap terpelihara.

Tepat pukul 14.00 wita acara Show TKC ini dimulai tampak para penonton mulai memadati lapangan Basket Timbau Tenggarong Hadir dalam acara ini Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah, Sekda Kukar H. Marli, Tokoh Masyarakat Syahrial Setia serta para undangan lainnya.

Acara ini di Mulai dengaan penyalaan Kampeti setelah itu satu persatu talent TKC turun dari Panggung untuk melakukan perform kepada para undangan para telent TKC  tampak enerjik mampu memberi susana meriah ditengah hari yang terik itu.  Dan acara show time ini  di pandu oleh MC rudi.