Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 322
Total Hits : 885,448
Pengunjung Hari Ini : 138
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 197,155

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Upacara Adat Ngamen



Group Kesenian dari Uyai Tiga Tampil di Amin Biok Pulau Kumala pada hari Sabtu  tanggal 27 Agustus  pukul 01.00 Wita dengan membawakan Persembahan Upaca Adat Ngamen yang artinya Membuka Lahan Baru untuk Desa Suku Dayak Kenyah. Upacara Adat ini biasanya dilakukan pada saat suku dayak kenyah yang ingin berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Tujuan dari Upacara Adat ini dilaksanakan yaitu agar desa yang baru ditempati tersebut makmur dan sebagai ritual untuk mengusir dan melindungi desa dari roh jahat yang ingin menggangu desa mereka tersebut.




Upacara adat ini mampu menyedot pengunjung yang datang menonton dan membuat penonton terpukau melihat penampilan mereka, walau pun cuaca yang cukup panas tidak menyurutkan minat penonton untuk menyaksikan penampilan acara adat Ngamen yang artinya “membuka lahan baru tuk desa mereka”.

Tampilan acara adat ini adalah rangkaian dari acara Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival Tahun 2016 yang dilaksanakan di Tenggarong Kutai Kartanegara.



Polandia Menari



Group Kesenian Asal Negara Polandia  hadir dalam Pelaksanaan  Pesta Adat Erau dan Internasional Folk Art Festifal (EIFAF) Tahun ini. Group Kesenian yang berdiri sejak 71 tahun yang lalu ini merupakan satu dari tiga group tertua di Polandia, bertempat di Lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam Tenggarong pada hari Jum’at tanggal 26 pada pukul 19.30. Group Kesenian asal Polandia tampil memukau dengan mempersembahkan tarian Tradisi yang ada di Szamotuly. Group ini terdiri dari anak-anak dan orang dewasa yang berusia 6 – 72 Tahun. Group ini menyampaikan tariannya dengan bahasa halus dan santun yang didalamnya memasukan ritual nyayian, tarian dan irama.




Polandia juga terkenal dengan tarian yang mempunyai ciri khas Spontanitas, dinamika, langkah yang cepat dan juga kebebasan dalam bergerak dan sangat riang, Bagian yang sangat diperlukan dalam tarian ini adalah busana yang penuh warna tarian ini mempertontonkan keindahan.




Selain Polandia tampil Juga Group Kesenian dari Samarinda Indonesia, yang menampilkan tarian Karnia Anak Dayak Warisan Budaya Leluhur, Taiwan mempersembahkan tarian The Beautiful Orshid (anggrek yang Indah), The Haste Universe (ketergesaan alam semesta), Pleasures (kesenangan) di akhir persembahannya taiwan membawakan tarian Back to my lovely country (kembali kenegara saya indah). Lithuania tampil membawakan tarian khas berupa Kas Man Sopa, Perluti Ry Tato, Duosiv Pertul, Indonesia dari Tenggarong Kutai Kartanegara tampil dengan Tari Jepen Bunga Perangai. Pentas Seni Lapangan Basket selalu ramai oleh penonton yang ingin menyaksikan aksi seni para para seninamdalam dan luar Negeri.


Sanggar Tari Tonyoi Dayak Benuaq






Tampilan dari tuan rumah sendiri adalah dari Sanggar Tari Tonyoi Dayak Benuaq dan Sanggar Tari Serai Wangi Tenggarong. Tampilan seni ini adalah rangkaian dari acara Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival Tahun 2016 yang dilaksanakan di Panggung Seni Aji Imbut Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara pada hari Jum’at tanggal 26 Agustus 2016 pukul 19.30. Selain dari sanggar tari Tonyoi dan Sanggar Tari Serai Wangi tampil juga dari Negara delegasi diantaranya dari Canada (Ukrainian), Negara Bulgaria dan Negara Rusia.




Penampilan pertama di suguhkan dari sanggar tari tonyoi yang berjudul tari Gantar. Tari gantar sendiri  merupakan jenis tarian pergaulan antara muda mudi yang berasal dari Suku Dayak Benuaq  Kalimantan Timur. Tarian ini melambangkan kegembiraan dan juga keramah-tamahan suku Dayak  dalam menyambut tamu yang datang berkunjung, baik sebagai wisatawan, investor, atau para tamu yang dihormati.




Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja, menurut versi cerita yang lain bahwa tari gantar merupakan tarian yang dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam  padi Properti tari sebuah tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melubangi tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap ditaburkan pada lubang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini menggambarkan cara menutup lubang tanah tersebut. Muda-mudi dengan suka cita menarikan tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah ruah hasilnya.





TARI SUI TEMENGANG



Sanggar Tari BENING dari Indonesia Tampil memeriahkan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Jum’at  tanggal 26 Agustus pukul 19.30 Wita di taman Ulin, dengan menampilkan tari Sui Temengang merupakan salah satu tarian tradisional Dayak Kenyah yang gerakannya menggambarkan kehidupan burung enggang. Tari Burung Enggang sangat lekat kaitannya dengan masyarakat dayak di Kalimantan. Di Kalimantan Timur burung ini menjadi inspirasi dalam sebuah tarian, yang biasa disebut tari enggang atau tari Sui Temengang. Gerakan dalam tarian ini adalah semua seakan mengumpamakan penari seperti burung enggang. Pada gerakan tangan terbentang, penari menari seperti burung enggang sedang terbang. Sedangkan pada gerakan bulak balik dan putar memutar, penari menari seperti burung yang berpindah tempat. Selain itu gerakkan menari  yang merupakan gerakan utama atau gerakan Khas Dayak menyerupai burung enggang yang membuka dan menutup sayapnya. Pada saat menari para penari menggunakan bulu burung enggang di tangan sebagai property dalam menari dan di balut dengan busana adat khas dayak dan ikat kepala.


Pada Sesi Berikutnya Group Kesenian Gubang Kids Community, menampilkan Jepen Lenggang Mustika yang menceritakan latar belakang budaya melayu kutai, dibawakan kanak-kanak halus atau anak-anak kecil dengan lenggang atau gerak yang di tarikan nantinya akan menjaadi mustika atau permata keindahan yang lembut serta enegik dalam pesona lenggang mustika.




Dari Manca negara Juga Group Kesenia Estonia dan Rumania yang turut menyemarakan pentas seni Taman Ulin Lapangan Pemuda Tenggarong.





Tari Pemburu Enggang Kreasi




Sanggar Tari Merak Mekar dari Indonesia Tampil memeriahkan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Jum’at  tanggal 26 Agustus pukul 04.00 wita bertempat di Pulau Kumala Tenggarong , dengan menampilkan Tari Pemburu Enggang Kreasi,tari pemburu enggang ini menceritakan keadaan burung enggang yang berada dihutan pulau kalimantan yang merasa terusik oleh ulah pemburu-pemburu satwa ini dan menjadikannya ajang bisnis mewah yang marak di ceritakan di media sosial sekarang ini.






Tari pemburu enggang ini di kutip dari tari enggang yang asli. Disesi kedua Merak Mekar menampilkan TARI ENGGANG yang merupakan Tarian suku dayak kenyah, tari enggang menjadi tarian wajib dalam setiap Upacara Adat suku dayak kenyah, menurut kepercayaan orang Dayak Kenyah nenek moyang mereka barasal dari langit dan turun kebumi menyerupai burung enggang, oleh karena itu masyarakat dayak kenyah sangat menghormati, memuliakan burung enggang, sehingga tari enggang dapat dimaknakan sebagai penghormatan suku dayak kenyah terhadap asal-usul leluhur mereka. Bulu-bulu enggang ini selalu memegang peranan yang penting pada setiap upacara-upacara adat dan tarian-tarian adat kenyah.




Pada Street Perpormace di pulau kumala juga turut di meriahkkan dengan tampilan Group kesenial dari luar Negeri IDAHO – USA dan Taiwan A di setiap akhir pertunjukan para peserta mengajak para penonton baik itu anak-anak maupun orang dewasa untuk menari bersama.





UPACARA ADAT LAEUM NGELEIN






Kerukunan Keluarga Dayak Modang Tenggarong ikut menyemarakkan Pesta Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) bertempat lapangan Basket Turapan Mahakam  pada hari Jum’at 26 Agustus jam.02.00 wita dengan megusung tema  UPACARA ADAT LAEUM NGELEIN PELEKATAN DAN PENGUKUHAN NAMA KETURUNAN SEORANG ANAK MENURUT TRADISI ADAT MODANG. Upacara Adat ini biasanya dilakukan pada saat kelahiran seorang anak, karunia ini menjadi kebanggaan dan kegembiraan dan disambut dengan suka cita, tidak hanya oleh ayah dan ibunya tetapi oleh seluruh keluarga dan kerabat sang anak itu sendiri. Kelahiran seorang anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya saja tetapi menjadi tanggung jawab keluarga besar dan komunitas. Dengan demikian peranan kepala adat, pengurus adat, pemangku adat benar-benar dijalan sebagaimana  mestinya.




Sebelum di beri nama sang anak dan kedua orang tuanya akan menjalani berbagai prosesi adat dimana anak yang akan dilekatkan nama bersama orang tua dan pendamping berangkat dari rumah menuju tempat pelaksanaan Adat (gueng teuh) setibanya ditempat pelaksanaan adat, kaki kanan seorang anak akan diinjakkan pada dapur adat, lalu duduk ditempat yang telah di tentukan. Rangkaian upacara adat dilanjutkan dengan monolog (nyekaeng) kepada tuhan yang maha esa (Poq Metae) dan leluhur, untuk menyatakan keinginan tentang pelaksanaan adat pelekatan nama pada tempat ritual adat oleh pemangku adat. Dilanjutkan pemotongan rambut sianak simbolik pelepasan, pembersihan diri anak dari hal-hal yang dipandang dapat berakibat kesialan, merugikan, menghambat pertumbuhan dan perkembangan sianak.







Prosesi Net Leug mengajukan permintaan nama yang akan dilekatkan pada sang anak, lewat ritual net leung dengan sarana daun pisang ambon hingga di kabulkan, pelekatan nama kepada sang anak dengan simbolik mengikatkan gelang manik pada pergelangan tangan serta memasang topi adat (TEPAE), pengukuhan nama sang anak dilengkapi dengan ritual menginjakan kaki kanan anak pada babi, pengukuhan nama yang telah dilekatkan pada anak disampaikan kembali oleh sang babi kepada leluhur dialam baka dan kepada tuhan yang maha esa. Kemudian babi jantan disembelih, darah ditampung dalam tempat yang sudah disediakan, pengolesan darah babi pada sang anak, pakaian adat, barang adat dan tempat ritual untuk memasak sesajen adat dalam bambu berupa darah, jantung, hati, limpa, ginjal, telur dimasukkan dalam bambu lalu dimasak, kemudian sesajen dibungkus dalam daun pisang ambon sebanyak 8 bungkus dilletakkan dalam kelengkang (Legeag) digantung pada bambu dekat Tenkaeg/Telesag dibawah kelengkang di gantung tulang rahang dan persendian leher babi, Nyekaeng penyerahan sesajen masak PAKEAN SAIG kepada leluhur dan yang maha kuasa.





Partisipan EIFAF Mainkan Olah Raga Tradisional Kutai


Seluruh peserta partisipan EIFAF 2016 melakukan Cultural Visit acara ini selain melihat bangunan dan tradisi kehidupan Suku Dayak yang berada di Dayak Experience Center juga mengikuti lomba olahraga tradisional, para peserta yang datang di lamin bioq langsung disambut dengan musik sampek khas suku dayak kenyah, juga ada kegiatan menenun kain ulap doyo dan ini yang menjadi perhatian para peserta EIFAF.







Setelah mengunjungi Dayak Experience Center para peserta mengikuti olah raga tradisional, tampak keriuhan terdengar dari masing masing Negara untuk mendukung tim yang sedang bertanding dalam Eksibisi Cabang Olah Raga Tradisonal Khas Kutai, dan seluruh peserta menjajal kemampuan nya dalam olah raga ini.







Meskipun permainan olah raga ini baru pertama kali dimainkan namun antusias dari peserta untuk memainkan olah raga ini sangat tinggi hal ini bisa dilihat ketika mencoba permainan betisan yang memerlukan kesimbangan tubuh ada peserta yang langsung bisa memainkannya, hal menarik lainnya adalah karena olah raga ini tidak terdapat di negara mereka.







Semantara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan bahwa para peserta EIFAF dikenal kan dengan beberapa cabang permainan olah raga tradisional Kutai Kartanegara seperti Engrang, Begasing, Menyumpit, dan Bakiak. Menurutnya ini sudah menjadi tahun kedua bagi peserta EIFAF untuk memainkan olah raga tradisional dan kembali untuk eksebisi tahun ini di sponsori oleh Bankaltim.







Dalam permainan olah raga tradsional kali ini peserta dari Negara Idaho (USA) berhasil menjadi jura umum setelah mendominasi seluruh cabang olah raga tradisional


Samrah Dan Rabana




Walaupun cuaca dingin dan peserta dari Negara – Negara asing tidak tampil tetapi penonton tetap antusias yang melihat penampilan di Pentas Seni Taman Ulin pada kamis tanggal 25 Agustus 2016, yang tampil pada saat itu ada dua group kesenian dari Tenggarong yaitu dari group Elyassar dan group Rabana. Hadir pada acara pentas seni Taman Ulin yaitu Kepala Bidang Pengelolaan Obyek dan Sarana Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs. Siswan Hermantoko dan Kasubbag Penyusunan Program bapak Yuniarto.




Tampialan yang disuguhkan dari group Elyassar mampu memukau penonton yang hadir, group kesenian ini manari dan bernyanyi lagu – lagu yang bernuansa Arab. Negara delegasi memang tidak tampil pada hari kamis malam dikarenakan peserta delegasi tersebut pada siangnya melakukan green Tenggarong yang diadakan di Waduk panji Sukarame dan Culture Visit di Amin Biok di Pulau Kumala.




Penampilan selanjutnya ditampilkan dari group rabana yang juga mampu memukau penonton yang hadir, lagu – lagu yang mereka tampilkan berbau islami sehingga penonton terpukau menyaksikannya.


Mamanda Panji Berseri Pentaskan “ Bangkit Dari Kubur”


Didalam sebuah kerajaan tumbuhlah sebuah perempuan yang bernama melati, Putri dari Raja Darma Wangsa dan Permaisuri  Mayang Sari, dan kehidupannya nya dalam suasana bahagia dalam Istana, karena merasa cukup dewasa dalam Istana sang putri pun meminta kepada sang raja dan permaisuri untuk meminta ijin untuk keluar Istana  dan jalan-jalan ke Pedesaan.







Dengan dikawal dengan Prajurit Demong dan Dayang, hatinya pun sangat senang dan selalu ramah bertemu dengan setiap orang yang ditemuinya di pedesaan, namun sang putri tidak mengetahui tentang keadaan diluar sana.








Pada sore hari dalam perjalanan  pulang ke istana rombongan sang putri, dicegat  segerombolan Perampok yang terkenal kejam dan begis, pertarungan pun tak terelakkan lagi antara para perampok dan perajurit Istana, dalam pertarungan yang tak seimbang itu beberapa prajurit terbunuh dan lainnya bisa meloloskan diri dari sergapan perampok tersebut, namun tidak demikian nasib yang menimpa sang putri, ia ditangkap dan diperkosa serta dibunuh dan mayat nya pun dibuang di tengah hutan.







Pada keesokan harinya masyarakat desa gempar dengan ditemukan sosok mayat perempuan oleh seorang warga yang sedang mencari kayu bakar, dan hal ini dilaporkan ke Istana, pihak Kerajaan mengutus panglimanya untuk membawa mayat tersebut ke istana dan betapa terkejutnya Raja dan Permaisuri ternyata mayat tersebut adalah putri kesayangan mereka, sang raja pun murka dan memerintahkan panglima kerajaan untuk menangkap para perampok yang telah membunuh sang putri.








Untuk menebus kesalahan para Prajurit demong yang lalai menjaga Melati, raja memerintahkan untuk menjaga makam Melati selama 40 hari, namun pada malam hari ada kejadian yang mengerikan tampak  bayangan putih muncul dari kubur melati, yang menyebabkan para Prajurit lari tunggang langgang ketakutan dan hal ini dilaporkan kepada raja, namun raja tidak mempercayainya raja pun penasaran dan malam hari ikut prajurit ke makam melati, dan kejadian malam sebelumnya terulang kuburan melati mengeluarkan asap dengan dibarengi bayangan putih yang menyeramkan, melihat hal itu raja pun mengatakan bahwa para pembunuh melati sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, dan meminta agar melati ikhlas menerima takdir ini dan tenang di Alam sana, setelah itu bayangan putih tersebut lenyap dan suasana pun menjadi tenang.








Kisah yang menimpa Putri Raja Darmawangsa tersebut adalah cerita rakyat Kutai yang dipentaskan oleh kelompok seni Mamanda Panji Berseri dengan judul Bangkit dari Kubur, pementasan Mamanda atau Teater Khas Kutai ini merupakan suguhan dalam pentas seni dalam rangka EIFAF 2016 yang digelar pada Kamis malam (25/8) di Pentas seni Lapangan Basket turap Mahakam

Pembacaan Berzanji Di Keraton Kutai Kartanegara


Acara Bepelas yang dilaksanakan setiap malam selama Erau Adat Kutai, namun khusus malam Jum’at, acara bepelas ditiadakan dan digantikan dengan pembacaan Berzanzi, Bertempat di keraton Kutai Kartanegara, Kamis 25 Agustus 2016 , tepat pukul 20.00 Wita acara pembacaan berzanji dilaksanakan, acara ini dihadiri langsung oleh Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II, Putra Mahkota, Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah, kerabat kesultanan serta para undangan.





Pembacaa Berjanzi ini di pimpin oleh Imam Jahidi dari kelompok Hadrah Al Fatah, yang beranggotakan 40 orang, arti dari Berzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.









Acara pembacaan berjanzi diakhiri dengan  pembacaan doa, dan dilanjutkan dengan tari Rudat yang dibawakan 10 orang, tarian ini mirip dengan tariam saman dari Aceh, yang mana setiap gerakan tarian rudat adalah Zikir Kepada Allah SWT.